Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 32. Perihal Kehilangan


__ADS_3

Cinta itu luar biasa. Cinta itu buta. Dan cinta bisa membunuhmu atau kawanmu begitu saja. Sebab cinta jatuh tanpa pandang-pandang bulu.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Brangkar rumah sakit didorong kuat dengan kecepatan besar oleh beberapa orang berstelan putih-putih ke arah ruangan bertuliskan UGD. Seseorang tergeletak pasrah diatasnya, dengan kepala yang penuh cairan kental yang sebagian mulai mengering. Dua manusia lainya ikut berlari di samping brangkar itu, memerhatikan intens gadis malang yang sedang berada dalam fase 'hidup dan mati.' Gadis itu pucat, kulitnya yang putih semakin memutih. Gadis malang bernama Manisha Elevanova.


Andra membekap mulutnya menahan isakan saat Manisha dibawa masuk ke dalam UGD sedangkan ia ditahan diluar bersama Bi Reta. Reta menangis, menatap pilu ke arah pintu yang mulai ditutup oleh suster.


Tulang-tulang Andra rasanya mulai melemah. Ia jatuh terduduk di atas lantai. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan penasaran yang diberikan oleh orang-orang yang berlalu lalang dihadapannya. Saat ini pikiranya hanya tertuju pada satu orang, anak perempuan semata wayangnya yang sedang berjuang di dalam. Berjuang? Bahkan Andra sendiri tidak yakin apakah anaknya mau berjuang untuk hidup kembali. Namun, setidaknya Andra berharap begitu.


Reta menatap pilu ke arah Tuanya. Ia tahu jika ayah dari anak yang ada di dalam sebenarnya sangat menyayangi gadis itu. Namun, yang Reta tidak paham sampai sekarang adalah kenapa Tuanya tega menganiaya anaknya sendiri. Reta tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan pria paruh baya yang menangis sesenggukan di sampingnya.


"Maafin Papa, Sha..." gumamnya dengan tangis yang tak kunjung reda.


Cklek!


Pintu yang terbuka mengalihkan pandangan mereka. Andra bergegas menghampiri dokter ber-name tag Anita Sastrawirda D. Dokter itu menghela nafasnya berat. Menatap Andra dan Reta dengan wajah prihatin. Kabar yang akan disampaikan olehnya mungkin akan membuat pihak keluarga bersedih.


"Sebelumnya, saya minta maaf untuk yang sebesar-besarnya..." Wajah Andra mulai pias saat melihat dokter tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Dokter itu terdiam cukup lama.


"Anak anda..."


.


.


.


"Sand... kamu dimana?"


Raga menghela nafasnya untuk kesekian kali. Ia sudah lelah menyusuri setiap lorong dan rumah-rumah di Kompleks Cempaka 17.ย  Kemarin, ia mendapat kabar dari tetangga sahabat kecilnya yang tinggal di perumahan kumuh jika Sandra sudah kembali pindah ke daerah Jakarta Barat. Di Kompleks Cempaka 17. Oleh karena itu sekarang Raga langsung memastikan jika apa yang diucapkan wanita paruh baya itu benar adanya. Namun, setelah mencari hingga ke sudut kompleks pun, Raga masih belum bisa menemukannya. Sekarang, hanya tersisa tiga rumah lagi yang belum sempat Raga datangi. Raga harap, salah satu dari tiga rumah itu adalah milik sahabatnya.

__ADS_1


"Bang, lo yang makek tubuh gue kok gue sebagai arwah yang capek, ya? Pulang aja yuk, besok kita lanjut. Udah hampir seharian loh kita mutar-mutar enggak jelas..." rengek Bayu yang saat ini sedang duduk di atas jalan yang ada di kompleks itu.


Raga yang mendengar rengekan adiknya hanya menghela nafas kesal. Namun, benar juga yang dikatakan Bayu. Mereka sudah memutari kompleks ini dari pulang sekolah sampai sekarang, pukul 21:00 malam. Akhirnya Raga memilih mengangguk. Lagipula hanya tinggal tiga rumah lagi, Raga bisa melanjutkannya besok. Mereka pun memutuskan untuk pulang.


Klek!


Raga memasuki rumahnya yang terlihat sepi bagaikan kuburan. Ia tahu jika sepi seperti ini, pastilah bundanya belum pulang dari rumah sakit. Raga enggan memikirkan apapun tentang wanita paruh baya itu, dengan santai Raga menaiki tangga menuju kamarnya. Sesekali dipijatnya kepala yang terasa sakit. Mungkin karena ia tidak sempat makan siang tadi di sekolah, ditambah lagi ia juga melewatkan makan malam sebab sibuk mencari Sandra.


Bayu yang melihat abangnya memijat kening hanya mengehela nafas. Ia memerhatikan abangnya yang mulai hilang di balik pintu.


