Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 2.1 Guncangan Pertama


__ADS_3

..."Mau Lo apa, sih! Dasar Pengacau!''...


...-Manisha Elevanova-...


...🌿🌿🌿...


Hujan rintik-rintik masih membasahi bumi. Beberapa murid berseragam putih abu-abu tampak berlari dari gedung SMA Dwiyana Muda Bangsa ke arah halte bus yang berada di depan  sekolah. Salah satu dari rombongan itu adalah gadis berambut sepinggang seraya menenteng satu buku bercetak tebal, dengan judul Ekonomi. Dia Manisha Elevanova, murid pindahan sejak sebulan lalu yang kini resmi menyandang status sebagai siswi SMA Dwiyana Muda Bangsa.


Manisha duduk di deretan bangku panjang halte. Matanya melirik ke kiri jalan raya. Berharap Bus yang ditunggunya menampakkan wujudnya. Namun nihil, hanya jalan raya yang tampak basah dan motor murid-murid SMA yang berebut pulang yang terlihat.


Gadis itu mendengus, kemudian matanya beralih pada sesosok  mahluk menyebalkan yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Hai" sapa cowok planet lain yang ada di depannya. "mau bareng?" tawar cowok itu.


Nisha mengernyitkan kening. Ia  memutar bola matanya malas. "Males!"


Bayu menyerigai sesaat. Sembari melirik jam tangannya, Bayu kembali berkata, "Udah sore, loh! Yakin gak mau bareng? Kayaknya bus juga gak bakal lewat kalo jam segini"


Yang diucapkan Bayu ada benarnya juga. Tapi, Nisha tidak mau pulang dengan manusia menyebalkan yang ada di hadapannya. Dia sangat anti dengan cowok sok kegantengan satu itu!


Nisha tersenyum manis, membuat cowok yang biasa di panggil dengan nama 'Bayu' itu terpukau untuk sesaat. Sebelum akhirnya membeku saat mendengar Manisha mengatakan --


"Males! gue gak suka sama Lo, Lo tau itu kan? Jangan **** terus-terusan ngejar gue. Karena gue akan tetap lari jauh-jauh dari Lo! dan Lo pasti tau ending dari harapan Lo itu. Paham, 'kan? mending Lo pergi dari hadapan gue. S-E-K-A-R-A-N-G!"


Tin-tin!


Manisha menyeringai saat melihat mobil mamanya berhenti di depan gerbang sekolah. Sembari melirik sinis ke arah Bayu, Nisha berjalan ke arah mobil mamanya. Kemudian masuk dan duduk dengan anteng di kursi depan, samping mamanya.


Saat mobil mamanya dan motor Bayu bersisian, Manisha sempat menoleh ke arah Bayu yang masih membatu di atas motornya dengan mata penuh sorot kesedihan.


Dan untuk pertama kali, Manisha berucap dalam hatinya 'apa gue keterlaluan?'  setelah beberapa minggu ia terus saja diganggu oleh Bayu. Dan seringnya juga ia mengeluarkan kata-kata kejam, sehingga raut wajah Bayu selalu memancarkan kesedihan yang mendalam. Satu hal yang sampai saat ini membuat Manisha kagum akan sosok Bayu, Bayu tidak pernah menyerah dengan perasaanya! Ya, perasaanya yang selalu ditindas oleh Manisha.


"Kamu kenapa, Sayang?" Suara mamanya mengagetkan Nisha akan lamunannya tentang perkataanya barusan pada Bayu. Manisha menoleh ke arah mamanya, lalu tersenyum.


"Gak. Gak kenapa-kenapa kok, Ma."


Ratih menghela nafasnya, mencoba mempercayai jawaban anaknya. 'mungkin dia lelah' batin Ratih santai.


.


.


.


Manisha sudah selesai dengan ritual mandinya. Saat ini jam menunjukkan pukul 19:30 malam. Sekarang waktunya makan malam, tapi Nisha enggan sekali untuk keluar dari kamarnya. Nisha menghela nafasnya sembari menutup wajah dengan kedua tangannya. Nisha membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Pikirannya kembali mengingat kejadian tadi siang.


