Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Ayu vs Kabar Bahagia


__ADS_3

Rahul menelan ludahnya, tidak hanya satu wanita muda, tapi ada dua wanita muda. Saat wanita itu tegak berdiri di samping mobil, satu wanita yang lainnya berlari di tengah hujan menuju ke arah mereka.


"Kami boleh masuk, Bapak?" tanya wanita muda itu.


Bagai di hipnotis Rahul hanya mengangguk, ia menunjuk pintu mobil bagian belakang. Wanita muda itu langsung melihat pintu mobil Rahul, ia bingung cara membukanya. Wanita muda yang satunya lagi menarik sembarang pintu mobil dan akhirnya terbuka, mereka saling senyum dan akhirnya dapat masuk ke dalam mobil.


Rahul bagaikan orang yang tersengat listrik, badannya seluruh tegang melihat dua gadis cantik yang basah kuyup menampakkan semua isi tubuh kedua gadis itu.


"Inikah namanya mobil? Wah ... tapi kenapa tidak jalan?" tanya wanita yang memakai baju terusan berwarna biru muda yang cukup kusam.


"Bapak, bisakah mobilnya jalan?" tanya gadis satu lagi yang memakai bau kaos warna hijau muda dan rok pendek mengembang, tapi rok itu kuncup karena basah.


Rahul gemetaran sendiri melihat dua gadis itu, mulutnya bahkan sampai kaku untuk bicara. Mereka berbeda sekali dengan Anjela dan Anjeli, kedua gadis itu memiliki khas tersendiri. Keduanya memiliki dua bukit yang besar, tidak sebanding dengan umur mereka. Wajah mereka pun manis laksana madu asli, tubuh mereka tidak kurus, namun padat berisi.


"Huh, dingin sekali." kata gadis memakai baju biru muda terusan.


Rahul diam saja, tiba-tiba tangan nakalnya makin meningkatkan suhu AC mobil agar kedua gadis itu kedinginan.


Rahul mengintai dari balik kaca, ia melihat dua wanita itu menggigil. Tak menunggu waktu lama, kedua wanita itu tak sanggup. Mereka ingin keluar tapi masih hujan lebat, tetap menunggu di dalam mobil membuat mereka beku.


"Kenapa kalian mau masuk ke mobil ini?" tanya Rahul membuka suara.


"Kami penasaran dengan mobil, Pak." jawab yang memakai baju kaos hijau.


"Hujan-hujanan kalian datang kesini cuma mau lihat mobil? Dimana rumah kalian?"


"Kami tinggal di Panti Asuhan. Bapak tinggal dimana?"


"Saya tinggal jauh dari sini, saya tinggal di Kota."


Kedua gadis itu saling pandang, mereka tersenyum seakan tahu pikiran masing-masing.


"Apa Ayu boleh ikut Bapak?" tanya yang memakai baju biru.

__ADS_1


"Apa Anis juga boleh ikut Bapak?" tanya yang memakai baju hijau.


Rahul seperti kembali ke masa saat ia bertemu dengan Anjela dan Anjeli, dimana ia meminta izin kepada Ibu Asih untuk membawa Anjela dan Anjeli pulang. Rahul tentu ingat jika waktu itu ia masih sendiri, sedangkan sekarang ia sudah memiliki status sebagai suami Anjela.


Rahul melihat dua gadis itu bergantian, walaupun ia menahan hasrat namun ia coba menahannya. Ia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan yang di ajukan kedua gadis itu.


"Bagaimana, Bapak?" tanya gadis itu penuh harap.


"Tanya dulu sama pengasuh kalian, jika diberi izin kalian boleh ikut." jawab Rahul.


Rahul langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia ingin menghukum dirinya setelah mengatakan itu. Sementara Ayu dan Anis bersorak senang, mereka yakin jika ibu pengasuhnya memberi izin.


Entah dapat kepintaran dari mana, mereka berdua bisa membuka pintu mobil itu tanpa kebingungan seperti saat masuk sangking kegirangannya. Tidak peduli hujan yang lebat, kedua gadis itu berhamburan berlari menuju panti.


"Bodoh! Kau bodoh Rahul. Mati kau di bunuh istrimu!" kata Rahul mengutuk dirinya sendiri.


"Kau juga sama, kenapa kau berdiri tanpa ku suruh!" ucap Rahul menepuk juniornya sendiri yang berdiri sejak tadi, setelah itu ia kesakitan sendiri.


