Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Pusaka Berharga


__ADS_3

Cukup lama Anjeli di dalam kamar mandi dan akhirnya ia keluar, Anjeli keluar menggunakan handuk putih yang menutupi tubuhnya. Ia keluar dengan bibir yang membiru, dan kulit tangan yang mengkerut.


"Apa yang kamu lakukan di kamar mandi?" tanya Rahul yang langsung bangkit dari tempat tidur meninggalkan Anjela yang sedang melihatnya.


"Anjeli mandi, apa Anjeli salah?" jawabnya sambil menggigil.


"Kamu sudah biru begini dan kamu mengatakan hanya mandi saja, saya sudah hampir satu jam di sini dan kamu belum keluar-keluar dari kamar mandi." kata Rahul setelah berdiri di depan Anjeli.


"Anjeli mandi lama biar bersih, lagian Anjeli juga nyanyi kok di kamar mandi."


"Saya tahu kamu nyanyi, suara kayak serigala sudah tua itu aja sok.. sok.. mau nyanyi. Ya sudah kamu pakai baju dulu!"


"Serigala itu apa?"


"Tidak ada apa-apa, cepat pakai baju!"


"Anjeli mau pakai baju kalau Abang udah keluar dari kamar ini."


Rahul memicingkan matanya melihat Anjeli, walaupun ia pernah melihat tubuh polos Anjeli sebelumnya, tapi Anjeli hanya mempertontonkanya dengan bebas.


"Maksudnya? kamu nggak mau saya lihat?"


"Iya. Kata Mama tadi, Anjeli tidak boleh tidak pakai baju di depan siapapun. Terus kata Mama juga, kalau ada laki-laki yang macam-macam sama Anjeli harus tendang burungnya, seperti ini."


"Akkhhhh..."


Rahul langsung terjatuh dan guling-guling sambil memegang pusaka berharganya. Awalnya Rahul mendengar begitu baik apa yang di katakan Anjeli, namun ia tak kalah cepat saat kaki Anjeli dengan lajunya menendang junior kebanggaannya dengan kuat.


"Abang, apa sakit?" tanya Anjeli panik, ia ingin berjongkok tapi ingat lagi takut handuknya terlepas jadi ia hanya berdiri dengan wajah khawatir, padahal ia tadi bergerak bebas menendang Rahul.


"Abaannggg..." teriak Anjela yang juga panik melihat Rahul kesakitan.


Anjela turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke Rahul yang sedang terbaring di lantai, ia sangat khawatir melihat wajah kesakitan Rahul.

__ADS_1


"Abang, apa begitu sakit?" tanya Anjela.


"Ya sakit dong Anjela," jawabnya sambil meringis.


"Apakah berdarah? sini Anjela lihat dulu."


"Jang...an."


"Aaaaaa....."


"Ihhhh....."


Rahul langsung menutup celananya melindungi junior miliknya, Anjela sangat kelewatan dengan begitu lihai seperti seorang ahli membuka celana Rahul. Kedua gadis itu memandang geli sekaligus jijik melihat benda milik Rahul.


"Ih... Abang, cepat pergi dari sini!" seru Anjela.


"Weeekkk... Abang menjijikkan, kenapa ada ulat yang besar di celana Abang." lanjut Anjeli.


"Ulat apanya, ini namanya pen*s! benda inilah yang akan membuat kalian bunting nanti, sok... sok... jijik tapi nanti akan ketagihan juga!" balas Rahul dengan agak kesal.


Anjela sudah melihat benda seperti itu di video tadi, namun karena baru melihatnya secara langsung membuat ia kaget.


"Sudahlah, saya mau keluar dulu. Cepatlah pakai baju, nanti lemau pulak!"


"Apanya yang lemau?" tanya Anjeli bingung.


"Bendamu!" jawab Rahul dengan kesal, ia langsung berdiri dan berjalan dengan kesal menuju pintu dan hilang dari sana.


"Bendaku?" gumam Anjeli.


"Anjeli, aku nyusul Abang Rahul dulu ya. Kamu pakailah baju dulu, nanti Anjela ke sini lagi." kata Anjela.


"Iya." jawab Anjeli sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


Melihat Anjela yang juga menghilang di balik pintu, Anjeli langsung memasang wajah cemberut.


"Anjeli tidak salah kok, Anjeli kan hanya mencontohkan apa yang di katakan Mama. Pokoknya Anjeli tidak salah!" ucapnya sambil berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian.


***


Anjela berlari kecil mengikuti Rahul dari belakang, melihat punggung Rahul yang begitu besar membuatnya membayangkan apa yang di tontonnya tadi.


"Abang." panggil Anjela dengan suara yang agak pelan.


Rahul menoleh ke belakang, ia hendak menuju ke kamarnya tetapi tidak jadi setelah melihat Anjela.


"Ada apa, Anjela?" tanya Rahul dengan lembut, ia memang marah tadi, tapi sekarang tidak lagi.


"Mm... apa itunya masih sakit?" tanya Anjela takut-takut.


"Sudah agak mendingan, sebaiknya kamu kembali lagi ke kamar!" seru Rahul.


Anjela hanya mengangguk saja, sebelum beranjak ia menunjuk pipinya sambil tersenyum malu-malu. Karena mengerti Rahul langsung mengecup pipi Anjela lembut.


"Besok kita akan pergi dari sini, persiapkan diri ya. Kamu dan Anjeli harus cantik besok." ucap Rahul pelan sambil mengelus rambut Anjela dengan sayang.


"Iya, Abang."


Dari lantai satu Sinta dan Khairul memperhatikan Rahul dan Anjela, mereka tersenyum melihat anaknya yang begitu menyayangi Anjela.


"Lihat, Pa. Katanya mencintai keduanya, tapi lihat tuh dia begitu sayang dengan Anjela." ujar Sinta.


"Iye, Ma. Biaselah budak tuh, semoge je Rosan bise jage Anjeli kelak."


"Aamiin."


Sinta sangat bahagia karena akan memiliki menantu lagi, begitupun dengan Khairul. Hanya saja mereka tidak tahu rencana Rahul yang akan pergi bersama Anjela dan Anjeli.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2