Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 20. Seuzon III


__ADS_3

Dimana gue, disana ada dia juga. Terus dia bilang kalau gue ngikutin dia. Dasar sinting!


🍃🍃🍃


Tolong siapapun katakan pada Manisha jika ia harus bisa bersabar untuk kali ini.


Manisha semakin memutar bola matanya sebal saat melihat manusia menyebalkan sedang berdiri di hadapannya dengan netra setajam elang. Dia Raga, yang menatap Manisha seolah Manisha adalah musuh bebuyutan yang siap untuk dibinasakan.


"Kalau kamu merasa di spesialkan karena tadi saya nawarin bangku saya ke kamu, saya cuman mau bilang, kalau saya enggak ada maksud apa-apa. Jadi tolong, berhenti ngikutin saya. Kamu paham bahasa Indonesia 'kan? Atau harus saya pakek bahasa planet dulu biar kamu mengerti."


Manisha menatap Raga tajam selepas pria itu selesai dengan kalimatnya. Tadi apa katanya? Merasa di spesialkan? Yang benar saja, siapa bilang Manisha merasa seperti itu! Dan untuk beribu-ribu kalinya Manisha sudah bilang jika ia tidak pernah menguntit Raga! Gunanya apa coba!


"Lo kali yang kege'eran. Sejak kapan gue ngikutin Elo? Gue ke kolam belakang sekolah juga karena gue sering ke sini kali. Bahkan sebelum Lo datang, gue juga sering kesini. Bayu juga tahu itu. Jadi tolong enggak usah sok ganteng, deh jadi orang," ucap Manisha jengkel tidak terkira. Tatapannya semakin sinis saja melihat Raga.


Raga terkekeh. Ia kemudian tersenyum miring. "Memangnya Bayu jelek? Sampai-sampai kamu bilang kalau saya sok kegantengan?" Raga diam sejenak. "kalau kamu lupa, saya dan Bayu itu kembar."


Manisha merutuki dirinya di dalam hati. Ia membenarkan ucapan saudara kembar pacarnya itu. Namun, bukan Manisha namanya jika mengalah begitu saja.


"Te--terus? Kenapa memangnya. Bayu lebih ganteng dari Lo kali!" Manisha berkata lantang, walau sedikit tergugup-gugup.


Raga semakin terkekeh-kekeh mendengar ucapan Manisha. Sedangkan Manisha kembali merutuki mulutnya yang tiba-tiba menjadi bodoh sebab mengucapkan kalimat itu. Sama saja dia mengatakan kalau Raga ganteng.


"Bodo, ah! Pigi jauh Lo sono! Gue mau menenangkan diri kalau Lo mau tau alasan gue disini."


Manisha langsung membuang muka selepas mengatakan kalimat yang mampu membuat Raga bungkam. Namun sedetik kemudian Raga malah tertawa keras, mau tidak mau Manisha langsung mengalihkan tatapannya kembali pada sosok menyebalkan yang berada di belakangnya.

__ADS_1


"Mau Lo apa sih! Pergi sana!" Manisha membentak Raga. Ia mengacak-acak poninya. Raga terdiam, ia memutuskan pergi dari sana, sebelum singa betina semakin murka. Di dalam hati Raga heran, kenapa Bayu bisa memilih pacar yang sifatnya hampir sama seperti macan. Kejam dan cantik... eh! Raga menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ralat untuk kata terakhir! Manisha lebih cocok dikatakan kejam saja! Catat, kejam!


Melihat siluet Raga yang mulai menjauh, Manisha menghela nafasnya lega. Jujur, ia sangat malu tadi dihadapan Raga. Mengucapkan kalimat bodoh yang berhasil membuat harga dirinya jatuh!


"Dasar, ngeselin. Persis banget kek adiknya," gerutu Manisha. Ia berdecak. "coba aja ada Bayu disini, enggak bisa bayangin kalau mereka di satukan. Akur atau kayak Tom and Jerry, ya?"


Manisha mendudukkan dirinya di atas batu pinggiran kolam. Ia melihat bunga Padma air dan teratai putih yang mengambang di atasnya. Ia jadi teringat dengan insiden 'perusakan bunga oleh tangan jahilnya'. Dimana pada saat itu ia masih menatap 'ngeri' ke arah abang angkatnya itu, 'Pak Athlas.'


"Enggak nyangka gue, kalau pak Athlas bisa jadi abang angkat gue, padahal dulu, pas lihat abang datang ke rumah gue ngantar buku olahraga aja bikin gue takut setengah mati." Manisha berceloteh ria sendirinya. Ia mengabaikan suara derap kaki yang berjalan mendekatinya.


Angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering. Gesekan batang bambu yang tumbuh di dekat tembok seberang kolam mengisi sepi. Manisha menghela nafasnya pelan, ia menatap kosong ke arah tengah kolam.


"Andai dulu gue maafin Bayu cepat, pasti Bayu enggak akan hilang 'kan? Pasti Bayu masih ada 'kan? Dan dia enggak akan ninggalin gue sendirian disini." Manisha terdiam. Sorot matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.


