
Manisha mencoba fokus melihat Mr. Stevan yang mengajar bahasa Inggris di depan. Tapi fokusnya selalu saja gagal ketika mengingat perihal masalah hubungan nya dengan Bayu tiga hari ini.
"Eh, kenapa Lo?" Lea menyenggol bahu Manisha dengan lengannya. Sedikit berbisik, karena Lea juga tidak mau jika kena amukan Mr. Stevan.
"Gak papa" Manisha menjawab pelan, kemudian tersenyum.
Lea menghela nafasnya, percuma saja dia menanyakan nya pada Manisha, toh Manisha juga tidak mau cerita. Lea pun memilih fokus dengan pelajaran Mr. Stevan.
Di sisi lain, Bayu sedikit menajamkan pendengarannya saat mendengar grasak-grusuk di meja Manisha. Ia tambah merasa bersalah saat melihat wajah Manisha yang sudah tiga hari ini tampak murung. Apalagi itu disebabkan olehnya.
"Bayu!"
Suara bentakan membuyarkan lamunan Bayu. Ia merutuki kebodohannya, kenapa ia bisa lupa jika ada Mr. Stevan di depan.
Bayu terpaksa beranjak dari duduknya saat melihat Mr.Stevan menunjuk dirinya dengan ibu jari. Menyuruhnya untuk maju.
"Maaf Mr, saya salah. Saya tidak akan mengulanginya." Cicit Bayu menunduk.
Mr. Stevan mengangkat sebelah alisnya, merasa heran sendiri saat melihat wajah Bayu yang tampak murung. Namun tetap saja dia tidak bisa menerima penyesalan Bayu, menurutnya setiap yang bersalah itu mesti di hukum.
"Keluar, pergi ke perpustakaan dan cari buku 'Economic Bussiness'."
Bayu hanya pasrah terhadap perintah gurunya. Toh, dia juga malas sekali belajar hari ini.
"Tunggu" Mr. Stevan menghentikan langkah Bayu. Bayu berbalik.
"Nanti taruh di atas meja saya" kata Mr. Stevan tegas, kemudian berjalan ke meja nya.
Bayu kembali berjalan setelah mengucapkan 'permisi' pada Mr. Stevan.
Manisha melihat semuanya. Dimulai dari Bayu yang memperhatikannya, Bayu yang melamun dan Bayu yang dimarahi Mr. Stevan.
Manisha sedikit kasihan karena Bayu dihukum. Manisha ingin sekali membantu Bayu mencari buku yang dimaksud Mr. Stevan, tapi Manisha masih kesal dengan Bayu. Manisha sebenarnya heran, untuk apa Mr. Stevan buku 'Economic Bussiness'. Mr. Stevan kan guru bahasa Inggris. Bukankah buku itu tidak perlu!
"Ceroboh!" Omel manisha pelan di meja nya.
Grep!
Manisha terkejut saat tangan kanannya di pegang seseorang, wajahnya langsung masam saat melihat siapa pelakunya.
"Lepas"
Manisha menyilangkan tangan di dadanya. Matanya melirik sinis.
"Mau apa Lo?"
Manisha mengibaskan rambutnya, suhu tubuh nya meningkat, rasanya bom atom akan segera meledak!
Glek!
__ADS_1
Bayu menelan kasar air liurnya. Wajahnya pias, baru saja ia berhasil berpacaran dengan Manisha, kini hubungannya terancam kandas hanya karena keisengan nya yang mengajak Salsa A.K.A sepupu Manisha untuk pacaran.
Tekat bulat sudah tercipta di rongga dada Bayu, apapun ending-nya, dia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini!
"Nish, aku mau jelasin sesuatu sama kamu. Semua yang kamu lihat dan dengar waktu itu salah kok. Kejadian yang sebenarnya...." belum juga Bayu menyelesaikan kalimatnya, Manisha melengos pergi, "aku iseng sama Salsa" lirih Bayu kemudian, nafasnya semakin tercekat saat siluet Manisha menghilang di persimpangan tangga sekolah.
Argh!
Bayu mengacak-acak rambutnya.
"Sial!"
Disisi lain.
Kegelapan memenuhi area pemakaman. Lampu penerang jalan yang terdapat di sisi kanan dan kiri berkedip-kedip. Suara jangkrik beserta dedaunan kering yang berterbangan mengisi sunyi, angin berhembus kencang diikuti bunyi tapak kaki yang menjejak pelan.
Dia kembali.
Doanya dikabulkan.
