Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Ayang Beby


__ADS_3

Dewa mendekati Anjeli, ia memegang pundak istrinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Anjeli. Dewa mengecup bibir Anjeli sebentar, kemudian menatap mata Anjeli yang juga menatapnya.


"Beby." panggil Dewa lembut.


"Hmm..."


"Kamu sudah siap?"


"Siap apa?"


"Malam pertama!"


"Ini belum malam!"


Dewa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, Anjeli masih memperhatikan gerak-gerik suaminya.


"Itu ... melakukan itu tidak perlu malam atau siang atau pagi, asalkan kuat dan tahan lama itu sangat bagus. Beby, dengarkan Ayang se ...,"


"Ayang?" Anjeli tidak mengerti apa yang di maksudkan Dewa dengan kata 'Ayang'.


"Kamu sekarang memanggilku Ayang ya? Jangan Bab* itu tidak enak di dengar."


"Ayang itu apa?"


"Ayang itu sayang, Beby. Jadi kamu panggil saya Ayang ya, biar romantis." kata Dewa geregetan sendiri.


"Baiklah, Ayang."


Dewa berseru senang, jantungnya bagaikan hendak melompat jauh mendengar itu.


"Jadi siap untuk malam pertama kita?"


Anjeli menggelengkan kepalanya, lagi-lagi itu membuat Dewa kecewa.


"Memangnya kenapa?" tanya Dewa lembut, "Apa Beby merasa terbebani menikah dengan Ayang?"


"Bukan begitu, Ayang. Ini belum gelap, nanti malu." jawab Anjeli malu-malu pula.


Dewa geli sendiri melihat Anjeli yang malu-malu, ia merasa beruntung dapat menikah dengan wanita secantik Anjeli.


"Beby, tidak apa-apa. Kita bisa melakukannya malam nanti, sekarang kamu ganti baju dulu ya! Masa masih pakai kebaya gini."

__ADS_1


Anjeli hanya mengangguk, ia beranjak dari tempat tidur. Melihat itu Dewa ikut beranjak, ia ingin membantu Anjeli membukakan kebaya yang masih melekat indah di tubuh cantiknya.


"Ayang mau apa?" tanya Anjeli melihat tangan Dewa berada di kancing kebaya depannya.


"Membantumu membukakan kebaya, Beby."


"Nanti Beby malu." jawab Anjeli sambil memegang tangan Dewa agar tidak menyentuh dadanya.


Dewa menyerngitkan keningnya, ia merasa Anjeli berubah. Bukan menjadi penjahat, tapi semakin pemalu dan tidak agresif.


"Mengapa dia berubah? Apa yang merasukinya? Kenapa dia menjadi malu-malu kucing begini? Kemarin aku mainin miliknya malah minta nagih, sekarang pake malu-malu segala. Hadeuuhhh... dia pasti abis nonton film!" kata Dewa dalam hati.


"Kalau Beby malu biar Ayang keluar sebentar, tapi nanti malam jangan malu-malu ya?"


Anjeli hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu-malu. Walaupun Dewa tidak ingin meninggalkan istrinya di kamar, namun ia ingin Anjeli leluasa. Dewa segera meninggalkan Anjeli sendirian di kamar.


Melihat Dewa hilang di balik pintu, dengan cepat Anjeli berjalan menuju tempat tidur lagi dan mengambil handphone Dewa yang di sembunyikannya di bawah bantal.


Anjeli langsung membuka Google, karena dia tidak terlalu bisa membaca dan menulis jadi Anjeli menggunakan penelusuran suara.


"Astaga, Anjeli sangat gugup!" kata Anjeli heboh sendiri.


Anjeli langsung mencari apa yang di tersimpan di benaknya.


Anjeli mendengar dengan baik apa yang di jawab Google, ia mengangguk mengerti setelah mendengar itu.


"Tuh kan! Anjeli harus malu-malu biar Ayang melakukannya dengan sayang." kata Anjeli setelah mendengar jika wanita harus malu-malu saat malam pertama.


"Huh... terimakasih Google, untung ada kamu."


Anjeli ingin meletakkan handphonenya kembali, namun ia teringat sesuatu lagi. Ia ingin bertanya lagi dengan google agar mendapatkan jawaban.


"Ok Google. Berapa kali melakukan malam pertama agar mendapatkan anak?"


Baru hendak mendengar jawaban dari google Anjeli langsung mematikan handphonenya, ia gugup saat Dewa masuk kembali ke dalam kamar.


"Hai, Ayang." panggil Anjeli gugup, tangannya bergetar memegang handphonenya.


"Beby kamu kenapa?" tanya Dewa khawatir.


Anjeli hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Dewa merasa ada yang di sembunyikan Anjeli, melihat tangan istrinya bergetar sambil memegang handphonenya membuat ia mengira jika Anjeli sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


"Sini handphonenya!" kata Dewa meminta handphone miliknya, Anjeli yang takut menggelengkan kepalanya kuat dan segera menyembunyikan handphone itu di belakang badannya.


"Beby, sini handphonenya!" kata Dewa masih lembut.


"Tidak ada apa-apa, kok!" jawab Anjeli gugup.


"Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu gugup begitu dan kenapa handphonenya di sembunyikan begitu?"


Dewa menghela nafas karena tidak mendapat jawaban dari Anjeli, dengan terpaksa dia harus mengancam Anjeli.


"Jika tidak mau kasih, kamu tidak makan loh malam nanti. Apa kamu mau?"


"Tidak! Beby mau makan!"


"Bagus, Beby. Sekarang kasih handphonenya."


Anjeli menghela nafas berat, kemudian dengan terpaksa ia memberi handphone itu dengan berat hati.


"Pintarnya," kata Dewa setelah menerima handphonenya kembali.


"Beby tidak buka apa-apa kok, serius!" ucap Anjeli dengan cepat.


"Iya... Iya... Ayang tahu, sekarang ganti baju ya!"


Anjeli tak menjawab, ia langsung segera berlari kecil menuju kamar mandi.


"Aneh, pasti ada yang di sembunyikanya." gumam Dewa.


Sedangkan Anjeli baru masuk kamar mandi langsung memegang dadanya yang berdebar kencang.


"Untung Anjeli sudah mematikannya. Pasti Ayang tidak tahu!" katanya dalam hati.


Sementara suaminya yang duduk di atas kasur, ia tertawa sendiri di sana. Melihat riwayat pencarian Anjeli membuat ia tak kuat menahan tawa.


"Dari banyak wanita yang ku temui, kenapa kau yang sangat luar biasa lucu? Bagaimana mungkin kau bertanya dengan google pertanyaan seperti ini? Tapi tidak apa-apa, kamu pasti ingin belajar menjadi istri yang baik, Beby."


"Tapi ide mu patut di coba."


Dewa menekan penelusuran suara, kemudian ia pun berkata, "ok Google. Bagaimana menjadi suami yang baik?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2