
"Sial! kemana Rosan membawa Anjeli?!"
Rahul terus gelisah dari tadi di dalam kamar, waktu semakin berlalu dan ia tidak mendapatkan kabar apapun. Persiapan pernikahan untuk besok sudah berjalan, dekorasi di dalam rumah itu tertata dengan indah. Mata Anjela berkilau melihat hiasan-hiasan di sana, ia tak pernah melihat ini sebelumnya.
"Ini sangat indah, Anjela tidak sabar dingin menikah besok!"
Anjela berjalan menuruni tangga, matanya terus tertuju ke arah bunga-bunga yang tersusun rapi. Wajahnya begitu senang, tapi saat melihat sekeliling ia merasa hampa tanpa kembarannya. Raut wajah yang ceria tadi seketika menjadi murung, ia yakin jika Anjeli akan marah besar kepadanya nanti.
"Anjela." panggil Sinta, ia sedang memantau para pekerja. Saat melihat Anjela menuruni tangga iai memanggil calon menantunya itu.
"Iya, Mama." sahut Anjela kemudian ia berjalan agak cepat menuruni tangga untuk bertemu dengan Sinta.
Sinta tersenyum melihat Anjela, ia celingukan mencari Anjeli. Ia pikir saat Rahul dan Anjela pulang, Anjeli juga ikut pulang.
"Anjeli belum pulang?"
"Belum, Mama." Anjela menjawab sambil menundukkan kepalanya, ia takut jika ia ketahuan.
"Wah... sepertinya Anjeli cepat akrab dengan Rosan, dengan begitu mereka jadi bisa cepat menikah menyusul kalian." kata Sinta tersenyum, ia tak sabar menantikan pernikahan anaknya dan keponakannya.
Anjela yang mendengar itu hanya tersenyum, ia takut banyak bicara karena takut ketahuan. Mata Anjela tertuju kepada Khani yang baru datang ke arah mereka, Anjela makin takut jika Khani buka mulut nanti.
"Kalian di sini? Kenapa tidak duduk?" tanya Khani melihat Sinta, kemudian ia melihat Anjela sambil mengedit sebelah matanya.
"Mama cuma mau lihat-lihat saja, Mama ingin acara ijab qobulnya besok tampak sempurna."
"Terus resepsinya?" lanjut Khani bertanya.
"Maunya di The Westin, tapi kayaknya untuk resepsi Minggu depan deh. Soalnya keluarga kita biar pada ngumpul, kalau sekarang mereka masih pada sibuk."
"Oh....nanggung Ma, nggak usah aja sekalian pake resepsi segala. Takutnya nanti Anjela kaget lihat orang rame-rame."
Mendengar nambah Anjela hanya tersenyum, ia tidak tahu apa itu resepsi jadi dia tersenyum saja.
"Kamu ini, dulu waktu kamu menikah pengennya resepsi di hotel mewah. Abang kamu dan Anjela harus dong, jangan kamu aja!" kata Sinta anak gadisnya itu menjelang selalu bikin kesal.
"Terserah, Mama! Khani cuma bilang aja kok, bukan maksud apa-apa."
__ADS_1
"Lebih baik kamu makan atau minum susu biar anakmu sehat, kamu itu terlalu sibuk dengan urusan orang lain dan jangan sampai anakmu jadi suka ngurus orang lain juga nanti!"
"Ih... Mama, kok bicara seperti itu sih, Mama mau nyumpahin cucu sendiri? ini cucu pertama Mama loh."
"Ya makanya jangan judes."
"Iya."
Rahul keluar dari kamar, ia melihat orang-orang tengah sibuk bekerja. Matanya tertuju ke Anjela, melihat Anjela ia teringat dengan Anjeli.
"Kemana gadisku satu itu? Rosan, kemana kau membawa Anjeli? Sial! Aku harus menemukan kalian, aku tidak bisa tanpa Anjeli. Aku ingin menikahi keduanya, sedari awal mereka memang milikku!" Rahul berbicara sendiri, ia terus mengawasi orang-orang dari lantai dua.
Sementara di ruang mewah yang lain, Anjeli sedang di hukum. Gadis itu berdiri dengan satu kaki sambil memegang telinga, matanya menatap tidak suka ke orang yang telah menghukumnya.
"Jangan turunkan kakimu!" kata Dewa melihat kaki kiri Anjeli hendak di turunkan.
"Tarik yang kuat teliga mu!" dengan kesal Anjeli menarik telinganya juga.
Dewa berjalan mengelilingi Anjeli yang sedang di hukum, spatula itu masih tetap berada di bagian depan tubuhnya. Dewa benar-benar pusing melihat kelakuan Anjeli, ia ingin memberikan gadis itu hukuman agar tidak terbiasa.
"Aku tidak mencuri, aku cuma ingin membuat Krabby Patty."
"Bodoh!"
"Kau jangan membuat masalah denganku, mulutmu itu selalu saja membuatku kesal. Kau itu yang bodoh! jadi jangan mengatakan kalau aku bodoh."
"Kau memang bodoh, mana ada orang mencuri seperti itu. Hanya orang bodoh yang begitu!"
"Huh.... diamlah, aku tidak ingin marah-marah. Aku capek!"
"Ini tidak sebanding dengan malam pertama, kau akan pingsan nanti ku rasa. Pasti." kata Dewa dengan yakin.
"Terserah kau saja, aku mau istirahat."
Anjeli menurunkan dan melepaskan tangannya yang menarik telinganya sendiri, Dewa langsung memasang wajah marah. Anjeli yang melihat itu tidak ambil pusing, ia terus berjalan sampai ke sofa.
"Hei, kau belum selesai. Cepat lanjutkan lagi hukuman mu!" kata Dewa dengan kesal, ia makin kesal saat Anjeli tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Setelah sampai di sofa, Anjeli mengeluarkan spatula yang masih melekat di tubuhnya. Ia menyingkap dress-nya naik ke atas membuat Dewa menelan air ludah melihatnya.
"Jangan lihat-lihat, nanti ku colok matamu!" kata Anjeli tanpa melihat Dewa.
"Aku tidak melihatmu, kau saja yang menunjuk sendiri."
"Makanya jangan lihat!"
Dewa kesal mendengar itu ia berjalan mendekati Anjeli, gadis itu sudah mengeluarkan spatula dan membenarkan bajunya.
"Hey, Bodoh!"
"Kau memanggilku apa?!" Anjeli melihat Dewa dengan tatapan yang tajam.
"Kau tuli atau apa?! Bagaimana kau sampai tidak mendengar apa yang aku katakan tadi?"
Anjeli melempar spatula tadi ke lantai, ia menatap tajam ke mata Dewa.
"Dewa, kau ini perempuan atau laki-laki? Kenapa kau selalu membuatku kesal?!" tanya Anjeli melangkahkan kakinya mendekati Dewa.
"Aku laki-laki, tapi kalau melihatmu aku tidak bisa berhenti mengoceh. Kau selalu membuatku kesal!"
"Berarti hanya ada satu cara,"
"Ca..ra apa?" tanya Dewa gugup, Anjeli makin mendekat kepadanya. Tidak hanya mendekat tetapi Anjeli memegang dadanya dengan lembut.
"Akhh..."
Anjeli mendorong Dewa dengan kuat sampai pria itu terjatuh dari terbaring ke sofa, Dewa menelan ludahnya melihat tatapan Anjeli yang sangat aneh.
"Ma...u a...pa kau?" tanya Dewa makin gugup, Anjeli sudah menaiki badannya.
"Membungkam mulutmu!"
"Mmmhhh..."
🌹🌹🌹
__ADS_1