Bayu kembali menghela nafasnya, ia bukan prihatin terhadap abangnya, namun ia prihatin terhadap tubuh miliknya yang seperti semakin mengurus. Bayu tidak bisa menyalahkan Raga terhadap apa yang terjadi pada tubuhnya, Bayu tahu kenapa tubuh itu bisa kurus. Selama ini Raga tidak menjaga pola makan, sering meninggalkan sarapan dan langsung berangkat ke sekolah.


Bayu ikut-ikutan memijat kening. Ia berpikir bagaimana nanti jika ia sudah kembali pada tubuhnya sendiri namun ternyata tubuhnya sakit? Asam lambung atau lambung misalnya? Bisa-bisa ia diceraikan Manisha nanti. Tidak! Bayu tidak rela diceraikan oleh gadis itu. Mendapatkan nya saja susah.


Mengingat tentang Manisha, Bayu jadi ingat tentang insiden di UKS tadi pagi. Saat Manisha berusaha kuat menyembunyikan lukanya. Bayu khawatir sekali saat itu, sehingga ia terduduk di samping brangkar dengan keadaan lemas yang luar biasa. Tidak menyangka jika gadisnya akan menerima sakit cambuk seperti itu. Jika Bayu berada di posisi Manisha, mungkin ia akan menangis layaknya anak-anak yang tidak dibelikan permen. Bayu akui,ย  gadisnya hebat.


"Gimana keadaan Manisha sekarang, ya?" gumam Bayu pelan. Ia masih berada di pinggiran tangga, menatap lepas ke lantai satu sambil memerhatikan lantai satu yang kondisinya gelap.


Cklek!


Bayu memutuskan untuk menyusul bundanya ke bawah, lantas Bayu duduk disana, disebelah kanan Anita.


"Bayu, kamu dimana, nak..." ucap bundanya lirih, lalu memijat kening dan bersandar di sanderan sofa.


Bayu menatap bundanya sedih. Ia tahu bundanya pasti tengah bingung sekarang. Bayu sangat paham.


"Bun... Bayu akan pulang, Bun. Tapi kenapa Bunda enggak mau sayang sama Raga? Raga juga anak bunda, Bun... tolong sayangi dia, Bun...ย  waktu dia untuk tinggal bersama kita sudah tidak lama lagi..." ucap Bayu lirih. Tanganya terulur ingin mengusap kepala bundanya. Bayu meringis saat tanganya tidak bisa menyentuh kepala itu.


Tiba-tiba Anita terbangun, membuat Bayu mengerjab kaget. Anita menatap kanan kiri seolah-olah mencari sesuatu. Bayu tersenyum, ternyata bundanya tahu kehadirannya disini.


Namun, Bayu terdiam.

__ADS_1


Kapan bundanya akan menyambut kedatangan Raga?


Bayu sangat berharap hal itu terjadi. Bagaimanapun, Raga pasti ingin disayang sekali saja di hidupnya. Bayu harap, hati Anita akan segera mencair sebelum semuanya terlambat. Dan kemudian... menyesal.


.


.


.


"Anak anda... koma."


Kalimat singkat yang keluar dari mulut dokter berhasil membuat Andra dan Reta kembali membekap mulutnya. Berusaha keras menahan tangis yang siap turun.


"Saya permisi."


Ucapan permisi yang dilayangkan dokter pun tidak lagi digubris Andra. Ia menatap langit-langit rumah sakit yang bewarna putih. Andra menyesali semuanya. Ini semua terjadi karena dirinya. Ini salahnya.


Andai saja ia tidak selingkuh dan menjadikan anaknya sendiri sebagai kambing hitam, mungkin saat ini keluarga mereka akan baik-baik saja seperti tahun-tahun lalu. Harmonis dan tidak cacat.


Namun terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tidak akan membuat keadaan kembali baik-baik saja. Semuanya sudah memburuk. Ratih meninggal, sedangkan anaknya koma didalam. Dan dirinya, hancur berkeping-keping. Kehancuran yang sempurna.


Andra menangis sesenggukan. Hingga akhirnya ia bangun saat melihat brangkar anaknya didorong keluar dari UGD dan dibawa ke kamar pasien VIP.


Matanya tak henti-henti menatap malang Manisha. "Maafkan papa, sayang..." lirih Andra kemudia kembali jatuh terduduk untuk kesekian kalinya.


Nb: Kehilangan yang paling luar biasa adalah kehilangan seseorang yang biasanya hadir diantara kita. Tertawa bersama kita, bercanda bersama kita, dan kehilangan itu... saat kau sadar jika apa yang kau lakukanlah yang membuat kehilangan itu lebih cepat datang dari apa yang kau duga.


+TBC


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2