Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 18. Arus Kehidupan


__ADS_3

Nyatanya yang dulu hidupnya seperti seorang ratu pun, bisa berbalik menjadi babu. Kadang hidup bisa selelucon itu.


🍃🍃🍃


"Papa!" Manisha berteriak saat melihat Andra membawa seorang wanita masuk ke dalam rumah. Wanita itu berpakaian seksi, bahkan belahan dada nya pun sudah terlihat. Manisha menatap sengit wanita itu, yang dibalas dengan senyuman miring.


"Papa dari mana? Kenapa bawa dia kemari?" Manisha menatap dalam ke arah Andra dengan suara bergetar. Andra berekspresi datar, ia maju selangkah, lalu--


Plak!


"Jangan ikut campur urusan saya!" gertaknya dengan lantang. Ia berbalik meninggalkan Manisha yang tercengang di tempat. Air mata Manisha mulai berjatuhan satu persatu, ia memegang pipinya yang panas. Matanya tak lepas dari Andra dan wanita asing yang sedang menaiki tangga ke lantai dua.


Sakit. Itu yang dirasakan olehnya. Dulu, sekalipun tak pernah Andra memukul wajahnya. Bahkan tangan kekar itu selalu mengusap manja rambutnya. Namun, sekarang semuanya berbanding terbalik, sejak kejadian itu... Andra tidak pernah lagi bersikap seperti seorang Ayah.


Manisha berjongkok. Ia memeluk erat lututnya. Terisak sendirian disana.


Bibi Reta, pembantu rumah hanya menghela nafas melihat nona rumah  menangis. Ia memang baru dipekerjakan disini sejak nyonya besar meninggal. Ia tidak menyangka, jika terlalu banyak drama yang berjalan di dalam rumah ini. Reta prihatin dengan nasib putri semata wayang di keluarga Elevanova.


.


.


.


Manisha merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya yang tertempel banyak stiker Pikachu ukuran kecil.


"Mama, Nisha rindu. Papa udah berubah. Papa bukan lagi papanya Nisha."


Tes-tes-tes!


Air mata Manisha kembali mengalir mengingat perlakuan papanya selama ini. Ia masih tidak percaya dengar perubahan drastis yang terjadi pada papanya. Manisha masih berharap, jika yang dilaluinya saat ini hanyalah mimpi belaka. Manisha masih berharap ketika nanti ia bangun dari tidurnya, ia akan melihat mama dan papanya di ruang makan sedang menunggunya sarapan, Manisha masih berharap... banyak sekali. Namun, Manisha akhirnya harus sadar, jika yang ia lalui saat ini adalah nyata. Benar-benar nyata. Dan... Manisha harus terima itu.


Manisha menghela nafasnya kasar. Ia bangkit lalu duduk di sudut kamar sembari memeluk kedua lututnya. Ia menangis sendirian di kamarnya yang gelap, ditemani cahaya petir yang tembus dari kaca jendela.

__ADS_1


Ting!


Manisha mengangkat wajahnya saat mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia menyeret dirinya ke sana, meraih benda pipih itu dengan mata bengkak dan isakan tertahan.


Manisha, jangan sedih. Ada aku. Aku selalu ada buat kamu. Tolong bersabar sedikit lagi, aku akan muncul jika sudah waktunya.


-SA. You


Manisha mengernyitkan keningnya dalam. Ia masih heran sampai sekarang, sebenarnya siapa itu SA.You.


Darimana penggemar rahasianya itu tahu jika Manisha sedang sedih? Manisha memegang tengkuknya. Matanya mulai melihat kesana kemari, barangkali terdapat kamera tersembunyi di kamarnya.


Tanpa berniat meletakkan balasan, Manisha langsung berjalan ke arah kasur dan langsung berbaring.


Ting!


Baru saja ia akan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, satu notifikasi kembali muncul.


Jangan takut. Aku baik, Manisha. Jangan periksa kamarmu, tidak ada apa-apa disana.


Manisha membelalakkan matanya. Ia semakin takut. Darimana orang itu tahu Manisha memeriksa sudut kamarnya?  Manisha langsung meletakkan ponselnya ke atas nakas. Menarik selimut dan memaksakan diri untuk tidur.


