Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 5. Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Biasakan Like sebelum baca๐Ÿ‚


.


.


.


Kadang jika ingin baikan, kamu harus menghilang.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


"Itu... itu ambil yang warnanya putih."


Manisha menyeka peluh yang keluar dari dahinya. Matanya menatap sendu bunga teratai putih yang ada di atas kolam. Kalau tahu pak Atlas akan membawanya ke kolam khusus sekolah dan menghukumnya begini, ia tidak akan merusak bunga padma air itu.


"Manisha, kamu ngapain? Cepat ambil bunganya, dayung ke sana." Atlas kembali memerintah Manisha untuk mengambil bunga teratai putih di tengah kolam.


"Iya, pak. Sabar." Manisha tersenyum manis ke arah pak Atlas. Ia kembali mendayung sampan nya.


Atlas memerhatikan Manisha yang mulai memasukan tanganya ke dalam air, kemudian mengambil bunganya. Atlas tersenyum ketika Manisha meletakkan bunga itu ke dalam ember.


"Oke, kayaknya ini sudah banyak. Kita bisa kembali ke sekolah sekarang."


'Memang udah banyak kali, udah satu ember gitu. Enggak ada perasaan jadi guru!'


Manisha menghela nafasnya, ia mulai mendayung sampan agar menepi.


Atlas turun dari sampan sembari membawa ember berisi bunga teratai. Sebelum melangkah lebih jauh ia berbalik, Manisha yang ada di belakang nya pun berhenti berjalan.


"Ada apa, pak?"


Manisha menggaruk tengkuknya. Takut kalau ada hukuman lain yang harus dia terima.


"Jangan diulangi lagi ya, tapi kalau kamu mau ulangi, boleh juga. Saya jadi tidak capek untuk mengganti warna teratai setiap hari."


"I-iya pak..." Manisha gugup. "tidak akan saya ulangi lagi" lanjutnya.


Atlas menghela nafasnya. "Bagus."


Atlas kembali memimpin jalan. Sedangkan Manisha yang berjalan di belakang bertekat di dalam hatinya tidak akan mau mengulanginya lagi, padahal kalau dipikir-pikir, ia pasti akan mengulanginya lagi, mengingat setiap kesal selalu pergi ke kolam dan pasti ada saja sesuatu disana yang musnah karena jari nakal Manisha.


***


"Dari mana Lo?"


Sia menyenggol lengan Manisha yang baru saja duduk disampingnya.


"Dihukum."


Singkat, padat, jelas. Manisha menelungkupkan wajahnya di atas meja. Ia merasa lelah.


"Dihukum? Lo ada buat salah?"

__ADS_1


Lagi-lagi Lea menanyakan hal yang sudah pasti dia tahu jawabannya. Oh doraemon, kenapa ia bisa memiliki teman sebasi ini!


Manisha memilih mengabaikan pertanyaan bodoh sahabatnya, yang saat ini dibutuhkan nya adalah istirahat. Pak Atlas benar-benar kejam, sampai hati pak Atlas menyuruh ia ke kolam jam istirahat. Ia sekarang sangat kelaparan.


"Kenapa dia?"


Manisha dapat mendengar samar-samar suara sahabatnya yang satu lagi, Lea. Sebelum akhirnya benar-benar hilang saat ia masuk ke alam mimpi.


***


Kring.....


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, beberapa siswa langsung mengambil tas nya untuk pulang. Tersisa tiga remaja yang masih duduk di kursinya. Satunya tidur, dua orang lagi menatap yang tidur.


"Woy oneng, bangun."


Lea menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya yang masih tidur sampai sekarang. Padahal dua jam sudah berlalu, namun Nisha belum bangun-bangun juga.


"Dia mati kali!"


Sia berucap ketus. Merasa kesal sebab usaha mereka sedari tadi tidak bisa membangunkan si kebo Manisha.


"Hush! Mulut Lo!" Lea berdecak.


Lea menjentikkan jari saat tahu cara apa kali ini yang harus dia lakukan untuk membangunkan Manisha. Ia percaya dengan cara ini, Manisha akan bangun!


"****... Bayu dateng woy! Bayu bawa makanan buat Lo!"


Ajaib. Teriakan Lea kali ini membangunkan Manisha. Manisha menyeka iler yang mengalir di sudut bibirnya. Dua sahabatnya yang melihat itu mendegus jijik.


Manisha berniat tidur lagi, namun tertahan saat Lea berteriak bahwa bel pulang sudah berbunyi dan sekolah sudah sepi.


