
...Kejutan itu boleh-boleh aja. Tapi pertimbangan juga perlu. Sebab, jika salah menjatuhkan pilihan, bukan hanya mengejutkan tetapi dapat berubah menjadi mematikan....
...🌺🌺🌺...
Kenan mengusap air matanya. Ditatapnya Raga dengan wajah penuh rasa bersalah. "Penculikan" ucapnya pelan lalu menunduk dalam. Sedangkan Raga, semakin kuat mengepalkan tangannya. Penculikan? Raga berdecih, tidak habis pikir dengan 'kejutan' yang dimaksud Kenan. Kenan kira kejutan seperti itu main-main?!
"Ceritakan semuanya sama saya dengan detail... tanpa.hilang.satu.kata.pun!" gertak Raga pelan penuh penekanan. Ia mendesis marah.
Kenan meneguk ludahnya kasar. Pasalnya raut wajah dan aura yang ditampilkan Raga terasa begitu mencekam. Seakan-akan siap untuk mengulitinya. Namun ia tidak boleh goyah, ia harus menceritakan semuanya jika ingin tenang.
"Sampai mana Bi Sumi cerita sama Lo tentang Sandra?" tanya Kenan pelan. Bagaimanapun ia harus tahu sampai mana Raga sudah mendengar semuanya. Jadi Kenan tinggal menceritakan sisanya saja.
"Sandra terbunuh preman." Tegas, ketus dan penuh penekanan. Raga mengucapkan hal itu dengan amarah yang mulai mencapai derajat panasnya.
"Gue akan kasih tahu alasan kenapa Sandra bisa meninggal karena preman. Tetapi gue harap, setelah lo dengar cerita ini, tolong jangan benci Sandra. Kalau mengenai Lo benci gue atau enggak, itu enggak masalah sama sekali."
Kenan menghela nafasnya dalam. Diceritakannya masa kelam itu dengan jantung berpacu layaknya hentakan kuda.
Kenan memiringkan wajahnya saat melewati kalender yang tertempel di dinding saat akan ke dapur. Ia tersenyum miring ketika menyadari jika besok adalah hari ulang tahun Sandra, adik kesayangannya. Terbesit ide jahil di kepalanya. Ia akan mengerjai Sandra dengan teknik permanen.
'Maafin Abang adik kesayangan' batin Kenan lalu berlari kencang menaiki lantai dua. Ia harus menyusun matang-matang rencana kejutan untuk Sandra.
.
.
.
23 Desember 2016
"Sand! Sand! Tolong abang, Sand!"
Kenan meredam suaranya dengan telapak tangan. Seolah-olah ia benar-benar diculik, pasalnya... saat ini Kenan sedang berusaha mati-matian untuk menipu adiknya agar percaya.
Bruak! Satu kursi di gudang bawah tanah rumahnya sengaja ia banting. Sempurna, pekiknya girang saat mendengar suara teriakan panik dari ponsel yang ia genggam.
"Sand... tolong abang... abang diculik..." lirihnya dengan suara pelan penuh kesakitan yang di buat-buat.
"Abang!! Abang dimana?! Sebut tempatnya biar Sandra kesana! Abang baik-baik aja 'kan?!"
Kenan tersenyum bangga begitu mendengar suara panik dari adik manisnya itu, Sandra. Kenan tahu seperti apa raut wajah Sandra sekarang, pasti sangat lucu. Kenan tak mampu membayangkan nya.
__ADS_1
Kenan berdeham saat suara Sandra kembali terdengar. Lalu mendekatkan ponsel ke arah wajahnya.
"Abang diculik... tolongin abang.... ab--"
Bip!
Sial! Bolehkan Kenan memaki ponselnya yang mati mendadak seperti sekarang?! Please, ia belum selesai dengan kalimatnya! Kenan mengacak-acak rambutnya, salahnya juga yang lupa mencharge handphone setelah bermain game tadi malam.
Kenan memutuskan keluar dari ruang bawah tanah untuk mencharger ponselnya dikamar. Kenan harap, Sandra tidak ada disana, sebab bisa gagal total rencananya jika Sandra memergoki dirinya dan menyadari jika ia ditipu oleh abangnya sendiri.
Klek!
Kenan mengeluarkan kepalanya dari dalam pintu ruang bawah tanah. Sepi. Itu yang ia lihat. Tidak ada Bi Sumi ataupun Sandra disana. Kenan langsung naik.
"Ponsel burik! Mati enggak bilang-bilang!" decaknya kesal setengah mati.
"Untung aja enggak ada Sandra!" omelnya sambil terus berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.
"Mana badan gue gatel-gatel lagi nih, pasti kena ulat bulu pas ngambil kursi tua di ruang bawah tanah tadi, ckckck begini amat hidup gue!"
.
.
.
"Kayaknya udah penuh. 69 %, lumayan lah."
Kenan mencopot kabel charger dan langsung menghidupkannya. Bola matanya membulat saat melihat 29 panggilan tidak terjawab dan 6 pesan dari adik manisnya.
