
Mungkin benar seperti yang dikatakan mereka, aku tidak pantas. Sekalipun dia mencintaiku, jika hatinya adalah lain, maka orang itu tetap bukan aku.
๐๐๐
"Nish, Lo yakin?"
Manisha dan teman-temannya sedang berkumpul di taman bundar di dekat lapangan basket. Manisha meneguk ludahnya, pertanyaan ini lagi.
"Yakin lah..." ujar Manisha ragu-ragu.
Lea memperhatikan Manisha intens. "Tapi gue gak yakin kalau Lo bisa, buktinya... Lo jawab ragu-ragu, 'kan?"
Manisha ingin berkata 'iya, gue ragu' tapi yang keluar dari mulutnya hanya--
"Gue yakin."
Lea menghela nafasnya, ia tidak percaya jika Bayu benar-benar menghianati Manisha. Kalau benar Bayu begitu, untuk apa Salsa datang menemui Manisha, 'kan? Seharusnya Salsa senang jika hubungan Bayu dan Manisha hancur.
"Tapi Sha, gue kayaknya lebih percaya kalau Bayu itu enggak selingkuh, deh!"
Lea mencoba meyakinkan kembali Manisha. Ia sangat menyukai pasangan itu. Lea sangat tidak rela, jika Bayu dan sahabatnya harus putus hanya karena kesalahpahaman.
Manisha menatap jengah sahabatnya. "Lo mau gue sakit?"
Pertanyaan Manisha membuat Lea bungkam. "Sorry...."
Lea akhirnya menyerah. Mungkin ini sudah akhirnya. Sekeras apapun dia meyakini Manisha jika Bayu tidak selingkuh, tetap saja Manisha lebih percaya penglihatannya.
Manisha kembali membaca buku yang dipegang nya. Namun ia tidak fokus, pikiranya entah berlari kemana-mana. Ia yakin keputusannya saat ini sudah tepat. Benar-benar tepat. Bukankah jika ingin bahagia harus merelakan sesuatu walaupun itu penting? Sebab tidak ada yang gratis di dunia ini.
.
.
.
Seorang cowok berjalan dengan gaya angkuh ke arah perpustakaan. Tubuhnya tegap, iris matanya tajam, jangan tanyakan wajahnya, ia sangat tampan untuk kategori orang blasteran.
Kaki panjangnya memasuki perpustakaan, ia berjalan ke arah meja Bu' Ruth, pustakawan sekolah.
"Eh Bayu, mau pinjem buku apa? Biar ibu bantu carikan."
__ADS_1
Ruth tersenyum manis ke arah Bayu. Ia kagum dengan murid lelaki yang ada di depannya. Sudah pintar, tampan pula! Nikmat mana lagi yang engkau dustakan!
Murid laki-laki itu menyodorkan kartu perpustakaan. Bu' Ruth langsung mengambilnya. Keningnya tiba-tiba berkerut.
"Ah, kamu jangan bercanda, Bayu. Tidak lucu."
Ruth tertawa. Ternyata anak ini pandai juga melucu, pikirnya. Walaupun garing!
"Saya tidak bercanda."
Ruth menghela nafasnya. Baiklah, ia akan menanggapi lelucon Bayu!
Ruth tersenyum manis. "Yasudah, Raga Alvano Dwipaga, mau pinjem buku apa?"
Raga tersenyum manis, ia menggaruk belakang telinganya. "Tentang rasa."
Sejak kapan Bayu suka membaca buku cinta-cintaan? Ruth memperbaiki letak kacamatanya. Ia menghela nafas sejenak, kemudian diambilnya buku yang terdapat no rak buku.
"Ada di rak nomor 0.123, lantai 2."
Raga mengangguk. Ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian menaiki tangga ke lantai dua.
Apa Bayu sakit? Apa Bayu sudah terbentur sesuatu ketika kemari? Sejak kapan seorang Bayu tidak mengucapkan kata terima kasih? Dan sejak kapan Bayu menjadi es kutub? Ruth menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada apa dengan anak itu! Ruth benar-benar tidak mengerti.
Raga Alvano Dwipaga. Tidak ada yang tahu tentang dia, yang orang-orang tahu adalah Bayu Alvano Dwipaga. Jelas saja ini karena Raga ikut ayahnya keluar negeri, sedangkan Bayu, tetap bersama mama nya di Indonesia.
Raga sedikit iri dengan Bayu, andaikan waktu dapat diulang, ia ingin tinggal bersama mama nya. Bukan ayahnya yang bahkan tidak pernah peduli pada anaknya, pantaskah ayahnya disebut ayah? Raga bilang ia tidak pantas.
