Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 41. Rahasia Diary Manisha


__ADS_3

...Kenyataan paling menyakitkan adalah...


...mengetahui sebuah kebenaran ketika waktu sudah sampai pada kata 'terlambat'....


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Halaman pertama.


Untuk Tuan yang Meninggalkan Puan


Biar ia luruh bersama waktu yang kian berjalan maju. Aku tidak tahu, sampai kapan rasa ini akan terus bersemi dalam hati. Tumbuh dan berkembang dengan baik.


Ketika jam berhenti berjalan ke depan. Aku hanya mampu terpaku, menatap wujudnya yang kian melangkah semakin jauh. Bolehkah aku memeluknya?


Tuhan, nyatanya pertemuan yang aku puja waktu itu, tenyata harus dipaksa berakhir secepat ini. Dan aku, harus mau menjadi penonton satu-satunya atas kepergiannya.


Tuhan, ajarkan aku cara melupakan. Tentang dia yang ku agung-agungkan di setiap malam yang panjang. Tentang dia, yang kerap aku harapkan muncul di dalam mimpi untuk satu detik.


Tuhan, aku merindukan salah satu mahluk bumi yang kau ciptakan.


Aku merindukannya....


....


Andra tersenyum begitu membaca halaman pertama diary Manisha. Andra tahu, jika anaknya itu sedang dalam fase jatuh cinta. Dan... Andra yakin, ia akan segera mengetahui siapa 'manusia' berjenis kelamin laki-laki yang berhasil mencuri perhatian anak gadisnya.


Andra tersenyum getir saat melihat foto Manisha yang tersenyum bersama ketiga temanya tertempel di sampulnya. Ah... Andra merindukan sifat ceria Manisha yang dulu. Dulu sekali....


Halaman kedua


Untuk Tuan yang Meninggalkan Puan


Tuhan, ternyata ego tinggi sialnya seperti ini. Ketika aku mencoba meraih tangannya dan mendekap ia saat bayangnya mulai menjauh, aku berhasil. Akan tetapi, bukan raga yang aku dekap, melainkan harap yang dipaksa untuk tenggelam begitu saja.


Pembenaran atas segalanya berakhir sia-sia. Dan aku adalah salah satu tokoh pertama yang memilih menyia-nyiakannya. Saat ini, semua berakhir pada kata tidak jelas, aku yang mengejar dan aku yang berakhir ditinggalkan.


Sesakit ini rasanya.


Anaknya sedang patah hati rupanya. Andra masih tersenyum. Ia memeluk erat buku itu, menghirup dalam-dalam bau Manisha yang seakan tertempel di sana. Perlahan, Andra kembali membukanya.


Halaman ketiga


Untuk Tuan yang Dirindukan Puan


Hai Tuan, bagaimana kabarmu? Ketika aku menulis ini, artinya aku kembali merindukanmu. Merindukan pria bernama 'Bayu' yang berhasil mengguncang duniaku.


Akan tetapi, bolehkah aku menulis ini, Tuan? Masih berhakkah aku?ย  Pasalnya, semenjak kau pergi, semua sudah berubah. Dan mungkin, hatimu juga sudah berubah. Benar 'kan, Tuan?


Ah,ya. Ternyata, saudara kembarmu yang bernama Raga itu, bucin, ya? Hehehe. Tidak sesuai dengan tingkahnya yang dingin. Dan kau tahu? Saudaramu itu, kerap kali menuduhku menguntit dirinya. Padahal, waktu saja yang mempertemukan kami dengan begitu bengisnya.


Bukankah 'waktu' kejam, Tuan? Waktu yang memperkenalkan kita, dan waktu juga... yang memaksaku untuk melihat wajahmu dan ragamu yang sayangnya bukanlah 'dirimu'.


Aku benci saat dipaksa sadar begitu saja, tentang Raga yang mirip seperti wajahmu.


Salahkah aku, Tuan?


Andra geleng-geleng kepala. Kisah cinta anaknya ternyata sangat rumit. Sedikit mirip dengan kisah ia dengan Ratih waktu itu.

