Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 28. Sabar adalah Kewajiban


__ADS_3

Sabar adalah pilihan terbaik. Luka yang datang dari keluarga lebih buruk daripada luka yang diberikan oleh orang lain. Namun, percayalah. Semua akan segera baik-baik saja.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


"Assalamualaikum, Bi."


Manisha berjalan pelan ke arah dapur sebab tidak kunjung mendapatkan balasan dari Bi Reta. Pembantu rumah mereka. Kosong, itu yang dilihat Nisha begitu menginjakkan kakinya tepat di pintu dapur.


"Bibi kemana, ya?" gumam Nisha. Ia memutuskan langsung ke kamarnya saja. Ia butuh istirahat dari kerumitan hidup yang kerap kali menghantuinya. Nisha lelah dan bingung.


Nisha merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lima menit setelahnya ia mulai tenggelam ke alam mimpi.


.


.


.


"Raga!"


Raga berhenti di undakan tangga ke tiga saat suara Anita yang sarat akan emosi memanggil namanya.


Raga berbalik.


Plak!


Raga terkejut. Tentu saja. Bagaimanapun, tidak pernah sekalipun wanita yang melahirkan dirinya itu memukul atau bahkan menampar, walaupun pada saat itu Anita sedang dalam mode sangat marah. Tetapi sekarang, Anita dengan bebas melayangkan tangannya ke wajah Raga.


Raga menatap tajam bundanya.


"Maksud Bunda apa?" tanya Raga, ia masih bingung dengan amarah tiba-tiba yang dilayangkan Anita padanya.


Anita melepas baju dokternya. Ia membuang baju itu ke atas sofa. Untuk kali kedua, tangannya kembali menampar Raga.


Plak!


Kali ini tamparan itu berhasil merobek sudut bibir Raga. Bibir Raga berdarah. Raga meringis pelan, ia mengusap darah itu dengan tangan kanannya. Raga tersenyum kecut. Ditatapnya Anita yang masih menampilkan wajah murka padanya.


"Apa?" tanya Raga ketus. Ia tahu apa yang akan ditanya bundanya kali ini. Siapa lagi kalau bukan Bayu, anak kedua keluarga Dwipaga.

__ADS_1


"Dimana Bayu?!" gertak Anita seraya menunjuk Raga dengan jari tangannya.


Raga berdecih. "Bukan urusan saya!"


Hati Raga sakit. Ia marah dan sedih bersamaan. Raga memilih berbalik, berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Mengabaikan Anita yang masih menatapnya dengan tatapan membunuh.


Raga melihat Bayu di undakan terakhir. Adiknya itu menatapnya sedih. Namun Raga membalasnya dengan tersenyum. Walaupun setelah berhasil melewat Bayu, air matanya mulai menetes satu persatu. Rasanya sangat sakit, ucap Raga dalam hati lalu membuka pintu kamarnya.


Klik!


Raga mengunci pintu dari dalam. Lukanya semakin parah, sedangkan penawar dari luka itu belum berhasil ia temukan sampai sekarang. Penawar luka Raga adalah Sandra. Namun, entah dimana sudah gadis itu berada.


Raga menangis. Merutuki takdir yang berbeda jauh dengan kembarannya. Mengapa takdirnya bisa seburuk ini? Apa salahnya. Raga tahu seharusnya semuanya sudah selesai sejak ia mati di luar negeri. Raga tahu itu. Namun, Raga tidak bisa pergi begitu saja tanpa memberi tahu teman masa kecilnya jika ia sudah meninggal. Raga tidak bisa. Raga sangat menyayangi Sandra.


Tanpa diketahui Raga, ada Bayu yang berdiri di balik pintu. Bayu enggan menerobos masuk ke dalam, sebab ia tahu jika Raga butuh privasi. Dan Bayu tidak bisa mengabaikan hal itu, sekalipun ia bisa masuk melalui dinding.


"Maafin Bayu, bang... maaf..." ucap Bayu lirih. Ia benar-benar merasa bersalah sekarang. Ia ingin menghibur Raga, namun ia tahu ia tidak bisa. Sebab obat Raga hanya terdapat pada satu orang. Dan orang itu adalah Sandra Tissa Alemanus, sahabat masa kecil sekaligus kekasih Raga.


.


.


.


Belum lama Manisha tertidur, suara pintu kamar yang di dobrak paksa membuat Manisha terbangun dari tidurnya. Matanya membulat saat melihat pintu kamarnya sudah terbaring pasrah di lantai. Kusenya sudah lepas.


"Ada apa, Pa?" Manisha berjalan mundur ke sudut kamarnya saat melihat dalang perusakan pintu kamarnya adalah Andra, ayahnya sendiri.


