
Setiap orang memiliki perasaan. Setiap orang memiliki luka. Setiap orang juga memiliki persepsi yang berbeda-beda. Raga, apa penjelasanmu bisa aku terima?
🍃🍃🍃
Baru saja Manisha akan mengenakan helm yang diberikan oleh Atmaji. Sebuah tangan merebut paksa helm itu. Orang itu Raga, dengan wajah dinginnya, diletakkannya kembali helm itu ke belakang motor Atmaji.
"Kamu pulang sama saya saja. Biar Atmaji pulang sendiri."
Raga langsung berbalik usai mengatakan hal yang membuat Manisha membeku di tempat. Sedangkan Atmaji melihat Raga dengan raut kesal setengah mati.
Grep!
Kerah seragam Raga ditarik paksa oleh Atmaji dari belakang. Sehingga mau tidak mau, kerah itu sobek. Beberapa murid SMA tampak menghentikan langkah mereka, memerhatikan berdera perang yang pasti akan segera muncul di antara Raga dan Atmaji.
Manisha tersadar dari keterkejutan nya. Ia menatap sinis ke sekelilingnya. Hal ini membuat murid-murid itu mencebik dan memilih pergi dari sana. Hilang sudah tontonan seru mereka. Padahal jarang-jarang mereka bisa melihat pertengkaran antara Most Wanted sekolah dengan Sang juara umum yang memilih kembali ke sekolah lamanya.
"Maksud Lo apa!?" Atmaji menggertak Raga yang masih setia dengan wajah datarnya. Kali ini Raga masih sabar.
"Lo mau gue pukul!" Atmaji melepaskan pegangan tangannya pada kerah Raga yang sobek. Ia tersenyum sinis. Sedangkan Raga sudah mulai menghela nafasnya, berusaha untuk sabar.
Cuih!
Kali ini bukan Raga saja yang terkejut. Namun Manisha dan beberapa murid SMA itu yang belum pulang juga sangat terkejut.
Baik. Raga sudah cukup sabar sejak tadi. Namun ini sudah kelewatan, berani-beraninya Atmaji meludah ke arah mukanya. Sama saja Atmaji menjatuhkan harga diri seorang Raga Alvano Dwipaga. Sudah cukup, Raga tidak bisa sabar lagi!
Bruk!
Raga membanting tubuh Atmaji tanpa perasaan sedikitpun. Ia menginjak perut Atmaji kuat, mengabaikan suara batuk yang keluar dari pria itu. Raga berdecih, ia kembali menginjak perut Atmaji tanpa ampun, setelahnya ia langsung pergi dari sana. Bahkan enggan melihat wajah Manisha yang terlihat kaget dengan ulahnya barusan. Raga tidak peduli. Raga tidak suka diganggu.
__ADS_1
Wajah Atmaji memerah, ia tidak menyangka jika tenaga Raga sangat kuat. Matanya masih setia menatap Raga yang mulai menjauh. Ia akan membalas penghinaan ini. Atmaji janji akan hal itu!
Sedangkan Manisha, ia tergopoh-gopoh berlari ke arah Atmaji. Manisha geleng-geleng kepala. Ini bukan sepenuhnya salah Raga, namun salah Atmaji juga. Belajar dari mana sahabat lamanya cara meludahi orang lain? Siapapun yang diperlakukan seperti itu pasti tidak terima. Bahkan Manisha sekalipun.
"Lo **** atau apa, sih!" Atmaji melotot mendengar Manisha mengatainya '****'. Ia berusaha berdiri ditopang tangan Manisha. Wajahnya terlihat kesal sekali!
"Lo bisa pulang sendiri, 'kan?" tanya Manisha kemudian. Atmaji mengernyitkan keningnya dalam.
"Kalau bisa, Lo pulang aja langsung. Istirahat. Gue duluan, ya." Manisha langsung pergi begitu saja, mengabaikan Atmaji yang berdecak ditempat.
Manisha harus bergegas mengejar Raga. Bagaimanapun, tidak seharusnya Raga ikut campur dengan urusanya. Manisha bukan termasuk bagian penting dari Raga!
"Raga!" Manisha berteriak keras saat melihat Raga berbelok ke arah kolam belakang sekolah. Tidak terima di abaikan begitu saja, Manisha langsung menyusul Raga. Ia harus memberi Raga pelajaran!
Manisha mematung ditempat. Dari tempatnya berdiri, Manisha bisa melihat sesuatu yang tidak biasa pada Raga. Pria itu berbicara sendiri. Ajaibnya, Raga masih tidak tahu jika Manisha berada di tempat yang sama!
