
Jam lima pagi Anjeli terbangun dari tidurnya, ia merasakan ada yang aneh di selangkangannya. Mata Anjeli sangat berat untuk dibuka karena permainannya yang begitu semangat malam tadi.
Namun ia harus membuka mata karena ia merasakan ada yang aneh di selangkangannya, sesak dan penuh.
"Ayang?"
"Sssttt..."
"Ta ..."
"Pengen lagi, Beb."
Anjeli hanya mengangguk saja, Dewa tersenyum kemudian melanjutkan aksinya. Baginya bercinta dengan Anjeli membuat ia ketagihan.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka berdua sama-sama mencapai puncak.
Dewa membaringkan diri di samping Anjeli, ia tersenyum melihat istrinya itu.
"Capek?" tanya Dewa melihat istrinya.
"Hem."
Dewa terkekeh pelan, ia melihat istrinya sedang mengatur nafas.
"Mau bulan madu kemana?"
Anjeli yang tadinya terlentang kini menyampingkan tubuhnya, ia melihat Dewa yang tengah melihatnya sambil tersenyum.
"Desa Tanpa Nama." jawab Anjeli.
"Dimana itu?"
Dewa bingung dan tak mengerti, "Desa Tanpa Nama." gumamnya.
"Iya, tempat asal ku."
"Dimana itu?"
"Di Desa."
"Iya tahu, tapi di mananya?"
"Tidak tahu."
Dewa menatap mata Anjeli, ia merasa bersalah karena tidak tahu siapa istrinya itu. Asal usulnya dan segala tentang Anjeli, ia hanya mendapatkan Anjeli dari Rosan.
"Beby, orangtuamu dimana?"
"Beby hanya punya Ibu Asih, tidak ada orangtua."
"Maksudnya?"
"Beby dan Anjela tinggal di panti asuhan."
"Hah!"
Dewa langsung duduk, ia melihat Anjeli dengan iba. Baginya kehilangan ibunya sangat menyakitkan, apalagi hidup tanpa ayah dan ibu.
__ADS_1
"Sayang." kata Dewa dengan manja, kemudian ia membaringkan diri lagi dan langsung memeluk Anjeli.
"Ada apa?" tanya Anjeli kaget dengan tingkah Dewa.
"Kita cari orangtuamu ya, kamu ada potonya atau apa?"
"Sudahlah, Ayang. Beby cuma mau bertemu dengan Anjela saja. Beby sudah biasa tanpa orangtua, Beby cuma tak biasa tanpa Anjela."
Dewa berpikir sejenak, ia mengkhawatirkan sesuatu.
"Kalau Beby bertemu dengan Anjela, Beby tidak akan pergi kan dari Ayang?"
"Mana mungkin Beby pergi, Beby kan sudah menjadi istri Ayang."
"Uhh... pintarnya istri Ayang ini." kata Dewa sambil mengelus pipi Anjeli dengan sayang.
"Udah ah, Beby mau mandi dulu."
"Yakin?"
"Iya lah!"
"Ini kamu tidak sakit?" tanya Dewa menyentuh sedikit ke area sensitif Anjeli.
"Sakit lah!"
"Mau Ayang gendong?"
"Boleh."
Dewa langsung bangkit, ia beranjak dari tempat tidur dan berdiri di tepi tempat tidur bersiap menyambut Anjeli untuk di gendong.
"Hem."
***
"Mami pagi-pagi mau kemana sih?"
"Cari suami lagi!" jawab wanita paruh baya itu sedang memakai baju, tapi ia masih terlihat cantik.
"Mami mau selingkuhi Papi?"
"Apaan sih Pi! Mami mau cari anak kita. Papi tidak becus mencari anak!"
Pria paruh baya itu langsung beranjak dari tempat tidurnya, ia menghela nafas melihat istrinya itu.
"Biar anak buah Papi saja yang mencari, Mami jangan berulah deh!"
"Maksud Papi apa? Mami ini mau mencari anak Mami. Apa Mami salah?"
"Bukan salah tidak salah, kalau mereka melihat wajah Mami di luar bagaimana?"
Pria paruh baya itu khawatir jika musuh-musuh ayahnya menangkap istrinya.
"Masa bodoh! Mami lihat kita seperti tidak ada musuh, capek Mami terkurung di sini. Anak Mami lebih penting, kalau Papi tidak mau kita pisah saja!"
"Mami apa-apaan sih? Kenapa pagi-pagi harus bilang pisah-pisah, Mami sudah tidak sayang lagi sama Papi?"
__ADS_1
Wanita itu melihat suaminya dengan tatapan marah, ia sudah bersiap untuk pergi keluar, namun di cegat membuatnya marah dan suaminya itu membuat ia makin marah lagi.
"Kita akan benar-benar berpisah jika hari ini anak kita tidak ketemu! Kalau tidak bertemu juga, maka Papi tidak akan bertemu dengan Mami selamanya! Ingat itu!"
"Iya, akan Papi usahakan."
Wanita itu melihat suaminya dengan malas, kemudian ia pergi meninggalkan suaminya.
"Mami mau kemana?"
"Cari angin!"
Brakk
Pria itu terperanjat karena bunyi pintu yang di tutup dengan kuat.
"Nak, nak. Dimana kamu sekarang?" gumamnya.
Pria itu berjalan dengan cepat menuju meja di samping tempat tidurnya, ia mengambil handphonenya dan langsung menghubungi anak buahnya.
"Selamat pa ..."
"Jika anak-anak ku tidak ketemu juga hari ini, maka kau akan aku pecat. Apa kau mengerti?!"
"Maafkan saya, Tuan. Saya mau mengabarkan jika semalam ada informasi jika atas nama Anjela dan Anjeli mendaftarkan diri di KUA untuk menikah dan pernikahan itu sudah berlangsung, Tuan."
"Apa? Dimana?"
"Di Ibukota, Tuan."
"Cepat bawa anak-anak ku pulang! Menikah apanya, mereka masih 20 tahun!"
"Maaf, Tuan. Tapi itu belum di pastikan anak Anda."
"Kau bodoh atau apa? Fotonya kan ada, cepat cari tahu. Hari ini harus dapat, jika tidak kau akan aku pecat!"
"Baik, Tuan."
Pria itu langsung mematikan teleponnya, ia merasa senang mendengar itu. Dengan semangat ia berjalan keluar kamarnya, menemui istrinya.
"MAMI." teriaknya sampai menggema ke seluruh ruang.
Pria itu berlari kecil, mencari istrinya kesana kemari. Para pelayan melihatnya aneh, bukannya bertanya kepada pelayan ia malah sibuk sendiri.
"MAMI."
Pria itu sampai keluar rumah, ia mengatur nafasnya saat melihat istrinya sedang di kebun bunga sambil minum teh. Dengan nafas yang tersengal-sengal ia berjalan menemui istrinya.
"Mami, ayo kita ke Ibukota." ucapnya saat mendekat dengan istrinya.
"Mau ngapain?" tanya istrinya dengan malas.
"Anak kita sudah di temukan."
"OMG, kalau gitu ayo kita berangkat sekarang. Oh... anakku, Mami datang sayang!"
Cangkir yang berisi teh yang di pegang wanita itu langsung di buang, istrinya langsung heboh dan pergi meninggalkan suaminya karena ingin cepat bersiap-siap. Pria paruh baya itu hanya menatap istrinya yang berlari kecil kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
"Capek!"
🦀🦀🦀