
...Nyatanya cinta itu rumit. Ada dua sisi yang dimilikinya untuk menjebak manusia. Satu dalam bahagia yang terlihat nyata, satu lagi dalam kubangan luka yang datang setelahnya....
...🍃🍃🍃...
"Bang! Bang!"
Bayu berteriak lantang di kamarnya sendiri. Ia perlu menemui Raga sekarang. Tadi ia sempat ke Danau Biru, namun tidak menemukan saudara kembarnya itu di sana. Lantas ia langsung bergegas pulang, dan tenyata benar. Abangnya sudah pulang dan sedang berada di kamar mandi.
"Bang! Lama banget sih!" teriaknya lagi tepat di depan pintu kamar mandi. Ia butuh pertolongan darurat sekarang. Manisha, kekasih hatinya itu tidak ada di rumah. Jadi Raga harus membantu dengan mencari tahu dimana Manisha berada sekarang.
Sementara di kamar mandi, Raga terpaku di depan kaca. Ia melihat siluet dirinya disana. Ia takut untuk memberi tahu Bayu. Ia takut Bayu akan terpuruk nantinya begitu mendengar semuanya.
"Saya harus ngapain..." desisnya tak tenang.
"Tenyata betul, kalo lo lagi bengong di depan kaca!"
Suara Bayu yang terdengar begitu dekat berhasil membuat Raga kaget. Pasalnya ia tengah panik sekarang, antara memberi tahu Bayu atau tidak. Akan tetapi, Bayu malah memasuki kamar mandi begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Arwah mah bebas!
"Enggak sopan kamu! Keluar!" ucap Raga tajam. Sarat akan ancaman. Sementara Bayu yang ditatap Raga seperti itu tentu saja merasa takut. Tanpa ba-bi-bu ia langsung keluar dari sana.
"Huft!"
Raga menghela nafasnya begitu melihat Bayu keluar. Ia akan memberi tahu Bayu semuanya. Apapun yang terjadi, ia akan tetap menjelaskan perihal Manisha.
Bayu menggerutu kesal di luar. Pasalnya ia merasa kesal sebab kalah dari aura abangnya yang seperti malaikat maut. "Ish! Ngeselin!" decaknya kesal akut.
Suara pintu kamar mandi yang dibuka berhasil menarik tatapan Bayu. Bayu tersenyum senang begitu melihat Raga sudah selesai dengan baju rumahanya. Lantas, ia berjalan mendekati Raga yang menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit sekali di artikan.
"Rag, gue mau minta tolong untuk cari kabar Manisha dari temen-temenya. Ada nomornya 'kan? Soalnya gue khawatir. Tadi gue ke rumah dia, tetapi enggak ada orang disana. Bahkan pembantu rumah juga enggak ada. Takutnya ada apa-apa." Bayu langsung mencerocos panjang lebar, mengutarakan keinginannya pada Raga. Sedangkan Raga yang mendengar permintaan Bayu malah menunduk dalam.
Bayu memincingkan matanya. Merasa curiga dengan respon yang di berikan Raga.
"Lo kenapa ?"tanyanya akhirnya.
Raga mendongkak. Menatap tak enak ke arah Bayu. Haruskah ia menjelaskan semuanya?
"Ada satu hal yang mau saya kasih tahu sama kamu, Bayu," Raga memutuskan memberi tahu semuanya.
"Manisha koma," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Dua kata itu berhasil membuat Bayu membeku di tempat. Tunggu, koma? Seorang Manisha koma? Tetapi kenapa? Berbagai pertanyaan berhasil berkejaran di dalam kepalanya. Meminta untuk di jawab.
"Lo bercanda?" tanya Bayu, mencoba meyakinkan dirinya jika apa yang dikatakan Raga hanyalah sebatas kelakar saja. Bukan realita. Akan tetapi--
"Saya serius." Dua kata itu yang menjadi jawaban atas pertanyaan Bayu. Rasanya, oksigen yang dihirup Bayu kala itu, seperti berhenti dan berganti menjadi racun yang siap membunuh nya kapan saja. Tolong Ya Allah, katakan semuanya adalah bercanda, pinta Bayu dalam hati.
Bayu jatuh terduduk di lantai yang dingin. Perlahan air matanya menetes. Belum juga masalah satu selesai, sudah datang masalah baru. Menjadi manusia bumi memang serumit ini.
Sementara Raga yang melihat Bayu seperti itu, ikut jatuh terduduk. Nyatanya, takdir yang ia alami dengan yang adiknya itu alami adalah "sama dengan". Mereka di kenalkan dengan cinta dan di tenggelamkan oleh cinta.
Kali ini tidak ada yang bisa memaki takdir. Mereka berdua terlarut dalam kesedihan masing-masing. Di hari yang sama, di tanggal yang sama, mereka di datangi kabar buruk tentang kasih masing-masing. Bayu di tinggal Manisha dalam komanya, dan Raga di tinggal Sandra untuk selama-lamanya. Bahkan, mereka tahu kabar pun karena ada yang mengabari, jika tidak, mungkin sampai kapan-kapan, mereka tidak pernah tahu.
.
.
