
...Manusia tidak sehebat Tuhan untuk mengatur skenario hidupnya. Pada kenyataannya, manusia hanyalah patung, yang diberi nyawa oleh Tuhan agar bisa bermain film di bumi....
...🌺🌺🌺...
Brak!
Pintu salah satu kamar rumah sakit itu di dorong kuat oleh Atmaji. Matanya membola sempurna melihat sesosok gadis pujaannya yang terbaring tak berdaya di atas brangkar rumah sakit, dengan selang penopang kehidupan yang tertempel dimana-mana. Wajah Atmaji pias, ia tidak menyangka jika sahabat yang paling 'bararti' baginya itu yang sedang tidur nyenyak disana. Perlahan tubuh jakung Atmaji berjalan mendekat.
"Sha..." lirihnya. Perlahan air matanya menetes.
"Sha...." Kali ini tangan Atmaji menggenggam erat tangan putih gadis yang bernama Manisha itu. Atmaji duduk di kursi samping brangkar.
"Sha... kenapa lo bisa gini? kenapa, Sha?" tanyanya dengan suara parau. Namun, hanya hening yang menjadi jawaban atas pertanyaan pemuda itu.
"Sha... gue janji enggak akan ganggu lo atau ngerecokin hidup lo lagi kalau lo bangun sekarang. Gue mohon, Sha...."
Atmaji menyeka air mata yang mengalir deras di pipinya yang tirus. Ia menatap penuh kesedihan ke arah Manisha yang masih setia dengan mata terpejamnya dan bibir sepucat kapas.
"Sha... gue mohon..." lirih Atmaji, kali ini ia tanpa izin mengecup pelan punggung tangan gadis itu.
"Apa yang terjadi, Sha? Seharusnya lo cerita ke gue, lo enggak mungkin bunuh diri 'kan, Sha?"
Tepat saat Atmaji mengucapkan kalimat itu, suara isak tangis terdengar dari belakangnya. Lantas Atmaji berbalik, dilihatnya Lea dan Sia yang terisak pelan di depan pintu.
"Ji... Manisha pasti bangun, 'kan?" tanya Lea parau, ia berjalan mendekat ke arah pemuda itu dengan wajah bersimbah air mata. Jangan lupakan juga Sia yang menatap Manisha dengan penuh kesedihan yang mendalam, apalagi ia belum sempat meminta maaf pada sahabatnya akibat sifat kekanak-kanakannya.
Atmaji hanya diam mendengar pertanyaan Lea. Ia tahu, gadis itu tidak membutuhkan jawaban. Atmaji malah mengambil ponselnya dari saku celana sekolah, berniat menelepon Raga.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi....
__ADS_1
Berkali-kali Atmaji menelepon Raga, namun tak kunjung diangkat. Sebenarnya kemana laki-laki itu? Atmaji berdecak kesal.
'Katanya adek kesayangan, kekasih Bayu adek saya juga. Tetapi Manisha yang lagi dirumah sakit sekarang aja lo enggak tahu!' gerutu Atmaji dalam hati.
.
.
.
Sementara di sisi lain, Raga yang sudah mendengar sampai habis cerita dari Kenan, berhasil membuat darahnya naik pada posisi tertinggi. Apa-apaan ini! teriaknya dalam hati, tidak terima dengan apa yang sudah di lakukan Kenan terhadap Sandra.
Kenan hanya menunduk dalam, setia dengan keterdiamannya. Ia tidak masalah jika harus menerima bogeman dari Raga diwajahnya. Lagi pula, ini memang salahnya.
Namun, bukanya merasakan tinjuan itu, Kenan malah melihat Raga yang bangun dar kursinya dan berjalan keluar dari kafe dengan urat leher yang menyembul keluar. Kenan tahu, Raga sedang dalam tahap marah besar. Kenan hanya menatap kosong ke arah pintu kafe yang sudah kembali tertutup. Ia kembali menunduk dalam.
"Semuanya selesai, Sand... Abang udah selesaikan semuanya. Maaf, Sand... semuanya gara-gara Abang," lirih Kenan. Namun terbesit sedikit kelegaan di hatinya, sebab sudah berhasil menyelesaikan semuanya.
