
🌹🌹🌹
Selamat Membaca
Dengan wajah menahan malu kini Bulat sedang menjemur pakaiannya yang basah, badannya di kini hanya di bungkus dengan sarung. Setelah Bulat menjemur pakaiannya ia langsung berjalan menuju mobil Rahul, walaupun di sepanjang jalan ia di tertawakan anak-anak panti tapi ia terus jalan sampai ke mobil.
Di dalam mobil Rahul sudah ketiduran sambil mendengarkan lagu, sedangkan Anjela dan Anjeli tertawa terpingkal-pingkal karena menonton video. Mereka sedang menonton video Dalang Pelo yang sudah di download Bulat sebelumnya, mereka asik tertawa sampai tak sadar jika Bulat sudah masuk ke dalam mobil.
"Dasar cewek gila, bisa-bisanya mereka tertawa seperti itu setelah meminjam handphoneku yang malang." Bulat memicingkan matanya melihat ke belakang.
"Bang, abang tidur atau menghayal?" Bulat menggoyangkan badan Rahul pelan, tapi Rahul tidak merasa terganggu sedikitpun.
Bulat merasa kedinginan di dalam mobil karena ia hanya memakai kain sarung, ia berdecak kesal karena Rahul menghidupkan AC dengan suhu yang sangat dingin.
"****** juga aku disini," umpat Bulat kesal.
"Eh, Kembar. Kembalikan handphoneku, aku yakin jika baterainya pasti tinggal sedikit." Bulat merampas handphone miliknya yang ada di tangan Anjela.
Anjela dan Anjeli sangat kecewa karena Bulat mengambil handphone, mereka langsung berwajah sedih. Bulat tidak tega melihat wajah mereka yang sendu, akhirnya Bulat memberi handphonenya kembali.
"Terimakasih, Bapak Gendut," ucap mereka dengan senang.
"Hmm..." Bulat keluar dari mobil dan mengambil selimut yang selalu di sediakan di bagasi mobil, setelah mengambil selimut ia berjalan menuju lori dan istirahat di sana.
Anjela dan Anjeli kembali senang karena handphone tersebut sudah kembali ke tangan mereka, Dalang Pelo di putar kembali dan mereka kembali tertawa terpingkal-pingkal.
Rahul terbangun dari tidurnya, pinggangnya merasa pegal karena tidur duduk. Rahul melihat Anjela dan Anjeli di belakang mereka sedang tertawa membuat Rahul juga ikut tertawa pelan. Rahul melepaskan earphonenya dan barulah terdengar suara tawa Anjela dan Anjeli yang memekakkan telinga.
"Hey... tenanglah kalian berdua!" seru Rahul, ia meraih handphone di tangan Anjela dan melihat video yang membuatnya geleng kepala.
"Bapak, kami mau menonton," rengek Anjela dan di susul dengan Anjeli.
"Baterai handphonenya sedikit, ini sudah petang sebaiknya kalian mandi dulu. Aku mau membersihkan tubuh dulu di sini, sebaiknya kalian berdua keluar ya!"
Anjeli dan Anjela menggelengkan kepalanya kompak, mereka sudah nyaman di dalam mobil dan tidak ingin pergi keluar. Rahul langsung membuka bajunya, ia ingin membuat Anjela dan Anjeli malu melihat tubuhnya dan segera keluar. Kedua gadis kembar itu melongo melihat badan Rahul yang tercetak sempurna, dada yang bidang dan perut sixpack.
"Kalian malu kan?" tanya Rahul menyunggingkan senyumnya, ia yakin jika anak-anak desa pasti malu melihat tubuh lelaki kota yang memiliki tubuh yang sempurna seperti Rahul.
"Apa Anjela juga boleh membuka baju?
"Apa Anjeli juga boleh membuka baju?"
__ADS_1
Rahul menatap kedua gadis itu tak percaya, matanya makin melotot saat kedua gadis itu siap untuk membuka baju.
"Tidaaaakkkkk!" Rahul berteriak kencang saat perut Anjela terlihat olehnya.
"Eh Leri, kenapa berteriak?" tanya Anjela dengan polos.
Leri adalah salah satu karakter dari animasi Dalang Pelo, Anjela memanggil Rahul dengan nama itu karena menurutnya Rahul keren seperti Leri.
"Namaku Rahul bukan Leri, kalian jangan buka baju. Ingat kalian itu perempuan, apa kalian tidak malu?" tanya Rahul.
