Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 33. Sebuah Perbaikan


__ADS_3

Pak Athlas itu kayak jelangkung. Dua hari muncul, dua bulan ilang, satu hari muncul satu hari ilang. Tolong ya, Pak, jangan datang gak diundang... soalnya saya enggak bisa ngantar kalo bapak minta pulang.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Hari ini Manisha tidak ke sekolah. Tentu saja hal ini membuat Atmaji, yang notabene sahabat Manisha panik. Apalagi usai kejadian kemarin dimana Manisha menepis tangannya. Atmaji takut, jika ternyata gadis itu menghindarinya.


"Le, kamu yakin belum dapat kabar Manisha sama sekali?" tanya Atmaji untuk kesekian kalinya pada gadis cantik berambut sebahu, Lea. Atmaji melihat Lea dengan ekspresi panik begitu kembali mendapat jawaban berupa 'gelengan kepala.'


"Sama sekali?" tanyanya lagi. Dan mendapat respon yang sama. Pasalnya Lea, sahabat karib Manisha itu memang sudah mencoba menelpon, chat, SMS namun sama sekali tidak mendapat jawaban dari empu yang dicarinya. Alias Manisha Elevanova.


"Gue mau kerumahnya nanti, kalo Lo mau ikut--" belum juga gadis cantik itu selesai dengan kalimatnya, sudah dipotong oleh Atmaji dengan anggukan antusias. Membuat sang pemilik kata-kata hanya bisa menghela nafas pasrah. Di dalam hati ia menguatkan, jika tidak boleh cemburu saat situasinya begini. Nanti saja kalau Atmaji benar-benar berpacaran dengan sahabatnya, barulah ia marah dan tidak mau lagi berteman dengan Manisha.


Lea mengusir halus Atmaji dengan ekor matanya. Atmaji langsung saja pergi dari kursi gadis itu dengan perasaan lumayan lega, mungkin. Setidaknya ia akan tahu kabar Manisha nanti sewaktu pulang sekolah.


Tok-tok!


Ketukan pelan di pintu kelas mau tak mau membuat murid yang stay di kelas itu menoleh seluruhnya. Memerhatikan seorang cowok ber-name tag Alfa Dwi Chandra yang masuk ke kelas sambil menenteng setumpuk kertas yang dipastikan adalah nilai ulangan ekonomi mereka lima hari yang lalu. Alfa meletakkan ulangan mereka di atas meja, lantas keluar begitu saja dari kelas itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Klotak-klotak-klotak!


Suara sepatu guru yang paling di takuti di kelas itu pun mulai menggema. Bu Mega, dengan badan tinggi dan berisi itu lantas memasuki kelas dengan santai. Mengabaikan beberapa murid yang sok-sokan rajin alias pura-pura menulis, atau pura-pura membaca buku mata pelajaran yang akan di ajarkanya. Ekonomi.


Mega berdiri tegap di depan. Memegang kertas yang tadi diletakkan Alfa di atas meja. Murid-murid kelas itu menatap Bu Mega layaknya macan yang siap menyantap mereka.


Berbeda dengan Raga dan Atmaji yang santai-santai saja di kursinya. Kalau Atmaji mungkin murid-murid melihatnya biasa saja, sebab laki-laki itu pintar. Berbanding terbalik dengan Raga, ganteng sih. Tapi sayang enggak bisa jawab soal kayak adiknya, Bayu. Semua orang di kelas itu heran, mereka sama-sama ganteng, tapi yang satu otaknya seperti Einstein, namun yang satunya anjlok tidak terkira.


"Yang mendapat nilai tinggi dalam ulangan kali ini adalah Atmaji dan Manisha."


Suara Bu Mega memecah suasana. Masih sepi, sudah biasa seperti ini, memang hanya dua murid itu yang pintar seantero raya.

__ADS_1


"Yang paling anjlok nilainya di kelas ini adalah Raga dan Dedi. Harap jumpai ibu nanti siang untuk perbaikan."


Lepas mengucapkan hal itu, Bu Mega langsung keluar begitu saja dari kelas. Mengabaikan para murid yang mulai heboh dan mengambil kertas-kertas mereka yang berada di atas meja.


Atmaji berjalan santai ke depan, menatap sinis ke arah Raga yang biasa-biasa saja di tempatnya. Tiba-tiba saja wajah Raga berubah kesal, pasalnya adik lakhnat yang berada di sudut kelas itu sedang merdeka sekarang. Menertawai dirinya dengan bebas. Memang sih, Bayu pernah bilang, kalau mau mendapat nilai bagus, biar Bayu saja yang memberitahu jawabanya dan Raga yang menuliskanya pada kertas. Namun Raga menolak, ia juga bisa, katanya keras kepala. Dan hari ini adalah pembuktian dari ucapan Raga itu. Daebak!


Raga berdesis. "Diam kamu!" gertaknya pelan pada Bayu. Raga memberi peringatan, kalau sampai Bayu tidak diam sekarang, maka Raga tidak akan memulangkan tubuhnya. Jahat sih, tapi Raga tidak punya pilihan lain selain ancaman mematikan itu. Dan see? ancaman itu berhasil membuat Bayu menghentikan tawanya dan menatap kesal sekaligus tajam pada saudara kembarnya itu.


