
Gue masih penasaran sama yang namanya SA.You. sebenarnya dia siapa? Kalau Alfa, gue ragu. Apalagi Raga.
πππ
Manisha mengernyitkan kening melihat pesan yang masuk ke WA nya. Ia melihat detail foto itu. Seorang wanita dan seorang pria. Namun Manisha shok saat melihat wanita itu adalah mamanya sendiri. Tetapi, siapa pria di samping mama?
Nomor tak dikenal. Manisha tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Namun, Manisha membelalakkan matanya saat satu pesan kembali masuk ke handphone nya.
'Saya, SA.You'
Manisha menelan ludahnya susah payah. Dari mana penggemar rahasianya itu mendapatkan foto mamanya? Manisha mengerjab-ngerjabkan matanya.
"Kamu kenapa nangis?" Suara Raga menyadarkan Manisha dari lamunannya. Ia sontak memasukan ponselnya ke dalam tas. Manisha menatap Raga.
"Gue enggak nangis. Cuman kelilipan doang," ujar Manisha pelan. Ia tahu, Raga mana mungkin percaya dengan alasan bodohnya itu.
"Tidak usah mengelak. Saya tahu kamu nangis, kamu bisa cerita ke saya, itupun kalau kamu mau." Raga mengucapkan kalimatnya datar. Ia tahu Manisha tidak akan memberitahu alasannya menangis.
Namun, Manisha malah memiringkan tubuhnya. Saat ini tubuhnya tepat menghadap Raga.
"Gue..." Manisha terdiam. Mungkin ragu, antara menceritakan atau tetap memendam semuanya sendirian. Akhirnya Manisha memiliki opsi pertama. Menceritakan pada Raga. Lagipula, Raga pasti bisa jaga rahasia.
"Dipukul papa."
Singkat dan padat. Dua kata itu sudah bisa Raga pahami. Ia menghela nafas, ternyata nasibnya dengan Manisha sama saja. Sama-sama tidak disayangi orang tua.
Raga menoleh. Ia melihat ada sorot kesedihan di mata Manisha saat menatapnya. Raga menghapus satu tetes air mata Manisha yang baru saja mengalir di pipi.
Raga memukul pelan bahu Manisha. "Sabar..." ucapnya pelan. Berharap kata singkat itu bisa membuat Manisha tenang.
Kening Manisha mengernyit saat melihat ada tatapan kesedihan yang dalam juga di bola mata Raga. Tanpa bisa di cegah, Manisha memegang bahu Raga, lalu mengatakan kata yang sama seperti yang Raga ucapkan. "Sabar...."
Manisha terisak setelah mengucapkan kata itu. Raga benar, ia harus sabar menghadapi segalanya. Sementara Raga, ia sempat membatu melihat Manisha mengucapkan hal yang sama padanya.
Mereka berpelukan dengan erat. Tidak ada yang berani menggangu. Bahkan satu semut yang jalan di pinggir danau langsung pergi dari sana. Hanya suara air danau yang mengenang, tangisan Manisha dan suara jangkrik yang terdengar. Sunyi dan sepi.
Raga menepuk-nepuk bahu Manisha. Air matanya ikut jatuh tanpa permisi. Bagaimanapun, luka yang ia miliki lebih parah ketimbang Manisha. Jika Manisha baru merasakan, sedang Raga sudah menjadi kerak sebab dimulai sejak ia kecil. Bahkan hingga sekarang.Β
Raga menahan isakanya. Namun langsung keluar saat Manisha juga menepuk-nepuk pelan bahunya yang bergetar.
__ADS_1
Takdir sungguh luar biasa. Kita di pertemukan dengan orang yang bisa menyembuhkan luka padahal ia juga terluka. Kita di minta bersabar padahal hati sedang dalam tahap patah sepatah-patahnya. Namun, semoga segalanya lekas baik-baik saja.
.
.
.
"Kamu kenapa ngikutin saya!" Raga manatap sinis Manisha yang berjalan pelan di belakangnya.
Manisha melihat Raga sengit. "Gue enggak ngikutin Lo. Lagian Lo kenapa sih seuzon mulu sama gue?" tanya Manisha kesal.
Raga memutar bola matanya. "Kalau kamu engga ngikutin saya, ngapain kamu ada di belakang saya?" balas Raga tajam.
Manisha menggigit lidahnya kesal. Ia menatap Raga dari atas sampai bawah. "Makanya jangan baca novel cinta terus, jadi kebawa drama 'kan? Dasar aneh!"
Manisha langsung pergi dari sana. Ia berhenti di depan kendai kecil dibelakang Raga. Ia haus sebab menangis terlalu lama, jadi ingin membeli minuman dingin. Namun malah dituduh mengikuti manusia menyebalkan yang ada di belakangnya.
