Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 12. Ada Apa dengan Rumah Bayu (II)


__ADS_3

Bayu, kamu dimana?


☘️☘️☘️


Esoknya, Manisha kembali ke rumah Bayu. Ia masih penasaran kenapa rumah Bayu terasa berbeda. Sebenarnya ada apa dengan rumah itu. Rasanya kalau kesan horor, Manisha masih ragu.


Ting-Tong!


Untuk kali kedua bel rumah kembali berbunyi menggema. Pintu pagar dibuka saat Manisha jongkok untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas.


"Ada apa?" tanya satpam menatap aneh ke arah Manisha. Ia tahu siapa gadis yang ada di hadapannya sekarang.


Manisha berdiri. Ia tersenyum kaku. "Bayu nya ada?" tanyanya dengan suara kecil. Sedikit takut saat tatapan satpam seakan mengulitinya.


"Den Bayu tidak ada dirumah. Dia sudah pindah ke luar negeri seminggu yang lalu." Satpam itu langsung masuk kembali ke rumah dan mengunci pagar rapat-rapat.


Manisha masih membeku di tempat saat hujan rintik-rintik mulai turun satu persatu. Ia menatap nanar gerbang rumah Bayu yang bewarna hitam pekat. Andai gerbang itu terdapat lubang, Manisha pasti bisa mengintip. Sebenarnya ada apa dengan rumah Bayu, pikirnya aneh.


Manisha berbalik. Sederet kalimat yang dikatakan satpam tentang Bayu yang pindah keluar negeri masih terasa janggal. Bayu sangat menyayangi Manisha, jadi tidak mungkin ia pergi tanpa pamit. Manisha yakin, ada yang disembunyikan.


Hiks-hiks-hiks!


Seyakin-yakinnya Manisha, ia tidak bisa menahan ini semua. Hujan yang semakin deras mengguyur tubuhnya, menyamarkan air asin yang mengalir bebas di pipinya yang chubby.


Manisha terisak tanpa suara, ia bingung dengan ini semua. Sebenarnya dimana Bayu? Dimana kekasihnya itu kini berada. Manisha takut jika ternyata telah terjadi sesuatu terhadap Bayu. Ia takut....


Manisha mendongkak saat empu pemilik sepasang sepatu Levis berdiri di hadapannya. Bola mata Manisha membulat, ia malah menangis semakin kencang.


Grep! Tubuh Manisha direngkuh dengan erat. "Kamu harus baik-baik saja, dia pasti akan segera pulang," ucap pria itu menepuk-nepuk bahunya.


Manisha merasa nyaman di pelukan pria yang lebih tua darinya. Yang memeluknya adalah Athlas. Manisha tidak mengerti darimana gurunya itu tahu jika Manisha berada di rumah Bayu. Namun Manisha bersyukur, ada Athlas. Jujur, Manisha sangat butuh bahu untuk bersandar sekarang.


"Sabar ya, Manisha. Saya tahu kamu sakit. Menangislah...."

__ADS_1


Mendengar Athlas berbicara begitu, Manisha tidak lagi menyembunyikan tangisnya.


***


Raga menatap intens dua sosok yang berpelukan di bawah hujan tepat di depan rumahnya. Walau saat ini ia sedang berada di lantai dua, pemandangan itu tampak jelas. Raga melihat payung yang berada di tangan kirinya dengan datar. Dikembalikan nya payung itu ketempat awal, toh tidak di perlukan lagi.


"Kamu beruntung, Bayu," ucapnya pelan. Ditutupnya gorden jendela lalu berbalik dan berjalan ke kamarnya.


***


Hujan sudah berhenti lima menit yang lalu. Saat ini Manisha beserta guru olahraganya sedang duduk di kafe seberang jalan, dekat simpang lima. Kafe tampak ramai dengan aksen ruangan bergaya klasik. Cukup menarik perhatian pengunjung. Jika selepas hujan-hujanan dan tubuh basah kuyup semuanya, kopi bisa menjadi solusi untuk menghangatkan tubuh.


Manisha menyeka hidungnya yang terasa mempet. Ia menyesali sudah menangis di bawah hujan deras. Ditambah lagi di pelukan gurunya, komplit sudah malunya. 


Manisha menatap Athlas yang tengah menyesap kopi hitam untuk yang ketiga kali. Sejak lima belas menit yang lalu mereka duduk, gurunya sama sekali belum mengeluarkan suara. Manisha pun malu untuk angkat suara duluan, jadi suasana akhirnya menjadi canggung.


Manisha ikut mengambil cangkir kopi nya. Disesapnya pelan-pelan. Ia meletakkan kembali cangkirnya saat guru olahraganya berdeham.


