Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Desa Manis Madu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rahul sudah bersiap, dia dibantu Anjela untuk pergi ke panti asuhan. Bulat dan Rahul memakai mobil yang berbeda, kali ini Rahul sendiri yang menyetir karena desa itu berjarak 2 jam saja dari rumah Iskandar dan Aina.


"Abang pulang sore kan?" tanya Anjela melihat Rahul memakai baju.


"Iya, tapi lihat kondisi dulu ya. Kalau cepat, Abang akan sore ini pulang, tapi kalau lama Abang akan menginap." jawab Rahul sambil tersenyum ke arah Anjela.


Anjela yang duduk di sofa langsung berjalan ke arah Rahul, ia memeluk suaminya dengan sayang. Anjela mendongak melihat wajah Rahul.


"Jangan lupa oleh-oleh ya." kata Anjela.


"Kamu mau apa?" tanya Rahul, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Anjela.


"Apa saja yang penting enak."


"Enak?" tanya Rahul, tampak ia berfikir sejenak.


"Iya, apa saja yang penting enak."


Rahul hanya mengangguk, tapi mengingat nama desa yang hendak ia pergi membuat ia teringat akan sesuatu.


"Kalau madu bagaimana?" tanya Rahul.


"Madu? Itu manis, tapi bawa yang lebih manis ya!" pinta Anjela penuh harap.


"Siap, Abang akan bawakan madu paling manis untuk kamu. Asalkan janji jangan menolaknya?"


"Anjela janji, Bang. Anjela akan suka." jawabnya dengan senang.


"Ayo kita sarapan, Abang tidak mau pergi terlambat. Jika Abang terlambat, Abang juga akan pulang lambat nantinya."


"Abang benar, ayo kita sarapan."


Dengan rasa bahagia Anjela menemani Rahul sarapan, waktu masih benar-benar pagi dan yang lainnya belum bangun kecuali pelayan di rumah itu. Dengan lahap Rahul makan nasi goreng, sesekali mereka saling melirik dan tersenyum.


"Semalam Mami mengajak Anjela ke rumah sakit hari ini." kata Anjela membuka suara.


"Mau ngapain, Mami sakit?"


"Tidak, katanya mau ngecek kesehatan Anjela. Belum memberitahu Anjeli sih, tapi Anjela yakin jika Anjeli juga akan ikut."


"Semoga kamu baik-baik saja ya, jangan lupa hati-hati."

__ADS_1


"Iya, Abang."


Setelah sarapan Rahul pamit, melihat keadaan masih sepi jadi dia pamit dengan istrinya saja. Rahul memeluk Anjela dengan erat, ia mencium seluruh wajah istrinya dengan sayang.


"Jangan nakal jika Abang tidak ada, jangan lirik Dewa, jangan dekat-dekat dengan lelaki manapun, pokoknya kamu jangan dekat dengan siapapun, khusus pria!" kata Rahul mengingatkan.


Anjela melepaskan pelukannya, ia melihat Rahul dengan wajah cemberut. Tak lama itu kemudian dia tersenyum melihat Rahul, ia yakin jika Rahul berkata seperti itu pertanda jika Rahul menyayanginya.


"Iya, Abang Sayang. Anjela tidak akan dekat dengan siapapun."


"Bagus, sekarang Abang berangkat dulu ya."


"Iya, hati-hati. Jangan lupa pulang dan oleh-olehnya."


Rahul mengangguk, kemudian ia masuk kedalam mobil. Ia membuka jendela mobilnya dan melihat wajah istrinya berdiri menghadapnya.


"Sampai jumpa, Sayang. Abang mencintaimu."


"Sampai jumpa Abang. Anjela mencintai Abang."


Mereka sama-sama tersenyum, kendaraan setelah itu Rahul pamit dan melajukan mobilnya ke Desa Manis Madu, tempat panti asuhan yang ingin ia sumbangkan sebagian hartanya. Sementara Bulat sudah menunggu di jalan sebelum menuju kesana dan mereka sudah berjanji untuk bertemu.


Dengan hati yang menahan rindu, Anjela yang di luar rumah ingin masuk kedalam rumah lagi. Saat berjalan ia melihat Anjeli dan Dewa berdiri didepan pintu melihat ke arahnya, ternyata mereka dari tadi melihat Rahul yang berpamitan dengan Anjela.


