Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 25. Sebuah Rahasia


__ADS_3

Terkadang ucapan bisa menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, menjaga lisan sebelum berucap adalah list 'penting.'


🍃🍃🍃


"Kamu ingat, dulu Bayu pernah janji satu hal sama kamu sebelum hubungan kalian dimulai?" tanya Raga pelan. Saat ini mereka sedang duduk di atas batu pinggiran kolam sekolah.


Manisha menoleh. Wajahnya masih terlihat memperihatinkan. Raga meringis melihat itu.


"Ingat." Manisha menjawab singkat. Perhatiannya penuh berpusat pada sosok Raga yang duduk tepat di sampingnya.


"Kamu ingat jika Raga pernah menembak Salsabila?" tanya Raga lagi. Manisha mengernyitkan keningnya. Tentu saja ia ingat akan insiden tersebut.


"Ingat," ucap Manisha.


"Salsa, 'kan?" tanya balik Manisha. Memastikan jika Salsabila yang dimaksud adalah Salsa. Bukan Salsabila lainya.


Raga terkekeh. "Iya. Siapa lagi."


"Karena janji itu semuanya bisa terjadi, Sha," tutur Raga lalu memandang lepas ke arah kolam.


Manisha menyipitkan matanya. "Maksudnya?" tanya Manisha penasaran. Ia masih belum paham maksud dari Raga.


"Coba kamu ingat-ingat lagi. Janji apa yang Bayu bilang ketika meminta kamu menjadi kekasihnya."


Manisha kembali memutar kejadian beberapa bulan yang lalu di kepalanya. Ia ingat jelas janji yang Bayu katakan waktu itu.


Deg!


Apa janji Bayu kini berbalik menjadi karma? Manisha menatap Raga dalam, meminta kepastian akan apa yang tengah dipikirkannya. Wajah Manisha langsung pias saat melihat Raga mengangguk.


"Ja--jadi Bayu bencinya sama Lo?" tanya Manisha ragu. Anggukan pasti kembali menjadi jawaban Raga.


"Ta--tapi gimana bisa? Dua jiwa dalam satu raga? Gimana bisa, Raga?" Manisha menggeleng-geleng kan kepalanya. Masih merasa bingung dengan ini semua.


"Sha... saya sudah meninggal."

__ADS_1


Deg!


Manisha membatu ditempat. Raga meninggal? Raga sedang tidak melawak 'kan? Tolong katakan pada Manisha apa yang harus dilakukannya ketika mendengar hal itu. Kalau yang dihadapannya bukan Raga, lantas siapa?


"Ini raga milik Bayu."


Cukup! Mendengar kalimat lanjutan dari Raga, Manisha merasa dadanya mulai sesak. Seolah-olah ada sekat yang tertanam di hatinya. Manisha masih berusaha memperjelas semua penjelasan Raga di kepala cantiknya.


"L--lo... enggak lagi bercanda, 'kan?" Manisha meminta kepastian atas penjelasan Raga yang menurutnya ambigu.


Lagi-lagi anggukan Raga yang memperjelas semuanya. Manisha meneguk ludahnya kasar. Jika dihadapannya adalah raga milik Bayu, kemana Bayu saat ini?


"Bayu ada di samping kamu, Sha... di sebelah kiri kamu. Kalau kamu mau tahu... Bayu sangat merindukan kamu." Raga kembali menjelaskan.


Ba--Bayu ada di sampingnya? Manisha sontak menoleh. Kosong. Tidak ada apa-apa disana.


"Arwah tidak bisa dilihat, Sha... tetapi saya tidak bohong mengenai hal itu," jelas Raga lagi. Ia menatap Manisha penuh dengan rasa bersalah. Raga juga melihat adiknya itu yang sedang menatap penuh cinta kepada Manisha. Namun dari matanya, Raga tahu jika Bayu sangat sedih karena Manisha tidak bisa melihatnya.


"Kenapa Lo ambil, Raga..." ucap Manisha lirih. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Ia sudah selesai mencerna semuanya. Kali ini ia paham, kenapa Bayu menghilang tiba-tiba seperti ini. Kali ini ia paham, kenapa rumah  Bayu terasa aneh. Kini ia paham, kenapa ketika berada di dekat Raga Manisha merasa nyaman. Kini ia paham, sangat-sangat paham.


"Karena janji itu adalah utang, Manisha. Dan ucapan adalah do'a."


Singkat. Padat. Dan jelas... Raga menjelaskan semuanya.


"Bayu membenci saya, karena itu saya bisa mendekam di dalam tubuhnya. Ditambah lagi, ia berselingkuh dengan Salsa setelah mengucapkan janjinya. Walaupun itu adalah iseng, namun tetap saja, Sha... ucapan tidak bisa ditarik lagi. Janji tetaplah janji...."


Raga menghela nafasnya. Ia sudah selesai menjelaskan semuanya. Kali ini Raga merasa sedikit lega. Setidaknya, Manisha sudah tahu jika Bayu bukan menghilang. Namun raganya dipinjam oleh Raga untuk sebentar.


