Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 34. Kabar Ajaib


__ADS_3

Kita diajarkan untuk menerima, kita diajarkan untuk bersabar, dan kita diajarkan untuk melepas.


🍃🍃🍃


"Atmaji!"


Atmaji menghentikan langkahnya saat mendengar suara cempreng seorang perempuan memanggilnya. Lantas ia berbalik.


"Jadi ikut, 'kan?" tanya gadis berambut dora yang ada di hadapanya dan direspon Atmaji dengan anggukan pasti.


"Gue nebeng, ya? Soalnya gue enggak bawa motor hari ini ke sekolah...." gadis itu mengutarakan keinginannya dengan ragu-ragu. Takut jika pria itu menolak.


Tanpa gadis itu duga, Atmaji mengangguk. Ia setuju, lagipula tujuan mereka sama, ke rumah Manisha yang bahkan ia pun tidak tahu alamatnya jika berangkat sendiri.


Lea tersenyum senang, lalu mulai berjalan mengikut dibelakang Atmaji ke parkiran dengan jantung berdebar-debar. Keajaiban, teriaknya dalam hati.


Sedangkan di lain tempat, Raga tengah berdiri tegak di depan salah satu rumah mewah kompleks Cempaka 17. Matanya menatap intens pagar rumah yang menjulang ke atas, ia menghela nafas berat. Semoga kali ini benar, doanya dalam hati penuh harap. Pasalnya, dua rumah dari tiga rumah yang tersisa sudah di datanginya, dan dua rumah itu bukanlah rumah seorang Sandra Tissa Alemanus. Jadi hanya rumah di depannya yang tersisa sekarang, jika kali ini juga bukan... Raga tidak tahu lagi harus mencari ke mana.


Ting-tong!


Raga mencengkram erat celana seragamnya selepas memencet bel rumah. Tak butuh waktu lama, pagar pun terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya dengan daster dan kemoceng di tanganya.


"Ada apa, ya?" tanya wanita paruh baya itu pada Raga yang meneguk ludahnya kasar.


"Apa benar ini rumah Sandra?"


Wanita itu terdiam. Membuat Raga menjatuhkan bahunya pasrah, takut jika jawaban yang akan diberikan wanita paruh baya yang ada di hadapanya itu dapat mematahkan semangat dirinya.


"Maksudnya Non Tissa?" tanya wanita itu tiba-tiba. Tak lama kemudian ia menunduk. Hal ini membuat Raga heran sekaligus aneh sendiri. Kenapa wajah wanita itu sedih?


"I--iya," jawab Raga disertai anggukan antusias. Ia senang akhirnya berhasil menemukan rumah sahabat kecilnya.


"Tissa nya ada, Bi?" tanyanya lagi, sebab ia tidak sabar untuk melihat Sandra dewasa setelah sekian lama. Namun, pertanyaanya tak kunjung mendapat jawaban dari wanita paruh baya yang ada di hadapanya, wanita itu justru semakin menunduk. Tak lama kemudian terlihat bulir-bulir air mata mulai jatuh satu persatu dari wajah tirusnya.

__ADS_1


Raga curiga. Apa ada hal besar yang terjadi di keluarga ini sejak kepergian nya? Raga harus mencari tahu.


"Boleh saya masuk?"


Pertanyaan yang di lontarkan Raga berhasil mengagetkan wanita paruh baya itu. Namun tak lama, sebab ia langsung mengangguk setuju.


Ruangan berdominasi putih dan abu-abu itu tampak menyambut Raga begitu pintu utama dibuka. Persis warna kesukaan Sandra, gumam Raga dalam hati. Ia melangkah kan kakinya ke dalam, mengikuti Bi Sumi yang ternyata adalah pembantu rumah ini.


Bi Sumi menuntun Raga ke ruang tamu, lalu menyilahkan Raga duduk di salah satu sofa bewarna coklat gelap.


"Bibi ambil minum dulu ya, Den..." ucap Bi Sumi lalu bergegas ke dapur setelah menerima anggukan dari Raga.


Raga memerhatikan sekitar, dimulai dari foto keluarga besar Sandra dan Sandra sendiri yang terlihat berumur enam tahun sedang memegang piala. Raga ingat foto itu, itu adalah foto saat sekolah TK mereka yang mengadakan wisuda. Namun Raga tidak hadir, sebab waktu itu ia malu jika tidak di dampingi orang tua ke sekolah.


Matanya berhenti pada sebuah foto yang menurutnya lucu, disana tampak Sandra dengan kepang duanya sedang mengemudi mobil-mobilan, dasar tomboy, decak Raga dalam hati.


Netra Raga kembali bergerak, sesekali ia tersenyum saat melihat foto yang menurutnya lucu. Hingga akhirnya, matanya berhenti pada satu foto terakhir. Sandra dengan kucing jalanan sedang tersenyum manis. Melihat foto itu, membuat Raga semakin tidak sabar untuk bertemu dengan kekasih kecilnya.


"Lucu 'kan, Den...?"


"Sandra dimana, Bi?" tanyanya terus terang. Ia sudah tidak bisa menunggu lagi.


Bi Sumi hanya diam. Tidak merespon atau mengatakan satu katapun di tempatnya. Ia lantas berdiri setelah meletakkan cemilan di atas meja, lalu berjalan pelan ke arah foto terakhir yang terdapat di atas nakas panjang. Hal ini membuat Raga bingung. Ditambah lagi saat Bi Sumi memeluk erat foto itu sambil menutup mata. Perasaan Raga mulai tidak karuan. Ia mulai menebak-nebak.


