Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Nona Anjeli


__ADS_3

Rosan melirik ke arah Anjeli yang sedang sibuk bermain handphone, Anjeli nampak sangat serius mamainkan zona cacing. Rosan hanya menyunggingkan senyumnya saat Anjeli tak menghiraukan jalanan yang akan di lalui mereka, Rosan juga berpikir jika Anjeli tidak akan mengerti soal jalan atau arah kemana ia akan mengajak Anjeli.


"Anjeli, saat sampai nanti handphonemu saya pinjam ya. Saya mau mencoba game itu juga!" seru Rosan dengan nada bicara yang terdengar semangat.


"Kak Rosan suka main ini juga?" tanya Anjeli tanpa melihat Rosan, ia masih fokus dengan permainannya.


"Saya juga suka, eh... jadi benar kamu mau menikah dengan Abang Rahul?" tanya Rosan kepo dengan urusan mereka.


"Iya, Anjeli mau menikah dengan Abang Rahul."


"Kalau kamu menikah dengannya, jadi bagaimana dengan Anjela?"


"Kami menikah bertiga, kami juga akan tinggal jauh sekali."


"Dasar kecebong hanyut, bisa-bisanya dia masih tetap kukuh ingin menikahi dua gadis kembar ini." kata Rosan dalam hati.


"Mana boleh menikah seperti itu!"


"Kata Abang, manusia itu punya banyak dosa. Jadi dia juga ingin berbuat dosa." jawab Anjeli.


"Oh... Anjeli, apa kamu masih perawan?" tanya Rosan sambil melirik tubuh Anjeli yang berbalut dengan dress biru muda.


"Anjeli tidak tahu, tapi Abang Rahul cuma mencium Anjeli dan memegang dada Anjeli saja." jawab Anjeli dengan jujur.


"Dasar memang kecebong dia tuh!"


"Kalau begitu, berarti kamu masih perawan!"


"Oh... berarti Anjeli masih perawan."


Rosan makin menyunggingkan senyumnya, ia sangat senang mendengar kabar jika Anjeli masih perawan.


"Anjeli."


"Ya!"


"Kamu harus dengarkan saya, ini rencana dan perintah dari Abang Rahul. Kita tidak pergi menuju bandara saat ini, tapi ke rumah orang yang sangat kaya. Abang Rahul bilang, kamu harus tunggu dia datang dulu baru kamu bisa keluar dari rumah itu. Apa yang saya katakan ini apa kamu mengerti?"

__ADS_1


Anjeli mematikan handphonenya, ia menoleh ke arah Rosan yang sedang mengendarai mobil dan sesekali memandangnya.


"Tapi Abang Rahul tidak bilang begitu dengan Anjeli, Abang bilang kita akan langsung ke bandara dan berangkat ke Batam." jawabnya mengingat apa yang di rencanakan Rahul semalam.


"Itu memang benar, namun karena pesawatnya hanya cukup dengan Abang Rahul dan Anjela maka kamu tidak bisa berangkat. Apa kamu mengerti?"


"Tapi, bukankah pesawat itu besar. Anjeli sama Anjela sering kok lihat pesawat di atas langit waktu di desa."


"Besar apanya? kalau kamu lihat di atas langit pasti pesawat itu kecil kan?"


Anjeli hanya mengangguk saja, memang benar saat ia melihat pesawat di atas langit tampak kecil.


"Nah... maka dari itu jadinya tidak muat. Pokonya kamu dengarkan saya aja, kamu nggak maukan Abang Rahul kecewa?"


"Anjeli nggak mau Abang Rahul kecewa, jadi Anjeli akan menurut saja."


"Anjeli memang pintar!" ucap Rosan dengan senyuman ia mengelus kepala gadis itu tanda memuji.


"Benarkah Anjeli pintar?" tanyanya dengan semangat.


"Benar, kamu memang sangat pintar."


"Kamu akan pintar bermain panas nanti."


"Maksudnya?"


"Kamu akan tahu sendiri."


Anjeli memanyunkan bibirnya, ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Rosan. Karena malas berbicara dengan Rosan lagi, Anjeli sibuk melihat ke arah luar. Ia tersenyum melihat pemandangan yang cantik, namun matanya terbuka lebar saat mereka memasuki gerbang yang besar dan di suguhi halaman yang besar pula.


"Apa ini istana?" tanya Anjeli terperangah melihat rumah yang sangat besar itu, bangunan itu kalah jauh dari rumah Rahul.


"Iya, Abang Rahul baikkan menyuruh Anjeli tinggal di sini dulu?"


"Abang Rahul sangat baik, Anjeli makin sayang dengan Abang Rahul!"


"Makan tuh sayang!"

__ADS_1


"Kamu tunggu sebentar, biar saya membukakan pintu mobil untukmu."


Anjeli menunggu dengan tidak sabar, ia ingin segera turun dan melihat-lihat indahnya tempat itu. Rosan dengan senang hati membukakan pintu mobil untuk Anjeli, dengan cepat gadis itu turun saat pintu mobil sudah terbuka.


"Wah... tempat ini sangat cantik, apa Anjeli benar-benar akan tinggal di sini nanti?"


"Iya, kamu boleh tinggal selamanya di sini."


"Benarkah?" tanyanya dengan girang, tempat itu memang jauh lebih mewah dari rumah Rahul.


"Kalau begitu ayo masuk, kamu akan di berikan apapun yang kamu inginkan nanti. Tapi, kamu harus menurut apa yang mereka katakan, apa kamu mengerti?"


"Anjeli mengerti, apa mereka jahat?" tanya Anjeli dengan raut wajah yang khawatir.


"Tidak, Anjeli akan selalu mendapatkan kenikmatan nanti. Jangan khawatir, ya!"


Anjeli hanya mengangguk, ia tidak ingin memikirkan yang lain. Anjeli hanya ingin melihat isi dalam rumah itu dengan tak sabar.


"Ayo kita masuk!"


"Ayo!" seru Anjeli dengan semangat.


Mereka berjalan sampai di beranda rumah itu, belum menekan bell pintu rumah itu langsung terbuka lebar dan pelayan di sana menyambutnya dengan baik.


"Silahkan langsung ke kamar Tuan Muda, mari ikut saya!" pelayan wanita itu berjalan dan di ikuti dengan Rosan dan Anjeli. Saat Rosan hendak menaiki tangga menuju lantai dua, ia langsung di halangi dengan pengawal yang menjaga di sana.


"Maaf, Anda tidak boleh masuk. Hanya gadis ini saja yang boleh!" kata pengawal yang berjas hitam itu dengan tatapan dingin.


"Oh, Oke. Baiklah Anjeli, saya hanya bisa mengantarmu sampai di sini saja. Oh iya, mana handphonemu biar saya pinjam."


Anjeli langsung memberikan handphonenya kepada Rosan.


"Baiklah, selamat bersenang-senang. Bye..."


"Bye... sampai jumpa lagi." jawab Anjeli dengan senang.


"*Selamat tinggal, Nona Anjeli yang malang. Terimakasih telah menebus hutang-hutangku yang bejibun itu hahahaha...."

__ADS_1


🌹🌹🌹*


__ADS_2