Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 21. Kilasan Masa Lalu


__ADS_3

Tidak ada yang bisa memilih dimana ia bisa menjatuhkan hatinya. Entah itu di orang yang tepat atau tidak, yang jelas ketika hati sudah memilih jatuh, maka siapapun itu orangnya, bukanlah lagi menjadi masalah utama.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


"Sha, nanti siang Lo ada waktu, 'kan?"


Seorang pria berseragam putih abu-abu bersimbol SMA Sabang tengah mengikuti seorang gadis berambut sepinggang dengan warna hitam legam. Pria itu Atmaji Pradana Sutardiningrat, pria keturunan jawa asli yang memiliki darah ningrat di tubuhnya. Sedangkan gadis berambut sepinggang itu adalah Manisha Elevanova. Mereka bersahabat baik sejak mengenal di acara ospek SMA Sabang.


"Ada, At. Gue pasti temenin Lo kok buat beli komik Naruto yang sebenarnya udah se-lemari Lo koleksi." Manisha memutar bola matanya kesal.


"Tau aja Lo kalau gue masih perlu koleksi edisi terbaru komik 'itu'."ย  Atmaji tertawa ketika mengatakanya. Ia bersyukur memiliki teman seperti Manisha, walaupun judes, tetapi dengan Atmaji tidak pernah sekalipun sikap itu ditujukan. Kecuali sewaktu pertama kali mereka berkenalan di acara ospek.


"Lo enggak niat judes ke gue, Sha?" tanya Atmaji iseng sambil memperbaiki letak kacamatanya yang turun.


"Lo mau? Gue sih bisa aja." Manisha berucap judes. Ia langsung berjalan cepat meninggalkan Atmaji yang menganga di tempat. Padahal Atmaji hanya niat bercanda. Atmaji bergegas menyamakan langkahnya dengan Manisha.


"Sha, gue becanda kali. Eh beneran Lo judes," tutur Atmaji panik. Raut wajahnya juga terlihat panik sekali. Sedangkan Manisha sedang berusaha mati-matian menahan tawanya.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


Cukup! Manisha tidak kuat lagi. Dengan kurang asamnya, ia tertawa dengan merdu di bawah bunga kantin tepat di depan kelas Sepuluh IPS satu.ย  Semua mata memandang ke arahnya, mungkin merasa aneh melihat Manisha yang terkenal judes bin kulkas itu tertawa lepas. Beberapa murid laki-laki bahkan menatap terpana ke arahnya. Termasuk Atmaji yang membeku di tempat.


Manisha menghentikan tawanya. Ia kembali berekspresi datar. Dilihatnya Atmaji yang masih setia dengan keterdiamannya.


"At? Lo masih idup 'kan?" tanya Manisha sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Atmaji. Atmaji tersadar, ia menatap jahil ke arah Manisha. Manisha jadi merinding sendiri.


"Lo kenapa?" ucap Manisha bingung. Sekaligus curiga.


"Baru gue yang berhasil bikin Lo ketawa, 'kan? Baru gue 'kan, Sha?" Atmaji menampilkan raut wajah bangga.

__ADS_1


Melihat tingkat kepedean Atmaji yang akut, Manisha hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia memilih pergi saja daripada menanggapi Atmaji yang menurut nya mulai menjadi gila!


Atmaji yang ditinggalkan terkekeh bangga. Ia menepuk-nepuk dadanya, masih mengikuti Manisha yang mulai memutar kembali bola matanya dengan kesal.


.


.


.


"Ini kayaknya keren, At. Ini aja."


Atmaji menghela nafas untuk kesekian kalinya. Atmaji ingin bertanya kepada pembaca, di cerita ini siapa yang berniat membeli komik? Atmaji 'kan? Jadi kenapa Manisha yang sibuk memilih judul komiknya? Atmaji jadi bingung sendiri.


"Sha?" panggilnya. Namun masih tidak digubris Manisha.


"Sha?" panggilnya lagi. Kali ini ia sambil memegang tangan Manisha yang siap untuk mengambil komik lagi dari rak. Manisha berbalik. "iya? Kenapa? Udah cukup?" tanyanya bingung.


Atmaji langsung menampilkan raut datarnya. Ia menyerahkan seluruh komik yang dipegangnya ke tangan Manisha. Manisha kaget sendiri.


