
..."Lo hebat, ya? Bisa menenggelamkan sebuah hati untuk jatuh sedalam-dalamnya. Sha... gue memang datang karena sebuah amanah yang harus gue jalanin untuk buat lo 'bahagia'. Akan tetapi, perasaan gue nyata, Sha. Penghianatan yang lo liat, hanya sebatas salah paham."...
...-Alfa Bagaskara-...
...🍃🍃🍃...
Hari ke- 4, Rumah Sakit Citra Medika, Jakarta ||Memasuki musim penghujan di akhir tahun.
--------------------------------------------------------
Seorang remaja laki-laki, lengkap dengan atribut sekolahnya tampak berdiri menjulang di depan salah satu kamar rawat inap VIP itu. Dia Alfa Bagaskara, yang rela bolos sekolah hari ini untuk menjenguk Manisha begitu mendengar kabar dari Bu Regis jika gadis itu sedang dalam fase hidup dan mati di rumah sakit C.M.J.
Sewaktu mendengar kabar itu, jantung Alfa sempat berhenti sejenak untuk berdetak. Rasanya oksigen sudah tidak mampu terhirup lagi dengan baik. Sesak dan perih, itu yang dirasakannya.
Alfa tidak menyangka, jika Manisha bisa berada di dalam dengan keadaan mengenaskan. Alat penopang kehidupan tampak terpasang apik di tubuh gadis itu. Alfa menunduk, dengan gontai ia berjalan ke arah kursi tunggu. Mendudukkan dirinya disana dengan pikiran yang bercabang-cabang.
Baru saja kabar buruk mengenai sepupunya sampai, kini kabar buruk mengenai Manisha kembali menghampirinya. Permainan apa lagi ini! pekiknya frustasi dengan segala yang terjadi.
Alfa mendongkak begitu melihat sepasang sepatu kulit milik seseorang tampak berdiri di hadapannya. Kening Alfa mengernyit dalam.
"Kamu Bayu?" tanya pria paruh baya itu dengan nada penasaran tingkat dalam. Alfa terdiam. Ia tahu, yang berdiri di hadapannya sekarang pastilah ayah dari mantanya yang sedang koma di dalam. Tanpa sadar, Alfa mengangguk.
Ia terkejut begitu mendapati dirinya di tarik paksa pria tua itu untuk masuk ke dalam.
"Tolong ajak dia bicara. Mungkin dengan datangnya kamu, anak saya bisa cepat sadar."
Usai mengatakan kalimat itu, Andra pergi dari sana, meninggalkan Alfa yang mematung di tempat. Matanya tidak lepas dari raga mantanya yang tergeletak tak berdaya di atas brangkar rumah sakit.
Alfa menunduk dalam. Lantas ia berjalan pelan ke kursi samping brangkar gadis itu, lalu duduk di sana. Tanganya meraih tangan Manisha.
"Sha... lo kenapa bisa seperti ini?"
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi, Sha?"
Tes-tes-tes!
Air mata Alfa mengalir deras. Tidak kuasa melihat Manisha yang tampak sangat malang di hadapanya. Ia takut, jika gadis itu lebih memilih pergi daripada melewati masa kritisnya. Ia benar-benar takut.
"Sha... gue mau kasih tahu satu rahasia sama lo. Ah, lebih tepatnya dua rahasia... jadi, dengarkan gue ya?" Alfa hanya tersenyum kecut mendapati Manisha hanya diam saja, masih setia dengan komanya.
"Sha... lo tahu Rian 'kan? Iya, sahabat masa kecil lo waktu SMP."
"Rian itu sepupu gue, Sha."
Alfa tersenyum begitu mengatakan jika Rian adalah sepupunya.
"Lo tahu? Alasan kenapa gue bisa muncul di hidup lo secara tiba-tiba? Ini semua karena Rian, Sha. Gue adalah orang suruhan Rian yang datang untuk ngasih semangat buat lo atas note-note kecil yang di tulis Rian buat elo, katanya lo sahabat dia yang paling baik, jadi harus selalu tersenyum" jelas Alfa seraya terkekeh pelan.
"Tapi, Sha... lo tau? Gue malah jadi suka sama lo."
"Tapi gue enggak nyangka, kita pacaran cuman dalam waktu singkat. Padahal, gue berharap banget bisa bertahan lama dengan lo."
Alfa meringis. Kembali mengingat momen dimana dirinya dan Manisha terpaksa putus. Lebih tepatnya, ia yang diputuskan Manisha.