Nisha tersenyum manis, membuat pemuda yang biasa di panggil dengan nama 'Bayu' itu terpukau untuk sesaat. Sebelum akhirnya membeku saat mendengar Manisha mengatakan --


"Males! gue gak suka sama Lo, Lo tau itu kan? Jangan **** terus-terusan ngejar gue. Karena gue akan tetap lari jauh-jauh dari Lo! dan Lo pasti tau ending dari harapan Lo itu. Paham, 'kan? mending Lo pergi dari hadapan gue. S-E-K-A-R-A-N-G!"


Tin-tin!


Manisha menyeringai saat melihat mobil mamanya berhenti di depan gerbang sekolah. Sembari melirik sinis ke arah Bayu, Nisha berjalan ke arah mobil mamanya. Kemudian masuk dan duduk dengan anteng di kursi depan, samping mamanya.


Saat mobil mamanya dan motor Bayu bersisian, Manisha sempat menoleh ke arah Bayu yang masih membatu di atas motornya dengan mata penuh sorot kesedihan.


"Apa gue keterlaluan, ya?" Manisha berucap lirih. Entah kenapa ia merasa bersalah pada Bayu.


Drtt...Drtt...


Getaran ponsel membuyarkan lamunannya. Ia langsung mengambil benda pipih berlogo gigitan apel itu dari atas nakas.

__ADS_1


+62853*********


Nisha, jangan pikirin lagi apa yang Lo bilang sama gue tadi. Sekarang gue udah tau diri kok, gue gak akan ngejar Lo. Toh, sia-sia juga kan kalo gue ngejar tapi Lo tetap lari?


Nisha mengerutkan kening saat pesan yang biasanya masuk untuk mengucapkan selamat tidur, menanyakan kabarnya, menggombalinya, tiba-tiba mengirim pesan seperti ini. Awalnya Nisha tidak tahu siapa nama pengirim pesan itu setiap hari. Nisha pun enggan bertanya. Tapi sekarang ia tahu, Bayu lah yang sering mengiriminya pesan seperti itu.


Jujur, pengirim pesan misterius itu sudah mengganggunya selama satu bulan berturut-turut. Tak pernah sekalipun pengirim pesan misterius itu absen mengirim pesan padanya.


Nisha menggigit bibir bawahnya pelan, menimbang-nimbang untuk menjawab pesan Bayu atau tidak. Akhirnya Nisha memilih pilihan pertama.


To : Pengacau


Bagus lah Lo sadar diri!


Send!


Nisha memencet tombol Send setelah mengubah nomor tak di kenal itu dengan sebutan pengacau dan mengetikkan pesanya.


Drtt...Drtt...


Nisha membuka balasan pesan dari Bayu. Lalu langsung menggerat giginya saat membaca pesan itu. Nisha merasa di permainkan!


From: Pengacau


Hahaha ternyata gini caranya supaya Lo mau bales pesan gue.


Nisha langsung melempar HP nya ke kasur, lalu beranjak bangun dari tempat tidurnya. Sebelum benar-benar menutup pintu kamar, ia sempat berdecak, lalu mengumpat.


Sialan!


.


.


.


Nisha menyipitkan matanya saat melihat satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Diperhatikan nya baik-baik nomor itu, dua detik kemudian Nisha mendengus kesal. Pasalnya, itu nomor Bayu. Nomor Bayu yang sempat di lenyapkanya tadi malam dari kontak ponselnya.


"Mau apa lagi sih!" decak Nisha. Ia bangkit dari kasur dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Enggan membalas pesan itu.


Sepuluh menit kemudian, Manisha keluar dari kamar mandi. Berjalan pelan ke arah nakas dan mengambil benda pipih yang sempat di campakkanya.


12 Panggilan tak terjawab...


Buset! Ngebet bener ni anak! ucap Nisha dalam hati. Rasanya ia belum lama di kamar mandi, dan begitu keluar malah dikejutkan dengan panggilan tak terjawab sebanyak dua belas kali dari salah satu mahluk bumi yang selalu menggangunya.


Bayu's Calling....