__ADS_1


Halaman keempat


Untuk Tuan yang Entah Berapa Lama Menghilang


Tuan, sengaja aku tidak menulis tanggal di setiap coretan tangan pada tengah malam. Sebab, ada banyak waktu yang ku lewati untuk mengingatmu. Jika kutulis tanggal, kau mungkin akan terkejut membacanya. Sebab setiap hari, tanganku tidak pernah absen menuliskan perihalmu.


Ia, perihalmu yang entah berapa lamanya hilang tanpa kabar. Juga tentangmu... yang tidak pernah aku bosan rindukan.


Tuan... aku merindukanmu....


Halaman demi halaman berhasil di baca Andra. Ia terus saja tertawa membaca buku itu. Pasalnya, semua tulisan Manisha hanyalah tentang manusia bernama 'Bayu' , atau manusia bernama 'Raga' yang katanya saudara kembar Bayu.


Andra menyipitkan matanya saat melihat satu buku lagi bewarna coklat tua ternyata terselip di bawah kotak pensil Manisha. Buku sedikit lebih kecil, dan menarik perhatian Andra adalah foto yang tertempel di sampul buku itu. Foto keluarga mereka, foto baru. Andra yakin, foto itu diambil beberapa bulan yang lalu sebelum Ratih berangkat untuk membantu Diandra.


Andra mengamati buku itu. Jantungnya memompa cepat. Dengan tangan gemetar, halaman pertama langsung ia buka.


Halaman pertama


Untuk Bunda yang Pergi


.


.


.


21:00


Kediaman Bayu, Jakarta.


Suara Raga kembali terdengar. Pasalnya, ia tengah mencoba membujuk Bayu agar mau mengunjungi Manisha sekarang. Akan tetapi, Bayu tetap kukuh tidak ingin pergi kesana. Ia merasa, jika semua yang terjadi pada gadis itu, sebab ia tidak bisa melindunginya.


"Bayu. Ini semua bukan salah kamu. Kamu tidak salah apa-apa."


Raga masih berusaha memotivasi Bayu. Lagipula, semua yang terjadi bukan salah pria itu. Jadi untuk apa Bayu memendam rasa bersalah? Akan lebih baik, jika mereka menjenguk Manisha daripada tenggelam dalam rasa bersalah yang sebenarnya tidak dilakukan Bayu, pikir Raga dengan logis.


"Ini salah gue...."


"Kamu enggak salah, Bayu!"


"Ini salah--"


"Bayu! kamu enggak salah apa-apa disini. Kenapa kamu menyalahkan diri kamu sendiri!" gertak Raga. Ia jadi kesal sendiri dengan tingkah adik satu-satunya itu.


"Saya tanya sekali lagi sama kamu. Kamu mau jenguk Manisha atau enggak? Kamu mau kehilangan dia?" Raga berteriak kencang. Ia bangkit dari kasur dan mengacak-acak rambutnya kasar. Pasalnya, Bayu masih dalam posisi semula, menatap kosong ke arah jendela dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di wajahnya.


"Bayu!"


Brak!


Suara pintu didobrak tiba-tiba mengagetkan Raga. Berbeda dengan Bayu yang bahkan tidak perduli.


Raga mengernyitkan kening begitu melihat siapa dalang di balik penggerakan pintu. Dia Anita, ibundanya dan Bayu. Anita terlihat masih setia dengan baju dokternya yang tampak kusut sana sini. Tampaknya wanita itu baru saja pulang bekerja, pikir Raga yakin.


Kening Raga semakin mengernyit saat melihat Anita berjalan semakin mendekat ke arahnya, lalu--


Plak!

__ADS_1


Raga ditampar. Cukup kencang, sampai-sampai berhasil mengalihkan pandangan Bayu yang awalnya menatap kosong pada jendela, kini fokus ke arah mereka berdua.


"Dimana Bayu! Kembalikan anak saya! Argh!!"


Anita mencakar- cakar tubuh anak pertamanya itu dengan emosi yang meluap-luap. Mengabaikan jika kuku panjangnya akan melukai tubuh Raga.


Dan benar, ada luka gores panjang di lengan Raga. Bukan terkena kuku panjang miliknya, melainkan terkena cincin tajam yang dipakainya.


Anita tampak terdiam. Menatap dalam ke arah luka itu. Wajahnya pias, seakan-akan terbesit sedikit rasa bersalah di sana.