.
Ruangan segi empat berwarna putih dan di dominasi wangi obat-obatan itu tampak sepi. Pria paruh baya yang merupakan orangtua dari si anak tampak tertidur lelap di salah satu sofa rumah sakit. Sedangkan Bi Reta, pembantu rumah mereka terlihat tidur nyenyak di samping brangkar gadis yang terbaring tak berdaya di atasnya.
"Mama?"
"Mama kenapa cepat pergi, sih?" tanya Manisha pelan. Masih setia di dalam dekapan sang mama.
"Kenapa, sayang?" tanya Ratih pada anak satu-satunya itu.
Manisha melepas pelukan. Memandang penuh buncahan rindu ke arah Ratih. Perlahan air matanya menetes.
Ratih menghela nafas, lalu menghapus air mata yang mengalir deras di pipi anaknya yang sedikit tirus. Ratih tahu, Manisha mengalami kesulitan selama ini setelah ia pergi.
"Jangan nangis lagi..." ucap Ratih. Kali ini ia ikut terisak pelan. Ikut merasakan seberapa perih luka anaknya.
"Manisha pengen ikut mama...."
Manisha kembali menjatuhkan dirinya ke pelukan Ratih. Menangis keras disana.
"Jangan. Bukan sekarang, sayang. Ada sesuatu yang menunggu kamu di sana. Ada banyak hal yang belum bisa kamu tinggalkan sekarang. Pulanglah Manisha. Mama selalu ada di sini." Ratih mengucapkan hal tersebut seraya meletakkan telapak tanganya di hati Manisha.
"Enggak... Manisha udah lelah..." ucap Manisha lirih. Ia menolak keras untuk pulang. Ia ingin ikut mamanya saja. Baginya, hidup di surga lebih baik dibanding di bumi.
__ADS_1
"Pulang, Manisha..."
Perlahan sosok Ratih mulai menghilang. Manisha berteriak histeris di sana. Dan jatuh terduduk begitu melihat siluet mamanya sudah hilang sempurna. Meninggalkan sepi yang nyata.
Tubuh Manisha kejang-kejang. Bi Reta yang di samping Manisha langsung terbangun. Ia berteriak panik saat melihat tubuh nona nya kejang-kejang parah. Lantas ia berteriak memanggil dokter. Dan hal ini berhasil juga membuat Andra yang tertidur di sofa kaget dan terbangun. Ia juga ikut panik lalu berjalan pelan ke brangkar anak semata wayangnya.
Para suster dan satu dokter memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. Memaksa pihak keluarga untuk keluar, yang mau tak mau harus dituruti Andra dan Reta jika ingin Manisha selamat.
Andra mengusap kasar wajahnya. Hatinya tidak tenang. Takut terjadi apa-apa pada anak gadisnya. Tubuhnya terus berjalan mondar-mandir di depan kamar rawat VIP itu dengan wajah yang sarat akan rasa khawatir.
Tidak beda jauh dengan Andra. Reta juga menampilkan ekspresi yang sama. Akan tetapi, ia memilih duduk di kursi tunggu, sembari memanjatkan doa agar Manisha baik-baik saja.
Dokter Tegar keluar dari ruangan. Ia menghela nafas lega, lalu menatap Andra dan Reta yang kini berdiri di hadapannya dengan senyum.
"Anak anda tidak apa-apa. Akan tetapi, ia belum bisa melewati masa komanya" ucapnya dengan suara lega. Lantas di tepuknya bahu Andra yang melemas. Berharap jika pria paruh baya itu kuat, dan harus bersabar lagi menunggu anaknya untuk bangun.
"Saya permisi."
Usai kepergian dokter, Reta kembali duduk di kursi tunggu. Mengucap syukur karena nona nya baik-baik saja. Setidaknya kalaupun Manisha belum bisa melewati masa kritis, akan tetapi gadis itu masih hidup. Masih ada peluang yang bisa di diharapkan nya.
Sedangkan Andra, langsung memasuki kamar anaknya dengan tubuh yang lemas. Efek dari ketakutannya akan kehilangan Manisha. Lantas ia berjalan ke arah brangkar Manisha dengan air mata yang menetes satu persatu.
"Maafin papa..." ucapnya lirih. Ia tahu semua ini salahnya.
"Maafin papa, Manisha... Hiks-hiks-hiks..."
"Maaf...."
Andra jatuh terduduk di samping brangkar Manisha. Ia terisak pelan disana. Ia benar-benar menyesal. Sebab, akibat dirinya, anaknya harus menerima beban seberat ini, akibatnya juga, Manisha harus terbaring tak berdaya di rumah sakit.
Hari ini adalah hari ketiga anaknya koma, Andra tidak tahu kapan Manisha akan bangun. Entah besok, lusa, bulan atau bahkan tahun sekalipun. Andra tidak tahu. Yang ia tahu, dialah yang memegang penuh atas semua yang terjadi.
Dan jika nanti gadis itu berakhir pada kata 'tiada', maka Andra lah yang patut menjadi tersangka atas segalanya.
"Maaf...."
+TBC
Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran ya? Terima kasih 😊
__ADS_1