"Sha... lo tahu? gue enggak pernah selingkuh." Alfa berdeham sejenak. Rasanya tenggorokanya mulai sesak, lantaran menahan tangis yang siap untuk keluar.
"Lo salah paham, Sha. Gue sama Denia enggak ada hubungan apa-apa."
Alfa merasa dirinya terlalu bodoh karena melihat Denia seperti Manisha. Mungkin kerinduannya pada Manisha waktu itu sudah terlalu dalam, sehingga membutakan matanya. Sampai-sampai melihat Denia yang sedikit mirip dengan Manisha sebagai kekasihnya.
"Gue meluk dia karena gue pikir dia itu elo, Sha. Lo tahu 'kan kalau gue suka banget sama lo, sehari aja enggak lihat lo gue susah, apalagi enggak lihat lo selama seminggu, mati di bunuh rindu gue, dan juga waktu itu lo lagi pergi liburan ke Bali sama keluarga lo."
Alfa akui ia ceroboh. Sehingga Manisha yang pulang tidak sesuai jadwal, lalu datang tiba-tiba ke rumahnya untuk memberi kejutan, terlanjur melihat dirinya dan Denia sedang berpelukan di gazebo samping kolam renang. Padahal waktu itu Dunia dan dirinya sedang mengerjakan tugas OSIS. Akan tetapi, tentu saja Manisha lebih memilih penglihatannya daripada 'faktanya' sebuah penjelasan.
__ADS_1
"Lo tahu, Sha? Waktu itu gue panik banget pas lo dateng dan lihat semuanya. Gue takut lo akan akhirin hubungan kita."
Alfa terdiam sejenak. "Pada akhirnya, kita memang benar-benar berakhir, 'kan Sha? Sayang banget padahal."
Kali ini Alfa kembali meneteskan air matanya.
"Gue bahkan belum sempat jelasin apa-apa, dan tetap diam ketika gue di cap sebagai seorang 'penghianat' oleh gadis yang paling gue cintai selama ini. Sakit, Sha... sakit banget sumpah..." ucap Alfa lirih. Ia mengusap air matanya kasar.
"Tapi, Sha. Walaupun gue sakit hati, rasa cinta gue ke elo enggak pernah berubah. Berkali-kali gue berusaha untuk perbaiki hubungan kita. Tetapi yang namanya hati, kalau udah bukan milik kita lagi, mana bisa diajak untuk kembali. Ya 'kan, Sha?" Alfa meringis di akhir ucapanya.
"Iya, Sha. Bener. Gue udah buktiin teori itu kok." Alfa terkekeh. Pasalnya ia yang memberi pertanyaan, ia juga yang menjawab pertanyaan itu.
"Sha... gue enggak bisa terus-terusan lihat lo seperti ini. Cepat sadar ya, Sha?"
Manisha masih setia dengan tidurnya walaupun sudah berkali-kali Alfa melontarkan pertanyaan untuk dirinya. Akan tetapi, Alfa tidak masalah sama sekali pertanyaan tidak dijawab. Karena ia memang tidak butuh jawaban.
"Ad satu hal juga yang mau gue kasih tahu sama lo, Sha. Tapi gue gak mau cerita sekarang. Nanti, waktu lo sadar, gue akan cerita semuanya." Alfa mengusap-usap tangan Manisha yang di pegangnya.
"Gue pamit, ya? Gue pasti sering mampir ke sini."
Alfa langsung pergi dari sana. Akan tetapi, ia ditahan seseorang begitu berhasil keluar dari ruangan itu, yang menahannya adalah Andra, ayah dari Manisha.
"Bagaimana?" tanya Andra penuh harap. Berharap ada kemajuan setelah Manisha bertemu dengan sosok laki-laki yang ia kira adalah Bayu.
"Maaf sebelumnya, Om. Saya bukan Bayu. Saya Alfa. Permisi Om." Alfa pamit undur diri dari sana, setelah meminta maaf sebab tidak sengaja mengangguk saat pria paruh baya itu menanyakan padanya 'apakah ia Bayu'. Alfa merasa bersalah, akan tetapi ia juga bersyukur, sebab karena insiden itu, ia bisa berbicara panjang lebar kepada Manisha.
Sementara Andra yang di tinggal, langsung melemas. Ia duduk di kursi deret. Mengusap kasar wajahnya. Bagaimana caranya agar bisa menemukan laki-laki yang bernama Bayu? Andra harus mencarinya, agar Manisha cepat pulih dari komanya.
+TBC
Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? Terima kasih.... 🙏
__ADS_1