"Bi, dimana Sandra, Bi?" tanya Raga untuk kedua kali. Namun tetap sama, Bi Sumi memilih diam.


Raga bangkit dari sofa, ia berjalan ke arah Bi Sumi yang masih terpejam sambil memeluk foto Sandra.


Cengkraman kuat pada bahu kanan kiri Bi Sumi membuat wanita paruh baya itu kaget, lantas ia menatap anak muda yang ada di hadapanya dengan tatapan yang sulit sekali diartikan.


"Kamu siap mendengar cerita saya?" tanya Bi Sumi dengan suara pelan, seakan-akan apa yang disampaikan nya nanti mampu membunuh siapapun jika tidak izin terlebih dahulu.


Raga sempat mengernyitkan kening bingung. Namun tidak lama, ia langsung mengangguk setuju. Tampak Bi Sumi menghela nafas berat, lantas ia menuntun Raga kembali ke sofa. Ia ikut duduk di sana.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanyanya lagi untuk kali kedua. Memastikan jika anak muda yang ada di hadapanya ini benar-benar siap mendengar semuanya. Melihat Raga kembali mengangguk, membuat Bi Sumi kembali menghela nafas berat.


"Foto Non Sandra dan kucing jalanan itu adalah foto yang di ambil Kenan sewaktu ia berumur lima belas tahun.  Kamu tahu Kenan, 'kan?" Raga mengangguk. Ia tahu siapa Kenan, Kenan adalah abang satu-satunya Sandra. Kenan Devano Alemanus.


Jantung Raga berdetak semakin cepat saat mendengar rentetan kata demi kata dari mulut kerut Bi Sumi. Sesekali ia menghela nafas, sesekali ia tertawa, sesekali ia terbatuk-batuk, dan ketika cerita itu mendekati ending, Raga terdiam cukup lama. Mencoba mencerna segalanya dengan baik. Apakah cerita yang diceritakan Bi Sumi itu benar? Apa Raga salah dengar? Tolong siapapun katakan pada Raga jika cerita itu masih ada lanjutan, tidak berakhir seperti ini. Raga tidak suka dengan endingnya. Raga tidak tahu ingin berkata apa lagi, Raga tidak tahu.


Perlahan Raga mulai menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terisak sendiri disana. Cerita ini ajaib! Luar biasa ajaib, teriak Raga dalam hati. Sebenarnya cerita apa yang diceritakan Bi Sumi pada Raga hingga ia bisa seperti itu?


Sementara di tempat lain, Atmaji dan dua sahabat karib Manisha tampak berdiri di depan pagar rumah Manisha. Memencet bel untuk yang kesepuluh kalinya, namun tidak kunjung dibuka-buka. Mereka mulai menghela nafas, berkecoh sendiri dengan pikiran masing-masing. Memikirkan kira-kira apa salah mereka sehingga Manisha tidak mau membuka pagar.


Tin-tin!


Suara klakson mobil sedan hitam berhasil membuat mereka menyingkirkan diri dari depan pagar. Tiga manusia itu menatap heran ke arah Bi Reta yang turun dari mobil dengan wajah sembab dan lelah. Lalu berjalan ke arah pagar dan membuka gembok rumah itu. Pantas saja tidak ada yang membuka pagar, gumam mereka bertiga dalam hati.


Mobil sedan memasuki rumah. Namun, Bi Reta berjalan pelan ke arah tiga orang yang menatap bingung ke arahnya.


"Cari Non Manisha, ya?" tanya Bi Reta dengan wajah sendu. Sontak tiga manusia itu mengangguk antusias.


"Non Manisha di rumah sakit Citra Medika. Jatuh dari lantai dua."


Usai mengatakan hal itu, Bi  Reta langsung masuk ke dalam rumah. Ia harus bergegas membersihkan diri dan kembali ke rumah sakit.


Sementara Atmaji, Lea dan Sia mematung sempurna disana. Jantung mereka sesak berhenti berdetak.


Manisha jatuh? Dari lantai dua? Lea langsung mengalihkan matanya ke arah lantai dua rumah putih bertingkat milik sahabat nya. Tinggi. Manisha jatuh? Ia masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Hiks-hiks-hiks... Nisha, Le... Nisha..." Itu suara Sia yang menangis sesenggukan. Mau tak mau Lea ikut menangis juga, mereka berpelukan. Berbeda dengan Atmaji, jantungnya seakan berhenti berdetak, kapan gadis itu jatuh? Rasa-rasanya baru kemarin ia melihat gadis itu dalam keadaan sehat walafiat.


"Kita harus kerumah sakit, yuk Le..." ujar Atmaji lantas berjalan ke arah motornya dan langsung naik. Namun ia mengernyitkan kening saat melihat gadis itu masih setia dalam pelukan sahabatnya. Atmaji perlu cepat-cepat!


"Duluan aja, Ji. Gue sama Sia nanti kesana." Lea menyuruh Atmaji untuk duluan, lagi pula tidak mungkin ia meninggalkan Sia sendirian disini. Ia bisa ikut nebeng jemputan Sia nanti untuk ke rumah sakit.


Atmaji mengangguk. Motornya mulai membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Dalam hati ia berteriak, 'kabar yang luar biasa ajaib!'

__ADS_1


+TBC


Tinggalkan vote, kritik dan saran di kolom komentar. Terima kasih, ya 😊


__ADS_2