Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 42. Rahasia Diary Manisha (II)


__ADS_3

Andra mengamati buku itu. Jantungnya berpacu. Dengan tangan gemetar, halaman pertama langsung ia buka.


Halaman pertama


Untuk Bunda yang Pergi


Bunda, sejak kepergianmu...


Segala lentera yang ada semakin banyak yang mati


Dunia semakin gelap,


Air hujan senantiasa menemani malam dan pagi


Bunda, kejadian seperti ini tidak pernah Manisha bayangkan sedikitpun,


Tentang Bunda yang pergi dan Manisha yang tertinggal sendiri di bumi


Bunda, apa kau juga membawa hati ayah? dalam satu malam saja, dia berhasil berubah. Membeku layaknya es batu. Dingin tak tersentuh.


Bunda, Manisha rindu....


Andra meneteskan airmatanya, dapat ia rasakan seberapa sakit hati Manisha ketika menulis ini. Andra tidak bisa bayangkan hal itu. Perlahan hatinya sesak.


Halaman kedua


Untuk Ayah


Ayah, Manisha sakit. Bolehkah Manisha meminjam kembali lentera yang dulu pernah Ayah pinjamkan? untuk sebentar saja, Yah.


Ayah, sejak Ayah berubah menjadi kejam, hidup Manisha semakin muram. Manisha tidak tahu, dimana letak salahnya Manisha.


Bayu hilang.


Bunda pulang.


Dan Ayah... tidak lagi berperasaan.


Lantas, kemana lagi Manisha harus mengadu?


Kepada langit? tidak, Ayah. Langit sudah memilih gelap, matahari dan bulan menolak Manisha. Saat ini, Manisha benar-benar sendirian.


Andra sesegukan. Ia tidak mampu lagi membaca untaian curahan hati anaknya untuk halaman selanjutnya. Ia mendekap erat buku itu. Dan untuk kesekian kali, kali dan kali, Penyesalalan berhasil menyelimuti dirinya.


Takdir terlalu kejam untuk seorang Raga Alvano Dwipaga. Dimana lagi kali ini letak bahagianya? saat satu-satunya orang yang tersisa di bumi terbongkar sudah akal busuknya. Raga tidak mengerti, mengapa seorang Bayu bisa kejam sekali terhadap dirinya. Ternyata kebaikan adik kembarnya itu selama ini hanyalah tembok untuk menutupi kesalahan yang ditimpakan kepadanya.


Raga memukul-mukul dadanya. Ia merasa sesak dan perih.


"Kenapa...."


"Kenapa...."


"Kenapa!" teriak Raga pada akhirnya. Saat ini Raga sedang berada di Danau Biru. Dengan malam dan sepi menemani dirinya.

__ADS_1


"Kenapa, Bayu... hiks-hiks-hiks...."


Raga enggan menolak kenyataan, akan tetapi bagaimana caranya? Raga ingin menjadi tuli, agar tidak mendengar apa yang ditanyakan Bundanya. Raga ingin menjadi gila, agar lepas semua beban pikirannya.


"Raga...."


Raga menoleh begitu mendengar suara yang terasa familiar di telinganya. Ia mengernyitkan kening saat melihat Vian berjalan ke arahnya dengan wajah iba.


"Gue tahu lo sakit. Sabar...." Vian memeluk Raga, lalu menepuk-nepuk bahu pria itu dan kemudian melepaskan diri.


"Saya benci Bayu..." ucapnya pelan, "saya benar-benar benci dia!"


"Gue tahu."


Vian mendudukkan dirinya di sebelah Raga. Dengan setia menunggu Raga yang kembali bergelut dengan Isak tangisnya. Vian ikut merasa miris, baru kali ini ia melihat seorang Raga yang terkenal dengan sifat dinginnya menangis memilukan seperti sekarang.


Vian bukan tidak tahu dengan masalah apa yang menimpa mereka. Bayu sudah menceritakan segalanya padanya, termasuk kasus meninggalnya Raya, adik kandung bundanya Raga dan Bayu.


Waktu itu, Vian sempat marah usai mendengar penjelasan dari seorang Bayu, ia merasa Bayu keterlaluan. Akan tetapi... Vian kemudian tahu, jika Bayu bukan juga dalang dari masalah yang menimpa mereka setelah selesai menganalisa semua kejadian yang diceritakan oleh sahabatnya.


Bayu berdiri di jendela. Menatap kosong keluar. Ia tidak menyangka jika semuanya harus terbongkar sekarang. Bayu tahu, setelah kejadian ini, tidak akan ada lagi Raga di hidupnya. Sebab sudah pasti abangnya itu memilih menjauh darinya. Dan yang Bayu takutkan adalah, jika Raga memilih tidak mengembalikan raganya sebab untuk balas dendam. Dan Bayu, harus siap kehilangan Manisha untuk selamanya. Bayu benar-benar takut.


"Maafin gue... Raga."


Perlahan air matanya menetes. Hatinya benar-benar sakit. Belum juga masalah Manisha selesai, kini sudah muncul masalah baru.


"Manisha... maafin aku...." Bayu berucap lirih. Lantas ia jatuh terduduk. Menarik kedua kakinya merapat, lalu menangis tanpa suara.


Di kamar sebelah, hal yang sama juga terjadi kepada Anita. Ia menangis di kasurnya. Perlahan memori kelam tentang masa lalu itu berputar apik di kepalanya. Detik-detik ketika Raya meninggal dunia.


Anita tidak tahu, entah benar Raga pelakunya. Yang jelas, ketika menemukan Raya, di sana juga ada Raga. Oleh sebab itu, dengan akal kecil, ia menuduh anak sulungnya itu sebagai pelaku utama.


