Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Krabby Patty


__ADS_3

Setelah aksi debat tidak bermutu, akhirnya Anjeli makan dengan tenang karena Dewa memilih pergi. Pria itu tidak ingin membuat keributan di depan makanan, ia meninggalkan Anjeli karena tidak ingin berdebat lagi.


"Dasar gadis itu, bisanya dia melawanku! Tidak ada satupun yang melawanku di rumah ini kecuali dia, dan kenapa aku menjadi tidak kejam di depannya? Apa dia menggunakan guna-guna? Tidak mungkin, aku tidak melihat dia menggunakan jimat apapun. Anjeli, gadis itu lain dari pada yang lain. Kelakuan yang bodoh, koneksi yang lambat dan selalu membuatku geram. Arghh... Kenapa aku memikirkannya? Apa untungnya? Aku harus membuat ia bertekuk lutut kepadaku, dia kan sekarang jadi budak ku!"


Dewa mengoceh sendiri di dalam kamar, ia terus memikirkan Anjeli dari tadi.


"Tapi dia cantik dan juga masih perawan, aku ingin segera mengambilnya. Tapi gadis itu benar-benar gila, bisa-bisanya dia kentut saat enak-enaknya. Astaga, aku benar-benar gila karena memikirkan gadis itu terus."


Karena terus berjalan di sekeliling kamar membuat Dewa makin risau, akhirnya ia membaringkan diri. Dewa mengahadap langit-langit kamar, tapi yang di pandangnya hanya wajah Anjeli yang terbayang-bayang di sana. Bukan saat Anjeli tersenyum, tapi Anjeli sedang menjelingkan matanya.


"Kau! Kenapa kau ada di sini?! Kau gila atau apa? Kau membuatku gila, gadis gilaaaa!"


Dewa berteriak sendiri di dalam kamar itu, bahkan ia pusing sendiri karena mengingat juniornya di pukul Anjeli.


"Kenapa kau ingin sekali memukul juniorku? Apa kau tidak tahu kalau itu sangat sakit? Kenapa kau selalu melirik ke juniorku? Kenapa? Kenapa?"


Dewa meremas rambutnya, ia menggeliat di atas tempat tidur seperti cacing kepanasan. Pikirannya sudah di ganti oleh Anjeli, Dewa benar-benar stress memikirkan itu.


***

__ADS_1


"Makan yang ini lagi? Tidak. Makan yang ini? Tidak. Kalau yang ini? Tidak. Huuuu.... Anjeli makan yang mana ya? semuanya sangat enak! Anjeli bingung,"


Anjeli kebingungan sendiri, makanan di sana ingin sekali masuk kedalam perutnya semua. Walaupun ia sudah banyak makan, tapi karena makanan itu sangat enak membuatnya ketagihan.


"Sudahlah, sebaiknya jangan di makan. Benar kata Dewa Bodoh itu, kalau Anjeli makan banyak nanti Anjeli gendut." kata Anjeli sambil mengusap perutnya yang sudah kencang dengan menggunakan tangan kiri.


Anjeli berdiri, ia berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya. Di dapur itu di lengkapi banyak barang-barang mewah, matanya tertuju ke spatula yang seperti di film kartun Spongebob.


"Wow... itu untuk bikin Krabby Patty, Anjeli mau Krabby Patty!" Mata Anjeli membulat melihat benda yang tergantung itu.


Anjeli berjalan mendekati spatula, ia mengambilnya dengan wajah yang sumringah.


"Anjela pasti tidak percaya jika Anjeli pegang ini, hihihi... Anjeli mau bawa ini pulang nanti, tapi simpan di mana ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Merasa tidak ada tempat, ia melihat badannya sendiri. Anjeli celingukan kesana kemari melihat kiri kanan, karena merasa sepi ia memasukkan ke dalam dress birunya. Spatula itu nampak dengan jelas berbentuk di bagian depan badannya."


"Hahaha... Anjeli tidak boleh ketahuan, nanti Anjeli tidak bisa membuat Krabby Patty."


Anjeli mengatur nafas dan tersenyum sumringah, kemudian ia berjalan dengan santai dan seperti tidak ada salah sedikitpun. Anjeli melewati meja makan dan berjalan tanpa melihat para pelayan yang tengah berkemas, mata para pelayan itu melotot melihat perut dan dada Anjeli yang yang berbentuk spatula.

__ADS_1


"Kenapa Nona mencuri spatula?" tanya pelayan yang tengah berkemas sambil berbisik kepada pelayan yang lain.


"Tidak tahu, aneh sekali. Lihat tuh jalannya, kenapa seperti itu?"


Pelayan di sana sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan Anjeli, untung dress itu ketat jadi spatula itu tidak jatuh. Sayangnya bentuk spatula itu nampak jelas, jadi siapapun yang melihat Anjeli pasti akan tertawa dan menatapnya aneh.


"Mereka pasti tidak tahu, Anjeli tidak sabar ingin membuat Krabby Patty dengan Anjela. Huuuuu.... untung tidak jatuh, kalau jatuh pasti akan ketahuan." kata Anjeli dalam hati.


Merasa bingung mau kemana, Anjeli memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia yakin jika Dewa sang Tuan Muda yang cengeng itu sedang tidak ada di sana, dengan itu Anjeli bisa menyembunyikan spatula yang masih di badannya dengan aman.


Ceklek.


Dewa yang masih risau menengok ke arah pintu yang terbuka, ia kira pelayan yang tidak sopan masuk tanpa salam. Namun matanya melotot melihat gadis gila yang menghantui pikirannya, matanya seakan hendak lepas melihat bagian depan badan Anjeli yang berbentuk spatula.


"Aarrgggghhh... kau memang gila!" teriak Dewa makin tambah stress, ia meremas rambutnya dengan kuat.


"Kau yang gila, kau pula yang mengatakan aku gila. Tidak jelas!" Anjeli melihat Dewa dengan kesal.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2