"Aku harus pergi dari sini, aku tidak mau membawa mereka. Sebentar lagi aku punya anak, aku tidak mau Anjela kecewa."


"Mertua gila itu, sampai sekarangpun aku menginginkan memasuki gua kenikmatan! Jamu itu membuat semuanya kacau, aku tidak bisa menahannya."


Rahul tidak jadi pergi, ia segera melepas ikat pinggangnya. Tak peduli dengan yang lainnya, ia ingin memuaskan benda bulat panjang itu dengan tangannya sendiri. Rahul juga takut jika di jalan nanti pikirannya kacau memikirkan benda itu yang semakin menegang dan membuatnya kecelakaan.


Menit ke menit Rahul gila sendiri didalam mobil, ia membayangkan tubuh Ayu yang menggiurkan. Pikirannya jauh kemana-mana, tapi ia tak kunjung mencapai puncak.


Tok Tok Tok


Rahul melihat Ayu yang mengetok pintu mobilnya, dengan cepat Rahul membukanya. Ayu yang membawa kain yang berisi baju-bajunya kaget karena Rahul menarik rambutnya dan mendekatkan wajahnya ke benda itu.


"Jika mau ikut, isap dulu!" kata Rahul.


Ayu dihadapkan dengan benda itu, celana Rahul sudah turun dan benda itu tegak menantang dihadapan gadis itu.

__ADS_1


Baru mau berkomentar Rahul memaksa Ayu memaksa benda itu masuk ke dalam mulut gadis itu. Bagian belakang Ayu basah karena hanya sebagian tubuhnya yang masuk ke dalam mobil. Ayu pun hampir tersedak karena Rahul menurun naikkan kepalanya dengan cepat, tak hanya itu bukit kembar Ayu juga menjadi bulanan tangan Rahul. Gadis itu sampai bergetar di buat Rahul karena sebelumnya tidak pernah yang ada menyentuh miliknya itu.


Merasa tak puas, Rahul memberhentikan aksinya. Ia menyuruh Ayu menjauh karena ia ingin keluar dari mobil, Ayu hanya menurun saja walaupun wajahnya sudah memerah.


"Kemana temanmu?" tanya Rahul setelah keluar dari mobil dan mereka sama-sama berhujan.


"Anis bilang dia akan pergi dengan Bapak yang gendut." jawab gadis itu.


"Berapa umurmu?"


"17 tahun."


Baju Rahul kini sudah kuyup, celananya sudah merosot sampai ke lutut. Benda itu masih tegak berdiri. Melihat tubuh Ayu dengan geram, Rahul langsung menyandarkan Ayu ke mobilnya, gadis itu kaget dan gugup tapi dia tetap mengikuti.


"Aku sudah tidak tahan. Layani aku!"


Ayu kaget saat satu kakinya di angkat oleh Rahul, baju terusan itu terangkat ke atas. Bagai singa yang lapar Rahul memegang benda berbelah itu dan di mainkan dengan tangannya. Ayu menggelengkan kepalanya merasakan sensasi itu, baru pertama kalinya ia merasakan kenikmatan tiada tara.


Tak lama itu Ayu mengejang, tak ingin memperlambat waktu dan takut yang kian sudah datang. Rahul langsung menancapkan benda itu ke liang sempit yang belum pernah sama sekali di masuki apapun.


"Sakiiiiittt ...." jerit Ayu merasakan kepala jamur itu masuk ke dalam miliknya.


Rahul yang mendengar teriakan itu langsung membungkam mulut Ayu dengan mulutnya, dengan gaya berdiri ia menghujam milik gadis itu. Darah milik gadis itupun jatuh bersama air hujan yang membasahinya.


Tak cukup dengan gaya itu, Rahul membalikkan tubuh Ayu membelakanginya. Kemudian ia menghujam miliknya dalam-dalam ke milik Ayu, gadis itu mendongak merasakan miliknya penuh dan sesak. Bahkan bagian sensitifnya juga ikut tergesek oleh milik Rahul yang besar.


"Enak, Pak. Lagi ... ah!"


Rahul menghujam miliknya makin dalam dan cepat, gadis itu sampai berkali-kali mengejang mencapai puncak. Ujung dada gadis itupun menjadi mainan tangan Rahul, membuat gadis itu meracau tak jelas.


"Anjela maafkan aku, aku tetap mencintaimu."


Sementara di rumah Iskandar dan Aina, semuanya sedang bahagia. Bagaimana tidak, si kembar sudah di nyatakan positif hamil. Mereka serempak hamil satu bulan.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2