Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 13. Cinta Enggak Semudah Itu


__ADS_3

Kalau cinta enggak semudah itu, pasti semua orang enggak akan mudah kejebak, terus sakit ujung-ujungnya. Contohnya ya Lo sendiri, Manisha. Lo udah kejebak, sakitnya juga udah. Move on nya yang belum. Enggak ada niatan Move on gitu?


🍃🍃🍃


Sudah lebih dari satu bulan Bayu hilang di telan bumi. Kabarnya juga tidak tahu entah kemana. Banyak yang bilang Bayu memang pindah keluar negeri. Namun Manisha tetap tidak mau percaya dengan itu semua, ia selalu berusaha menepis kabar yang berhasil membuat hatiya nyeri tidak berkesudahan.


Sejak dua Minggu yang lalu, hubungan Manisha dengan Athlas semakin dekat. Ia layaknya Abang dan  adik. Athlas melaksanakan janjinya dengan baik. Ia benar-benar menjaga Manisha.


"Oy, cumi kering, bagi PR sejarah dong." Lea memasang wajah memelas.


Manisha menoleh  dengan wajah datar. Memang, sejak kejadian waktu itu, sikapnya berubah. Ia menjadi semakin dingin, bahkan terhadap sahabatnya sakalipun. Untung saja Lea dan Sia setia kawan, jadi mau menjadi model apapun sahabatnya tetaplah sahabat mereka. Tangan Manisha terulur ke laci meja. Menarik sesuatu dari sana lalu memberikannya pada Lean yang langsung tersenyum ceria.


"Makasih sayangku..." ucap Lea sambil memeluk buku Manisha.


Ia segera menyalin tugas tersebut ke bukunya.


***


"Sha, Sha!"


Manisha mempercepat langkahnya menjauhi ruang kantor kepala sekolah. Apalagi ada mahluk yang paling ia benci saat ini tengah mengikutinya. Menisha mendecih, ia heran kenapa mantannya itu setiap hari mengganggu nya.


Langkah Manisha terhenti paksa saat tangannya berhasil di pegang setan sialan di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Alfa. Brengsek!


Manisha berbalik, menatap sinis Alfa yang masih mencengkram erat tangan kirinya. "Lepas," gertaknya tajam. Alfa langsung melepas genggamannya.


"Sha, please... balikan sama gue, ya?" Manisha ternganga. Apa urat malu Alfa sudah putus? Dulu siapa yang mencampakkannya?


Manisha menatap Alfa dingin. "Enggak," tegasnya tanpa bantahan.


Ia benci situasi ini. Ia benar-benar benci. Apa Alfa kira Manisha bodoh? Tidak ada gadis yang ingin jatuh ke lubang yang sama. Kalaupun ada, Manisha bukanlah salah satunya.


"Sha, gue cinta sama Lo. Gue tahu, waktu itu gue yang salah. Tapi plisss, maafin gue...." Alfa berucap lirih. Berharap Manisha mau kembali dengannya. Jujur, ia menyesal dengan perbuatannya waktu itu.


Raut wajah Manisha semakin dingin. Sejak kepergian Bayu, hatinya semakin membeku. Rasanya tidak ada lagi kata hangat di kamus hidupnya. Mungkin sudah hilang.

__ADS_1


"Cinta. Enggak. Semudah. Itu. Alfa!" ucapnya penuh penekanan.


Alfa terkejut. Ia tidak menyangka Manisha bisa berubah begitu jauh. Dulu Manisah tidak seperti ini. Ia tidak pernah merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Manisha, namun sekarang ia seperti mati kutu hanya karena perkataan Manisha dan tatapan tajamnya yang melebihi elang.


Alfa meneguk ludahnya susah payah. Berusaha menghilangkan kegugupan.


"Kalau cinta enggak semudah itu, pasti semua orang enggak akan mudah kejebak, terus sakit ujung-ujungnya. Contohnya ya Lo sendiri, Manisha. Lo udah kejebak, sakitnya juga udah. Move on nya yang belum. Enggak ada niatan Move on gitu?"


Manisha tersenyum miring. "Kenapa enggak lo tanya aja dengan diri lo sendiri."


Skak! Alfa tidak tahu mau menjawab apa lagi. Manisha benar, ia juga sedang tidak dalam posisi move on.


Alfa menatap Manisha yang mulai menjauh. Ia tersenyum getir, nyatanya membalikan keadaan menjadi seperti semula tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia menyesal dulu pernah menghancurkan keadaan. Seandainya waktu bisa diputar, bolehkah ia memperbaiki semuanya?


Di lain sisi, Manisha mencengkram erat rok abu-abunya. Ia marah. Ia ingin menangis. Ia merasa takdir seolah mempermainkannya. Ia rindu mama.