Raga berteriak kencang di tepi Danau Biru. Ia menendang kasar rumput hijau yang tumbuh di danau. Perlahan tubuhnya jatuh terduduk disana, menangis keras tanpa suara. Sesak, itu yang ia rasakan sekarang. Bagaimana bisa Sandra bisa pergi secepat itu? Bahkan Sandra pergi lebih dulu ketimbang dirinya.
Sedangkan Bayu yang melihat abangnya terpuruk seperti itu membuat hatinya sakit. Ia tidak menyangka, jika masalah abangnya bisa serumit ini.
Bayu ingin merengkuh tubuh itu, namun ia tahu tidak bisa. Jadi ia hanya terdiam di tempat sambil sesekali menyeka air matanya yang ikut terjatuh. Bagaimanapun juga, perasaan anak kembar itu kuat. Mereka bisa sedih dalam waktu bersamaan.
"Bang... Lo yang sabar, ya..." ucap Bayu sambil berdiri di hadapan abangnya yang masih setia menopang tubuh dengan lutut di tanah rumput basah.
"Yu... hiks-hiks-hiks... kenapa hidup saya seperti ini? Apa salah saya, Bayu? Saya ingin bahagia... apa tidak ada kesempatan buat saya, Bayu..." balas Raga dengan suara parau. Sarat akan kesedihan yang kentara.
"Kenapa semua orang melakukan hal ini pada saya? Kenapa kita berbeda, Bayu... hiks-hiks-hiks... kamu selalu bahagia, sedangkan saya selalu menerima kebalikannya... kenapa, Bayu??" Raga kembali mengucapkan hal itu dengan lirih, Bayu yang mendengarnya merasa amat bersalah.
__ADS_1
'Maafin gue, bang... ini semua salah gue...' lirihnya dalam hati.
"Apa salah saya, Bayu?" tanya Raga lagi. Kali ini ia berdiri, menatap Bayu dengan pandangan mata kosong. Ada sorot kesedihan yang dalam disana. Bayu tahu itu. Namun, Bayu hanya diam. Ia tidak tahu harus apa.
Namun--
"Manusia tidak sehebat Tuhan untuk mengatur skenario hidupnya. Pada kenyataannya, manusia hanyalah patung, yang diberi nyawa oleh Tuhan agar bisa bermain film di bumi." ucapnya kemudian dengan senyuman yang mungkin tidak bisa dilihat oleh Raga.
Raga terkekeh mendengar kalimat yang dikeluarkan Bayu. Ia menatap lepas ke arah langit yang mulai menguning, menandakan jika akan muncul senja disana.
"Kamu benar. Kita adalah patung yang diberi nyawa..." Raga terdiam sebentar, "kamu adalah patung bernyawa yang sengaja diciptakan, sedangkan saya, adalah patung yang diciptakan karena kesalahan." Air mata Raga kembali menetes. Malang sekali hidupnya selama ini.
Sedangkan Bayu yang mendengar ucapan Raga, berhasil membuat matanya membola. "Engga, bang. Lo bukan kesalahan. Lo gak boleh bicara gitu, gak boleh bang..." ucapnya lirih.
Raga kembali terkekeh. "Kamu enggak tahu apa-apa, Bayu. Saya yang menanggungnya, sedangkan kamu tidak sama sekali."
Deg!
Menangung... menanggung....
Wajah Bayu pias, Raga benar. Bayu tidak menanggungnya. Oleh sebab itu ia mudah saja mengatakan kalimat seperti itu pada kembarannya. Sedangkan Raga... harus menanggung sendirian semuanya, yang padahal adalah kesalahan Bayu.
Bayu tidak menjawab lagi kalimat abangnya. Ia hanya diam, matanya memilih menatap langit senja di danau biru seperti Raga. Pikiranya berkecamuk, ada banyak hal yang seharusnya ia selesaikan. Namun Bayu takut, jika pada akhirnya... semua harus berakhir dengan kata selesai dan memutus persaudaraan diantara mereka berdua. Bayu tidak ingin hal itu terjadi.
Jadi, untuk kesekian kalinya... Bayu hanya bisa meminta maaf di dalam hati atas dirinya yang pengecut.
Bayu merasa... semua akan baik-baik saja jika ia tidak menceritakan semuanya. Hingga ia lupa, jika bangkai... sekalipun disembunyikan sebaik-baiknya... pasti akan tercium juga.
+TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak berupa vote dan komentar ya, terima kasih.... 😉