Andra berjalan ke arah Manisha yang ketakutan. Dengan cekatan diambilnya tali pinggang yang di kenakanya. Ia menatap tajam ke arah anaknya itu yang tampak gemetar dan ketakutan di sudut sana.


Andra tersenyum kecut.


Ctar!


Pukulan pertama berhasil membuat Manisha gemetar sempurna. Namun ia masih bisa mengelak, cambukan itu berhasil mengenai dinding di samping kanan Manisha.


Ctar!


Kali ini Manisha tidak bisa menghindar, wajahnya yang mulus terkena cambukan itu. Perih, itu yang dirasakannya. Manisha memegang pipi sebelah kiri sambil menangis.

__ADS_1


Ctar!


Nyatanya tangisan Manisha tak mampu membuat Andra berhenti mencambuknya. Cambukan itu tepat mengenai lengan Manisha yang berusaha keras melindungi wajahnya dari tali pinggang itu.


Manisha terisak kuat. Ia sempat melihat sebuah bayangan di balik tembok samping pintu. Itu bayangan Bibi, Manisha tahu. Namun Manisha lebih tahu lagi jika Bibi tidak bisa menolongnya walaupun ingin.


"Cukup, Papa..." lirih Manisha menatap Andra dengan mata yang sudah basah oleh air mata.


Andra terdiam. Seolah ada yang berkecamuk di pikiranya saat melihat anaknya menangis. Namun hatinya yang seperti batu menolak untuk mengerti. Ia mencintai Ratih. Sangat-sangat mencintainya, kepergian istrinya yang tiba-tiba itu sungguh membuatnya tidak terima.


Andra menolak untuk mengerti. Ia berbalik pergi dari kamar Manisha. Masih dengan wajah dinginnya. Masih dengan hati kerasnya. Andra tidak tahu, apa ia bisa berhenti atau tidak. Yang jelas, sulit untuk memaafkan Manisha. Andra memilih menjadi buta dan tuli saat Manisha berusaha menjelaskan. Walaupun sebenarnya Andra tahu, bahwa kematian Ratih bukan salah anak semata wayangnya.


Manisha menatap kepergian papanya dengan linangan air mata yang semakin deras. Untuk pertama kali Andra mencambuknya. Manisha masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja di alaminya. Manisha menunduk bersamaan dengan masuknya Bibi ke kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Seolah ikut merasakan kesakitan yang dialami oleh nona mudanya.


Grep!


Tubuh Manisha direngkuh kuat. Membuat Manisha semakin erat membalas pelukan bibi. Andai saja bibi tidak ada, Manisha tidak tahu lagi harus mengadu pada siapa. Manisha sendirian di sini.


Manisha meringis saat Bi Reta berusaha melihat luka yang diciptakan papanya pada wajahnya. Tangisan Reta semakin kuat saat melihat luka itu. Ia membawa Manisha ke kasur, mengambil kotak P3K yang ada di laci meja lalu kembali ke tempat Manisha. Masih dengan tangisnya, Reta berusaha mengobati luka itu pelan-pelan. Kasihan anak ini, batinya sedih.


"Makasih ya, Bi."


Reta mengangguk pelan. Ia masih tidak tega melihat luka yang dibalut perban itu. Pasti sakit, batinya.


"Enggak apa-apa, Bi. Nisha baik-baik aja kok." Manisha berusaha mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Lagipula luka nya sudah berkurang rasa perihnya sebab sudah diberi salep oleh Reta tadi.


"Bibi jangan nangis lagi. Nisha jadi ikut sedih, Bi." Manisha menghapus air mata bibinya dengan tangan kanannya. Ia kembali memeluk Reta yang mulai mereda.


"Non yang sabar, ya?" ucap Reta pelan. Menepuk-nepuk bahu nona nya dengan tangan kanan.


Manisha hanya merespon dengan mengangguk. Ia pasti harus sabar. Kelak, papanya pasti akan sadar jika semua yang dilakukanya pada Manisha adalah salah. Manisha hanya perlu sabar saja, dan menunggu kapan waktu itu akan datang. Manisha berharap secepatnya. Sebab, Manisha merasa dirinya sudah tidak kuat lagi. Terlalu berat menjalaninya sendirian.


Kalaupun waktu yang ditunggunya lama, ia berharap ada Bayu. Seorang Bayu Alvano Dwipaga. Ia ingin pria itu nanti yang menjadi penguatnya menghadapi semuanya.


'Semoga masalah ini cepat selesai, Bayu...' batinya lirih. Manisha kembali menitikkan air matanya. Ia menangis tanpa suara.


+TBC


Tinggalkan vote, kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2