
"Maafkan aku!" kata Rahul dengan lirih.
Anjela tak menghiraukan Rahul, ia sedang berbaring membelakangi Rahul, tanpa busana dan hanya tertutupi dengan selimut.
"Aku khilaf!" ucap Rahul sekali lagi.
Anjela hanya mendengarkan saja, ia tak memikirkan dirinya yang sudah tidak perawan lagi, tetapi ia memikirkan nasib kembarannya.
Di ruang makan, semuanya sedang menunggu kedatangan Anjela dan Rahul. Pembatalan pernikahan mereka membuat Sinta dan Khairul sedih, mereka memberi waktu untuk Rahul dan Anjela berbicara, tetapi mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.
"Apa mereka berantem?" tanya Sinta menduga-duga.
"Mana mungkin, mereka tidak mungkin berantem." jawab Khani.
"Bulat, cobe tengok budak tuh kat kamar, ajak makan juge!" kata Khairul menyuruh Bulat.
"Baik, Papa."
Bulat berjalan menuju kamar Rahul berada, sebenarnya ia tidak ingin menganggu Anjela dan Abang iparnya itu, namun karena itu perintah dari ayah mertua dan ia wajib menjalankannya.
Tok Tok Tok
Bulat mengetok pintu kamar Rahul, ia berdiri di depan pintu kamar dengan perasaan was-was. Abang iparnya tidak jadi menikah dan dia takut menjadi tempat umpatan Rahul.
Ceklek.
"Ada apa?" tanya Rahul dengan suara malas.
Rahul hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya, Bulat melihat itu memicingkan mata. Ia teringat saat malam pertama dengan Khani, istrinya. Merasa apa yang di pikirkan dia benar, Bulat langsung menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.
Rahul melihat Bulat dengan malas, kali ini ia malas untuk bertemu siapapun. Ia tahu apa yang di pikiran Bulat karena adik iparnya itu pernah melakukannya sebelumnya.
"Kami tidak ingin keluar! Tolong bawakan makanan untuk kami!" kata Rahul datar, ia langsung menutup pintu meninggalkan Bulat yang masih tercengang karena kaget.
__ADS_1
"Astaga! Apa benar itu terjadi? Tapi mereka belum menikah? Itu pemerkosaan atau apa? Aku harus bagaimana?" Bulat bingung sendiri, ia ingin mengabarkan ke lainnya, tapi takut dengan Rahul.
"Ya Allah, apa benar itu yang terjadi?" gumam Bulat resah.
Bulat memutuskan kembali ke ruang makan, melakukan apa yang di katakan Rahul tadi, meminta mengantarkan makan.
"Kemana mereka?" tanya Sinta yang tak melihat Rahul dan Anjela.
"Me... reka sedang berbincang-bincang Ma, kata Abang dia mau di antar kan makanan untuk mereka. Hm... aku antar makanan untuk di aja ya?"
Bulat mengatakannya dengan gugup, Khani yang melihat tingkah suaminya langsung curiga, ia yakin jika suaminya menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa mereka tidak turun? Berbincang mereka lama sekali, mereka berbincang atau merencanakan perang?" tanya Sinta merasa ada yang aneh.
"Aku tidak tahu, Ma. Aku hanya di suruh begitu, ya sudah aku siapkan makanan untuk mereka." kata Bulat hendak menyiapkan makanan untuk Rahul dan Anjela.
"Tunggu, biar pelayan saja!" kata Khani karena tidak terima jika suaminya di suruh begitu.
"Tidak, biar aku saja." balas Bulat dengan cepat.
"Anjela." panggil Rahul, ia duduk di tepi ranjang disamping Anjela. Rahul ingin menyingkap selimut yang menutupi Anjela, namun ia tidak melakukan itu.
"Maafkan aku!" gumam Rahul lirih.
"Kalau kamu tidak mau menikah denganku tidak apa-apa. Aku janji akan menemui Anjeli, kalian akan hidup bebas nanti. Aku akan pergi jauh, mungkin aku memang tidak cocok untuk kalian!"
"Anjela, maafkan aku! Setelah ini kamu dan Anjeli bisa memilih, mau kembali ke Desa atau tinggal di kota mana atau daerah mana saja, aku akan membelikan kalian rumah dan uang. Maafkan aku! Maafkan aku!"
Mendengar itu Anjela langsung menyingkap selimutnya, tak lupa ia menutupi dadanya. Ia menangis. Anjela menangis karena mendengar itu, tapi tak di pungkiri ia merasa sangat bersalah kepada Anjeli. Apapun yang terjadi dengan dirinya tak sebanding dengan penghianatan nya dengan kembarannya, ambisinya untuk menikah dengan Rahul musnah sudah. Anjela tak bisa jauh dari Anjeli, dari dalam kandungan sampai sekarang ini.
"Tolong bantu cari Anjeli! Setelah ini kami akan pergi!" kata Anjela tanpa melihat Rahul, ia menundukkan kepalanya.
"Abang tidak perlu mencari kami lagi, kita dulu bukan siapa-siapa dan setelah ini juga begitu. Anggap saja ini mimpi. Jangan kasih tahu kepada siapapun jika kami pergi, Anjela menganggap jika ini hanya khayalan. Terimakasih, tolong cari Anjeli!"
__ADS_1
"Saya akan mencari Anjeli secepatnya, kalian bisa pergi nanti! Lupakan saya, anggap dari pertemuan kita dulu hanyalah bayangan, anggap kejadian yang pernah kita lalui hanya khayalan semata. Anjela, terimakasih untuk mencintai saya."
"Kak Rosan tahu di mana Anjeli,"
"Saya akan segera menemui Anjeli."
Tok Tok Tok
"Tunggulah di sini, kita makan dulu!"
Rahul beranjak dari tempat tidur, kemudian ia berjalan menuju pintu kamar. Ia tahu itu pasti Bulat yang mengantarkan makanan.
Rahul membukakan pintu, ia melihat Bulat membawa nampan yang berisi makanan.
"Bang, ini ma..."
"Aku akan berangkat subuh nanti, kau beli rumah yang bagus untuk Anjela dan Anjeli. Cari Rosan dan paksa dia mengembalikan Anjeli, jika dia tidak membuka mulut kau bisa memotong jarinya. Ini tugas untukmu, jangan sampai terlewat. Besok semuanya harus siap. Kau mengerti?"
"Bang. Abang mau berangkat kemana?" tanya Bulat kaget mendengar itu.
"Menebus dosaku!"
"Bang."
"Lakukan apa yang aku perintahkan, jangan sampai ada siapapun yang tahu, apalagi istrimu! Beri pelajaran untuk Rosan dan Anjeli harus ada besok. Bawa Anjela dan Anjeli pergi, beri mereka tempat yang terbaik."
"Bang, tapi kenapa harus tiba-tiba begini?"
Rahul memejamkan matanya sejenak, kemudian ia melihat adik iparnya itu.
"Aku yang salah, lakukan saja!"
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung