
Gue enggak ngikutin Lo. GEER.
๐๐๐
Perang tatapan masih terjadi diantara mereka berdua. Raga menatap Manisha tajam, dan Manisha menatap Raga tidak kalah tajam. Suasana saat ini layaknya es. Sebab, dingin ditambah dingin sama dengan beku.
Cih! Manisha berdecih. Ia menatap Raga dengan raut datar, lalu memalingkan muka.
Raga yang diperlakukan begitu oleh Manisha mencibir. Ia ikut membuang wajah.
"Kamu kenapa mengikuti saya?" selidik Raga intens. Manisha membelalakkan matanya, merasa tersinggung dengan tuduhan Raga.
"Gue enggak ngikutin elo, geer" ucapnya ketus. Siapa juga yang mengikuti Raga?
Raga menampilkan raut wajah ragu. Mana mungkin ada maling mengaku, pikirnya.
"Terus kenapa kamu ada di sini?" tanyanya datar. Ia masih yakin jika Manisha mengikuti dirinya.
"Bukan urusan Lo!" kecam Manisha. Ia langsung pergi dari sana, meninggalkan Raga yang menatapnya aneh.
Lagipula, ada apa dengan Raga, pikirnya. Ia tidak mengikuti pria itu, ia justru mengikuti papa nya, sebab tadi sewaktu pulang sekolah, ia melihat papanya berjalan dengan seseorang dan masuk ke kawasan perumahan kumuh. Manisha penasaran dengan apa yang dilakukan papanya, karena itu ia memutuskan mengikuti papanya.
Namun, siapa sangka saat situasi nya yang sedang menguntit malah mempertemukan ia dengan Raga. Abang dari pacarnya. Entah apa yang dilakukan Raga disana, yang jelas Manisha sangat kesal dengan pria itu sekarang.
"Dasar brengsek!" makinya pelan. Ia meremas geram rok abu-abunya.
Sementara Raga, ia masih duduk di tempat ia menarik Manisha tadi. Tepatnya di belakang salah satu gudang kosong di perumahan. Raga penasaran, apa benar Manisha mengikutinya. Jika memang iya, untuk apa?
Raga terdiam di tempatnya. Sudah beberapa jam Raga mencari rumah Sandra, namun tidak ketemu-ketemu. Kata salah satu orang yang saat ini tinggal di rumah Sandra yang lama, Sandra sudah pindah bersama keluarganya. Sandra pindah ke perumahan kumuh ini, sebab keluarganya bangkrut. Oleh sebab itu, Raga ada di sini. Namun, ketika Raga bertanya pada warga yang ada di kawasan ini, tidak ada satu orangpun yang mengenal siapa Sandra.
Raga merasa bingung, kemana lagi ia harus mencari Sandra. Seolah semuanya menemui jalan buntu. Raga sudah tidak bisa berpikir lagi sekarang. Oleh sebab itu, ia memutuskan pulang. Dan melanjutkan untuk mencari rumah Sandra besok.
.
.
.
"Raga!"
Raga menghentikan langkahnya saat Anita memanggil namanya. Raga menghela nafas, ia tahu apa yang akan Anita lakukan.
__ADS_1
"Kembalikan Bayu."
Raga menutup matanya rapat-rapat. Ia mengepalkan kedua tangannya. Raga berbalik.
"Bayu? Anda menanyakan Bayu kepada saya!" ucap Raga emosi sekaligus geram.
Raga menatap Anita dari atas sampai bawah. "Saya.tidak.tahu.dimana.Bayu" kata Raga penuh penekanan.
Anita menatap tajam anak sulungnya. "Hah! Enggak usah pura-pura gak tahu kamu, saya tahu kamu kan yang mengambil Bayu dari saya!"
Raga mengacak-acak rambutnya. Ia berjalan semakin dekat ke arah Anita. Dengan emosi yang sudah di ujung tanduk, Raga mengambil vas bunga yang berdiri di atas meja, lalu melemparkannya ke tangga.
Prang!
Vas bunga itu hancur berantakan. Bunga-bunga yang tadi terangkai apik disana sudah berhamburan kemana-mana.
"Saya bilang saya tidak tahu! Anda menuduh saya mengambil Bayu, untuk apa saya melakukan itu? Jawab!" Raga membentak Anita yang masih berdiri shok di dekat sofa.
Anita menoleh. "Karena sejak kamu datang, anak saya hilang. Kamu tahu itu? Saya benci kamu!" balas Anita dengan membentak juga. Anita mencengkram erat pegangan yang terdapat di sofa saat melihat Raga semakin mendekat. Kini jarak mereka hanya tersisa satu langkah lagi.