Sementara Raga yang sudah berbalik melihat Manisha membeli minuman menjadi malu sendiri. Dengan wajah memerah ia langsung pergi dari sana.
"Bodoh!" ucapannya pelan seraya memukul kepalanya sendiri.
"Dasar tukang ge'er." Manisha tertawa. Namun tawanya terhenti, ia bingung mengapa sikapnya bisa berubah jika bersama Raga. Padahal sejak kepergian Bayu, ia jadi manusia yang paling dingin dan jutek ketika berbicara.
'Gue kok nyaman ya sama Raga?' ucapnya dalam hati. Apalagi mengingat moment mereka menangis di danau biru. Namun, Ia langsung menggeleng pelan saat tersadar jika ia salah. Raga adalah abangnya Bayu, jadi Manisha tidak boleh suka pada Raga. Tidak boleh!
Tetapi, kenapa Manisha merasa sedikit kecewa?
Dan Bayu, dimana kamu? Manisha langsung menunduk. Ia rindu Bayu yang pecicilan. Bayu yang lumayan cepat bisa meluluhkan hatinya. Namun pria itu sekarang entah dimana.
"Bayu, kamu enggak ada niatan lihat aku? Kamu enggak takut kalau nanti aku naksir sama kembaranmu? Cepat pulang, Bayu." Manisha menggigit bibirnya. Ia lalu berjalan pelan dengan kepala menunduk.
.
.
.
Manisha masih setia dengan keterdiamanya. Saat ini Manisha sedang duduk di salah satu halte bus. Halte ini ia temukan setelah satu jam berjalan. Manisha tidak sadar, padahal ada halte yang lebih dekat dengan danau, namun karena menunduk, halte itu jadi tidak kelihatan. Ketika sudah jauh baru Manisha meyadarinya.
__ADS_1
Sebuah mobil sedan bewarna hitam berhenti di hadapan Manisha. Manisha mendongkak saat mencium aroma parfum yang sangat dikenalinya. Ia langsung berdiri dan memeluk orang itu.
"Abang!" pekiknya girang. Manisha sangat merindukan sosok itu. Sudah beberapa hari ia tidak melihat, sebab orang itu pergi keluar negeri untuk melihat keluarganya.
"Kapan pulang?" tanyanya setelah melepaskan pelukannya. Ia menarik orang itu untuk ikut duduk di kursi halte. Manisha tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya penasaran.
"Cie... yang rindu Bang Athlas," ejek Athlas jahil. Ia tersenyum manis saat melihat Manisha mengerucutkan bibirnya.
"Jangan manyun. Mau Abang cium nanti?" Manisha membelalakkan matanya. Ia melihat sekeliling, orang-orang melihatnya dengan wajah jijik. Bola mata Manisha memutar.
Manisha langsung menarik Athlas ke mobilnya. Ia membuka pintu di bagian setir, mendorong Athlas lalu langsung menutupnya. Manisha kemudian berjalan ke arah kursi penumpang, di sebelah kanan Athlas. Ia duduk dengan wajah yang luar biasa kesal.
"Jalanin mobilnya." Manisha berucap ketus. Ia memperbaiki letak poninya yang berantakan. Athlas terkekeh, tanpa ba-bi-bu lagi, mobilnya langsung membelah jalanan.
"Kesel banget lihat orang-orang tadi. Abang juga, ngapain bicara begitu disana? Orang-orang natap kita jijik tahu," gerutu Manisha. Ia mencebik.
Athlas tertawa keras. Manisha yang mendengar tawa bahagia Athlas langsung menatap Abang angkatnya itu dengan tatapan membunuh.
"Berhenti ketawa. Atau Manisha enggak mau bicara sama Abang lagi."
Ajaib. Athlas berhenti tertawa. Bisa gawat jika Manisha mendiamkannya. Athlas tentu saja tidak mau itu terjadi.
Athlas menghela nafas. "Abang minta maaf,"ucapnya kemudian dengan raut wajah menyesal. Manisha mengangguk, namun enggak melihat Athlas.
"Besok Abang bawain stroberi, deh buat kamu." Athlas berusaha membujuk.
Wajah Manisha langsung berbinar. Ia menatap Athlas dengan mata menyipit. "Awas kalo enggak bawa!" ucap Manisha tajam.
Sementara Athlas, ia memikirkan kira-kira dimana ada di jual stroberi, padahal sekarang belum musimnya. Athlas jadi menyesal membujuk Manisha dengan buah merah itu. Kalau nanti ia tidak bisa menemukan buah itu, ia harus siap jika Manisha tidak akan bicara padanya lebih dari lima hari.
Athlas menghela nafasnya. Manisha yang melihat Athlas pusing begitu tersenyum aneh.
"Mana ada orang jual stoberi padahal belum musim." Manisha tertawa jahat di dalam hatinya.
Rasakan itu!
πππ
TBC...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya. Sebab, penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih...π