Srtt!


Suara kertas yang dilempar asal ke atas mejanya membuat sang empu mendongkak kesal. Mentang-mentang punya nilai tinggi, mau pemer dengan Raga. Raga sih bodoh amat! Setelah melihat nilai nol besar di atas kertasnya, Raga langsung berdiri dan pergi dari sana dengan wajah dinginnya. Mengabaikan Atmaji yang berdecak kesal disana sebab di abaikan.


Sedangkan kedua sahabatnya Manisha tampak senang ketika melihat nilai mereka bagus. Delapan puluh lima, lumayan kan? Setidaknya tidak mengulang.


Tiba-tiba Sia terdiam. Nilai mereka begini juga karena Manisha 'kan? Kalau tidak ada gadis itu yang mencontek kan kertas jawabanya, pasti mereka akan sama seperti Raga dan Dedi yang disuruh menjumpai Bu Mega di kantor.


"Nanti ikut gue ke rumah Manisha, ya?" tawar Lea pada Sia yang langsung menggeleng kuat.


Lea menghela nafasnya. "Lo enggak khawatir sama Manisha?" tanyanya lagi.


Sia terdiam. Bohong kalau dia mengatakan tidak khawatir pada gadis itu. Ia khawatir, namun rasa kesal lebih mendominasi di dalam hatinya.


"Si, cemburu boleh. Gue juga cemburu lihat kedekatan Atmaji dan Manisha, tetapi gue tahu kita sahabat. Dan gue juga tahu kalau Manisha suka Bayu, bukan Atmaji. Jadi apalagi yang perlu gue khawatirin?" jelas Lea singkat. Ia mengusap pelan bahu sahabatnya.


"Tapi ini beda, Le. Raga itu mirip Bayu." Sia menyanggah ucapan Lea. Ia tidak setuju dengan alasan sahabatnya itu.


"Perasaan itu satu, Si. Dan perasaan Manisha itu milik Bayu, di pikiran Manisha juga selalu penuh dengan Bayu. Mereka mungkin memang kembar, tetapi rasa cinta... enggak semudah itu sekalipun mereka memiliki banyak kesamaan. Bayu tetaplah Bayu... dan Raga tetaplah Raga. Dan cinta Manisha tetaplah miliknya Bayu. Bukan seorang Raga, Si."


Pias. Itu wajah yang ditampilkan Sia usai mendengar kalimat panjang dari Lea. Benar apa yang dikatakan Lea. Bayu bukan Raga, begitupun sebaliknya. Jadi, apa alasan Sia cemburu? Lagipula kalaupun Raga memiliki hubungan spesial dengan sahabatnya, itu pasti hanya sebatas abang dan adik. Tidak mungkin lebih.

__ADS_1


Sia meneteskan air matanya. Ia benar-benar bodoh sudah cemburu tidak jelas pada Manisha. Hampir saja persahabatan mereka renggang hanya karena mementingkan perasaan. Sia menyesal, lantas ia memeluk Lea dan terisak pelan disana. Mengabaikan siswa-siswi di kelas itu yang menatap mereka penasaran.


Lea menepuk-nepuk bahu sahabatnya pelan, mau tak mau ia tersenyum. Sebab penjelasan yang ia berikan, ternyata mampu membuat persahabatan mereka kembali pulih seperti semula.


Suara meja yang diketuk pelan membuat Lea menoleh ke sana. Pak Athlas? keningnya mengernyit. Ia melepas pelukannya dengan Sia. Melihat ke arah pak Athlas dengan ekspresi bingung.


"Ada apa, Pak?" tanyanya sopan. Lea berdiri lalu menarik rok SMA nya agar rapi.


Athlas terdiam sebentar. Menatap sekeliling dan matanya terhenti pada satu kursi yang kosong.


"Manisha kemana?" tanyanya kemudian, membuat Lea akhirnya mengerti.


"Oh, Manisha enggak masuk sekarang, Pak. Enggak izin juga, jadi enggak tahu dia kenapa." Lea menjelaskan semuanya. Membuat Pak Athlas mengangguk paham.


Untuk kali kedua, Lea memandang bingung ke arah guru olahraga nya itu. Membuat Athlas menatap aneh ke arah Lea.


"Kenapa kamu natap saya seperti itu?" tanya Pak Athlas heran.


"Bapak kesini cuman buat cari Manisha?" ucap Lea sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Anggukan yang diberikan Athlas sebagai respon membuat Lea paham.


Lea terus menatap punggung pak Athlas yang berbalik pergi dari kelasnya. Ia merasa Athlas itu seperti jelangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar. Tiba-tiba muncul dan tiba-tiba tidak ada kabar. Dan kedatangan guru olahraganya itu pasti selalu dengan tujuan yang sama, mencari seorang Manisha Elevanova.Β  Seolah-olah Manisha yang mengadakan upacara pemanggilan jelangkung itu.


Lea geleng-geleng kepala, lalu kembali duduk. Ia tersenyum sambil berusaha menenangkan Sia yang masih sesenggukan di kursinya.


+TBC


Tinggalkan komentar anda berupa vote kritik dan saran. Terima kasih 😊


Jangan lupa jempol nya dong, biar author semangat nulisnya, πŸ˜”πŸ˜—πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2