
Atmaji bodoh. Seharusnya jangan pernah peluk dia. Dia menjauh, 'kan? Dasar bodoh!
๐๐๐
Sejak kejadian waktu itu. Hubungan Manisha dan Atmaji mulai menjauh. Lebih tepatnya Manisha memilih menjauh.
Saat ini Atmaji sedang duduk di atas motor Vespanya yang terparkir di depan pos satpam. Sebab ini sudah jamnya pulang sekolah. Atmaji menunggu Manisha, ia ingin meluruskan segalanya. Hubungan baik antara ia dan Manisha harus cepat di selesaikan.
Matanya menangkap sosok yang sedang di carinya itu tengah duduk bersama ketiga temanya di bawah pohon damar dekat pagar.ย Atmaji memilih menghampiri kumpulan gadis itu.
"Sha, kita perlu bicara." Atmaji mengucapkannya tanpa basa basi. Mengabaikan tatapan aneh teman-teman Manisha padanya. Berbeda dengan Manisha yang menatapnya jengah.
Atmaji langsung berbalik, ia berjalan menuju aula seni di dekat kelas dua belas MIPA tiga. Tentunya di ekori Manisha yang berdecak malas dibelakang.
"Lo mau ngomong apa, sih? Cepetan, sopir gue bentar lagi jemput." Manisha berucap ketus.
"Sha, kenapa?" tanya Atmaji pelan. Raut wajahnya manampilkan ekspresi sedih.
"Kenapa apanya?" tanya balik Manisha. Pura-pura tidak paham.
"Enggak usah pura-pura gak tahu. Kenapa Lo jauhin gue?" Akhirnya Atmaji menanyakan langsung. Merasa jengah dengan sikap pura-pura Manisha.
Manisha terdiam. Ia menatap intens ke arah Atmaji. "Lo gak suka gue, 'kan?"
Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Manisha membuat Atmaji bungkam. Ia bingung harus jawab apa. Karena jujur, tidak ada pertemanan sehat diantara laki-laki dan perempuan. Pasti ada salah satu diantara dua orang itu yang menyimpan perasaan. Dan situasi itu sedang terjadi diantara mereka sekarang. Atmaji... menyimpan perasaan terhadap Manisha!
"Kenapa diam? enggak 'kan At?" tanya Manisha untuk kedua kalinya. Sikap Atmaji yang kembali terdiam sudah mampu menjelaskan semuanya. Manisha paham.
"Maaf, At. Kita lebih baik enggak berteman lagi. Gue kira enggak akan ada zona Friendzone diantara kita. Tapi ternyata... Gue kecewa sama Lo!" Selepas mengatakan hal itu, Manisha langsung pergi dari sana. Meninggalkan Atmaji yang membeku di tempat.
'Situasi macam apa ini?' pikir Atmaji dalam hati. 'selesai sebelum dimulai?' ucapnya lagi. Atmaji menghela nafasnya kasar!
Sial!
Kali ini, Atmaji tidak tahu harus mengatakan apa lagi! Hancur sudah semuanya!
.
.
.
Esoknya, kabar Atmaji pindah sekolah sampai ditelinga Manisha. Manisha merasa bersalah. Apa ini disebabkan olehnya? Manisha tidak tahu harus mengucapkan apa lagi.
__ADS_1
Hari-hari Manisha dilewati tanpa seorang Atmaji lagi. Bahkan ini sudah semester dua, dan sudah selesai ujian semester akhir. Manisha merasa hidupnya ada yang kurang. Manisha dengar, Atmaji pindah ke Jakarta. Masuk ke SMA Dwiyana Muda Bangsa.
"Sha, tumben Lo uring-uringan?" tanya salah seorang sahabat dekatnya di SMA Dua Belas Sabang. Kiandra.
"Gue keinget Atmaji, Ki." Manisha berucap lirih.
Kiandra geleng-geleng kepala. Merasa takjub juga dengan kebiasaan Manisha yang satu ini!
"Sha, Lo itu kebiasaan, ya? Pas awak-awal aja Lo bilang enggak suka, terus pas di akhir selalu nyesel, aneh tau, nggak?" tutur Kiandra jadi kesal sendiri.
Manisha menopang dagunya lesu. Apa yang dikatakan Kiandra benar. Manisha kebiasaan!
"Mau gimana lagi. Gue emang kayak gini," balas Manisha ketus. Merasa jengkel juga melihat temanya seperti itu.
"Bodo, ah! Mending gue sama Dita dan Lusi. Mau gosip aja, daripada lihat Lo bikin sakit mata. Uring-uringan mulu kek ikan asin!" Kiandra langsung pergi dari sana. Sedangkan Manisha hanya berdecak kesal di tempat duduknya.
"Maafin gue ya Atmaji. Gue terlalu jahat sama Lo," ucapnya lirih.
.
.
.
