Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 27. Cemburu


__ADS_3

Awas Lo Vian, begitu gue udah balik. Gue bunuh Lo!


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Grep!


Manisha terkejut saat tiba-tiba seseorang merangkulnya dari belakang. Bukan Manisha saja, namun Raga pun sama. Tetapi Raga langsung terkekeh saat melihat Bayu yang ada di samping Manisha membulatkan matanya sempurna. Raga tahu perasaan Bayu saat ini bagaimana.


"Lepas." Manisha menatap datar orang itu begitu tahu siapa dalangnya.ย  Siapa lagi kalau bukan Vian. Sahabatnya Bayu dari SMA Musical Strata Bangsa.


Vian nyengir tidak terkira di tempatnya. Ia melihat Manisha sedikit ngeri, bagaimana tidak, saat ini Manisha menatapnya tajam dan siap memangsa dirinya seperti seekor singa betina yang sedang hamil muda.


"Sorry, Sha." Vian mengangkat kedua tangannya. Seakan-akan mengatakan pada Manisha jika ia tidak akan mengulangi perbuatannya tadi.


Manisah mendengus kesal. Ia pun mengalihkan pandangannya dari Vian yang sudah kembali menurunkan kedua tangannya.


Vian menatap menyelidik pada Raga. Ia dengan teliti melihat Raga dari atas sampai bawah. Raga sadar apa yang sedang dilakukan sahabat adiknya itu. Ia mengangkat alisnya.


"Lo Raga?" tanya Vian tiba-tiba. Namun Raga hanya mengangkat bahunya, hal ini membuat Vian berdecak kesal.


"Kok Lo tahu dia Raga?" tanya Manisha heran.


Vian kembali berdecak. Ia menunjuk novel cinta yang sedang berada di tangan Raga. "Rajanya BUCIN," jawab Vian tanpa rasa bersalah. Sedangkan Raga yang mendengar hal itu menatap tajam ke arah Vian yang masih santai-santai saja. Tidak takut sedikitpun.


Manisha tersenyum remeh. Ia setuju dengan Vian, Raga memang rajanya BUCIN.


Raga memutar bola matanya kesal saat melihat Manisha memandangnya remeh. Untung saja ada Bayu di antara mereka sekarang, kalau tidak ada Bayu, pastilah Raga akan adu mulut dengan gadis itu dan juga sahabat kampret adiknya.


"Raga itu teman kecil gue. Kalau Bayu Bayu baru sahabat gue," kata Vian pelan.


Manisha menoleh ke arah Vian. "Enggak tanya," ujar Manisha ketus. Bodo amat tentang mereka sahabatan sejak kecil.


Mendengar Manisha menjawab begitu, Vian terkekeh kuat. Tanganya akan kembali merangkul gadis itu jika saja tidak ada tatapan tajam yang dilayangkan abang dari sahabat baiknya.

__ADS_1


"Iya-iya!" ucapnya kesal sembari menatap tajam ke arah Raga. Bagaimanapun tatapan Raga lebih berbahaya dari adiknya. Dingin dan tak terelakkan


Raga langsung kembali menatap ke depan. Dua langkah lagi mereka akan sampai ke halte perempatan jalan. Raga jadi heran sendiri, padahal tadi di depan sekolah ada halte, namun mereka tidak berhenti sebab bercakap-cakap tanpa lihat kanan kiri. Terlewatkan.


Raga menoleh ke arah Manisha yang menatap kosong ke depan. Raga tahu, Manisha masih berusaha damai dengan pikiranya. Manisha pasti bingung dengan kejadian yang akhir-akhir ini terjadi di kehidupanya.


"Hoy!"


Teriakan Vian dari belakang membuat Raga tersadar. Ia terkejut saat melihat dirinya dan Manisha sudah berada ditengah perempatan, Raga tidak mau bunuh diri dulu. Bergegas di tariknya tangan Manisha ke arah halte yang ada di belakang sana. Manisha diam saja, tubuhnya hanya mengikuti kemana Raga membawanya.


"Kalian gila, ya!" Vian menatap aneh ke arah dua orang yang saat ini berdiri di hadapannya. "Kalau mau mati enggak usah ajak gue juga kali!" Vian berucap ketus.


Raga berdecak kesal. Ia kemudian menuntun Manisha ke arah kursi halte. Manisha pun duduk. Kegiatan mereka tak luput dari perhatian Vian, Vian menatap aneh pada Manisha yang memiliki tatapan kosong.


"Kenapa dia?" tanyanya pada Raga yang duduk di sebelah Manisha. Raga hanya diam saja, enggan merespon pertanyaan yang jelas Vian sendiri sudah tahu itu.


Vian berdecak kesal. Ia kemudian duduk di samping Raga yang mulai membuka bukunya, lalu membaca novel bergenre cinta itu dengan fokus.


Vian menatap kasihan pada seseorang yang berdiri dengan tatapan sedih di sebelah tiang besi halte. Vian tahu, Bayu pasti khawatir melihat keadaan pacarnya yang masih bingung dengan semuanya. Vian tahu itu. Namun, Vian tidak tahu harus bagaimana, bagaimanapun juga Vian memang tidak bisa ikut andil dalam masalah ini sekalipun ia mau.