"Anak? Hah! Jika Bayu adalah anak anda, jadi saya anak siapa? Kenapa saya harus memiliki wajah yang sama dengan Bayu! Kenapa!" teriak Raga emosi. Raga melonggarkan dasi sekolahnya. Ia berjalan mundur.
"Saya tahu anda membenci saya. Saya tahu anda tidak suka saya ada disini. Saya tahu segalanya. Saya tahu!" Raga terdiam. "kalau saya boleh memilih, saya tidak ingin mempunyai wajah seperti Bayu, saya tidak mau punya kembaran. Sehingga saya bisa dengan mudah menyimpulkan jika... saya bukan anak anda!"
Brak!
Pintu yang terbanting menyadarkan Anita dari keterdiamanya. Ia memengang kepalanya yang terasa ingin pecah. Bukan karena kalimat Raga yang menghantui pikirannya, namun masih tentang Bayu. Jika bukan Raga yang menyembunyikan Bayu, lalu siapa? Kemana lagi Anita harus mencari anaknya?
Anita menghela nafas. Ia menegaskan lagi di dalam hatinya, jika omongan Raga bukanlah apa-apa! Bayu lebih penting!
.
.
.
Argh!
Raga berteriak keras. Ia menendang-nendang pohon tua yang terdapat di pinggir Danau Biru dengan emosi yang masih meluap-luap.
"Kenapa!" teriaknya kesal. Ia benar-benar benci dengan keadaan ini. Ia benci.ย Belum juga permasalah tentang pencarian rumah Sandra ia selesaikan, namun ketika pulang ia malah ditanya Anita seperti itu. Rasanya Raga ingin mati saja.
__ADS_1
Argh!
Raga berteriak lagi. Kali ini ia terduduk jongkok di pinggir danau. Raga menangis, semua terlalu berat.
Raga berbalik saat tiba-tiba bahunya di pegang oleh seseorang. Raga menyeka air matanya, ia menatap tajam orang itu. "Lepas" ucapnya lirih.
"Kamu ngikutin saya lagi?" Raga bertanya sambil menatap lepas kearah danau. Orang itu duduk di samping Raga.
"Enggak," jawabnya singkat. "gue enggak ngikutin Elo.ย Gue sering kesini, ternyata Lo cengeng juga, ya?"
Raga menoleh saat orang itu mengatainya cengeng. "Terus kamu? Mata kamu juga bengkak, kan? Di sengat tawon?" ucapnya sengit.
Orang itu terkekeh. Ia menepuk bahu Raga. "Gue Manisha. Lelucon Lo sama sekali enggak lucu."
Raga berdecih. Jelas saja gadis itu baru saja tertawa. Namun kemudian gadis itu bilang jika lelucon Raga tidak lucu sama sekali!
"Saya tidak melawak. Kalau kamu anggap saya melucu, kamu salah," ucap Raga datar.
"Oh, ya?" Manisha kembali terkekeh. "iya, Lo enggak melucu kok. Lo cuman ngomong aja."
Mendengar Manisha berbicara begitu. Raga hanya menatap sinis, kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke danau.
"Kamu tahu, kenapa danau ini dinamakan danau biru?" tanya Raga tiba-tiba tanpa menoleh.
Manisha mengernyitkan keningnya. Mana tahu ia sejarah danau biru. Manisha belum lama tinggal di daerah ini. Memang, Nisha suka danau biru. Namun--
"Kenapa?" tanya Manisha. Merasa penasaran juga dengan apa yang akan diucapkan Raga selanjutnya. Jarang-jarang Raga punya kalimat panjang yang pernah keluar dari bibirnya.
"Ya karena airnya biru." Raga mengatakan jawabannya begitu saja. Tanpa dosa.
Sedang Manisha yang mendengar jawaban Raga yang seperti itu malah membuatnya kesal setengah mati. Ia menatap Raga sinis.
"Untung Abang ipar," gerutunya pelan sambil mengelus dada.
Raga tersenyum kecut mendengar gerutuan Manisha. Ia mendengus pelan.
"Untung adik ipar." Kali ini Raga mengucapkan dengan keras. Berniat menyindir Manisha.
"Ish!" Manisha membuang wajahnya begitu saja. Lalu mengalihkan tatapanya pada layar ponsel. Ia mengernyitkan kening.
TBC
__ADS_1
tinggalkan jejak berupa vote kritik dan sarannya ya?๐๐