Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 2.2 Kesal


__ADS_3

..."Maaf kalau gue sering bikin Lo kesel, tapi cuman satu alasanya. Gue ... Beneran suka sama Lo."...


...🦋🦋🦋...


Bayu menepuk-nepuk bantal yang ditidurinya sembari tertawa keras. Rasanya bahagia sekali saat melihat gadis yang ditaksirnya kesal. Bayu sengaja melakukan itu, karena hanya dengan cara itu Manisha akan membalas pesan Bayu.


"Manisha... Manisha... gue gak tau entah dari apa hati gue ini dibuat. Mungkin dari baja kali, ya? Sampe sebegitu sering nya Lo nyakitin gue, tapi gue tetep aja betah dengan kesakitan itu"


Bayu menghela nafasnya sebentar. "Rasanya, tau kalo Tuhan ngirim lo ke bumi aja gue seneng nya gak terkira. Semoga aja memang Lo pasangan tulang rusuk gue yang hilang."


Kriuk-kriuk!


Bayu kembali tertawa saat mendengar bunyi suara perutnya sendiri. Ia merasa lucu.


"Apa karena gue terlalu sering mikirin lo, ya? Sampe gue jadi lapar!"


"Apasih-apasih! Gue kek orang gila!"


"Ngomong sendiri, ckckck bodo ah!"


"Mending sekarang gue makan!"


Dengan langkah pelan dan wajah sumringan, Bayu keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Ia merasa perutnya benar-benar harus di isi.


Begitulah Bayu, sekeras apapun ia terluka atau sedih, dia tidak pernah menampakkan perasaan seperti itu. Ia cepat melupakanya, namun cepat juga sakit hati. Beruntunglah kamu jika hidup seperti Bayu!


.


.


.


Manisha, jangan terlalu jutek kalo jadi cewe. Nanti jones loh!


-S.A You-


Baru saja halaman buku PR matematika nya dibuka, pada HALAMAN pertama langsung muncul pesan itu yang ditempel dengan sticky note. Manisha sudah sering mendapat pesan seperti itu. Bahkan terlalu sering malah!


Manisha masih bingung, sebenarnya siapa sosok yang ada di balik pesan S.A You itu! Dulu ia sempat berfikir bahwa pengirim pesan itu adalah Bayu. Tapi dia langsung menepisnya, rasanya tidak mungkin jika Bayu pelakunya!

__ADS_1


Bergegas Nisha langsung mengambil sticky note yang menempel itu. Dimasukannya kertas itu kedalam kotak pensil miliknya yang mulai penuh. Bagaimana tidak? Selama satu bulan berturut-turut ia terus mendapat pesan itu. Nisha sengaja mengumpulkan semua kertas pesan yang diterimanya. Berharap dengan begitu, ia dapat tahu siapa pelakunya.


Tap-Tap-Tap!


Suara langkah kaki mulai terdengar memasuki kelas Manisha. Manisha tahu siapa itu. Tentu saja Bu' Leni, sang guru killer yang mengajar pelajaran prakarya.


Suara langkah kaki sudah tak terdengar lagi, karena saat ini Bu' Leni tengah berdiri di depan pintu ruang kelas, sambil menatap sangar murid-muridnya satu persatu.


"Siapa yang sudah selesai dengan tugasnya?"


Mendengar Bu' Leni bicara seperti itu, semua murid hanya bungkam. Tidak ada yang menjawab satupun. Termasuk Manisha.


"Kenapa diam? Mana tugasnya?" Bu' Leni kembali bersuara.


"Kalian punya mulut 'kan? Kenapa tidak jawab ibu?" Leni yang melihat murid-muridnya tetap tak bersuara juga, membuat darahnya naik.


Prak!


Leni memukulkan rol yang dipegangnya ke meja guru, ia tahu kalau murid-murid nya pasti tidak menyelesaikan tugas Minggu lalu yang diberikannya. Itulah sebabnya tak ada yang berani menjawab pertanyaannya!


"Siapa yang tidak selesai tugas, berdiri di dekat papan tulis sekarang!"


Semua murid mulai di interogasi satu persatu. Ditanyakan apa alasan tidak mengerjakan PR. Padahal PR nya mudah, hanya disuruh Memotong Buah dengan Motif. Tapi itulah anak SMA, selalu malas mengerjakan tugas dan menganggap enteng nilai. Padahal nilai berguna untuk mereka yang akan masuk perguruan tinggi setelah lulus nanti.


