Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 19. Atmaji Pradana Sutardiningrat


__ADS_3

Semua akan baik-baik aja. Itu yang orang lain sering bilang, 'kan?


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Kring!


Bel masuk baru saja berbunyi. Puluhan murid SMA Dwiyana Muda Bangsa yang tadinya berkumpul di lapangan basket untuk menonton Klub Lion yang sedang bermain lantas berhamburan kembali ke kelas masing-masing. Termasuk Manisha dan salah satu sahabatnya, Sia.


"Sha, keripik kentang gue ketinggalan. Ambilin please...." Manisha memutar kedua bola matanya saat mendengar Sia mengoceh tentang keripik kentang yang ketinggalan. Manisha langsung berbalik, ia memutuskan mengambil keripik kentang itu. Mubazir jika tidak diambil, pikirnya.


Memang, sejak beberapa minggu belakangan ini, Manisha semakin menghargai makanan. Apalagi semenjak Andra sudah mulai membatasi makanan yang harus ia makan di rumah. Bahkan kulkas saja hanya boleh diisi mi instan dan telur. Kalau Bi Reta meletakkan makanan lain, maka ia harus siap di pecat. Sebab, saat ini Andra sudah memasang cctv di setiap ruangan. Jadi gerak Manisha pun sudah terbatas.


"Kamu!" Jantung Manisha berdetak sangat cepat ketika mendengar suara yang dikenalinya. Manisha menatap malang ke arah keripik kentang yang ada di kursi, padahal baru saja tangannya hampir berhasil meraih makanan itu. Manisha berbalik.


Kumis hitam, kulit sawo matang, perut buncit. Khas sekali guru BIMPEN. Dan pastinya ciri-ciri kejam selalu melekat pada guru itu. Jangan lupakan juga rol kayu yang senantiasa menjadi senjatanya memukul tangan atau bokong murid yang melawan padanya. Ah, satu lagi, gunting hitam yang siap menggunduli kepala yang tidak mau potong rambut.


"Pak Trisno... halo?" Manisha menyapa dengan canggung. Ia menggaruk tengkuknya.


"Apa senyum-senyum, kamu!" Nyatanya senyum maut Manisha tidak mempan menaklukkan hati keras Pak Trisno. Ia malah menatap sangar ke arah Manisha, bahkan kumis tebalnya juga ikut bergoyang.


Manisha berjalan lunglai ke arah bendera merah putih setelah melihat mata Pak Trisno menyuruhnya untuk melakukan kewajiban siswa yang melanggar peraturan, apalagi tidak langsung masuk kelas setelah bel berbunyi.


Manisha langsung mengangkat tangannya, memberi hormat pada bendera kemerdekaan.


Penampilan Manisha saat ini benar-benar kacau, dengan rok menggembung sebab mengantongi keripik kentang, lalu peluh yang terus menerus menetes dari dahinya, sebab tidak tahan berjemur di bawah terik matahari yang menyengat.


Sabar....


Dua menit lagi...


Satu menit lagi....


Bruk!


Nyatanya jika Manisha sabar, tubuhnya tidak bisa sabar. Manisha ambruk setelah dua jam berdiri. Bukan karena fisiknya tidak kuat, hanya saja ia tadi pagi tidak sarapan, sebab persediaan telur dan mie sudah habis.


Pak Trisno yang melihat muridnya pingsan, bergegas berlari ke arah lapangan. Meninggalkan kopinya di atas kursi taman sekolah.

__ADS_1


Ia menggaruk kepalanya setelah tidak bisa menggendong muridnya. Bukan karena Manisha berat, namun fisik Pak Trisno memang sudah tidak kuat lagi. Ia sudah berkepala enam. Cucunya pun sudah banyak.


Tiba-tiba ditengah kebingungan besar yang melanda Pak Trisno, seorang murid laki-laki datang. Menawarkan diri untuk membantu menggendong Manisha. Langsung saja di iyakan oleh Pak Trisno. Lagipula kasihan Manisha yang sudah tiduran di tanah sejak dua puluh menit yang lalu.


.


.


.


Manisha mengerjab-ngerjabkan matanya. Berusaha memahami sekelilingnya yang terasa memberat. Samar-samar Manisha dapat mendengar suara kedua sahabatnya yang tengah berdebat.


"Gara-gara Lo, sih! Kenapa nyuruh Manisha coba!" Itu suara Lea. Ia marah, sebab hanya karena keripik kentang Sia, Manisha harus dihukum dan sekarang malah pingsan.


"Iya, maaf. Gue 'kan enggak tahu kalau Pak Trisno bakalan muncul." Suara Sia. Ia menjawab dengan raut penyesalan.


Manisha memegang kepalanya. Ia merintis. Hal ini membuat kedua sahabatnya yang tengah berdebat itu langsung menatap ke arahnya.


"Akhirnya, Sha. Elo udah sadar. Masih sakit?" Sia membantu Manisha untuk duduk.


"Nih, Sha. Minum dulu." Lea menyodorkan segelas air putih pada Manisha, yang langsung di terima dan di minum kandas oleh Manisha.


Lea geleng-geleng kepala. Di dalam hati ia berucap, Manisha sedang sakit saja saat tersenyum manisnya tidak ketulungan, apalagi ketika sadar, pantas saja banyak yang suka Manisha. Apalagi didukung dengan wajah cantiknya juga. Komplit sudah, idaman pria.


"Yuk, balik ke kelas."


Manisha berusaha bangkit dari brangkar UKS. Namun ditahan oleh Lea.


