Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 35. Luka yang Nyata


__ADS_3

Pun aku mencintaimu. Pun aku ingin sekali mendekap erat tubuhmu. Namun aku harus apa jika semua cerita ternyata telah usai dengan tiba-tiba.


🍃🍃🍃


"Hu... hu... hu...."


Anak perempuan bermata biru muda terisak pelan di kursi panjang yang berada di pinggiran Danau Biru. Tanganya yang kecil sesekali mengusap kasar air mata yang mengalir bebas di pipi tembamnya.


Pluk!


Anak perempuan itu menoleh saat bahunya ditepuk-tepuk pelan oleh seseorang. Ia menatap sendu ke arah satu anak laki-laki yang ternyata menjadi dalang dibalik tepukan tiba-tiba di bahunya.


"Kamu siapa?" tanyanya setelah menyeka bercak ingus yang tertinggal di hidungnya.


Anak laki-laki itu hanya diam. Ia malah berjalan ke kursi dan duduk disana. Matanya yang bewarna coklat terang menatap lepas ke arah danau. Hal ini tentu saja membuat gadis kecil yang berada disampingnya mengernyitkan kening heran.


"Raga."


Gadis kecil itu semakin bingung dengan kalimat super duper pendek yang dikeluarkan anak laki-laki itu.  "Tubuh?" katanya pelan. Namun berhasil membuat anak laki-laki berwajah datar tersebut menoleh dengan cepat. Tampak ia menghela nafas.


"Namaku Raga. Bukan tubuh," balas anak kecil yang menyebut namanya Raga itu dengan kesal.


Gadis kecil itu terkekeh. "Ooo... Raga... aku Sandra T.A,"ucapnya pelan, memperkenalkan diri.


Raga kecil hanya mengangkat alisnya. "Enggak nanya,"ujarnya ketus.


"Cuman ngasih tau. Kalau enggak mau tau ya udah." Sandra kecil hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


"Dasar cengeng!" ejek Raga kecil, lalu tersenyum miring. Sandra kecil membulatkan matanya, menatap tajam kearah Raga yang tampak menyebalkan.


Sandra hanya diam. Namun menatap jahil saat Raga menanyakan arti T.A yang dikatakan Sandra barusan.


"Kan enggak penting. Ngapain nanya. Kalo mau tahu, cari aja sendiri,"ucap Sandra kecil. Namun, baru saja kata-kata itu berhasil di ucapkan, seseorang memanggil dirinya dengan nama lengkap. Hal ini membuat Raga kecil menatap Sandra kecil dengan penuh kemenangan.

__ADS_1


"Abang ngapain sih Panggil nama lengkap Sandra. Kebongkar 'kan jadinya. Sandra marah sama Abang... huh!" usai mengatakan hal itu, lantas Sandra langsung pergi dari sana dengan wajah cemberut sempurna. Berbeda dengan Kenan kecil yang melongo melihat adiknya tiba-tiba marah tidak jelas, padahal seharusnya dirinya yang marah.


Kenan mengalihkan pandangannya ke arah Raga kecil yang terkekeh pelan. Ia menatap bingung ke arah Raga kecil.


"Kamu siapa?" tanya Kenan pelan. Namun bukanya menjawab, Raga kecil malah langsung pergi dari sana. Dan Kenan yang ditinggal terpaksa harus menahan kekesalan untuk yang kedua kali.


.


.


.


Itu adalah pertemuan Raga dan Sandra untuk pertama kalinya. Raga mengusap pelan air mata yang mengalir deras di pipinya saat melihat satu nisan bertuliskan 'Sandra Tissa Alemanus bin Derian Devano Alemanus' terangkai apik di nisan itu. Raga tidak menyangka, jika Sandra ternyata telah berpulang juga ke sisi Allah SWT.


Perlahan, Raga memeluk erat nisan putih yang mulai pudar sebab sudah bertahun-tahun lamanya terpajang disana. Bukan, bukan ini yang ingin Raga rengkuh, ia ingin sosok Sandra. Ia ingin tubuh Sandra yang dipeluknya hangat, bukan nisan.


Puk!


Raga mengusap air matanya saat merasakan bahunya ditepuk seseorang. Lantas ia berbalik dan menemukan pria berseragam pilot  yang bertubuh tinggi, di dadanya terdapat name-tag bertuliskan Kenan Devano Alemanus.


"Raga. Sahabat Sandra" jawab Raga pelan. Ia berdiri.


"Saya Raga Alvano Dwipaga," ucap Raga lagi memperjelas namanya. Wajah yang pucat pasi menjadi pernyataan jika Kenan mengenal sosok Raga.


"Kapan Lo balik ke Indonesia?" tanya Kenan mengangkat alisnya penasaran.


"Saya sudah lebih dari dua bulan disini, memasuki bulan ketiga." Raga mengatakan hal itu sambil menatap kosong ke arah makam Sandra.


"Kenapa Sandra bisa meninggal?" tanyanya kemudian. Hal ini berhasil membuat Kenan menunduk dalam. Kenan tahu, pasti Raga sudah datang kerumahnya dan bertemu dengan bibi, oleh karena itu Raga tahu jika Sandra sudah tiada. Namun bibi tidak menjelaskan kenapa Sandra bisa meninggal, sebab Kenan yang mengatakan akan menjelaskan pada orang yang suatu saat akan mencari Sandra. Orang itu Raga. Raga Alvano Dwipaga, kalimat yang masih jelas diingat oleh seorang Kenan sampai sekarang. Itu adalah amanah adiknya, sebelum menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan mengenaskan. 


"Kita bicarakan di kafe seberang aja. Gue akan jelasin semuanya."


