
Kalau kamu tahu jika menyia-nyiakan seseorang sesakit itu, seharusnya kamu sadar lebih awal. Jangan dipaksa sadar oleh waktu, karena kalau sudah menyesal. Waktu tidak bisa dirundingkan untuk berbalik.
๐๐๐
Nyatanya, kata menyerah tidak ada di kamus Alfa Bagaskara. Contohnya sekarang, ia sedang menunggu mantan pacarnya alias Manisha keluar dari gerbang sekolah. Ia memang benar-benar bertekat untuk meluluhkan kembali hati Manisha. Ia tidak peduli pada Bayu, atau siapapun yang suka pada Manisha. Yang Alfa tahu, ia masih suka pada gadis itu.
Mata Alfa memicing saat melihat siluet yang ditunggunya keluar sendirian dari arah gerbang sekolah. Alfa menghidupkan motornya dan berhenti tepat di sebelah Manisha yang berjalan pelan ke arah halte bus depan sekolah.
"Mau bareng?" tawarnya tiba-tiba.
Manisha membeku ditempat. Ia merasa familiar dengan kejadian ini. Pelan ia menoleh ke asal suara. Manisha menghela nafas kecewa. Bukan dia, pikirnya lalu menunduk.
"Hei! Hei! Nisha! Jangan bengong."
Manisha sontak memperbaiki ekspresinya kembali datar. Ia mengangkat kepalanya. Memandang sinis Alfa yang masih setia duduk di atas motornya.
"Mau bareng?" ulang Alfa sebab tak kunjung mendapat respon dari Manisha.
Manisha berdecih. Ia duduk di halte bus. "Enggak. Makasih, gue bisa pulang sendiri."
Suara Manisha yang sedatar tembok sekolah membuat Alfa mau tidak mau kembali menghela nafasnya. Apa Manisha sebenci itu padanya?
"Sha, pulang bareng gue aja, yuk."
Alfa membujuk Manisha. Saat ini ia sedang berdiri di hadapan gadis itu.
__ADS_1
Plak! Manisha menepis tangan Alfa yang hendak menyentuh tangannya. Ia menatap sinis Alfa yang membeku di hadapannya. Manisha berdiri.
"Jauhin gue." Singkat tak terbantahkan. Manisha kembali memberi penegasan untuk jangan mengganggunya lagi. Manisha benci diganggu. Apalagi oleh laki-laki bernama Alfa Bagaskara.
Disisi lain, Raga baru saja keluar dari kelasnya. Ia menenteng tas Army nya menggunakan pundak sebelah kiri, lalu berjalan santai ke parkiran sekolah.
Belum jauh dari gerbang, ia menyipitkan mata saat melihat pemandangan yang sedikit mengganggu matanya di depan sana. Bukankah itu Manisha, pacar adiknya dan Alfa anak kelas sebelah? Ia merasa ada yang tidak beres. Apalagi raut wajah Manisha yang tidak suka terlihat sangat kentara.
Raga menghentikan motornya di depan halte. Ia melepas helm yang dikenakannya. Hal ini membuat dua manusia yang tengah berdebat itu menoleh ke arahnya tiba-tiba.
Untuk sesaat Raga melihat Manisha membeku di tempat. Namun tidak lama, sebab setelah ia melangkah kan kaki menemui mereka, ekspresi Manisha kembali normal. Berbeda dengan Alfa, laki-laki itu berdecak kesal sebab kegiatannya di ganggu.
"Jangan ganggu dia." Raga mengucapkan kalimat itu sambil menatap dingin Alfa. Alfa terkekeh melihat kakak aneh dari Bayu Alvano Dwipaga itu. Alfa mendekatkan dirinya pada Raga.
"Bukan urusan Lo," bisik Alfa ditelinga Raga seraya tersenyum miring.
"Ada. Dia pacar adik saya. Jadi lebih baik kamu pergi. Jangan ganggu Manisha."
Raga mengucapkan kalimatnya dengan datar. Penuh penekanan dan menolak untuk dibantah.
"Kalau kamu tahu jika menyia-nyiakan seseorang sesakit itu, seharusnya kamu sadar lebih awal. Jangan dipaksa sadar oleh waktu, karena kalau sudah menyesal. Waktu tidak bisa dirundingkan untuk berbalik."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Raga berbalik. Ia memutuskan untuk pulang saja, yang penting ia sudah berusaha agar pacar adiknya itu tidak diganggu orang. Biar hasil akhir mereka berdua yang menyelesaikan. Raga tidak suka mencampuri masalah orang lain, sebab masalah nya saja sudah pelik dan rumit.
Setelah kepergian Raga, bukan hanya Alfa yang membatu di tempatnya. Namun Manisha juga. Dadanya seperti dipukul palu godam secara paksa, ia tersindir.
__ADS_1
Tanpa sadar Manisha menangis. Ia dulu pernah bersikap begitu pada Bayu. Sekarang ia menyesal.
"Pergi...."lirihnya. Ia ingin Alfa pergi dari hadapannya. Namun Alfa seolah tidak peduli dengan Manisha. Ia masih berdiri seperti orang bodoh, ia ingin Manisha pulang bersamanya.
Alfa ingin merengkuh Manisha namun tidak jadi saat melihat gadis itu berlari menjauh sambil menagis. Alfa menunduk. Ia tahu, ia juga ikut berperan dalam menyakiti Manisha.
Alfa menyesali semuanya. Yang dikatakan Raga memang benar. Penyesalan selalu datang di akhir. Ia berjalan ke motornya saat rombongan anak SMP berjalan ke halte bus. Alfa memutuskan pergi dari sana.
***
Disisi lain.
"Bodoh!" rutuk Manisha kesal pada dirinya sendiri. Ia menangis di bawah pohon kelengkeng tepat di sebelah danau.
Manisha sempat berharap bahwa tadi yang memarahi Alfa agar jangan mendekatinya lagi adalah Bayu. Ia sempat terpaku sejenak. Namun ia segera sadar bahwa yang dilihatnya adalah kembaran Bayu. Raga.
Kata-kata Raga yang menjadi penutup perdebatan tadi sungguh menyentil hatinya. Ia ingat dulu pernah begitu kejam pada Bayu. Dan sekarang, karma seolah mempermainkan dirinya.
Manisha seolah menjadi bucin. Padahal dulu, ia benci sekali pada laki-laki bernama Bayu.
"Bayu, kamu dimana? Aku kangen kamu...." Manisha terisak lirih di lipatan kakinya. Ia butuh Bayu sekarang.
Manisha benar-benar butuh Bayu!
+TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak berupa kritik dan saran untuk kebaikan penulisan selanjutnya. Terima kasih.