Manisha masuk kedalam rumahnya dengan santai. Ia langsung duduk di meja makan sambil melihat mama nya yang tengah menggoreng sesuatu.
"Jawab salam itu wajib, loh," ucap Manisha pelan sambil meraih udang goreng yang ada di atas meja.
"Wa'alaikumussalam..." balas mamanya buru-buru, sebelum Manisha mengeluarkan hadis Rasul. Padahal Nabi saja tidak ada memakai hadis, malah ucapan Rasul sendiri yang dijadikan hadis.
"Cuci tangan dulu, Sha! Jangan asal comot kamu ini. Jorok!" tegur Ratih pada anaknya yang masih asik mengunyah udang goreng.
Manisha tersenyum manis. "Iya, Ma," jawabnya, lantas ia berdiri dan berjalan ke arah wastafel, lalu mencuci tangannya di sana. Ratih geleng-geleng kepala melihat anaknya.
Manisha kembali duduk di kursinya. Ia memutar kepalanya saat mendengar pintu utama rumah dibuka. Ia tersenyum saat melihat papanya masuk sambil menenteng satu plastik hitam berukuran sedang.
"Itu apa, Pa?" tanya Manisha setelah Andra duduk di sampingnya. Andra tersenyum, ia menyerahkan plastik itu pada putrinya. Manisha menerima plastik itu dengan kening mengernyit. Namun matanya langsung berbinar saat melihat apa yang ada di dalam plastik. Stiker Pikachu ukuran kecil. Manisha senang sekali!
"Makasih, Pa." Manisha langsung memeluk papanya. Ia sangat senang dengan pemberian papanya itu.
"Ehem!"
Suara deheman membuat sepasang ayah dan anak itu melepas pelukannya. Manisha tersenyum senang ke arah Ratih.
__ADS_1
"Senangnya dapat hadiah dari Papa..." sindir Ratih. "untuk Mama enggak ada nih, Pa?" tanyanya kemudian yang langsung mendapat gelengan dari suaminya itu. Manisha terkekeh melihat cara papa menjawab pertanyaan mamanya. Luar biasa ajaib!
"Bodo, ah! Nanti cari cowok ganteng aja diluar, minta kado."
Andra membulatkan matanya. Menatap tajam ke arah Ratih. Hal ini tidak luput dari pandangan Manisha. Manisha jadi geli sendiri.
"Mama becanda, Pa. Mana berani mama cari cowok ganteng. Orang diluar sana 'kan kalah ganteng sama papa," ucap Manisha pelan. Ia terkekeh di akhir kalimat. Diikuti Ratih dan Andra yang ikut terkekeh juga mendengar kalimat ajaib putri mereka.
"Yaudah kita makan dulu."
Mereka pun makan dengan diam. Tidak ada yang mengeluarkan suara, sebab di keluarga Manisha, pantang makan sambil berbicara dan mengeluarkan decap dari mulut.
.
.
.
"Apa? Pindah, Pa?" tanya Manisha untuk yang kesekian kali. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu. Jarang-jarang mereka bisa berkumpul seperti ini, sebab biasanya Andra akan pulang malam hari sekali, dan baik Manisha atau mamanya pasti sudah tidur.
"Iya. Ke Jakarta. Papa dipindah tugaskan soalnya." Andra berusaha menjelaskan pada anaknya yang masih tidak percaya.
"Kamu keberatan, Sayang?" tanya mamanya sambil mengusap sayang rambutnya. Manisha menggeleng.
"Yaudah, Pa. Manisha mau. Lagian enggak mungkin Manisha tinggal sendiri di sini."
Begitu Manisha selesai menjawab. Andra dan Ratih bernafas lega. Lagipula, bukan tanpa alasan Manisha mau pindah ke Jakarta. Di sana ada Atmaji, Manisha ingin bertemu Atmaji.
Manisha ingin minta maaf!
Ia ingin berteman lagi dengan Atmaji.
.
.
.
Nyatanya, harapan Manisha hanya tinggal harapan. Setelah ia mendaftar sebagai murid kelas sebelas di SMA Dwiyana Muda Bangsa, ia malah tidak bertemu dengan Atmaji. Kata orang-orang, Atmaji sudah pindah ke SMA Nusa. Manisha jadi berpikir sendiri, apa mungkin Atmaji tahu jika ia pindah ke SMA Dwiyana Muda Bangsa karena untuk bertemu dengannya? Oleh sebab itu Atmaji pindah? Atmaji ingin menjauhinya seperti permintaan Manisha? Apa Atmaji sejahat itu?
Manisha menjadi kesal sendiri. Baiklah. Ia akan membantu Atmaji agar bisa samakin jauh dengan dirinya. Dengan cara pura-pura lupa! Benar, Manisha akan pura-pura lupa jika bertemu dengan Atmaji lagi!
+TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan vote kritik dan saran, sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca.๐