Gambaran wajah kesakitan Raga yang tadi dilihatnya berhasil memukul hatinya telak. Ia merasa sesak. Bagaimanapun juga, Raga tetaplah anaknya. Anak yang pernah ia kandung selama sembilan bulan lamanya dengan penuh kasih sayang.


Flashback


Bayu kecil mendorong mobil-mobilannya yang baru dibeli itu ke arah pinggiran kolam renang. Sesekali ia bernyanyi "Bintang Kecil" saat beberapa ekor ikan yang berasal dari kolam yang sebelahnya lagi berenang mendekat. Bayu tersenyum bahagia.


"Ikan suka Bayu, ya?" tanyanya pelan.


"Ikan kok diam?" Bayu mulai kesal saat 'ikan' yang diajak bicara itu hanya sibuk berenang kesana kemari.


"Bayu ngapain?" tanya seseorang tiba-tiba. Lantas Bayu berbalik, ia membelalakkan matanya begitu melihat Tante yang sangat disayanginya itu ternyata dalang dibalik suara familiar barusan.


"Eh, Tante kapan pulang?" tanyanya girang. Ia lalu berlari ke arah Raya dengan wajah bahagia tidak terkira.


"Tadi. Baru aja nyampe," jelas Raya seraya mengecup pipi kanan dan kiri Bayu.


"Tante, Bayu punya mobil baru, loh," pamernya pada Raya. Raya terkekeh. "Mana?" tanya Raya kemudian.


"Tuh."


Bayu membelalakkan matanya saat tidak melihat mobil barunya di tempat ia letakkan tadi. "Eh, mana mobilnya?" tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Raya kembali terkekeh melihat tingkah menggemaskan Bayu. Lantas ia berjalan ke arah kolam renang dan melirik ke dalam. Ada mobil Bayu di sana. Ternyata mainan itu tenggelam, gumamnya.


Byur!


Bayu membelalakkan matanya. "Tante kolamnya baru di tambah satu meter lagi!"


Terlambat! Raya sudah menggelepar-gelepar di atas air. Ia berteriak minta tolong. Bayu yang panik langsung berlari ke dalam, berniat memanggil papanya atau bundanya.


Raga yang saat itu sedang mengambil jus buah di kulkas terkejut saat mendengar suara minta tolong dari arah kolam renang. Lantas ia meletakkan gelasnya dan berlari ke sana. Ia shok begitu melihat ternyata Tante Raya yang berteriak minta tolong.


Raga mencoba melihat sekitaran kolam renang. Ia menemukan kayu jaring pembersih daun. Diambilnya kayu itu, berniat menolong Raya yang gepakan tanganya pada air sudah mulai melemah.


Terlambat. Raga menjatuhkan kayu itu saat melihat Tantenya tidak lagi terlihat di atas air. Tenggelam sepenuhnya.


"Raga!"


Raga menoleh begitu melihat bundanya dan papanya beserta Bayu datang tiba-tiba. Raga berlari ke sana.


"Bunda! Tante Raya! Tante--"


Plak!


Raga kecil yang tidak tahu apa-apa menerima tamparan tiba-tiba seperti itu berhasil membuat hatinya sakit. Salah apa dirinya?


"Papa...."


Raga berusaha meraih tangan papanya. Akan tetapi berhasil ditepis oleh pria paruh baya itu. Air mata Raga menetes. Ia kemudian berlari pergi dari sana. Sedangkan Bayu, meremas tangannya erat. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Ini semua salah Papa! coba saja kalau Papa tidak menambah meter kedalaman di kolam renang, pasti Raya sekarang masih hidup!" Anita memukul-mukul dada suaminya yang terpaku di tempat.


Ia menatap pilu ke arah Raya yang sudah seperti adik kandungnya itu kini terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit.


"Raya...." lirihnya. Matanya kemudian menatap ke arah anak sulungnya yang menangis tersedu-sedu di sudut kamar itu. Ditemani anak bungsunya yang ikut menangis juga.


Semua ini gara-gara anak sialan itu! emosinya dalam hati.


Sejak kejadian itu, keluarga mereka berubah. Anita tidak lagi bersikap baik pada Raga. Suaminya apa lagi. Dan Bayu tetap menjadi nomor satu di keluarga besar Dwipaga.


Anita dan suaminya jadi sering bertengkar mengenai masalah kolam renang. Hingga akhirnya mereka memilih berpisah dan membagi anak. Bayu dengan Anita dan Raga dengan suaminya.


Anita mengusap air matanya. Ia merasa bersalah pada Raga. Akan tetapi, entah kenapa hatinya selalu berteriak jika Raga adalah pelakunya. Padahal jelas-jelas ada bukti yang menunjukkan jika Raga bukanlah pelakunya.


Anita menatap kosong ke arah kolam renang. Ia masih tidak percaya dengan kematian adik kandung satu-satunya itu. Kematian Raya adalah masalah besar di keluarganya.


Mata Anita menyipit begitu melihat mobil mainan yang dikenalnya ada di dalam kolam. Anita tahu itu mobil-mobilan Bayu yang baru dibelinya tempo hari. Akan tetapi, Anita menyingkirkan pikiran negatifnya. Dan terus berteriak di dalam hati jika pelakunya adalah Raga.


Benar, Raga adalah pelakunya, batinya keukuh.


Anita merasa dirinya benar-benar bodoh. Ia tahu, kali ini dirinya yang salah. Anita tidak tahu, apa Raga akan memaafkan dirinya nanti. Yang jelas, saat ini Anita benar-benar menyesal.


+TBC


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? terima kasih. 😀

__ADS_1


__ADS_2