Ia hanya perlu sesuatu untuk menyelesaikan urusannya, ia perlu menjelaskan pada seseorang mengenai dirinya. Ia berharap segalanya berjalan lancar, agar semuanya baik-baik saja.
Ia ingin kekasihnya.
'Baik-baik. Aku gak suka kalo kamu bibirnya monyong terus, senyum dong. Sehari aja gak liat senyum kamu, aku rindu. Ya ....walau cuman bisa liat dari jauh'
-S.A You
Note ini lagi!
Untuk kesekian kali Manisha menerima note itu. Kali ini di dalam buku paketnya. Manisha penasaran, sebenarnya siapa pelakunya. Sungguh demi apapun ini sangat mengganggu!
"Ciee yang dapet note lagi"
Lea mengedipkan matanya kearah Manisha. Ia tersenyum jenaka.
"Hmm.... Gue penasaran, sebenarnya siapa sih dalang note ini. Kurang kerjaan banget dia ngirimin gue kek gini. Lebay."
Manisha menghela nafasnya.
"Gaya Lo. Tetep Lo simpan juga kan tuh note gak penting"
Lea menyeringai sembari melihat Manisha yang memasukan note itu kedalam toples.
"Sejak kapan Lo ganti pakek toples?"katanya kemudian.
Manisha menggedikkan bahunya, "sejak ni note udah gak muat di dompet gue."
Lea mengangguk-anggukan kepalanya. Tiba-tiba Ia teringat sesuatu, bergegas ia mendudukkan dirinya di kursi sebelah Manisha. Kursi Sia.
__ADS_1
"Kenapa?" Manisha bertanya saat Lea mengejutkannya, sebab duduk di kursi dengan rusuh.
Lea memperhatikan sekitar, setelah merasa aman, ia menarik lebih dekat kursi yang didudukinya ke arah Manisha.
Manisha mengerutkan keningnya. Merasa curiga.
"Lo....udah maafin Bayu belom?" bisik Lea.
Manisha menggerat giginya. Mood paginya benar-benar hancur saat Lea mengungkit pasal Bayu.
"Enggak!"
Kali ini Manisha mengepalkan tangannya. Ia mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian dimana ia melihat Bayu dan Salsa kesekolah bersama.
Gubrak!
Manisha menggebrak meja. Ia keluar kelas dengan telinga berapi-api. Lea yang ditinggal sendirian di kelas merasa bersalah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf" cicitnya sembari meneguk ludahnya. Sungguh demi apapun ia menyesal sebab mengungkit pasal Bayu.
"Dasar cowo brengsek!"
Manisha mengumpat. Ia menendang-nendang rumput yang ada di tepi kolam belakang sekolah.
"Kemarin sok-sokan mau jelasin, jelasin apa coba kalo udah jelas-jelas dia itu emang selingkuh. Nyesel gue terima dia waktu itu. Pakek sok-sok janji lagi!"
Manisha kembali mengingat janji Bayu waktu itu.
"*Nisha, gue janji. Demi Tuhan gue akan setia sama Lo. Gue gak akan bejat kayak Alfa yang selingkuh dari Lo. Kalo gue selingkuh, jiwa yang ada di dalam tubuh gue akan menyatu dengan jiwa yang gue benci. Dua jiwa dalam satu raga! Itu sumpah gue sama Lo!". Bayu mengucapkan hal itu dengan wajah serius.
Manisha terkejut mendengar sumpah Bayu. Tanpa sadar, kepalanya mengangguk. Bayu yang senang, langsung menarik Manisha ke dekapanya. Dia bahagia sekali*!
"Semoga aja Lo kualat karena udah ngelanggar janji itu. Biar ****** sekalian, huh!"
Manisha semakin kesal saja. Kakinya rusuh. Kali ini tanganya juga ikut andil merusak bunga teratai putih yang mengambang di atas kolam. Untung saja ia sendirian disana, jika pengawas sekolah tahu apa yang dilakukanya pada tanaman malang itu, ia pasti dihukum habis-habisan!
"Hobi ngerusak tanaman, ya?"
Manisha terkejut saat suara seorang pria memergokinya sedang merusak bunga padma air di kolam. Ia meneguk ludahnya kasar.
Suara ini terasa familiar di telinganya. Manisha lantas berbalik. Wajahnya memerah saat melihat siapa pemilik suara serak-serak basah itu.
Itu....
Pak Atlas, guru olahraga tampan SMA Dwiyana Muda Bangsa.
Manisha yang malang!
+TBC
__ADS_1