Sementara di sudut kamar seseorang tengah memperhatikan Manisha intens. Raut wajahnya sedih. Ia ingin merengkuh gadis itu, namun ia tahu tidak bisa. Sosok itu kemudian duduk di tempat Manisha tadi menumpahkan air mata, ia duduk bersila. Matanya tidak putus menatap ke arah Manisha yang tubuhnya tertutup selimut. Ia rindu gadis itu, ia rindu Manisha. Ia ingin semuanya cepat usai. Ia ingin....


"Manisha... tolong bersabar... aku mencintaimu."


Jika tadi Manisha yang menangis tersedu-sedu. Kini gantian, sosok itu yang tengah menangis dengan pilu. Tidak ada siapapun yang bisa mendengar, tidak bahkan cicak di dinding sekalipun.


Sosok itu menangis bersamaan dengan derasnya hujan di luar. Seolah-olah alam juga ikut bersedih akan takdirnya  yang sekejam ini. Takdir dimana ia harus berpisah dengan paksa hanya karena dorongan  dari seseorang. Sosok itu tidak mau menerima, tetapi ia juga tidak bisa menolak. Sebab, hutang harus dibayar pelunasan. Dan penghianatan harus dibayar karma.


Sosok itu Bayu, ia merindukan kekasihnya begitu besar. Ia sangat ingin merengkuh gadis yang tadi terisak berpeluk kesendirian. Ia sangat ingin mengatakan tidak apa-apa semua akan baik-baik saja pada gadis itu, namun jangankan melakukanya, gadisnya saja tidak bisa melihatnya. Bukan buta, namun memang yang namanya arwah tidak bisa di lihat oleh siapapun, kecuali indigo.


Bayu sakit. Ia memegang dadanya yang sesak. Ia merasa tidak berguna. Seharusnya ia yang menjadi penenang di saat Manisha sedang hancur-hancurnya. Seharusnya ia yang menjadi obat saat Manisha sudah merasa sekarat.

__ADS_1


Seharusnya ia, bukan orang lain....


Bayu tahu, jika selama ini hidup Manisha layaknya roda, jika dulu ia berada di atas, maka kini ia berada di bawah. Mungkin sudah menjadi tanah yang dipijaki roda itu, bukan roda lagi. Manisha benar-benar kacau. Dan Bayu... ikut merasa hancur juga.


"Manisha... maafin aku..." ucapnya lirih. Ia masih setia dengan tangisannya yang pilu.


.


.


.


Manisha yang belum tidur tiba-tiba merasakan sesak. Ia ingin kembali menangis. Ia merasa jika orang yang dicarinya selama ini sedang bersamanya. Namun sontak saja Manisha menggeleng. Sebab, jika ia berpikir Bayu sedang berada bersama dengannya di kamar ini, maka itu artinya Bayu... sudah mati. Tidak! Manisha bahkan tidak mau berpikir sampai kesana! Tidak!


Manisha menyingkap selimutnya. Ia duduk, lalu memegang tempat hatinya berada. Rasanya benar-benar sesak.


"Bayu... kamu dimana? Semoga kamu baik-baik aja, ya? Cepat pulang, Bayu... aku rindu...." Manisha berucap lirih. Ia kembali menangis, namun tanpa suara.


Bayu yang sempat berhenti menangis karena Manisha bangun tiba-tiba, kembali menangis saat mendengar Manisha bicara begitu, Bayu semakin terisak kuat.


"Aku juga rindu kamu, Nisha... hiks-hiks-hiks...."


Bayu memukul-mukul dadanya sesak. Ia harus segera menyelesaikan ini semua. Ia harus segera merebut semuanya kembali. Ia harus!


Demi Manisha...


Ya! Demi gadis yang dicintainya.


🍃


NB : Ada banyak hal yang tidak bisa di tolak di dunia ini. Ada banyak hal yang bisa tiba-tiba terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, persiapkanlah diri dalam menghadapi apapun nanti yang bisa muncul kapan saja. Entah kau mau atau tidak, jika itu sudah ditakdirkan maka akan terjadi juga. Kau harus terima itu, sekalipun menyakitkan. Sekalipun hal itu nanti bisa membunuhmu layaknya kejutan.


🍃

__ADS_1


+TBC


Tinggalkan kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih :)


__ADS_2