Manisha menyengir tak berdosa. "Maaf."


"Bodo ah, gue pulang duluan. Kesel gue sama kebo asia."


Dia berjalan keluar kelas, ia kesal akut, gara-gara Manisha, ia sudah ditinggal orangtuanya pergi ke kebun binatang bersama kedua adik kembarnya.


"Woy, mau kemana Lo? enggak jadi nebeng?" Lea berteriak saat siluet Sia menghilang di balik pintu. Namun siluet itu muncul kembali dan tersenyum.


"Makanya ayok, cepetan."


Sia menggerutu di depan pintu kelas.


Lea jadi heran sendiri, siapa yang nebeng siapa yang dimarahi.


"Gue duluan, ya. Lo jangan tidur lagi, diculik baru tahu rasa."


Lea langsung pergi dari hadapan Manisha. Ia harus cepat, sebab keledai yang di luar sudah menunggu.


"Dah"


Manisha melambaikan tangannya yang dibalas senyuman manis oleh Lea.

__ADS_1


"Huh, mending gue pulang juga, deh"


Manisha memakai tas nya. Ia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat. Ternyata sekolahnya horor juga kalau sedang sepi.


Di ujung koridor sekolah, berdiri seorang remaja pria berseragam SMA. Ia memperhatikan seorang gadis yang berjalan di lorong sekolah dengan lekat. Raut wajah pria itu tampak sedih.


"Maafin gue Manisha, gue tahu gue salah."


Remaja itu pergi dari sana. Bukan untuk pulang. Namun ia pergi ke belakang sekolah. Ia ingin ke kolam.


Bunyi kecipak air terdengar seram saat remaja laki-laki itu melempar batu-baru kerikil kedalam kolam. Pikiranya kosong, tubuhnya limbung tiba-tiba. Remaja itu pingsan.


***


"Manisha pulang, bunda"


Manisha meletakkan sepatunya di rak sepatu samping pintu.


Ia berjalan keruang makan. Mengambil gelas dan minum air putih.


"Baru pulang?" Tanya Ana saat melihat anaknya di meja makan. "Iya, Bun."


"Manisha ke atas dulu"


Ana mengernyit melihat anaknya tumben seperti ini sudah 3 hari berturut-turut. Biasanya Nisha akan duduk dulu di meja makan untuk makan, baru setelah itu naik ke atas dan ganti baju. Apa ada masalah disekolah?


Manisha merebahkan tubuhnya di kasur. Hari ini dia benar-benar lelah. Sudah melihat Bayu boncengan dengan Salsa, ditambah lagi hukuman dari pak Atlas.


Manisha kembali mengingat saat dirinya dicegat Salsa di depan gerbang sekolah.


Flashback.


"Nish, berhenti!"


Manisha menghiraukan panggilan itu, ia tetap melanjutkan langkahnya.


"Nish, dengarin dulu penjelasan aku."


Manisha akhirnya mengehentikan langkahnya, ia berbalik. Wajahnya melihat benci ke arah Salsa.


"Apa?" Manisha bertanya ketus.


Salsa menghela nafasnya sejenak, kemudian melanjutkan, "apa yang Lo lihat selama ini salah. Gue enggak ada hubungan apa-apa sama Bayu. Bayu cuman bercanda."


Cih! Penjelasan apa itu. Bahkan orang lain juga akan tahu kalau mereka itu selingkuh. Mana ada bercanda tapi mesra-mesraan seperti orang pacaran.


Manisha tersenyum kecut. Tanpa mengucapkan apa-apa ia langsung pergi dari sana.


Manisha menghela nafasnya. Mau seperti apa pun penjelasan mereka, Manisha tidak akan pernah percaya. Manisha lebih percaya dengan apa yang dilihatnya ketimbang mendengar kata-kata yang bisa saja sebuah kebohongan.


Manisha tidak menyadari, bahwa sejak cerita mereka dimulai, akan ada badai besar yang bisa saja mencoba menghancurkan hubunganya dengan Bayu. Badai itu bisa kapan saja datang. Mereka tidak bisa mengetahui jika badai itu sudah memutuskan untuk datang dan menghancurkan segalanya.


Yang mereka perlu untuk saat ini adalah bertahan. Jika tidak, leburlah mereka.

__ADS_1


**TBC++


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran. ini akan sangat membantu penulis.๐Ÿ˜Š**


__ADS_2