Oke! Putus Manisha dalam hati. Ia akan mengangkat telepon itu. Akan tetapi, jika dua kata pertama dari kalimat Bayu sama sekali tidak penting, maka ia akan memutus sambunganya.


"Halo?"


Datar dan ketus. Nada biasa yang dikeluarkan Manisha untuk seorang pejuang cinta sejati seperti Bayu. Ah, bukan! Lebih tepatnya adalah hama sejati.


"Wihh..." Manisha memutar bola matanya begitu mendengar kata pertama dari seorang Bayu.


"Selamat pagi matahari!"


Manisha menjauhkan teleponnya dari telinga. Suara teriakan Bayu dari seberang sana sungguh sangat mengganggu. Matahari? Dasar manusia ter-lebay di dunia!


"Apa?" ucap Manisha ketus begitu mendekatkan kembali ponsel itu ke telinga.

__ADS_1


"Jangan ketus-ketus. Matahari mana boleh ketus. Matahari itu hangat."


"Buta?"


"Hah?"


Manisha melihat jendela yang sudah terbuka sempurna gordennya. Di luar hujan rintik-rintik.


"Hari ini hujan. Bukan panas." Manisha merasa menang begitu selesai dengan kalimatnya.


"Yang bilang panas siapa?"


"Ya lo lah!"


Dari jauh, Manisha tahu, jika Bayu sedang terkekeh sekarang. "Matahari yang panas, bukan cuaca hari ini. Sampe sini paham?" cetus Bayu dengan kalimat akhir layaknya Pak Karyanto --guru mereka-- yang sudah selesai dengan penjelasanya ketika mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di kelas.


"Mau lo apa sih!" gertak Manisha. Ia sampai lupa dengan niatnya yang akan mematikan telepon jika dua kata yang keluar dari mulut Bayu sama sekali tidak penting.


"Cuman pengen ngucapin selamat pagi matahari."


"Yaudah tunggu musim panas sana, sekarang musim hujan. Mana ada matahari."


"Siapa bilang?"


"Ya gue lah!"


Bayu terdiam. "Mataharinya itu lo. Sosoknya udah ada, tinggal tunggu kapan hangatnya nyinarin hidup gue."


"Basi!" balas Manisha ketus. Pasalnya semua gombalan yang di ucapkan Bayu adalah kategori basi ala jaman sekarang.


"Terus apa yang gak basi?" tanya Bayu dengan wajah sumringan ala-ala Spongebob.


"Semua hal yang gak keluar dari mulut lo!"


Usai mengucapkan hal itu, Manisha akan memutus sambunganya kalau saja suara Bayu yang berteriak untuk jangan di matikan dulu.


"Apa lagi sih!" gerutu Manisha kesal tingkat tinggi.


Suara Bayu terkekeh sampai ke telinga Manisha. "Tunggu dulu. Ada sesuatu yang mau gue bilang."


Manisha masih menunggu kalimat dari Bayu. Kira-kira 'sesuatu' yang seperti apa yang ingin dikatakan padanya.


"Kalau mau masuk rumah harus ngapain?"


"Salam lah!"


"Terus kenapa di matiin enggak ngucap salam dulu?"


"Yaudah! Assalamualaikum!" teriak Manisha kesal dengan raut wajah merah padam.


"Waalaikumussalam calon masa depan!"


Klik!


Manisha membeku di tempat. Wajahnya yang merah semakin bertambah merah. Apalagi ini? ucapnya tidak percaya dengan apa yang di katakan Bayu. Akan tetapi, Manisha segera tersadar, meneguk ludah kasar lalu berjalan ke arah lemari, untuk mengambil seragam sekolahnya.


Manisha melirikkan matanya ke arah jam dinding di sebelah pintu kamar mandi. Sudah menunjukan pukul delapan kurang lima belas menit. Awas saja jika nanti ia tidak bisa masuk sekolah karena di tahan di gerbang, ia akan mencincang seorang Bayu Alvano Dwipaga yang sudah berhasil mengganggu paginya yang damai.


Sembari berganti baju. Manisha terus saja berdecak kesal.


+TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? terima kasih....😀


__ADS_2