"Lo enggak bisa balikin Bayu lagi? Lo enggak berusaha miliki tubuh Bayu, 'kan Ga?"


Manisha sudah kembali terisak. Memikirkan kehidupan Bayu dirampas oleh kakaknya membuat Manisha tidak tahan untuk menahan tangisnya lagi. Ia kembali menangis. Nyatanya, penjelasan Raga terasa sangat menyakitkan.


Raga menggeleng kuat saat mendengar pertanyaan itu dilontarkan Manisha untuknya. "Enggak, Sha... Saya cuman bisa hidup di tubuh Bayu selama seratus hari. Ketika sudah sampai waktu itu, saya harus pergi. Dan Bayu... akan kembali ke tubuhnya." Raga masih memberikan penjelasan.


"Namun--" Raga terdiam. Hal ini membuat Manisha mengernyitkan kening dan menatap curiga ke arah Raga. "kenapa?" tanya Manisha akhirnya.

__ADS_1


Raga tampak menghela nafasnya untuk kesekian kali. Apa ia harus memberi tahu Manisha ini semua? Apa harus?


"Namun... jika dalam seratus hari saya tidak bisa menuntaskan keinginan saya yang menjadi alasan masuk ke tubuh Bayu, maka Bayu..." Raga kembali terdiam. "Bayu akan meninggal..." ucap Raga dengan lirih. Ia menunduk dalam.


Manisha kembali membatu. Lidahnya kelu sekali. Ia ingat jika Raga sudah bersekolah di sekolah ini selama dua bulan setengah, itu artinya... sisa waktu Raga hanya tinggal satu bulan tiga minggu lagi.


"Udah selesai?" Manisha menatap tajam ke arah Raga yang masih setia dengan kepalanya yang menunduk. Gelengan kepala Raga menjadi jawaban atas pertanyaan Manisha. Bahu Manisha langsung turun begitu saja.


"Masalah apa yang bikin Lo belum selesai nyelesain nya, Ga? Masalah apa...." Manisha kembali berucap lirih. Ia merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Sandra... teman masa kecil saya, belum bisa saya temukan."


Penjelasan Raga kali ini membuat Manisha mengangkat kepalanya. Ia menatap benci ke arah Raga. Bisa-bisanya hanya karena seorang 'teman masa kecil' membuat Bayu harus terpaksa merelakan hidupnya jika usaha Raga mencari temanya itu gagal di tengah jalan.


"Mungkin kamu berpikir jika saya ini kurang kerjaan mencari teman masa kecil saya. Namun, dia berarti, Sha. Dia adalah orang paling penting di hidup saya setelah Bayu." Raga menatap Manisha dalam. Ia juga melihat jika Manisha menatapnya bingung.


"Saya dan Bayu berbeda, Sha. Kami memang kembar. Namun, sikap orangtua kami pada saya dan Bayu terasa sangat berbeda. Orangtua saya menyayangi Bayu, sedangkan saya tidak dianggap sama sekali."


Kalimat lanjutan dari Raga mampu membuat Manisha paham, kenapa teman masa kecil Raga itu sangat berarti. Manisha baru tahu, jika kesakitan yang ia alami selama ini tidak sebanding dengan kesakitan yang dialami abang kandung pacarnya itu, Raga.


Manisha memikirkan sesuatu di kepala cantiknya. "Mau gue bantu cari Sandra?" tawar Manisha. Bagaimanapun juga, ini semua demi Bayu. Pacarnya yang sedang berada diantara hidup dan mati.


Raga terkejut mendengar tawaran Manisha. Jangan lupakan juga sosok Bayu yang berada di samping kiri Manisha. Ia juga terlihat kaget.


"Kamu... serius mau bantuin saya?" tanya Raga meminta kepastian atas tawaran Manisha. Manisha mengangguk mantap.


"Iya. Ini bukan demi Lo. Tapi demi pacar gue, Bayu harus tetap hidup." Manisha mengatakan hal itu sembari menatap lepas ke arah kolam. Manisha lupa, jika saat ini ada seseorang yang sedang menatapnya intens. Seseorang yang sedang ingin Manisha perjuangkan agar kembali. Orang itu Bayu. Bayu Alvano Dwipaga. Bayu menatap haru ke arah Manisha.


"Terima kasih...." Manisha mengangguk tanpa melihat ke arah Raga. Niatnya sudah benar, ia harus membantu Bayu. Ia harus memperjuangkan hidup Bayu.


"Boleh gue tahu satu hal?" Raga mengangkat alisnya saat mendengar Manisha berbicara begitu.


"Kenapa Lo bisa meninggal?" tanya Manisha seraya menoleh cepat ke arah Raga yang menegang di tempat. Jujur, Manisha memang sangat penasaran mengenai penyebab kematian seorang Raga Alvano Dwipaga. Bukan hanya Manisha, namun arwah Bayu yang berada di samping Manisha pun tampak meminta penjelasan ke arah Raga yang masih enggan untuk buka suara.


+TBC

__ADS_1


Tinggalkan like, kritik dan sarannya. Terima kasih 😊


__ADS_2