"Lo yakin udah sehat?" tanya Lea dengan wajah ragu. Namun, Manisha dengan mantap menjawab jika ia sudah sehat. Mau tidak mau, Lea akhirnya memilih membawa Manisha kembali ke kelas. Tentu saja diikuti Sia dibelakang yang masih menatap Manisha dengan raut wajah bersalah. Padahal Manisha tidak mempermasalahkannya sama sekali.


"Tadi yang bawa gue ke UKS siapa?" tanya Manisha penasaran.


Lea menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu siapa yang mengangkat Manisha ke UKS.


"Enggak tahu, tadi kami di panggil Pak Trisno, disuruh langsung ke UKS," jelas Lea pelan.


Manisha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin di bantu guru BIMPEN lainya. Seperti Bu Zivi mungkin.... Manisha hanya bisa menebak-nebak siapa orangnya.

__ADS_1


Sesampainya di kelas, Manisha mengucapkan salam dan masuk ke dalam kelas. Namun, Manisha mengernyitkan kening saat melihat seseorang duduk di kursinya.


"Lo siapa? Kenapa duduk di kursi gue?" tanyanya sambil menunjuk ke arah seorang anak laki-laki yang memakai kacamata bulat dengan lensa tebal.ย  Laki-laki itu meletakkan pena nya di atas meja. Ia melihat seseorang yang berjalan di belakang Manisha.


"Nisha, dia Atmaji. Murid pindahan dari SMA Nusa. Dulu, dia memang murid SMA ini, namun pindah. Dan kursi yang kamu duduki itu memang kursinya dia." Penjelasan Bu Wirda membuat Manisha kesal. Bagaimana mungkin orang yang sudah pindah tetap memiliki kursi?


"Tapi 'kan, Bu, ini kursi Nisha. Mana boleh di balikin gitu aja. Walaupun dia juga murid disini dulu, tetap aja kursi ini sudah jadi hak Manisha." Manisha mengajukan protes terhadap Bu Wirda. Mana mau dia menerima begitu saja. Apalagi ini menyangkut kursi, Manisha paling pantang pindah jika sudah nyaman!


Buk Wirda tampak menghela nafas kasar, ia menepuk bahu Manisha. "Manisha, dia anak donatur sekolah ini. Lagian dia juga pernah sekolah satu SMA dengan kamu kok, waktu kelas sepuluh di SMA Sabang. Jadi kamu terima aja, ya? Cari kursi lain aja. Ibu harap kamu mengerti, Manisha."


Manisha menggeleng-geleng tidak percaya dengan penjelasan Ibu Wirda. Hanya karena anak donatur, bisa-bisanya memperlakukan murid secara berbeda. Mana boleh seperti itu! Manisha juga bayar SPP kok.


Lea dan Sia juga tampak kesal melihat Manisha di perlakukan seperti itu. Mereka menatap tajam Atmaji yang masih duduk anteng di kursinya. Tidak bergerak dan tidak mau mencoba menjelaskan.


Lea berdecak. "Yaudah, Sha. Mending Lo ngalah aja deh. Lagipula disini enggak ada laki. Kalo memang ada, seharusnya dia yang ngalah."


Sindiran halus Lea tepat mengenai jantung Atmaji. Ia menatap Lea kesal. Seperti kucing yang siap menyerbu tikus untuk dijadikan santapan.


Manisha mengangguk setuju. Ia berjalan ke arah kursi paling belakang, sebab hanya kursi itu yang kosong. Apa boleh buat, pikirnya.


"Sha, kamu duduk di kursi saya saja. Biar saya yang disana." Suara Raga yang tiba-tiba menawarkan kursi pada Manisha membuat seluruh orang di kelas itu kaget.


Manisha yang terkejut karena tawaran tiba-tiba itu mengalihkan pandangannya ke arah Sia yang tengah menunduk dalam. Nisha menggeleng pelan, ia tidak boleh jadi orang jahat. Apalagi membuat Sia sedih, ucapnya dalam hati.


"Enggak usah, Ga." Raga hanya mengangkat bahu ketika mendengar tawaranya di tolak. Sementara Sia yang mendengar Manisha menolak tawaran Raga, kembali mengangkat kepalanya. Ia tersenyum.


"Sia, Lo bawa tisu basah, 'kan?" tanya Manisha. Syukurlah, ucapnya dalam hati sebab melihat Sia sudah berekspresi normal kembali.


Sia mengangguk. Lalu menyodorkan tisu basah pada Manisha.


"Sini gue bantu," tawar Lea sembari meraih beberapa tisu basah dan langsung membantu Manisha mengelap meja dan kursi yang sedikit berdebu. Melihat Lea yang membantu Manisha, membuat Sia ikut memilih membantu juga.


Kegiatan mereka tidak luput dari perhatian anak baru, Atmaji Pradana Sutardi ningrat. Ia tersenyum miring, lalu kembali menulis di buku coklatnya. Sedangkan Buk Wirda sudah duduk di mejanya, memeriksa beberapa tugas muridnya yang belum selesai. Ia mengabaikan Manisha dan sahabatnya yang sedang membersihkan meja.


Raga mendengus di kursinya. Ia ingat belum selesai membaca Novel Wanita Senja yang Menunggu Senja. Ia ingin cepat-cepat keluar sekarang. Toh, pelajaran yang diajarkan Ibu Wirda sama sekali tidak bisa membuat ia mengerti sedikitpun. Percuma, pikirnya. Ia tidak sepintar Bayu.


Nyatanya Raga tetaplah Raga. Penyuka novel cinta yang kalau kata Manisha sih, terjebak dalam drama fiksinya. Raga... Raga....

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalkan vote kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca ๐Ÿ˜Š.


__ADS_2