Anjela dan Anjeli menggelengkan kepalanya kompak.
"Kami mandi lepas baju kok, kami tidak malu." Anjeli menjawab dengan santai.
"Kalian mandi di sungai tanpa menggunakan sehelai kain pun?" tanya Rahul tidak menyangka.
Kedua gadis itu mengangguk kompak, Rahul pusing membayangkan itu semua.
"Jangan mandi, jangan mandi sampai besok! kalian tidak boleh mandi, kalian boleh mandi jika sampai di rumah ku saja." Rahul mengatakan itu dengan cepat, ia tidak dapat membayangkan jika Anjela dan Anjeli tanpa busana mandi dan di lihat dengan orang lain.
Kedua gadis kembar itu mengangguk cepat, mereka tersenyum merona. Mereka tak memperdulikan apa yang di katakan Rahul tadi, mereka hanya fokus melihat dada dan perut Rahul. Rahul tahu pandangan itu, dengan cepat ia memakai bajunya kembali.
"Baju bapak sangat bagus dan harum sekali," kata Anjeli melihat baju kaos Rahul yang memikat hatinya.
"Oh ya, tapi apa kami berdua cantik?" tanya Anjela.
Rahul melihat dua gadis itu, bohong jika Rahul mengatakan jika Anjela dan Anjeli tidak cantik.
"Kalian cantik, tapi tutuplah tubuh kalian itu dengan baik agar mata yang memandang tidak... anu,.." Rahul sangat sulit mengatakannya, melihat tubuh dua gadis itu membuat ia sungguh bergairah.
"Iya kami mengerti." Anjela dan Anjeli menjawab kompak.
"Mengerti? emangnya saya mengatakan apa?" tanya Rahul.
"Di tutupi pakai selimut kan?"
Rahul menghela nafas panjang, ia memejamkan matanya sejenak dan membuka kembali lalu tersenyum.
"Besok kita beli baju ya!"
"Tapi, apa kami harus menutupi tubuh kami dengan selimut?"
__ADS_1
Bibir Anjeli sungguh menggoda di mata Rahul, ia tak ingin menjawab. Semakin di ladeni kedua gadis kembar di depannya membuat ia menahan sesak.
"Bapak bagaimana caranya kami mendapatkan benda seperti tadi?" melihat Rahul yang tak menjawab akhirnya Anjeli menanyakan handphone yang membuat mereka berdua tertawa keras tadi.
"Ini?" Rahul menunjukkan handphone Bulat tadi.
Anjela dan Anjeli mengangguk kompak, "iya, itu." Mereka menjawab serempak.
"Besok kita beli ya, tapi jangan bermain handphone terlalu sering karena akan membuat mata kalian rabun!"
"Apa itu rabun?" tanya Anjela karena ia baru mendengar kata-kata itu, begitupun dengan Anjeli.
"Penyakit yang membunuh, kalian bisa mati. Jangan terlalu main handphone, oke?"
"Apakah itu sangat membahayakan?" tanya Anjeli.
"Tentu saja," jawab Rahul sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kalau sangat berbahaya kenapa di ciptakan? kenapa bapak memilikinya? atau apakah bapak yang bodoh?" tanya Anjela beruntun.
"Saya tidak bodoh, banyak alasannya itu. Sudahlah!"
"Bapak tidak nyambung!" tukas Anjeli.
"Sssttt... besok saya belikan untuk kalian, jangan bersisik lagi!"
"Katanya berbahaya, tapi kenapa mau membelikan untuk kami?"
Rahul pusing mendengar apa yang di katakan oleh Anjela dan Anjeli.
"Sebaiknya kalian diam, saya tadi hanya bercanda."
"Tuh kan, bapak tidak nyambung."
"Bapak tidak jelas, Anjeli pikir kalau bapak ini bodoh."
"Hey diamlah, jika masih berisik saya akan membuat kalian diam." Rahul ingin membuat Anjela dan Anjeli takut padanya.
"Bapak, jangan marah-marah dong. Bapak kan tampan dan ganteng, masa cuma segitu aja marah." Anjeli mengedipkan sebelah matanya.
"Jelas sekali aku tampan, tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan ku ini. Aku yakin jika mereka berdua sudah jatuh cinta kepadaku, hehehe.. susah memang jika menjadi orang tampan ini." Rahul berbangga diri.
__ADS_1
"Jangan menggodaku, aku tahu aku tampan jadi jangan terlalu fanatik ya?"
Bersambung