Netra Kenan beralih menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 09:03. Itu artinya ia berendam di kamar mandi sudah lebih dari tiga puluh menit. Belum lagi ganti baju dan gaya-gaya di depan kaca. Kenapa ia bisa melupakan hal ini? Padahal ia sedang mengerjai adiknya dengan kejutan yang bukan biasa! Bodoh! Maki Kenan dalam hati.
Bang, Abang dimana?
Bang, Abang diculik preman gang itu ya?
Bang, please jawab Sandra, Abang dimana? Sandra takut Abang kenapa-kenapa.
Bang? Plisss!!! Abang pasti diculik preman gang itu kan? Iya kan? Sandra yakin pasti iya. Sandra udah telepon polisi untuk kesana, polisi nyuruh Sandra dirumah aja, tapi Sandra enggak bisa bang.
Sandra susul! Abang sabar, ya?
__ADS_1
Bang, Sandra udah disini, abang pasti di dalam, ya? Di dalam rumah box kayu itu? Sandra takut bang... tapi Sandra lebih takut Abang kenapa-kenapa. Badan mereka besar-besar semua.
...
Pias. Wajah Kenan memucat sempurna saat melihat pesan ke enam dari Sandra. Apa Sandra benar-benar ada disana? Jantung Kenan seakan berhenti memompa. Tubuhnya dingin, kebodohan apa lagi yang sedang ia buat sekarang?!
Brak!
Kenan berlari dari kamarnya setelah menutup pintu dengan kencang sangking paniknya. Ia menuruni tangga satu persatu sambil menghubungi nomor Sandra.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan... cobalah bebera--'
Sial!
Kenan terus memaki dirinya sendiri dalam hati saat untuk yang kesekian kali panggilan darinya tidak diangkat oleh Sandra. Kenan panik tidak terkira sekarang! Bagaimana jika Sandra memang ada disana? Bagaimana jika Sandra di apa-apakan oleh kelompok preman gang itu. Bagaimana jika-- tidak! Kenan tidak dapat membayangkan nya. Kenan harus menjemput Sandra segera!
Tepat saat langkah Kenan berada di depan pintu utama, bel rumahnya berbunyi.
Klek!
Dua orang polisi bertubuh kekar menyambut Kenan begitu pintu itu dibuka. Bukan, ternyata ada Bi Sumi juga berdiri di samping polisi dengan wajah berurai air mata. Kenan menyipitkan matanya melihat mereka.
"Ada apa ya, Pak?" tanyanya curiga. Pelipisnya mulai berkeringat. Pasalnya ia teringat pesan dari Sandra yang sudah menelepon polisi dan kubu preman gang terus terlintas di pikirannya. Jangan-jangan--!
"Sebelumnya anda siapa?" tanya salah satu polisi itu pada Kenan.
"Saya Kenan, Pak." Kenan menjawab sopan.
Kernyitan bingung yang muncul di dahi kedua polisi itu membuat Kenan paham. Pasti ini memang benar polisi yang di telpon Sandra.
"Baik, Pak Kenan. Sebelumnya anda dilaporkan menjadi korban penculikan pada pihak kepolisian oleh saudara Sandra, beliau mengatakan jika yang menculik adalah sekelompok preman gang yang berada tidak jauh dari rumah anda. Namun kenapa anda ada disini sekarang?" tanya polisi itu lagi.
Kenan meneguk ludahnya kasar. Ia harus jawab apa? Prank? Konyol!
"Ah, saya memang diculik, pak. Namun saya berhasil keluar dari sana setelah memberikan tebusan berupa cek senilai sepuluh juta. Memang benar yang menculik saya adalah komplotan preman gang itu, Pak, mereka ingin merampok saya. Tetapi saya tidak di apa-apakan oleh mereka, jadi saya memilih memaafkan mereka saja. Jadi masalah ini bisa dilupakan saja, Pak? Mereka berjanji tidak akan melakukannya lagi pada saya." Kenan berusaha menjelaskan tanpa terbata-bata. Walaupun dalam hati saat ini ia sedang menertawakan dirinya sendiri yang sangat sial hari ini.
Polisi itu tampak menatap penuh curiga ke arah Kenan. Bagaimana mungkin sang korban mudah sekali memaafkan? Ia tidak bisa percaya dengan penjelasan pemuda yang ada di hadapanya. Namun, polisi itu hanya menghela nafas berat.
"Begini, Pak. Atas insiden ini, adik anda, Sandra..." Polisi itu terdiam sebentar, sedangkan Kenan yang mendengar nama Sandra di sebut langsung membolakan matanya, terkejut. "meninggal dunia. Dugaan kami, kepalanya di pukul besi oleh mereka. Sebab, ada satu linggis yang berada tepat di sebelah korban dengan darah menggenang yang mengalir di linggis itu. Ada bekas cetakan telapak tangan juga."
Sederet kalimat penjelasan polisi mengenai adiknya yang katanya--meninggal, berhasil membuat jantung Kenan berhenti mendadak. Sekitarnya seakan memburam. Tubuhnya terhuyung-huyung tak menentu, sebelum akhirnya rubuh dengan teriakan Bi Sumi yang panik.
__ADS_1
+TBC
Tinggalkan jejak berupa vote dan komentar ya, terima kasih :).