"Enggak bisa, saya harus selesaikan semuanya. Saya harus." Manisha semakin penasaran saat Raga menaikan suaranya sebanyak lima oktaf. Sepertinya pria itu sedang emosi, pikir Manisha.
Deg!
Tubuh Manisha membatu. Bay? Maksud Raga Bayu? A--apa? Manisha menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ti-tidak mungkin, Bayu enggak mungkin udah mati! teriak Manisha dalam hati.
Air mata Manisha menetes tepat saat Raga menoleh ke arahnya. Manisha ingin lari, namun kakinya seolah lengket. Raga tampak terkejut melihat Manisha ada disana. Bergegas di hampiri nya Manisha.
"Sha... Sha... saya bisa jelaskan." Raga berusaha menahan Manisha yang akan berbalik untuk kabur. Manisha memberontak. Tangisannya mengencang.
"Sha! dengarkan saya!" bentak Raga. Ajaibnya Manisha langsung berhenti memberontak. Hanya saja isakan tangis yang semakin menggema disana.
"Jelasin apa! apa! Raga!" Manisha berteriak begitu ia berbalik. Menghantam dada raga dengan pukulan bertubi-tubi nya. Ia tidak peduli pria itu akan kesakitan atau tidak.
__ADS_1
"Jelasin apa... hiks-hiks-hiks... apa Raga..." isak Manisha pilu. Ia masih bingung dengan semuanya. Dan tadi... apa benar yang dilihatnya itu Raga sedang berbicara dengan pacarnya? Arwah Bayu?
Raga tidak punya pilihan lain selain merengkuh gadis dihadapannya. Meminjamkan dadanya pada gadis itu , dan mengabaikan tatapan tajam seseorang sebab berhasil membuat 'gadisnya' menangis.
"Saya akan jelaskan, Sha. Tapi saya harap kamu tenang dulu."
Mendengar Raga berbicara seperti itu, Manisha malah menangis semakin keras. Suara tangisnya menggema di tempat itu. Manisha tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Biar, biar mereka semua tahu betapa menyedihkannya menjadi seorang Manisha Elevanova.
Manisha harus menangis sekarang. Menghabiskan seluruh air matanya. Berharap jika nanti penjelasan Raga sesuai dengan apa yang dipikirkan nya, Manisha tidak bisa menangis lagi, sebab air matanya sudah ia habiskan sekarang.
Namun, bagaimanapun juga, Manisha sangat tidak ingin jika apa yang dipikirkan olehnya benar-benar adalah 'sesuatu' yang akan dijelaskan Raga nanti. Manisha berharap jika yang akan di jelaskan oleh Raga adalah kabar baik, bukan buruk. Manisha sangat ingin seperti itu.
Sementara di sisi lain, seseorang juga menatap Manisha dengan sorot penuh kesedihan. Ia ingin merengkuh gadis itu. Sangat.
Kurang ajar! sosok itu mengumpat dalam hati. Ia marah pada pria yang berdiri di hadapannya, gara-gara dia, semuanya kacau. Gara-gara dia, gadisnya menangis!
Sosok itu Bayu, Bayu meremas kuat kedua tangannya. Ia jengkel melihat abang kandungnya itu memeluk pacarnya. Dihadapan dirinya pula, tidak punya sopan santun.
Namun, Bayu bisa apa. Lagipula gadisnya memang butuh untuk ditenangkan. Dan sekarang yang terlihat hanya Raga, bukan Bayu. Jadi Bayu harus terima, sekalipun sebenarnya ia tidak sudi kekasihnya menangis di dada abangnya sendiri. Sial! umpatnya.
Bayu menatap intens ke arah Manisha yang masih menangis. Ia menghela nafasnya kasar. Bagaimana nanti ekspresi Manisha setelah mendengar penjelasan dari Raga? Bayu tidak menyangka, jika semuanya harus terbongkar sekarang. Salahkan abangnya yang menemuinya tidak melihat situasi dulu.
Tapi... Bayu sadar. Ia juga ikut andil dalam terbongkarnya rahasia mereka. Kalau saja Bayu tidak 'meminta' sekarang, pastilah Raga tidak akan marah-marah seperti tadi. Padahal Raga sedang dalam emosi tinggi sepertinya saat Bayu 'meminta' miliknya. Bayu menyesal sekali.
Namun... semuanya hanya andai. Andai....
Pada akhirnya, mereka harus menjelaskan pada Manisha. Sekalipun nanti Manisha akan marah, atau bahkan menangis sebab tidak terima!
+TBC
__ADS_1
Tinggalkan vote, kritik dan saran ya teman-teman. Karena penulis tidak akan berhasil jika tidak ada pembaca. Terima kasih 😊