"Iya, kemana Abang Rahul pergi?" tanya Anjeli.


"Ke Panti Asuhan, membagikan sumbangan. Katanya akan cepat pulang." jawab Anjela, ia melihat kembarannya, kemudian ia melihat Dewa. Mengingat apa yang di katakan Rahul kepadanya jangan mendekati laki-laki lain, dengan cepat Anjela pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah.


"Ada apa dengannya, Beby?" tanya Dewa.


"Tidak tau Ayang, mungkin Anjela sakit perut dan ingin buang air besar." jawab Anjeli menebak saja.


"Oh."


***


Rahul sudah bertemu dengan Bulat, dengan satu lori besar mereka pergi ke Desa Manis Madu. Rahul deretan paling belakang, mereka melajukan mobil dengan cepat karena jalanan menuju kesana sangat mulus dan sepi.


Tak berapa lama, mereka memasuki hutan. Sekeliling jalan mereka di penuhi dengan pohon yang besar-besar. Rahul yang melewati itu merinding sendiri karena takut.


"Lebih seram dari desa kemarin." gumam Rahul.

__ADS_1


Beberapa menit setelah itu, barulah mereka memasuki desa. Hanya ada beberapa rumah saja dan itupun kecil-kecil. Mereka berhenti di depan jalanan sempit, mereka bingung sendiri melihat jalan itu karena mereka tidak dapat menuju ke Panti Asuhan itu.


Bulat keluar dari mobil, ia berjalan mendekati mobil Rahul dan mengetoknya.


"Ada apa?" tanya Rahul.


"Bang, sepertinya kita harus jalan kaki menuju Panti Asuhan. Jalan didepan kecil dan kita tidak bisa masuk, kata mereka Panti itu dekat dan kita hanya berjalan beberapa menit saja."


"Jadi, kau menyuruhku jalan kaki?"


"Mau bagaimana lagi?"


Rahul berdecak, ia melihat Bulat dengan kesal. "Kau saja dan yang lainnya mengantar kesana. Aku tunggu disini saja, aku tidak ingin berjalan, aku lelah." kata Rahul dengan ketus, akibat bermain terlalu lama dengan Anjela membuat tubuhnya lemah.


"Baiklah, beri kami waktu. Aku akan mengantarkan barang-barang disana."


"Hemm, eh jangan lupa, beli madu di desa ini. Siapapun yang menjualnya beli saja, Anjela yang mau."


"Baik, Bang."


Setelah Bulat pergi Rahul langsung memainkan handphonenya, tidak ada sinyal disana jadi ia memainkan game offline saja. Sedangkan Bulat dan orang-orang lainnya menurunkan barang-barang yang untuk diberikan kepada Panti Asuhan.


Satu persatu mereka membawa barang-barang dan berjalan menuju pantai Asuhan membuat Rahul tinggal sendirian, ia lupa dengan keadaan karena asik bermain dengan gamenya.


Bolak balik Bulat dan yang lainnya berjalan mengangkat barang-barang itu, sampai tersisa sebagian. Perlahan hari mulai mendung dan rintik hujan mulai turun, di panti asuhan Bulat dan yang lainnya memilih istirahat disana karena lelah. Para penghuni Panti menyambut mereka dengan senang, merekapun disuguhi makanan dan minuman seadanya.


Hujan makin deras turun, Bulat yang tengah makan bersama yang lainnya turut melupakan Rahul yang sendirian di dalam mobil. Mereka makan sembari mengobrol dengan pengurus Ibu pengurus Panti.


Rahul yang bosan menyudahi permainannya, ia mengusap wajahnya dan melihat ke sekeliling.


"Hujan." gumam Rahul.


Tok Tok Tok.


Rahul yang mengira itu Bulat, tanpa melihat keluar jendela ia langsung menurunkan kaca jendela. Namun saat ia menoleh ke arah jendela, ia terperanjat kaget.


Wanita muda berdiri disana, ia tampak kedinginan dan badannya gemetaran, namun ia tersenyum melihat Rahul yang kaget bukan main.


Mata Rahul melotot melihat gadis itu, ia mengingat masa lalunya saat pergi ke panti asuhan Anjela dan Anjeli. Baju kuyup itu mencetak jelas apa yang ada didalamnya, Rahul menelan ludah melihat itu. Seketika pusaka dibawahnya tegang, efek jamu itu benar-benar kuat.


"Bapak."

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2