"Ada apa, Pak?" tanyanya penasaran seraya tersenyum kaku.


"Kamu sudah lebih baik?" Athlas menatap anak murid yang menjadi pujaan hatinya itu dengan khawatir.


Manisha mengernyitkan kening. Ia menggaruk tengkuknya. "Aa-- sudah, Pak. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya" jawab Manisha tersenyum tulus.


Athlas mengangguk. "Apa kamu sangat mencintainya, Manisha?"


Pertanyaan Athlas membuat Manisha tersedak kopi nya sendiri. Ia menatap aneh gurunya. Memang apa urusannya perasaan cinta yang Manisha miliki untuk Bayu dengan gurunya. Mengapa Atlas sangat penasaran dengan hal itu.


"Sangat, Pak." Manisha menjawab singkat. Ia tahu ada makna tersembunyi dibalik pertanyaan Athlas. Manisha hanya ingin menegaskan jika ia akan tetap mencintai Bayu, dan sekalipun Bayu tidak kembali nanti, hanya ada nama Bayu. Manisha yakin, Bayu akan kembali.


Athlas terdiam. Tersadar dengan penegasan Manisha akan perasaan nya. Athlas menghela nafas, ia tahu ia sama sekali tidak punya kesempatan. Lagi pula, selain umur mereka terpaut jauh, Athlas harus sadar bahwa ada batasan antara murid dengan gurunya. Oleh sebab itu, saat ini dan di detik ini, Athlas menyerah. Ia tidak akan mengganggu Manisha lagi.


Athlas tahu, melupakan orang yang tidak bisa dimiliki itu lebih sulit. Namun, ia yakin bisa. Athlas ingin mengubah jalur, ia akan membuat Manisha menjadi adik yang harus ia jaga. Athlas tahu, Manisha anak tunggal, jadi Athlas dengan senang hati akan menjaga Manisha seperti adiknya dahulu. Tentu saja tanpa sepengetahuan Manisha.

__ADS_1


"Hujannya sudah reda. Mau pulang?" Athlas mengalihkan pandangannya dari jendela kafe. Ia menatap Manisha yang masih bergelut dengan cangkirnya yang masih sisa setengah.


Manisha mengangguk. Ia meletakkan cangkirnya ke atas meja. Mengambil tisu dan mengelap bibirnya. "Boleh, Pak."


Athlas bangkit dari duduknya. Ia meletakkan selembar uang seratus ribuan di bawah kotak tisu. Lalu berjalan keluar kafe diikuti Manisha.


"Kamu pulang dengan saya?" tawarnya pada Manisha.


"Aa-- enggak usah, Pak. Saya pulang sendiri aja. Terima kasih sebelumnya, Pak" tolak Manisha seraya membungkuk.   Ia tersenyum lalu berbalik meninggalkan gurunya di depan kafe. Ia harus pulang sekarang.


Athlas menatap punggung Manisha yang mulai menjauh. Ia tersenyum lega, setidaknya Manisha tidak menganggapnya aneh seperti sebelumnya. Sebab, Athlas merasa sedikit sakit saat Manisha menatapnya seperti itu.


Athlas memasuki mobilnya lalu membelah jalanan. Ia harus cepat pulang untuk memeriksa jawaban kuis olahraga yang belum sempat diperiksa nya tadi di sekolah.


.


.


.


"Assalamualaikum, Ma." Manisha memasuki rumah setelah meletakkan sepatunya di rak sepatu di sudut pintu.


Manisha melangkahkan kakinya ke dapur, berharap menemukan mama nya disana. Namun yang ia temukan hanya sticky note yang tertempel di pintu kulkas.


Sayang, mama harus pergi beberapa hari ke luar. Klinik Tante Diandra sedang bermasalah, mereka kekurangan dokter. Jadi mama ke  sana untuk membantu sampai mereka menemukan dokter baru. Mama harap kamu mengerti. Jaga kesehatan, oke?


Manisha menghela nafasnya. Beberapa hari mungkin akan menjadi beberapa bulan. Dulu mama nya juga pernah seperti itu. Bedanya waktu itu mamanya membantu klinik temanya, dan sekarang klinik Tante Diandra, adik kandung mamanya. Jadi kemungkinan akan lama lebih besar. Namun, Manisha paham. Tugas seorang dokter memang padat.


Manisha mengambil air dingin di kulkas. Meneguknya hingga tandas. Ia kembali merenung. 'Kamu di mana, Bayu?' batinya kesekian kali.


Manisha tidak tahu. Ternyata kehilangan yang lebih menyakitkan adalah perginya seseorang saat sedang sayang-sayangnya.


+TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak berupa kritik dan saran, sebab akan mampu membantu penulis untuk menulis lebih baik kedepannya.


__ADS_2