
Biasakan Vote sebelum membaca🌿
...
Betapapun kita membenci seseorang. Jika dia adalah orang terdekat, kita bisa apa? Tanpanya, kita mungkin tidak akan ada di dunia.
🍂🍂🍂
"Bu--Bunda ...."
Raga terpaku melihat bundanya berdiri di ambang pintu rumah. Sejak kapan bundanya sudah ada di rumah ini? Padahal, sewaktu Raga pulang dari luar negeri ke rumah ini, bunda nya tidak ada, sebab ia ada urusan rumah sakit yang harus diurus. Raga tahu alasan itu sebab melihat sticky note yang menempel di kulkas.
Anita menatap anaknya heran. "Kamu kenapa?"
Anita menatap gaya berpakaian anaknya, sejenak ia terdiam. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang.
"Raga?" Anita memanggil ragu.
Wajah Raga berubah datar, sebenarnya ia membenci wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Sebab wanita yang disebutnya bunda itu pernah ingin menghilangkanya dari bumi. Bundanya hanya menginginkan Bayu, Bayu Alvino Dwipaga. Bukan Raga Alvino Dwipaga.
Anita membekap mulutnya tidak percaya. Bagaimana mungkin Raga bisa kembali lagi. Lalu Bayu ... tidak!
Kali ini Anita meneteskan air matanya. Ia tidak percaya ini semua. Padahal sudah lama sejak kejadian itu terjadi.
"Minggir, saya mau masuk!" Raga menyenggol bahu Anita yang masih terpaku di depan pintu, ia memasuki rumah tanpa berkata apapun.
Anita mencengkram erat gagang pintu. Ia masih tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Rasanya bom atom mulai menjalar ke kepalanya, dan segera meledak!
.
.
.
Hujan mengguyur bumi sejak sore. Manisha berdiri di depan jendela kamarnya. Menatap lepas ke arah jalanan yang dilewati jejeran kendaraan. Manisha menyentuh jendela itu dengan jemarinya.
"Kamu di mana, Bayu? Aku rindu."
Kali ini Manisha berucap sembari terisak dalam diam. Tetes demi tetes air matanya mengalir dengan bebas. Manisha merindukan sosok itu, sosok lelaki pecicilan yang kerap kali mengganggunya. Namun kini tidak lagi, sebab lelaki itu menghilang.
"Maafin aku ...." Manisha mulai terisak.
Tok-tok-tok!
Manisha bergegas menyeka air matanya. Ia berjalan pelan ke arah pintu.
"Mama?" Manisha mengernyitkan kening.
"Ada apa, Ma?" Manisha menarik mama nya ke dalam kamar.
Ratih memperhatikan anaknya dari atas sampai bawah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Habis nangis?" tanya Ratih mengusap pipi anaknya.
Manisha membeku. Bagaimana mama nya tahu dia habis menangis? Apakah wajahnya terlalu kentara?
Menisha menghela nafasnya. Ia tersenyum. "Iya, Ma. Manisha tadi mimpi aneh, Manisha nangis dalam tidur. Pas kebangun udah bengkak aja mata Manisha."
Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan Manisha. Ia menepuk jidatnya saat ingat apa tujuannya ke kamar anaknya.
"Oh iya, Mama lupa!"
Manisha mengernyitkan kening. "Lupa apa, Ma?"
"Itu, ada orang yang lagi nungguin kamu di bawah. Wajahnya ganteng banget" ujarnya sembari membayangkan anak muda yang sedang duduk di ruang tamunya.
Manisha meringis. Mama nya tidak pernah berubah, jika ada yang tampan selalu senyumnya tidak hilang-hilang.
"Mama mau aku aduin ke papa?" ancamnya.
Ajaib, Ratih langsung berhenti.
"Iya-iya, kamu ini!" ujar Ratih geram dengan sifat anaknya yang mudah mengadu.
"Udah sana jumpain dia, kasian kalau nunggu lama."
Ratih mendorong anaknya keluar kamar. Ia pun juga ikut keluar.
Manisha mendegus malas. "Mama aja lah ... bilang kalau Manisha udah tidur."
"Kamu mau punya papa baru?"