Raga mengangguk. Perlahan ia mundur, menjauh dari Kenan yang berjalan mendekat ke nisan Sandra. Raga melihat mulut Kenan yang mengatakan sesuatu pada Sandra, namun Raga tidak tahu apa yang dikatakannya. Sebab, jaraknya dan Kenan sudah lumayan jauh. Raga memutuskan untuk ke kafe seberang sendirian, memutuskan menunggu Kenan di sana saja.

__ADS_1


.


.


.


"Dek... maafin Abang karena udah merenggut kebahagiaan kamu. Maafkan Abang yang sudah membuat semuanya kacau begitu saja. Maaf..." ucap Kenan lirih sambil mengusap pelan nisan putih pudar yang tertancap di hadapannya.


Sandra adalah adiknya yang paling ia sayang. Ia tidak menyangka jika kejadian na'as itu berhasil merenggut paksa nyawa adik kesayangannya. Kenan tidak tahu, jika candaan yang ia lakukan berujung pada kata maut. Kenan kira, sebuah kejutan tidak akan bisa membuat kematian.


"Sandra... andai aja waktu itu abang enggak bikin kejutan ulang tahun buat kamu dengan cara seperti itu, mungkin kamu masih ada sekarang. Abang benar-benar minta maaf, sayang...." Kali ini Kenan menumpahkan air matanya. Ia benar-benar menyesal.


"Sandra... kamu tahu? Laki-laki kecil yang dulu sering kamu ceritakan ke Abang, dia sudah pulang. Benar Sand... dia mencari kamu. Teryata kamu memang sahabat yang paling dia sayang. Maaf dulu Abang sempat enggak percaya." Kenan menceritakan tentang kedatangan Raga sembari tersenyum miris.  "Dek... Abang akan menceritakan semuanya sama dia, mungkin nanti dia akan marah sama abang. Tapi, sesuai amanah kamu, Abang tetap akan menceritakan semuanya. Meski semuanya nanti bisa menyakiti Abang secara perlahan."


Kenan bangkit dari duduknya. Ia memutuskan untuk ke kafe sekarang. Menceritakan segalanya yang seharusnya sudah usai. Sebelum pergi, Kenan sempat melihat ke belakang, ke arah makam adik kesayangannya untuk kali terakhir. Sebab, setelah ini ia kan pergi. Nihil untuk kembali lagi ke tanah kelahirannya ini, Indonesia. Kenan akan ke negeri tirai bambu, menetap disana.


Sementara di suatu tempat, Raga duduk di kursi kafe sambil sesekali mengetuk-ngetukan jemarinya ke meja. Ia takut mendengar alasan kematian Sandra. Ia benar-benar takut. Bahkan Bayu yang saat ini sedang duduk di meja kafe yang kosong--disebelah Raga--menatap kasihan ke arah abang satu-satunya itu. Bayu tidak menyangka, jika takdir sepilu ini hinggap di kehidupan saudara kembarnya. Bayu benar-benar merasa bersalah.


Bayu menunduk dalam di kursinya. Apa ini saatnya untuk menjelaskan pada abangnya mengapa hidup Raga terjungkir balik dengan tiba-tiba? Apa Bayu kuat ketika nanti dirinya harus menerima jika abangnya itu akan membencinya? Bayu menghela nafas pelan. Berapa pun pilihan yang ada untuk dipilih, Bayu tetap harus jatuh pada kata 'menjelaskan.' Ya! Bayu harus melakukan itu.


"Rag--" Baru saja suaranya keluar untuk memanggil Raga, lonceng pintu kafe yang berbunyi mengalihkan pandangan Bayu. Ia melihat sosok yang tadi dilihatnya di makam itu masuk. 'bukan sekarang,' batin Bayu mengurungkan niatnya untuk menceritakan segalanya. Sekarang urusan Sandra lebih penting bagi seorang Raga. Bayu tidak boleh membuat Raga semakin sakit kepala. Akhirnya Bayu kembali memilih diam.


"Maaf nunggu lama," ujar Kenan sembari mendudukkan diri di hadapan Raga yang berekspresi datar. Tidak berniat menjawab pertanyaan Kenan.


Kenan menghela nafasnya pelan saat melihat sorot tajam dari manusia yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka jika seorang Raga yang sering di sebut-sebut adiknya itu memang benar-benar ada. Bukan ilusi. Pasalnya Sandra memiliki indera ke-enam, jadi bisa saja Raga itu teman tidak kasat matanya 'kan? Kenan masih belum sepenuhnya percaya.


"Sandra meninggal dunia pada umur 15 tahun" ucap Kenan pelan, ia melihat wajah Raga yang tampak biasa-biasa saja. Namun Kenan tahu, dibalik ekspresi itu terdapat banyak sekali keingintahuan akan kematian adiknya.


"Waktu itu... 23 Desember 2016 adalah ulang tahun Sandra. Gue berniat ngasih kejutan yang gak terduga buat dia. Tapi ternyata, kejutan itu yang buat nyawa dia melayang...." Raga terdiam, ia semakin penasaran dengan kejutan apa yang dibuat oleh Kenan hingga berhasil membuat nyawa adiknya sendiri melayang.


"Gue benar-benar gak nyangka semuanya terjadi begitu cepat. Gue kira akan baik-baik aja. Ternyata, Sandra malah tewas dengan keadaan yang mengenaskan. Penuh darah..." Air mata Kenan mulai mengalir satu persatu. Raga yang mendengar hal itu mengepalkan tangannya erat. "Kejutan apa yang kamu kasih buat dia?" katanya kemudian dengan mata terpejam menahan amarah.


Kenan mengusap air matanya. Ditatapnya Raga dengan wajah penuh rasa bersalah.

__ADS_1


+TBC


Wah, kira-kira kejutan apa,ya?🤤


__ADS_2