"Puas?"


"Puas anda memperlakukan saya seperti sampah selama ini?"


"Puas?"


Raga meringis, tangan sebelah kirinya menutupi lengannya yang terluka. Memang tidak terlalu parah, akan tetapi luka gores itu cukup perih.


Air mata Raga mulai menetes. Membasahi wajahnya yang pucat.


"Kenapa saya dan Bayu berbeda?"


"Apa salah saya?"


"Kenapa kami harus kembar?"


Raga benar-benar ingin tahu alasannya. Alasan kenapa semuanya berlaku tidak adil kepadanya. Raga sudah tidak mampu menahan semuanya. Terlalu berat dan terlampau perih....


"Jawab saya... hiks-hiks-hiks... Bunda...."


Kali ini isakan Raga tidak lagi pelan. Ia menangis keras. Tidak peduli pada Anita yang mungkin sedang tertawa sekarang menatapnya serapuh ini. Padahal, tanpa diketahui Raga, Anita merasa sedikit sesak melihat anak yang tidak pernah dianggapnya itu menangis penuh kesakitan dihadapanya.


Bayu yang menyaksikan itu semua semakin banyak mengeluarkan air mata. Bayu merutuki dirinya sendiri. Satu hal yang baru disadarinya, jika ia membawa sial bagi semua orang, simpulnya dalam hati.


"Seharusnya bukan Raga yang meninggal, seharusnya gue. Seharusnya bukan Manisha yang di Rumah Sakit, seharusnya gue. Semuanya salah gue... maaf...."


Bayu merutuki hidupnya. Kenapa ia harus terlahir di bumi. Kenapa ia harus menyandang status sebagai saudara kembarnya Raga. Kenapa? orang sebaik Raga tidak pantas mendapatkan saudara seburuk dirinya. Ia benci semua ini! teriak Bayu dalam hati.


"Karena kamu..." Anita terdiam, "yang membuat Raya meninggal."


Usai kalimat itu mengalir sempurna dari mulut Anita, suasana kamar langsung sepi. Tidak ada suara apapun. Anita sibuk dengan pikiranya, Bayu sibuk dengan kekosongannya, dan Raga... sibuk dengan kebingungannya.


Membunuh Raya? dirinya membunuh adik mamanya itu? Tidak! Raga tidak merasa pernah melakukannya. Bukan dia pelakunya, bantah Raga dalam hati.


Perlahan, pikiranya mulai berhasil menyambung benang-benang kusut yang terjadi dihidupnya selama ini. Raga paham sekarang, dimulai dari kamarahan tak berdasar yang datang dari kedua orangtuanya, lalu niatan ayahnya yang ingin membunuhnya, dan bundanya yang tiba-tiba berlaku tidak adil lagi padanya.


Rahang Raga mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Memori-memori masa lalu tengah berputar apik saat ini dikepalanya. Lantas dengan emosi yang mungkin akan segera tumpah, wajahnya menoleh. Menatap tajam ke arah Bayu yang juga menatap dirinya dengan ekspresi seakan mengatakan 'maafin gue, Raga'. Akan tetapi, masalah yang diterimanya selama ini bukanlah kategori simpel. Siapa yang tahan hidup tanpa kasih sayang dari orangtua sendiri?


Raga berdecih. Ia berdiri, lalu berlari dari sana. Yang ada dipikirannya saat ini adalah menjauh. Menjauh dari drama yang ternyata sedang dia mainkan saat ini. Menjauh dari game yang ternyata menjebaknya dalam fitnah yang terlalu keji. Semuanya terlalu berat baginya.


Memaafkan tidaklah menjadi solusi yang mudah, setidaknya untuk sekarang. Raga... hanya ingin menangis!


Menangisi segala hal. Termasuk Bayu yang ternyata dalang dibalik penderitaan yang ia terima selama ini seorang diri, lalu tiba-tiba menjadi malaikat yang memperlakukan Raga seakan Raga akan baik-baik saja. Raga benar-benar masih tidak percaya!


+TBC


TINGGALKAN JEJAK BERUPA KOMENTAR DAN VOTE YA, TERIMA KASIH.... ๐ŸŒพ

__ADS_1


__ADS_2