Menisha melotot tidak terima, dengan terpaksa kakinya melangkah menuruni tangga. Jujur, Manisha juga penasaran siapa yang sedang menunggunya di bawah.
Manisha mematung. Apa lagi ini!
"Pak Athlas" katanya kaget.
Bagaimana bisa guru olahraganya itu ada di rumahnya? Dan sekarang sedang duduk di ruang tamunya. Setahu Manisha, ia sedang tidak ada urusan apa-apa dengan guru itu.
Athlas tersenyum menatap Manisha. Ia langsung berdiri saat Manisha berjalan ke arahnya.
"Bapak ... ngapain ke sini?" tanya Manisha heran.
Athlas tersenyum manis, menampakkan jejeran giginya yang putih.
"Saya mau ngasih buku ini ke kamu, kamu bilang sedang butuh buku olahraga kelas dua belas," jelas Athlas.
Memang, Manisha memang perlu buku itu, karena itu buku edisi lama, jadi teman-temanya tidak punya bukunya. Tapi, dari mana gurunya itu tahu ia sedang butuh buku itu? Untuk apa gurunya repot-repot kerumahnya sekadar mengantar buku? Manisha jadi aneh sendiri.
"Bapak enggak usah repot-repot. Bapak kan bisa kasih ke saya besok di sekolah." Manisha tersenyum kaku, namun tanganya tetap mengambil buku yang disodorkan gurunya.
Atlas sumringan saat buku itu diambil Manisha dari tanganya.
__ADS_1
"Yasudah, saya pulang dulu. Ada urusan yang perlu saya urus," pamit Athlas.
Manisha mengangguk, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Di antar nya gurunya itu ke depan pintu rumah.
Manisha menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Manisha merasa aneh sekaligus takut dengan gurunya itu. Mana pernah ada sejarah guru mengantar buku ke rumah muridnya yang bahkan tidak meminta dipinjamkan.
"Ngeri sendiri gue!"
Manisha berlari menuju kamarnya. Sedangkan Ratih yang melihat anaknya seperti itu kembali menggeleng-gelengkan kepala.
"Kok bisa ya punya suami cemburunya luar biasa, ditambah anak yang kerjaannya ngadu. Pupus lah sudah harapan aku liat pemuda yang tampan-tampan."
Ratih menatap pintu rumahnya dengan lesu. Menurutnya pemuda yang dilihatnya tadi sangat tampan!
.
.
.
Ting!
Handphone Manisha berbunyi. Satu pesan masuk dari Lea membuat ia menahan tawa.
"Sha, masak teman kencan gue bilang kalau gue bau ketek? Emang iya, ya?"
Ting!
Belum sempat ia mengetikkan balasan, satu pesan kembali masuk.
"Bahkan ni ya, Sha. Tu cowok bilang kalau gue enggak pernah gosok gigi, gila aja! Gue mandi dua kali sehari, gosok gigi juga sering, dengan seenak jidatnya dia bilang mulut gue bau! Taik sapi emang tu cowok!"
Kali ini Manisha tertawa ngakak di atas tempat tidurnya.
Manisha memutuskan menelpon Lea. Ia yakin, Lea sedang dalam keadaan murka sekarang. Mungkin asap sudah keluar dari kedua telinganya.
"Makanya jangan kualat," kata Manisha pelan sebelum telepon nya diangkat sahabatnya.
Setelah itu kita tahu apa yang terjadi, pastilah Lea sedang menceritakan kencan buta yang dilakukanya. Dimana cerita itu berhasil membuat Manisha tertawa terpingkal-pingkal.
Di sisi lain, di suatu rumah yang sepi, seseorang tengah menatap seseorang yang lain yang tengah tertidur.
Ia benci sekali dengan keadaan seperti ini. Hatinya terbakar.
"Kenapa dia bisa kembali? Sejak kapan ia kembali?" Tanganya mengepal kuat.
"Aku akan kembali menyingkirkanmu!" ucapnya pelan.
Ia pun pergi dari sana dengan sejuta kebencian yang tertanam di dalam hatinya.
+TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa kritik dan saran. Hal ini akan sangat membantu penulis.