"Justru itu, Sha. Yang beli komik 'kan gue, kenapa Elo yang milih judulnya," ucap Atmaji kesal. Manisha langsung tersadar, ia terkekeh pelan.


"Maaf, abis sampul komiknya menarik," jelas Manisha tersenyum geli. Atmaji memutar kedua bola matanya.


"Lo taruh balik, ya? Gue mau ke edisi Naruto." Tanpa ba-bi-bu lagi, Atmaji langsung meninggal Manisha yang ternganga di tempat. Manisha menatap pilu sepuluh buku komik yang ada di tangannya. Untuk mendapatkan mereka saja, ia dan Atmaji harus keliling, nah sekarang ia harus mengembalikan mereka ke tempatnya, yang benar saja! Manisha tidak mau.


Manisha menatap sekelilingnya. Ia tersenyum aneh, dengan gesit langsung di letakanya sepuluh komik itu dalam satu rak. Ia berucap lega dalam hatinya. 'Maafin gue, ya komik-komik beda genre. Gue enggak bisa antar kalian ke keluarga kalian.'


"Loh, udah semua?" Atmaji mengernyitkan kening saat melihat Manisha kini sudah kembali berdiri di sampingnya. Ia menatap Manisha curiga. Sedangkan Manisha berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Lo asal selipin, ya?" tanya Atmaji telak. Manisha kembali berdeham. "enggak, kok," elaknya.


"Lo gue aduin, nih."

__ADS_1


Manisha membulatkan matanya saat melihat Atmaji sudah berlari ke arah kasir sambil membawa dua komik Naruto edisi terbaru. Bisa gawat kalau Atmaji mengadu! Dengan panik Manisha berusaha mengejar Atmaji. Awas Lo Atmaji!


Manisha berdiri kaku saat sadar ia terlambat mengejar Atmaji. Saat ini pria itu sudah berada di depan meja kasir, membayar komiknya dan keluar dari sana.


Sialan! maki Manisha dalam hati saat sadar Atmaji sedang mengerjainya. Ia pun bergegas menyusul Atmaji keluar.


"Burik, emang Lo! Dasar enggak ada akhlak!" ucapnya ketus ketika sudah berjalan di samping Atmaji masih dengan nafas yang terengah-engah sebab berlari.


Atmaji terkekeh bebas. Ia menatap Manisha dengan raut wajah kemenangan. Sedangkan Manisha menampilkan wajah kesalnya yang sudah memerah dan siap untuk meledak.


Atmaji berhenti tertawa saat melihat bendera perang mulai berkibar di kepala Manisha. Tidak bisa dilanjutkan, ucapnya dalam hati.


"Yaudah, gue minta maaf. Gue 'kan iseng doang," jelasnya serius. Ia mengalihkan tatapannya ke arah Manisha yang masih setia dengan kebungkaman nya.


"Sha, maaf, ya? Gue serius loh, besok enggak lagi deh..." bujuknya dengan raut wajah menyesal. Biasa bahaya jika Manisha marah padanya, hidupnya akan hambar.


"Sha, please..."ucapnya lagi. Manisha menghela nafas. Ia mengangguk.


Atmaji yang merasa senang karena Manisha memaafkan dirinya tiba-tiba memeluk gadis itu. Ia baru sadar saat merasakan tubuh Manisha menegang. Bergegas Atmaji menjauh.


"Maaf," ucapnya tak enak sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Manisha menelan ludahnya susah payah. Ia menormalkan ekspresinya.


"Iya, enggak apa-apa."


"Lo udah jumpa komiknya, 'kan?" tanya Manisha tiba-tiba. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Jelas-jelas Atmaji sudah membeli komiknya. Namun--


"U--udah." Atmaji tetap menjawab pertanyaan Manisha. Ia juga bingung ingin bicara apa, sebab suasana di antara mereka tiba-tiba berubah menjadi canggung.


"Yaudah, kita pulang, ya?" tanya Manisha, lalu berjalan duluan di depan.


Atmaji yang ditinggal merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Ia menyesal kenapa tadi malah kelepasan memeluk gadis itu, dan berakhir dengan suasana canggung yang terasa aneh. Biasanya tidak pernah ada suasana ini di antara mereka berdua. Atmaji menyesal. Benar-benar menyesal!

__ADS_1


+TBC


Tinggalkan vote, kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. ๐Ÿ˜Š


__ADS_2