
Khani memandang tajam ke arah Anjela dan Anjeli, sedangkan kedua gadis itu tersenyum ramah ke arahnya.
"Siapa mereka, Bang?!" tanya Khani kepada Rahul.
"Mereka Anjela dan Anjeli, ayo duduk semuanya nanti makanannya dingin." Rahul sengaja berbicara seperti itu agar adiknya yang cerewet itu tidak bertingkah.
Anjela dan Anjeli langsung cepat duduk di kursi, mereka mengikuti apa yang di perintahkan oleh Rahul dengan cepat. Setelah duduk tepat di samping kiri kanan Rahul, Anjela dan Anjeli melihat ke arah Khani dengan takut-takut. Awalnya mereka hendak ramah, namun saat melihat tatapan yang tajam dari Khani membuat nyali kedua gadis itu ciut.
Khani menghembuskan nafasnya kasar ia duduk di kursi tepat di depan Anjela, gadis itu hanya menelan ludah saja saat berhadapan dengan Khani. Perlahan tangan Anjela merayap ke paha Rahul, ia sedang ketakutan saat itu juga. Rahul sangat kaget saat tangan Anjela merayap di pahanya, perlahan-lahan benda di balik celananya itu bangkit. Rahul dengan cepat menahan tangan Anjela agar tak sampai ke situ, bahkan bisa di katakan menyenggol sedikit.
"A..da a..pa, Anjela?" tanya Rahul tergagap, ia fokus melihat gundukan di dada Anjela.
Rahul ingin memarahi Nisa saat itu juga karena ia baru sadar jika gadis kembar itu tidak memakai dalaman lagi, namun ia mencoba mengontrol diri agar tidak ketahuan oleh yang lainnya.
"Bapak, Anjela takut dengan kakak itu." Anjela mendekat dan berbisik tepat di telinga Rahul.
Rahul memerah, ia merinding mendapatkan bisikan dari mulut Anjela. Demi apapun ia ingin menerkam Anjela saat itu juga, tapi Rahul makin tak tahan saat Anjeli berbisik juga di telinganya.
__ADS_1
"Bapak, apakah kakak itu tidak suka sama Anjeli dan Anjela?"
Rahul memejamkan matanya, bagian bawahnya sudah mengeras apalagi saat Anjeli berbisik tangan kirinya menekan paha Rahul.
"Kalian makanlah dulu, makananya nanti tidak enak kalau di biarkan lama-lama."
Anjeli dan Anjela hanya mengangguk saja, mereka serempak meraih ikan panggang yang tersaji di piring itu.
"Hei kalian! di situ ada sendok, kenapa kalian ambil pakai tangan?! dasar kampungan!! Khani berteriak saat tangan kedua gadis itu hendak mencapai ikan panggang.
"Khani! kamu apa-apaan sih. Abang tahu kamu itu sedang hamil muda, tapi tolong dong di kontrol jangan marah-marah seperti tadi." Rahul geram melihat adiknya itu, sedangkan Bulat hanya diam karena ia tak tahu harus berkata apa.
"Bang, tangan mereka itu kotor. Abang lihat kan mereka mengambil makanan dengan tangan, apa Abang tidak jijik melihat itu?" Khani sangat tidak suka saat Rahul membela dua gadis kembar itu.
"Kamu itu sangat keterlaluan, kalau iya pun kasih tahu baik-baik dong."
Rahul beranjak dari duduknya ia pergi menyusul Anjela dan Anjeli yang keluar rumah. Rahul yakin jika kedua gadis itu tidak dapat keluar dari pagar karena Toman menjaga pagar itu.
__ADS_1
Benar apa yang akan di lihat Rahul, Anjela dan Anjeli tidak dapat keluar pagar. Tapi Rahul sangat prihatin melihat dua gadis itu yang terduduk sambil menangis memegang pagar untuk di buka, sedangkan Toman nampak berusaha membujuk mereka.
"Tidak apa, Pak Toman. Sebaiknya Anda kembali ke pos."
"Terimakasih, Tuan."
Melihat Toman kembali ke pos membuat Rahul berjongkok melihat wajah Anjela dan Anjeli yang sembab.
"Ayo kita masuk," kata Rahul dengan suara lembut.
"Kakak tadi tidak suka sama Anjeli dan Anjela, kakak tadi tidak suka kami huuuu... huuuu." Anjeli menangis makin kuat.
"Anjela tidak salah, Anjela cuma mau makan ikan tadi. Apa makanan itu tidak boleh kami makan? tapi kenapa bapak menyuruh kami makan tadi? huuuu... huuuu"
"Anjeli mau pulang saja."
"Anjela juga mau pulang."
__ADS_1