Raga fokus membaca bukunya, halaman demi halaman dibacanya perlahan, ia sangat suka buku. Berbeda dengan Bayu yang kurang suka dengan buku. Kadang ia heran, kenapa Bayu bisa sepintar itu padahal tidak pernah membaca, walau Bayu nakal, otaknya bisa sepintar Einstein!
Kalau Raga, tidak terlalu pintar, namun IQ nya jangan ditanya, jika tentang cinta, ia tau segalanya. Sikapnya mungkin dingin dan tidak selawak Bayu, tapi ia tahu cara menaklukkan wanita. Tidak seperti cara Bayu yang receh, Raga lebih romantis dan cool saat mengincar cewek yang disukainya. Benar-benar sifat pemain yang sok jual mahal.
...
Manisha berlari kesana-kemari mencari seseorang. Ia perlu minta maaf, seharusnya ia memberi kesempatan kepada kekasihnya untuk menjelaskan. Namun ia bahkan tidak peduli. Sekarang ia menyesalinya. Dan ia lebih menyesal lagi tadi saat berkumpul bersama kedua sahabatnya dan Salsa datang bersama seseorang.
Flashback
Manisha mengerutkan keningnya saat melihat sepupunya datang ke arah meja bundar yang didudukinya. Ia menghela nafas kasar, namun terbesit rasa penasaran di dalam hatinya. 'Dia bawa siapa?'
Salsa kini sudah berdiri di hadapannya. Ia bertekad akan membuat Manisha percaya. Salsa yakin, cara kali ini akan berhasil!
__ADS_1
"Ngapain Lo?" Manisha bertanya dengan nada ketus.
"Sha, kenalin ini cowok gue."
Salsa memperkenalkan seseorang yang ada di sampingnya.
Manisha membulatkan matanya. Apa maksudnya?! Lalu Bayu--
"Maksud Lo apa?" Manisha menatap tajam Salsa.
"Gue sama Bayu enggak pacaran, dia cuman sahabat gue. Waktu itu dia nembak gue cuman iseng aja, karena waktu itu Lo pernah nolak pulang bareng sama dia. Ditambah lagi kata-kata Lo nyakitin hatinya. Pas dia nembak gue, gue tau dia iseng, niatnya sih gue pengen ngerjain dia juga dengan nerima dia. Tapi ternyata, gue salah, gue kira masalah kalian akan cepat kelar kalau Bayu jelasin semuanya ke Lo, tapi ternyata untuk sekadar dengarin penjelasan Bayu aja Lo gak mau. Makanya gue nekat untuk lurusin semuanya. Gue gak mau hubungan kalian hancur cuman gara-gara kesalahpahaman aja."
Salsa menjelaskan semuanya. Manisha merasa jantungnya semakin keras berdetak. Apa ia harus percaya ini semua? Tapi penjelasan Salsa--
"Terserah Lo mau percaya gue atau enggak, yang jelas gue udah kasih tahh semuanya. Keputusan ada di tangan Lo."
Salsa langsung pergi dari sana sembari menggandeng tangan pacarnya, Denta.
"Kok kamu isengnya gitu banget, sih! Kasihan sepupu kamu, 'kan?" Denta menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kan aku enggak tahu kalau akhirnya bakal jadi begini, kalau tahu begini aku enggak akan iseng, kok!"
Salsa jadi kesal sendiri. Ia semakin mempercepat langkahnya. Denta yang melihat pacarnya marah, lantas ikut berjalan cepat. Bisa gawat kalau Salsa marah, bisa-bisa barang kesayangannya akan dimusnahkan nanti!
Samar-samar Manisha masih bisa mendengar percakapan pasangan tersebut yang semakin menjauh.
Lea dan Sia menatap iba kearah Manisha. "Kayaknya, Lo harus minta maaf, deh."
Ucapan Lea benar, Manisha harus meminta maaf pada Bayu. Tanpa mengucapkan apapun, Manisha langsung beranjak dari duduknya. Ia harus menemui Bayu sekarang!
Manisha lega saat sosok yang dicarinya ternyata sedang duduk di meja baca perpustakaan. Sosok itu sedang membaca buku. Tapi tunggu, buku apa yang dibaca nya? Itu buku cinta, 'kan? Manisha tidak salah?
Manisha berjalan mendekat ke arah Bayu dengan perasaan rindu yang membuncah.
Raga yang merasakan seseorang tengah berjalan ke arahnya pun mengalihkan pandangannya dari novel tersebut. Ia melihat gadis yang menurutnya cukup cantik berjalan kearahnya. Dan sekarang duduk dihadapannya.
"Bayu, aku..." Manisha terdiam saat kekasihnya mengatakan--
"Maaf, siapa ya?"
Manisha merasakan jantungnya seperti mau mati detik itu juga. Sesakit itukah?
__ADS_1
+TBC
Tinggalkan jejak berupa kritik dan saran bagi penulis. Itu akan sangat membantu.