
Seandainya yang gue pikirin itu benar, maka semuanya akan sampai pada kata selesai. Kejutan yang luar biasa.
🍃🍃🍃
Raga berdecak kesal di bangkunya selepas dibuat malu oleh Bu Antartika di depan. Pembahasan yang dibawa-bawa Bu Tika berhasil menyulut kobaran api dari dadanya. Siapa juga yang tidak marah jika dibandingkan-bandingkan dengan saudara sendiri. Raga memang tidak pintar seperti Bayu, namun ia juga berhak untuk dipuji. Dia ahli cinta, kok!
Kelas masih hening. Semenjak Bu Tika meninggalkan kelas. Wajah Raga yang dingin berhasil membuat kelas ikut-ikutan membeku. Murid-murid di kelas Dua Belas IPS Satu memang takut dengan Raga, apalagi setelah insiden yang terjadi antara Raga dengan idola SMA sebelumnya, Atmaji Sutardiningrat.
Saat ini yang masih santai-santai saja dan terkesan tidak peduli pada ekspresi Raga adalah Atmaji. Ia masih santai di bangkunya. Sedangkan Bayu, laki-laki itu masih berusaha mengontrol rasa bahagianya sebab Raga terkena karma. Adik rasa tetangga! Senang melihat orang susah, susah melihat orang senang. Itulah Bayu! Sempurna bukan?
Atmaji tidak berhenti menatap lurus ke kursi Manisha. Ia merasa heran kenapa gadis itu tidak masuk hari ini. Perlahan ia bangkit dan berjalan ke kursi Sia.
"Manisha kemana?" tanyanya dengan penasaran. Sia mengehela nafasnya kesal. Manisha lagi Manisha lagi! rutuknya dalam hati.
"Di UKS." Singkat, padat dan jelas. Sia kembali menyalin penjelasan Bu Tika yang tertulis di papan tulis ke bukunya. Sedangkan Atmaji dilanda rasa bingung, ia beralih ke kursi sahabat Manisha yang satunya, Lea.
"Le, kenapa Manisha ada di UKS?" tanyanya lagi pada Lea yang sempat membatu sebentar, namun kembali normal saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Atmaji.
"Oh, dia sakit halangan. Jadi istirahat di UKS sebentar," jelasnya santai. Walaupun sebenarnya terselip sedikit kecemburuan dihatinya. Namun, Lea sadar kalau Manisha tidak suka Atmaji. Jadi Lea bisa tenang, 'kan?
Anggukan paham dari Atmaji mengusaikan percakapan mereka. Atmaji kembali ke tempat duduknya. Ia memutuskan menjenguk Manisha nanti saja saat jam istirahat.
.
.
.
"Eh, cunguk! Terus kenapa kamu pakek inisial-inisial gitu pas kirim note ke aku? Sok misterius tau!"
Orang diseberang sana terkekeh kencang. Manisha menjauhkan ponselnya dari daun telinga saat mendengar suara tawa Rian. Bisa budek Manisha lama-lama!
"Biar keren dong... kek adegan-adegan di novel-novel romantis itu. Kan mantap ya gak?"
Manisha geleng-geleng kepala mendengar alasan Rian. Ia memijit pelipisnya, masih belum sepenuhnya percaya jika pengirim note itu adalah Rian.
"Kok kamu bisa kirim kesini note nya? Padahal kan kita beda sekolah." Manisha tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia semakin ingin tahu lebih jauh.
"Rahasia negara. Kalau aku kasih tahu bisa-bisa dipenjara nanti"
__ADS_1
Alasan yang enggak masuk akal, pikir Manisha seraya memutar bola matanya kesal.
"Terus dapat nomor aku darimana?" tanyanya lagi sebab tidak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaan sebelumnya.
"Dari mama Ratih...." Manisha mengernyitkan kening dalam. Ia terdiam
"Ingat foto yang aku kasih kamu waktu itu? Nah aku dapatnya pas kejadian itu. Itu Om mu, ya?"
Manisha semakin mengernyitkan keningnya, Om? Manisha tidak punya Om yang wajahnya seperti itu. Sudah jelas itu bukan Om nya.
"Bukan" jawab Manisha singkat.
"Loh, kalau bukan Om mu, berarti siapa? Kata mama Ratih sih, itu Om mu. Aku percaya aja. Nah, abis itu baru aku minta nomormu sama Mama Ratih."
Manisha terdiam. Ia mulai berpikir buruk tentang mamanya. Untuk apa Ratih berbohong pada Rian? Pikirnya aneh.
"... Sha, masih idup, 'kan?"
Manisha sudah tidak lagi mendengar ocehan Rian di sebelah sana. Ia bahkan langsung menutup telepon itu begitu saja. Pikiranya mulai bekerja.
Apa mamanya selingkuh? Tidak! Ratih tidak mungkin melakukan hal itu, yang Manisha tahu, orangtuanya sangat harmonis di rumah. Bahkan tak kenal tempat sikap cinta mereka selalu ditujukan bahkan walau Manisha juga berada di sana. Seolah-olah dunia milik mereka berdua!
