
**Jangankan novel, Anda saja punya masalah hidup! Bisa baca komentar saya di Bab 31 Nona Anjeli.
🌹 Lanjut Baca 🌹**
"Apa Anjeli sudah cantik?" tanya Anjeli memakai kebaya warna merah muda.
Dewa menganggukkan kepalanya, gadis di depan matanya terlihat sangat cantik.
"Huh... rasanya ini terlalu tebal!" Anjeli melihat bibirnya yang memakai lipstik warna merah muda pula, karena tidak pernah memakai itu sebelumnya jadi ia merasa bibirnya aneh.
"Kalau tebal sini aku sedot, biar tipis." kata Dewa menaikkan kedua alisnya.
"Maksudnya?" tanya Anjeli yang tidak mengerti.
Dewa memuncungkan bibirnya, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau kau menggoda kita tidak jadi nih, berani kau!" ancam Anjeli, Dewa langsung memasang wajah masam.
"Maaf... maaf... ayo kita berangkat!"
"Tunggu! Apa Anjeli cantik?" tanyanya masih setia melihat kaca.
"Kau sangat cantik, bagaikan bu..."
"Buuulaan... madu di atas pelangi, hanya kita berdua." Anjeli bernyanyi memotong perkataan Dewa.
Dewa melihat Anjeli dengan memicingkan matanya, kemudian tersenyum.
"Nyanyi yuk!" ajak Dewa, mendengar itu Anjeli mengangguk cepat.
"Tapi lagu apa?" tanya Anjeli.
"Aku nyanyi dulu baru kamu ikutin, mau nggak?"
"Boleh... boleh..." jawab Anjeli dengan semangat.
Dewa berpikir sejenak, sedangkan Anjeli tak sabar ingin mendengar lagu apa yang di nyanyikan Dewa.
"Oke... aku tau lagu apa!"
"Lanjut."
"Kau suka ku cinta, jadinya sama-sama." Dewa melirik Anjeli, dengan senang hati Anjeli menyambung lagunya.
"Ku rindu ku kangen, jadinya satu sama. Azzeekk." Anjeli melihat Dewa lagi.
__ADS_1
"Kalau sudah begini, Sayang. Berpisah ku tak kuat."
"Jangankan satu minggu, Sayang. Sehari ku rindu berraaat..."
Anjeli dan Dewa mengangguk kompak tanda bernyanyi bersama.
"Kita sama-sama suka, kita sama-sama cinta. Biar saja orang mau bilang apaa... Hey... kita sama-sama suka, kita sama-sama cinta. Biar saja orang aku bilang apa."
Mereka tertawa bersama, Anjeli mengalungkan tangannya ke leher Dewa. Iya masih tertawa, Dewa melihat Anjeli langsung diam. Tawa Anjeli membuatnya makin berdebar, gadis itu benar-benar sudah memikat hatinya.
"Aku suka kamu!"
Anjeli langsung diam, dia mendongak dan melihat Dewa dengan tatapan tajam.
"Aku suka kamu!" kata Dewa mengulang perkataannya.
Anjeli masih diam, ia memperhatikan wajah Dewa dengan seksama. Melihat tidak ada respon membuat Dewa menghela nafas, ia memejamkan mata karena merasa kecewa.
Mata Dewa terbuka saat merasakan sesuatu yang menempel di bibirnya. Anjeli sudah menyerbu duluan, tanpa aba-aba dan sangat ahli.
Dewa tak ingin melepaskan kesempatan itu, ia menarik tengkuk Anjeli lebih dalam dan melum*t bibir gadis itu. Bibir mereka berpaut cukup lama, merasakan sensasi yang menjalar di tubuh mereka.
Anjeli melepaskan diri karena tak kuat menahan nafas, ia melihat Dewa yang sedang terengah-engah.
"Menikahlah denganku!" ucap Dewa dengan yakin.
"Menikahlah denganku! Hari ini! Sekarang juga!" kata Dewa lagi, kini ia memegang pipi Anjeli kemudian jarinya berada di bibir Anjeli dan mengusapnya lembut.
"Kita akan ke pernikahan anak teman Bapak, hari ini!" ucap Anjeli mengingatkan.
"Masa bodoh dengan pernikahan orang, kita akan menikah hari ini. Kamu mau kan?" tanya Dewa penuh harap.
Anjeli mengangguk, melihat itu Dewa langsung tersenyum lebar. Ia memeluk Anjeli dengan sayang dan mengecup bibir Anjeli berkali-kali.
***
Anjela menundukkan kepalanya, beberapa kali air mata menetes membasahi pipinya. Anjela dan Rahul tidak jadi menikah, Anjela yang memutuskannya.
"Kenapa?! semuanya sudah di persiapkan dengan baik, apa ini yang kamu inginkan?!" tanya Rahul dengan nada kesal, mendengar itu Anjela makin menangis.
Rahul sangat kesal saat itu juga, pernikahan mereka di batalkan oleh Anjela secara mendadak.
"Maafkan Anjela." hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya.
"Coba jelaskan, kenapa kamu membatalkannya?"
__ADS_1
"Anjela tak bisa tanpa Anjeli, Anjela minta maaf karena perbuatan Anjela Kak Rosan membawa Anjeli pergi." jawab Anjela takut-takut.
"Maksudnya?"
"Maafkan Anjela. Anjela ingin Abang Rahul menjadi suami Anjela, tapi Anjela menyuruh Kak Rosan membawa Anjeli pergi. Anjela minta maaf, huuuu... hiks."
Rahul meremas rambutnya gusar, mendengar apa yang di katakan Anjela membuat ia ingin marah besar, tapi coba di tahannya.
"Kemana Rosan membawa Anjeli?"
"Anjela tidak tahu."
"Argghh... sial!"
Anjela kaget mendengar Rahul berteriak, ia menutup wajahnya karena takut di pukul.
"Kita cari Anjeli sekarang!" kata Rahul, melihat Anjela yang menutup muka membuat ia menghela nafas berat.
"Anjela kamu dengar tidak! Kita cari Anjeli sekarang!" kata Rahul dengan kesal.
Anjela menganggukkan kepala, tapi gadis itu tak beranjak sedikitpun. Rahul makin tambah kesal di buatnya.
"Cepat ganti bajumu!"
Rahul menarik tangan Anjela, kebaya berwarna merah itu masih menempel di badan Anjela. Gadis itu hanya menurut karena merasa bersalah, Rahul melepaskan satu demi satu pakaian Anjela.
"Kenapa di suruh ganti baju saja susah!"
Kini tubuh itu polos, hanya tersisa celana dan bra saja. Rahul yang marah tadi langsung berubah.
"Bukankah hari ini adalah malam pertama kita!"
Anjela langsung melihat ke arah Rahul yang melihat gundukan di dadanya.
"Abang." panggil Anjela seraya menutupi miliki.
"Kau sangat menginginkan aku bukan!"
"Abang." panggil Anjela lagi, ia berjalan mundur saat Rahul menatapnya begitu buas.
"Akhhh..."
Rahul memegang lengan Anjela kuat, ia langsung menarik Anjela agar berdempet ke tubuhnya.
"Kau menginginkannya bukan."
__ADS_1
🌹🌹🌹