Berbicara tentang mamanya, ia sudah berpulang. Nyatanya waktu yang katanya hanya beberapa hari, berubah menjadi selamanya. Sewaktu pulang dari rumah Tante Diandra, mamanya ikut menjadi korban tabrakan beruntun. Sejak kejadian itu, semuanya  berubah. Rumah, papa bahkan Bayu semuanya hilang. Bolehkah Manisha marah? Tetapi pada siapa?


Ia hanya punya Athlas! Manisha benar-benar berterima kasih pada Athlas yang peduli padanya. Ia sudah menganggap gurunya itu sebagai Abang angkat. Manisha tidak tahu, jika tidak ada Athlas apakah Manisha bisa baik-baik saja.


Bruk!


"Raga?" cicitnya pelan. Melihat wajah Raga yang persis Bayu membuat Manisha semakin sedih. Ia merindukan Bayu, sungguh.


Raga membantu Manisha berdiri. Dipapahnya gadis itu ke kursi di bawah pohon damar depan kelas Dua Belas MIPA Tiga. Manisha diam saja sejak tadi. Ia asik melihat wajah Raga.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Raga masih setia dengan wajah datarnya.


Manisha mengangguk. Ia benar-benar baik-baik saja. Setidaknya sekarang.


Raga menagguk. Ia berjalan pergi dari sana dengan menenteng buku Ekonomi nya. Meninggalkan Manisha yang perasaan nya tercampur aduk.


'Bayu, kalau aku jadiin dia pengganti kamu, apa aku salah?' batin Manisha konyol. Ia menertawakan dirinya sendiri.


Manisha menunduk. Ia menangis lagi. Untung saja ini belum masuk jam istirahat. Jadi tidak ada yang melihat.

__ADS_1


***


"Apa kata kepala sekolah? Lo enggak di apa-apain 'kan?" Lea membolak-balikkan badan Manisha. Memastikan jika sahabatnya itu baik-baik saja. Matanya membola saat  melihat ada memar di lutut sahabatnya.


"Ini kenapa?" sidiknya sembari menatap tajam Manisha.


Manisha menghela nafas. Sahabatnya ini berlebihan sekali, pikirnya. "Tabrak Raga." Singkat, padat dan jelas. Lea langsung mengerti. Namun Sia malah ternganga di tempatnya.


"Sia juga pengen punya memar kayak gitu" cicitnya pelan. Ia menatap kedua sahabatnya dengan senyum jahil. "pengen ditabrak babang Raga juga."


Lea menggeleng-gelengkan kepalanya.  Menatap takjub kepada sahabatnya yang sedikit gila. Lea heran, kenapa ia bisa bersahabat dengan manusia yang tidak se frekuensi. Yang satu gila, yang satu kelewat es batu. Ia mengusap dadanya prihatin dengan nasib sendiri.


Sementara Manisha, ia tersenyum miris. Benar juga, Sia sahabatnya itu menyukai Raga. Mana mungkin ia tega merusak harapan sahabatnya, lagi pula, ia sudah pacaran dengan Bayu, jika kali ini ia pacaran dengan Raga, apa kata orang-orang? Lagipula, mana mungkin Raga mau dengan orang bekas adik kandungnya sendiri.


***


Raga duduk di jendela perpustakaan yang berada di lantai dua. Ia masih berkutat dengan buku Ekonomi nya. Lagipula kelas sedang kosong. Guru-guru mengadakan rapat. Ia sedikit bersyukur tidak ada kelas hari ini.


Raga menutup bukunya. Ia mengingat perkataan Anita tadi pagi dirumah.


Anita membawa sepasang roti selai kacang ke hadapannya. Satu disodorkannya kepada Raga. Raga heran, tumben sekali wanita itu mau memberikan makanan padanya.


Anita masih menatap Raga dengan dingin. "Kembalikan Bayu."


Raga terpaku di tempat. Menatap roti yang ada di tangannya. Ia tersenyum miris. Jadi sogokan, ya? ucapnya pelan.


Raga kembali menghela nafasnya. Ia tidak tahu kenapa Anita sangat membencinya. Padahal ia kan juga anaknya. Dan Bayu, kenapa ia meminta Raga mengembalikan Bayu? Memangnya dia yang menyembunyikan Bayu? Dia saja tidak tahu dimana adiknya itu berada sekarang.


Pikiran Raga kini teralihkan lagi ke pacar adiknya, Manisha. Kasihan gadis itu, ucapnya dalam hati. Raga tahu seberapa sakit kehilangan. Raga tahu rasanya menjadi Manisha. Sebab ia pernah juga berada di posisi yang sama dengan gadis itu. Rasanya benar-benar sakit....


Semoga Manisha bisa bertahan, harapnya.


TBC


Tinggalkan jejak berupa kritik dan saran, sebab akan mampu membantu penulis untuk menulis lebih baik kedepannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2