Manisha berdiri di deret paling ujung barisan. Wajah nya terus saja ditekuk. Ia kesal, bisa-bisanya ia lupa kalau hari ini pengumpulan tugas prakarya.


"Manisha! Kenapa kamu tidak selesai tugasnya?" Leni menatap tajam Manisha yang mulai gelagapan saat ditatap gurunya seperti itu.


"L...u...lu..pa, Bu" cicit Manisha gelagapan.


Mata Leni membelalak seketika, "Apa! lupa kamu bilang? Bisa-bisa nya kamu lupa! Kamu gak mau nilai, hah!"


Nisha mengerjab sesaat, kemudian menjawab teguran Bu' Leni dengan pelan. Kemungkinan Bu' Leni juga tidak mendengarnya .


"Beneran lupa kok, namanya juga manusia!"


Ternyata realita tak sesuai ekspektasi, Bu Leni mendengar ucapanya!


"Apa kamu bilang! Gak sop--"

__ADS_1


Amarah Leni terputus saat tiba-tiba seorang murid laki-laki mengetuk pintu kelas. Leni mengangkat satu alisnya. "Ada apa?"


Murid itu tersenyum ke arah Manisha, namun hanya dibalas plototan. Murid laki-laki itu awalnya terkejut, tapi kemudian menyeringai ke arah Manisha.


"Ada apa, Bayu? Bukanya kamu lagi ada keperluan sama pak Arthur di kantor? Kamu kan sudah izin sama saya tadi."


Ya! Laki-laki itu adalah Bayu Valentino.


"Begini, Bu. Saya bawa PR nya Manisha, kebetulan tadi pagi dia kerumah saya minta ketemu mama saya. Dia bilang kalo orangtua saya diundang makan malam ke rumahnya. Pas dia pulang dari rumah saya, semangka yang udah dia buat bermotif ini ketinggalan Bu. Jadi, karena saya tahu ini tugas sekolah, jadi saya gak mau dia dihukum, makanya saya bawa aja kesekolah. Saya bawa punya saya juga Bu. Ini Bu, ada dua." Bayu menyerahkan semangka yang dipegangnya, yang langsung diterima Leni.


Bayu yakin sekali, alasan yang dia karang itu pasti Bu Leni percaya!


Manisha terkejut saat mendengar alasan Bayu, ia malu sekali! Tidak adakah alasan yang lebih masuk akal dari Manisha yang datang ke rumah Bayu? Wajah Manisha langsung memerah, jangan lupakan juga keringat yang terus menetes dari dahinya akibat ditatap oleh teman-teman sekelasnya. Khususnya Sia dan Lea yang terkikik geli dan menatap jail ke arahnya.


"Hmm... Kamu gak bohong 'kan?"


Leni menatap tajam ke arah Bayu yang masih setia dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.


"Enggak kok, Bu. Ngapain saya bohong. Dosa!" Bayu mencoba meyakinkan.


"Oke! Saya percaya" Leni berbalik kembali menatap Manisha, lalu berkata, "jangan jadi pikun lagi ya, gak bagus anak SMA tukang lupa!"


Semua murid yang berdiri berusaha menahan tawanya saat mendengar nasihat yang di peruntukan Bu' Leni pada Manisha. Manisha yang masih kesal dengan alasan Bayu pun bertambah kesal saat mendengar Bu' Leni mengatakan dirinya tukang lupa. Sehingga ia hanya menjawab nasehat Leni dengan anggukan malas.


"Bagus!"


"Dan untuk kalian yang tidak mengumpul PR hari ini, besok pagi jam sembilan temui saya di ruang seni! Jangan lupa bawa karya nya!" Tutur Leni sembari pergi meninggalkan kelas dan membawa dua buah semangka motif.


Selepas kepergian Bu' Leni, Bayu menatap Manisha dengan seringai jail. Bayu kemudian langsung pergi meninggalkan Manisha yang dirasanya akan segera mengamuk.


Benar saja! Setelah Bayu hilang dari pandanganya, Manisha mengepalkan tangannya lalu meninjunya ke udara sembari berteriak --


"Bayu ngeselin!!"


Dan selanjutnya kita tahu apa yang terjadi! Hell! Semua teman-temanya menahan tawa. Terkecuali Sia dan Lea yang tertawa ngakak tanpa batas.


"******** got!" Desis Manisha kesal sampai ubun-ubun.


+TBC

__ADS_1


__ADS_2