
Bulat tak tahu lagi dengan Abang iparnya itu, Rahul yang sedang berdiri di depan pintu langsung di dorong Bulat masuk ke dalam kamar. Nampan yang di bawa Bulat menjadi penghalang badannya ke badan Rahul.
Mata Bulat membulat melihat Anjela yang sedang duduk dan tanpa busana hanya tertutup selimut, ia yakin seratus persen bahwa Abang iparnya itu telah merenggut keperawanan Anjela.
Bulat menghempas nampan yang di pegangnya ke lantai, Anjela sangat kaget melihat itu. Rahul juga demikian, ia melihat wajah Bulat yang sudah berubah marah.
"Ada apa, Bulat?" tanya Rahul melihat Bulat dengan tatapan marah.
"Bang!" Bulat memegang kedua bahu Rahul dengan kuat. "Abang telah men-solimi Anjela, kan?!" tanya Bulat sambil mencengkram bahu Rahul.
"Solimi?" Rahul mengkerutkan dahinya tidak mengerti.
"Abang telah mengambil kesucian Anjela, kan?!" tanya Bulat dengan geram.
"Iya."
Bughh..
"Akhh... Kau gila, Bulat?!"
Rahul memegang pipinya yang di tonjok oleh Bulat, Anjela yang melihat itu langsung memekik ketakutan, ia menutup matanya karena tidak ingin melihat.
"Kau yang gila! Kau sudah mengambil perawannya dan kau mau pergi?! Hah! Bangsa*t! Kau Brengs*k! Aku menghormatimu dulu, tapi tidak sekarang!"
"Dia tidak ingin bersamaku!" jawab Rahul tak mengalah, sedangkan Bulat sudah geram melihat Rahul.
"Tidak mungkin, dia mencintaimu! Jika kau meninggalkannya, akan aku buat kau tidak bisa bertemu dengannya lagi. Aku berjanji! Siapapun kau! sebesar apapun kuasa kau, kau harus tetap menghargai wanita. Jika tidak ingin bersamanya, jangan di nodai. Kau ingin pergi jauh kemana? Ke neraka?! Setelah kau mengambil kesuciannya kau akan pergi, kau memang biadab, Bang! Baru tahu aku biang mu. Apa kau tidak mikir bagaimana nanti dia hamil, dia akan di caci maki orang lain nantinya. Jika kau memutuskan untuk pergi, maka Anjela akan ku bunuh! Aku bersumpah!"
"Brengs*k"
Bughh..
Rahul meninju pipi Bulat dengan kuat sampai adik iparnya itu mundur ke belakang.
"Aku tidak menyuruhmu membunuhnya, jangan sampai kau berani menyentuhnya!"
Bughh..
"Argggghhhh..."
Bulat kembali memukul Rahul.
"Kau yang pantas mati!" tunjuk Bulat ke wajah Rahul.
Rahul memegang pipinya lagi, ia melihat Bulat dengan penuh amarah, mereka sama-sama terbawa emosi saat itu.
"Bang, aku curiga dengan istrimu yang dulu sudah meninggal. Apa kau yang membunuhnya? Apa kau yang membuatnya mati? Apa ka..."
__ADS_1
"DIAM!"
"Ck..."
"Jangan banyak bicara kau Bulat! Ingat statusmu, kau hanyalah bawahan ku!"
"Ingat juga statusmu, kau itu pecundang!"
"KAU!"
"CUUUUUKKUUUPPP!"
Anjela berteriak kuat, air matanya sudah mengalir deras. Ia menggelengkan kepalanya kuat, meremas rambutnya kuat pula.
"Aku yang salah! Aku yang bodoh! Aku yang bersalah! Hiks...". Anjela berkata seperti itu sambil memukul-mukul kepalanya kuat, air matanya mengalir deras, ia benar-benar merasa bersalah. Dari Anjeli hilang dan Rahul yang di pukul, ia merasa bersalah sendiri.
"Jangan sakiti dirimu Anjela!" teriak Rahul, ia berjalan menuju Anjela.
"Kau yang menyakitinya, Bang. Aku peringatkan sekali lagi, jika kau tidak bertanggungjawab, maka jangan salahkan aku jika kau tidak bisa menemuinya selamanya!"
Setelah mengatakan itu Bulat langsung keluar, ia melihat sekilas makanan yang berserakan di lantai, kemudian ia langsung pergi dari kamar itu.
Rahul memeluk Anjela, ia memeluk dengan erat agar Anjela tidak menyakiti dirinya sendiri. Melihat Anjela yang histeris seperti tadi membuat hatinya sakit. Rahul tak sanggup membayangkannya jika ia tak melihat Anjela, sedangkan tak melihat Anjeli saja ia sudah galau.
"Jangan menangis!" ucap Rahul dengan pelan.
"Aku yang bersalah." gumam Anjela.
"Anjela ingin pergi!"
"Tidak."
"Lepaskan Anjela! Pergi saja sana!"
Rahul melepaskan pelukannya, ia benar-benar bingung saat ini. Rahul tak tahu harus bagaimana, ia merasa begitu bodoh saat ini.
"Sudahlah Anjela, sebaiknya kita menikah!" ucap Rahul dengan pasrah. Rahul tak tahu harus apa lagi, pikirannya buntu saat itu.
"Bawa Anjeli kesini!"
"Aku akan mencarinya, tapi kita harus menikah dulu sebelum kamu hamil!"
"Abang tidak mencintai Anjela."
"Abang mencintai kamu!"
"Tidak!"
__ADS_1
"Iya!"
"Buktinya?"
"Kita melakukan itu,"
Anjela menjelingkan matanya, "Abang yang memaksanya!"
Rahul berdecak, "Kamu juga ah... ah... ah... bagaimana kamu bilang aku memaksa, kamu juga keenakan." balas Rahul tak terima.
"Tapi pertamanya sakit!"
"Setelah itu enakkan? sampai merem melek!"
Anjela hanya diam, jujur ia seperti terbang ke atas awan saat melakukan itu.
"Sudahlah, kita menikah saja!"
"Anjeli?"
"Aman."
Mereka saling diam sejenak, Rahul melihat jauh kedepan, menerawang masa depan. Anjela melihat wajah Rahul, wajah itu lebam akibat tonjok kan dari Bulat.
"Lemah!" kata Anjela dengan ketus.
Rahul menoleh ke arah Anjela, "Apanya?" tanya Rahul melihat Anjela.
"Ck... sudahlah, Anjela mau ke kamar mandi. Gendong, anunya sakit!"
"Sini Abang elus anunya,"
"Abaaaaaannnngggg!"
"Iya... iya... berisik!"
"Cepetan!"
"Hmmm...."
🌹🌹🌹🌹
**Hai readers, aku nggak tahu harus apa. Cerita ini keluar jalur dari kerangka cerita. Semoga aja nyambung sama kalian 😭😁
Ambil saja sisi positif dari cerita ini ya, walaupun banyak yang jeleknya. Aku hanya ingin menghibur kalian saja, lihat komentar kalian membuat aku ngakak sendiri 😁😁
Makasih udah setia 😊
__ADS_1
Tungguin MP Anjeli Dewa... uwwooowwww
pasti nggak sabarkan?" 😉**