Manisha langsung menoleh ke arah Vian, sedikit terkejut dengan ucapan dari sahabat baik pacarnya itu. Darimana Vian tahu? pikir Manisha bingung.


"Gue tahu, Sha. Gue itu indigo. Gue juga tahu kalau Bayu ada disini sekarang,"ucapnya seakan tahu kebingungan Manisha. Manisha terkejut dengan penjelasan Vian. Jadi selama ini Vian tahu? Lantas kenapa laki-laki itu kemarin sewaktu di ruma Bayu seakan-akan tidak tahu dimana Bayu? Manisha geleng-geleng tidak percaya dengan ini semua.


"Gue mana berani ngasih tahu sama Lo. Bayu natap gue tajam banget dari lantai dua rumahnya. Mungkin dia pingin gue rahasiain ini semua." Terjawab sudah. Manisha paham sekarang kenapa tidak ada satupun di antara Raga dan Bayu yang memberitahunya. Ini ulah Bayu, tapi kenapa?


"Gue enggak tahu alasannya. Tapi kayaknya memang lebih baik seperti itu," jelas Vian lagi seolah-olah tahu pertanyaan apa saja yang adaย  di kepala Manisha.


Manisha menatap ngeri ke arah Vian. Ia sedikit takut kalau-kalau Vian bisa membaca pikirannya. Kan bisa gawat!


"Gue enggak bisa baca pikiran, Sha. Jadi jangan takut!" ucap Vian lagi. Manisha menatap kesal ke arah Vian, tetapi kenapa seolah-olah Vian sedang berbohong?


"Gue enggak bohong!" ucap Vian dengan kesal. Tuh kan! Manisha bertambah merinding melihat ke arah Vian. Ia kemudian pindah duduk ke arah kursi paling ujung. Takut melihat Vian yang duduk selang satu kursi darinya. Itu pun karena Raga yang duduk di sana.

__ADS_1


Raga mengalihkan matanya dari buku yang sedang ia baca saat mendengar Manisha bangun dan duduk di kursi halte paling ujung. Ia menatap datar ke arah Vian, lalu menoleh pada Bayu meminta penjelasan. Dari matanya seolah mengatakan 'dia belum kamu kasih tahu?' Namun Bayu hanya merespon tatapan Raga dengan tersenyum ceria. Raga memutar bola matanya malas.


"Sha?" panggilnya lalu melihat Manisha yang masih menatap ngeri ke arah Vian yang cemberut sejelek-jeleknya di sebelah Raga.


"Bukan Vian."


Manisha yang sudah menatap Raga mengerutkan keningnya dalam.


"Bukan Vian, Sha. Tapi Bayu. Bayu yang bisa baca pikiran," jelas Raga di kalimat selanjutnya. Raga kembali fokus dengan bukunya.


1 detik


2 detik


3 detik


Pada detik keempat wajah Manisha sudah memerah sempurna. Ia meneguk ludahnya kasar. Saat ini ia percaya jika Bayu berada di antaraย  mereka. Manisha menatap Vian yang mengerling jahil, Vian tahu jika Manisha sedang malu sekarang.


Manisha tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Ia memusatkan matanya ke jalan raya yang dipenuhi kendaraan lalu lintas. Bukan lega baginya saat tahu Bayu ternyata bisa baca pikiran, namun malu yang tak terkira sedang hinggap di dirinya sekarang. Bagaimana jika Bayu tahu apa yang dipikirkan Manisha selama ini? Bagaimana jika...!!!


Bayu yang tahu apa yang dipikirkan gadisnya hanya terkekeh di tempat. Ia bersyukur sebab belum sempat memberi tahu Manisha kelebihannya. Ya, Bayu memang tahu apa yang dipikirkan gadis itu selama ini, Bayu tahu itu. Oleh sebab itu, Bayu sangat sedih. Ia tahu seberapa sedih kekasihnya memendam luka, dan Bayu tahu seberapa besar Manisha merindukan dirinya.


Bayu mengalihkan pandangan, ia melihat Vian yang sedang melihatnya.ย  Bayu tersenyum dan dibalas Vian dengan cara yang sama. Mata Vian seolah-olah mengucapkan kata 'sabar' pada sahabatnya itu. Mau tak mau Bayu mengangguk.


Netra Bayu kemudian menatap saudara kembarnya yang masih fokus dengan bukunya. Ia masih tidak percaya jika abangnya itu sudah tiada. Tanpa sadar air mata Bayu menetes. Apapun yang terjadi, ia harus menolong Raga, sekalipun nyawanya nanti yang menjadi taruhan, tekatnya kuat.


Karena bagaimanapun, seharusnya Bayu yang memegang posisi Raga saat ini. Bukan Raga, yang bahkan tidak tahu apa-apa mengenai apa yang terjadi.


Bayu benar-benar minta maaf pada saudara satu-satunya itu. Bayu sungguh tidak bermaksud seperti itu.


Perlahan langit mulai meneteskan airnya berbentuk gerimis. Tepat saat itu juga, Bus yang ditunggu mereka menampakkan wujudnya.


+TBC

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Tinggalkan vote, kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih ๐Ÿ˜Š. please jangan pelit jempol ya, biar penulis semangat buat sambungin cerita ๐Ÿ˜”


__ADS_2