Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Undangan Pernikahan


__ADS_3

"Ma, jangan lupe undang Bang Burhan. Pasti Mama lupe undang die kan?" kata Khairul memastikan.


"Iya, Pa. Mama lupa! untung Papa ingetin." jawab Sinta cengengesan.


"Nasib baik Papa ingatkan, kalau tak lupe lah di undang kawan baik Papa tuh."


"Eh, bukannya Bang Burhan nggak bisa jalan. Kita sampai lupa jenguk dia, Pa."


"Iya, ape hari ini kite tengok die?" tanya Khairul.


"Lusa aja deh, kita kan masih sibuk dengan pernikahan Rahul."


"Iye lah, jangan lupe undang die. Kalau bise undangan tuh harus sampai ke die langsung."


"Iya, Pa."


"Oh iye Ma, Dewa jangan lupe. Pokoknye mereke satu paket di undang!"


"Iya, Pa. Eh Dewa belum mau menikah juga ya, padahal dia ganteng banget kan Pa?" kata Sinta memuji anak Burhan.


"Lawa Papa atau dia?" tanya Khairul datar.


"Papa ganteng, tapi dulu hehehe..."


"Dasar!"


Khairul bergeser sedikit duduknya menjauh dari Sinta, walaupun mata Sinta tetap tertuju ke undangan-undangan yang di persiapkan, tapi ia menyadari pergerakan suaminya.


"Maksud Papa apa bergeser begitu?" tanya Sinta tanpa memandang Khairul.

__ADS_1


"Bergeser ape pulak? Pantat Papa gatal, makanye Papa geser sikit je. Dah mulai lah nak marah!"


"Yuuhhhuuu..."


Khani datang sambil membawa mangga muda yang di potong-potong sepiring dan sambal kuah kacang, kemudian di susul Bulat membawa buah-buahan lain untuk merujak.


"Wah... kalian bikin rujak, enaknya!" kata Sinta dengan semangat melihat buah-buahan yang sudah di potong yang di bawa Bulat.


"Bukan kami yang buat, tapi Nisa dan pelayan lainnya." jawab Khani sambil duduk dan meletakkan piring di atas meja.


"Pa, mau minum apa?" tanya Bulat sambil tersenyum melihat Khairul, ia memang baik dengan ayah mertuanya itu dan juga kepada orang lain.


"Tak usah nak bebuat lah, Papa minum air putih je. Nih air putih Papa masih ade." Khairul menunjuk gelas yang berisi air putih di atas meja.


"Oh... iya lah Pa, Mama mau minum apa?" tanya Bulat kepada Sinta.


"Tak usah repot-repot kamu duduk aja sini, lihat tuh istrimu pasti ingin di suap." kata Sinta melihat Khani yang memandang Bulat dengan manja.


Rahul dan Anjela baru turun, mereka melihat yang lain sedang berkumpul merekapun ikut nimbrung.


"Cie... cie... calon pengantin, wihh... bentar lagi malam pertama nih." goda Khani melihat Rahul, kemudian ia melihat Anjela dan tersenyum tipis.


Rahul hanya diam, ia memilih langsung duduk dan Anjela pun duduk di sampingnya. Rahul melihat Anjela sejenak, ia sedang memikirkan nasib Anjeli yang entah di mana.


"Ini nih yang mukanya gugup kalau mau nikah, tapi jangan datar gitu dong Bang." Bulat terkekeh melihat Rahul, kemudian ia diam saat Rahul menatapnya tajam.


"Tau ah Rahul, mau nikah aja mukanya serius gitu. Nggak tau nanti malam pertama." sambung Sinta.


"Hahaha..." tawa menggema, hanya Rahul dan Anjela yang hanya diam. Rahul memikirkan Anjeli kapan pulang, dan Anjela yang memikirkan rasa bersalahnya dengan Anjeli.

__ADS_1


"Sudah... sudah... mereka ini hanya gugup saja. Eh, Rahul. Mama undang Pak Burhan loh, kami juga mengundang Dewa." ucap Sinta.


Rahul menaikkan satu alisnya, "ngapain ngundang anak pembuat onar itu, nggak jelas!" kata Rahul dengan nada tak suka dan dengan ekspresi tak suka pula.


"Masalah yang lalu biarlah berlalu, kita bikin lebaran yang baru. Benar nggak?" Khani ikut memanasi, semuanya hanya mengangguk setuju.


"Bang, walaupun Dewa itu mantan pacar Khani tapi kami sudah baikan kok. Jangan menyimpan dendam nggak baik loh." lanjut Khani lagi, Rahul hanya melirik adiknya tajam.


"Sudah-sudah, biarpun Dewa itu nakal tapi dia pasti berubah kok. Mama yakin jika dia tambah tampan dan jadi pria yang baik. Eh... Anjeli cocok deh sama Dewa, gimana kalau kita jodohin? Hm... tapi nggak bisa, kan Anjeli mau nikah sama Rosan." Sinta menggelengkan kepalanya, ia merasa jika khayalannya bertambah jadi.


"Pokoknya Rahul nggak mau dia datang kesini, kalau dia datang akan aku suruh pulang dengan paksa!" kata Rahul dengan tegas.


"Dewa itu siapa?" tanya Anjela, ia menatap yang lainnya kemudian melihat ke arah Rahul.


"Dewa itu mantan pacarnya Khani waktu lulus SMA, anaknya nakal banget dulu. Dia suka ngajak Khani keluyuran, makanya Rahul nggak suka. Kami dulu nggak tau siapa Dewa, tapi setelah tahu ternyata dia anak teman baik Papa." jawab Sinta.


"Oh.." hanya itu yang di jawab Anjela.


"Dulu Dewa emang mantan pacar Khani, tapi sekarang Mas Bulat ada di hati Khani." kata Kahni sambil mengelus perut suaminya.


"Iye lah tuh, kamu juge Khani. Kamu harus berubah, sifat dan sikap mu itu harus di ubah. Papa tak nak kalau cucu Papa nanti seperti kamu!" kata Khairul memandang anak perempuannya.


"Isshhh... Papa kok gitu sih! Khani akan jadi ibu yang baik kok nanti!" jawabnya dengan percaya diri.


"Kite tengok je lah nanti." jawab Khairul sambil melihat istrinya.


"Hm.. hari sudah mulai petang, tapi Anjeli kok belum pulau? Rahul, mereka jalan-jalan kemana sih?" tanya Sinta.


Anjela yang mendengar itu langsung menggigit bibirnya karena takut ketahuan.

__ADS_1


"Dia masih jalan-jalan." jawab Rahul singkat.


🌹🌹🌹


__ADS_2