
**Terimakasih telah membaca 'Dua Istri Polos Ku' ππ author gak minta apa-apa kok, cukup setia membaca Rahul, Anjela, Anjeli, dan Dewa aja lebih dari cukup π
πΉLanjut Baca πΉ**
Anjeli bersedekap dada menyombongkan diri, ia berdiri di atas kasur sedangkan Dewa berdiri di lantai menghadapnya dengan memberi hormat. Dewa dengan setia menuruti permintaan Anjeli, walaupun permintaan itu aneh menurutnya.
"Dewa! Mengapa kamu mau menikah denganku?!" tanya Anjeli dengan tegas seperti komandan pasukan militer.
"Siap! Saya... anu... saya..."
"Ulangi!" teriak Anjeli lagi.
"Siap! Saya anu... itu..."
"Eh... serius nih, kenapa kau bodoh sekali menjawab?!" tanya Anjeli dengan kesal.
"Siap! Maafkan saya Komandan!" jawab Dewa dengan tegas, ia tetap tak melepaskan hormatnya.
"Saya ulangi! Mengapa kamu mau menikah dengan saya?"
"Siap! Hati, pikiran, perasaan saya sudah di penuhi oleh Anda, Komandan!" jawab Dewa dengan tegas.
Anjeli diam sejenak, ia memicingkan matanya melihat ke arah Dewa.
"Heh! kita baru pertama kali bertemu, satu hari pun belum terlewati. Kenapa aku sudah memenuhi hati, pikiran dan perasaanmu? Apa aku beban untukmu?" Pertanyaan Anjeli membuat Dewa langsung menggelengkan kepalanya kuat.
"Anjeli, menikahlah denganku! Aku belum merasakan ini sebelumnya, ayolah!" Dewa berjalan dan mendekati Anjeli, tangannya memegang kaki Anjeli sambil merengek.
"Anjeli aku mohon!" sambungnya lagi.
__ADS_1
Anjeli menghela nafas, kemudian ia berkata, "Aku tidak mempercayaimu! Bagaimana aku percaya dengan orang yang jahat kepadaku!" kata Anjeli dengan angkuh.
"Aku tidak jahat kepadamu!" kata Dewa dengan cepat, ia langsung naik ke atas tempat tidur dan menarik tangan Anjeli mengajak duduk.
Anjeli langsung duduk, mereka sama-sama menghadap satu sama lain. Anjeli memperhatikan wajah Dewa dengan seksama sampai membuat pria itu salah tingkah.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Dewa sambil memegang pipinya.
"Tidak, tapi sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya." jawab Anjeli masih mengingat-ingat.
"Masa? aku belum pernah melihatmu!" kata Dewa meyakinkan.
"Iya, perasaan aku pernah melihatmu!" balas Anjeli mengingat-ingat.
"Mana mungkin, kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
"Tunggu!"
Anjeli langsung beranjak dan turun dari tempat tidur, Dewa melihat tingkah Anjeli hanya mengkerutkan dahinya.
"Hei, mau kemana?" panggil Dewa melihat Anjeli berjalan cepat.
"Beraaak!"
Anjeli berjalan dengan cepat menuju kamar mandi, Dewa mematung melihat Anjeli yang sudah hilang di balik pintu. Ia menelan air ludahnya gusar sambil menelaah pikirannya sendiri.
"Dia berbeda dari wanita lain." gumam Dewa.
Sementara di kamar mandi Anjeli langsung membuka celana dalamnya dan duduk di kloset, ia mengejan kuat mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Ahh..."
Anjeli mengelus perutnya, karena makan banyak membuat ia sakit perut.
"Leganya!"
***
Di kota lain, pasangan suami istri yang sudah paruh baya tengah memarahi orang suruhannya. Pria itu sampai bersujud di hadapan mereka.
"Aku tidak peduli kau mau mati atau tidak! yang aku inginkan kau segera menemukan mereka. Sudah ku bilang mereka tidak boleh keluar dari panti asuhan itu, mereka tidak boleh keluar dari desa itu. Kenapa kau bodoh sekali, aku ingin kau menemukan mereka segera!" kata laki-laki paruh baya itu dengan tegas.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak menyangka ada yang membawa mereka pergi dari sana, saya meminta maaf atas keteledoran saya, Tuan." ucap pria yang berusia di hadapan suami istri itu.
"Pi, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kalau anak kita sampai ke kota dan dia di tangkap oleh orang-orang mereka bagaimana, Pi?" tanya istrinya dengan nada khawatir sambil memegang lengan suaminya.
"Itu tidak akan terjadi, sebelum mereka tahu jika anak kita masih hidup kita harus menemukan anak kita dan membawa mereka pulang." jawab suaminya mencoba menenangkan.
"Apa lagi yang kau tunggu, cepat cari sampai ketemu!"
Laki-laki yang bersujud itu langsung berdiri dan membungkukkan badannya, ia memberi hormat dan pamit dari sana.
"Papi, kita harus mengerahkan semua orang-orang kita, anak-anak kita sudah terlalu lama di luaran sana. Mami sangat khawatir ada yang bisa mengenal wajah mereka."
"Tenang saja, wajah mereka memang sangat mirip denganmu, tapi Papi yakin jika mereka tidak akan mengenalinya."
"Anak kembar ku yang malang! Coba saja Ayah kamu tidak mempunyai musuh, Mami yakin jika kita tidak perlu menitipkan anak kita ke panti asuhan. Melihat merekapun Mami tidak bisa, apa kabar anakku Anjeli, Anjela."
"Mami tenang dulu, Papi yakin mereka di bawa sama orang baik. Kita hanya perlu bertanya dengan pengurus panti, orang-orang kita pasti bisa menemukan mereka. Setelah ini anak-anak kita harus berada di rumah ini, kita tidak bisa membiarkan mereka berkeliaran di mana-mana."
__ADS_1
"Mami berharap yang terbaik, Pi. Semoga mereka segera cepat di temukan. Anakku yang malang!"
πΉπΉπΉ