Manisha kembali mengingat tentang kecelakaan beruntun yang berhasil menewaskan mamanya. Hari itu tepat setelah mamanya bertemu dengan Rian. Tepat saat mamanya bertemu juga dengan pria asing yang kata Rian disebut Ratih sebagai Om nya Manisha. Mengapa Manisha tahu? Sebab di foto yang dikirim Rian terdapat tanggal dan bulan yang sama dimana tewasnya seorang Ana Ratih Elevanova.
Manisha turun dari brangkar. Ia harus pulang. Ia harus mencari jawabannya dengan bertanya. Ia berpikir jika Andra juga ada sangkut pautnya dengan semua ini. Dengan kematian Ratih dan dengan sikap kejam tiba-tiba yang dilakukan papa kesayangan nya itu padanya.
.
.
.
Tangan kanan Manisha ditahan seseorang begitu keluar dari UKS. Yang menahannya adalah Atmaji dengan satu tentengan plastik putih yang berada di genggaman nya.
Manisha menyentak tangan Atmaji begitu saja. Ia langsung berlari meninggalkan sekolah. Dalam hati ia meminta maaf karena bersikap begitu pada sahabat SMA lamanya. Namun Manisha terpaksa, ia harus menemukan sebuah jawaban. Sebelum semuanya semakin merumit.
Atmaji memerhatikan tanganya yang ditepis Manisha. Wajahnya sedih, apa lagi kesalahan dirinya yang membuat Manisha marah? Sebab setahunya, ia tidak salah apa-apa pada gadis itu.
Sementara Lea dan Sia yang baru sampai ke depan UKS menghentikan langkahnya saat melihat Atmaji menunduk dalam di sana. Lea berjalan mendekat.
__ADS_1
"Lo... kenapa?" tanya Lea penasaran. Atmaji mendongkak.
"Manisha baru aja pergi. Dia enggak ada di dalam." Selepas mengatakan hal itu, Atmaji langsung pergi dari sana. Sedangkan Lea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kekecewaan mulai terbentuk di hatinya. Ia sudah tahu situasi. Pasti Manisha meninggalkan Atmaji, karena itu Atmaji menjadi sedih, 'kan?
Tiba-tiba Raga datang dengan wajah dinginnya dan langsung menerobos masuk ke dalam. Ia bahkan mengabaikan Lea dan Sia yang melongo di depan ruang UKS, sebab merasa ajaib dengan apa yang baru saja dilakukan Raga. Apa laki-laki itu pikir mereka hantu? Sehingga tidak terlihat!
Belum juga mereka siap dengan ekspresi nya. Raga keluar dari dalam. Manatap tajam ke arah Sia dan Lea yang bingung ditatap seperti itu.
"Kenapa?" tanya Lea heran.
Raga diam. Wajahnya semakin datar saja.
"Ke--kenapa, Raga?" kali ini suara Sia yang keluar.
Raga tetap diam. Ia menatap Sia dan Lea bergantian.
"Dimana Manisha!" gertaknya tiba-tiba membuat dua manusia berjenis kelamin perempuan itu kaget dan melongo.
Apa Raga PMS? Apa Raga sedang geger otak? Tolong siapapun buat Raga agar normal kembali. Itu yang diucapkan Sia setelah berperang dengan pikiranya mengenai penyebab Raga marah-marah tidak jelas.
Tak kunjung mendapat respon, Raga langsung pergi dari sana diikuti Bayu dibelakang. Ia mengabaikan dua manusia yang sempat menjadi wadah penampung kemarahannya. Kali ini Raga meminta maaf dalam hati untuk mereka, sungguh ia tidak bermaksud begitu.
Sementara Sia dan Lea yang ditinggal hanya menatap aneh satu sama lain. Lalu geleng-geleng tidak percaya.
"Manisha ada di dalam 'kan?"
Suara seorang laki-laki yang mencari Manisha berhasil membuat Sia dan Lea menoleh. Mereka memejamkan matanya sejenak.
"Bodo amat!" teriak mereka lalu langsung pergi dari sana.
Laki-laki itu Vian. Gantian ia yang melongo. Vian berdecak kesal, giginya bergemeletuk.
"Semua cewek yang ada di sekolah ini keturunan macan. Bisa mati muda gue kalo lama-lama sekolah disini. Besok gue harus pindah!" gerutunya kesal. Vian rasa, jika manusia punya tanduk dan asap, mungkin saat ini kepalanya sudah punya tanduk runcing, dan telinga beserta hidungnya sudah siap mengeluarkan asap pekat.
Ini semua gara-gara Bayu!
Dasar arwah enggak ada otak!
Vian pergi dari sana, sebelum gantian nanti orang lain yang akan menjadi santapan kemarahannya. Bisa gila ia lama-lama!
__ADS_1
+TBC
Tunggalkan vote, kritik dan saran di Kolom komentar. Terima kasih.😊