"Maaf, Bayu. Gue telat. Bay, udah lebih dari tiga bulan elo gak muncul. lo beneran keluar negeri, Bay? Lo beneran tinggalin gue disini? Bayu... gue udah beda Bayu, hidup gue juga. lo enggak mau gitu balik lagi terus peluk gue biar gue ada tempat sandaran? Bayu, kenapa lo pergi setelah gue berusaha untuk sayang sama lo? Kenapa... Bayu...." ucap Manisha lirih. Ia melempar bebatuan kerikil ke tengah kolam. Sampai saat ini, Manisha masih belum sadar jika ada yang memerhatikannya.


Sebuah suara berat membuat Manisha langsung mengalihkan pandangannya. Ia menatap tajam orang itu begitu sadar siapa yang sedang menguping apa yang di ucapkanya sedari tadi.


"Lo enggak ada bakat lain selain nguping, ya?" sindir Manisha.


"Lo Atmaji, 'kan? Mending lo pergi. Udah cukup kursi gue aja yang Lo ambil, kolam jangan." Setelah mengucapkan kalimat itu, Manisha langsung mengalihkan tatapannya, kembali menatap kolam yang di penuhi bunga teratai yang siap untuk mekar.


"Siapa yang nguping? Lo aja bicara enggak lihat-lihat tempat."


Manisha mengelus dadanya, ia harus sabar dengan kelakuan anak baru yang sudah berhasil merebut kursinya itu. Manisha memilih diam.

__ADS_1


"Lo enggak bisu 'kan setelah gue berhasil rebut tempat duduk Lo di kelas?" ucap Atmaji tiba-tiba. Tentu saja hal ini membuat Manisha murka. Belum juga perasaan kesalnya pada Raga hilang, kini kembali dihadapkan pada sosok Atmaji sinting di hadapannya! Ya Allah, kuatkan Manisha menghadapi dua cowok sarap itu!


"Pergi." Lagi-lagi Manisha memilih memendam kekesalannya. Ia sedang malas untuk menghantam orang saat ini. Ia sedang dalam keadaan merindukan pacarnya yang hilang entah kemana sudah!


Atmaji mengangkat alisnya. Ia menatap Manisha perihatin. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan Manisha. Atmaji sempat mendengar omongan-omongan miring dari murid SMA Dwiyana Muda Bangsa yang mengatakan jika Manisha kehilangan pacarnya. Most Wanted SMA D.M.B!


"Sedih itu boleh. Tetapi jangan berkelanjutan. Coba buka hati, buka mata aja. Lihat diluar ada banyak yang perduli sama Lo. Kalau bukan Bayu, ada orang lain. Cinta enggak sebuta itu sampai-sampai sekeliling Lo enggak lihat!"


Manisha mencengkram erat rok abu-abunya selepas mendengar ucapan Atmaji yang sukses menusuk jantungnya.


"Lo enggak tahu rasanya, Atmaji. Mending Lo diam. Lo enggak tahu apa-apa!" ucap sarkas Manisha. Ia berusaha menormalkan emosinya yang sudah mulai memuncak, dan akan mengeluarkan tanduk!


Atmaji berdeham. Ia tahu jika gadis yang berada di sampingnya itu tengah menahan emosi besar yang berusaha keluar dari dirinya. Atmaji tahu itu!


"Gue tahu Lo marah. Tapi Lo harus tahu juga, gue berani bilang kayak gini karena gue pernah berada di posisi yang lebih berat dari Lo. Gue pernah kehilangan pas lagi sayang-sayangnya, tapi lebih sayang lagi gue harus nerima kenyataan kalau dia bukan pacar gue. Apalagi milik gue." Atmaji melanjutkan ucapannya, ia mengabaikan Manisha yang sudah menutup matanya. Enggan mendengar kalimat lanjutan dari mulutnya.


"Lebih sakit mana, kehilangan pas udah jadi pacar, atau kehilangan cinta yang udah kita damba dalam diam?" Atmaji terdiam sejenak. "kalau gue opsi kedua. Kalau lo pastinya opsi pertama."


Cukup!


Kali ini Manisha harus menghentikan kalimat  yang akan diucapkan Atmaji selanjutnya. Manisha sudah tidak mau mendengar ucapan bodoh itu lagi! Namun, bukanya menghentikan, Manisha malah bungkam saat mendengar Atmaji menanyakan pertanyaan yang membuatnya kembali mengingat masa lalu.


"Lebih sakit mana, pura-pura enggak kenal padahal dulunya akrab. Tetapi karena terjebak friendzone, akhirnya memilih menjadi manusia asing yang seolah-olah baru pertama kali bertemu?"


Manisha meneguk ludahnya kasar. Ia menatap tajam ke arah Atmaji yang juga menatapnya sama.

__ADS_1


+TBC


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran yang membangun, ya? Sebab penulis tidak akan pernah berhasil tanpa adanya pembaca. 😊


__ADS_2