
...Hati itu lembut. Begitu pula pemiliknya. Yang membedakan adalah tingkat 'rasa' yang dimilikinya. Perihal hati yang memendam cinta begitu dalam, maka 'ialah' hati yang siap jatuh begitu luka memilih singgah disana....
...🍃🍃🍃...
Lagu Avengers Sevenfold- So Far Away, mengalir keras dari ponsel Raga. Pada detik ini, di jam sekarang, Raga masih setia duduk di Danau dengan langit gelap dan sepi menjadi temanya. Danau Biru tampak lebih indah saat malam, terlihat jejeran lampu kerlap-kerlip yang sengaja di pasang di setiap batang pohon berdaun jarum itu menampakkan cahaya remang, sehingga hal tersebut menambah kesan romantis tersendiri.
Romantis? Tidak, bagi Raga... Danau Biru bukan lagi tempat romantis, akan tetapi tempat mencari luka. Raga beranjak dari kursi panjang yang didudukinya, lantas ia berjalan ke arah batu besar di pinggir danau, kembali mendudukkan dirinya.
Diputarnya kembali lagu So Far Away untuk yang kesekian kali, air matanya menetes.
Never feared for anything
Never shamed but never free
A life that healed a broken heart
With all that it could
Lived a life so endlessly
Saw beyond what others see
I tried to heal your broken heart
With all that I could
Will you stay?
Will you stay away forever?
How do I live without the ones I love?
Time still turns the pages of the book it's burned
Place in time always on my mind
I have so much to say but you’re so far away
Plans of what our futures hold
__ADS_1
Foolish lies of growing old
It seems we’re so invincible
But the truth is so cold
A final song, a last request
A perfect chapter laid to rest
Now and then I try to find
A place in my mind
Where you can stay
You can stay awake forever.
"Saya rindu kamu, Sandra." Raga berbisik lirih dalam heningnya malam. Ia tidak tahu harus apa lagi sekarang, semuanya terasa sulit.
Buk!
Buk!
Satu sama. Raga berhasil membalas pukulan tepat di rahang laki-laki kurang ajar yang baru saja memukulnya, laki-laki itu terpelanting jauh dari tempatnya berdiri. Raga dapat melihat saat orang yang cari gara-gara itu menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Hal itu berhasil membuat Raga merasa menang.
"Maksud kamu apa!" gertaknya begitu tepat berdiri di hadapan laki-laki yang masih setia tergeletak pasrah di tanah.
Akan tetapi, lelaki itu hanya menyeringai tajam, lantas berdiri dengan sedikit meringis. Ia hanya diam dengan mata elangnya yang menatap sinis ke arah Raga yang mulai naik darah.
.
.
.
Suara langkah kaki berlari cepat tampak menggema di salah satu rumah yang kosong. Bukan rumah tidak terpakai, tetapi rumah gadis tomboy yang saat ini tengah tergeletak tak berdaya di rumah sakit Citra Medika. Benar, suara itu menggema di rumah Manisha. Asalnya dari kaki Bayu yang menjejak lantai dengan panik--walau hanya Bayu yang mendengarnya--.
"Manisha di mana, ya? Kok rumahnya enggak ada orang?" gumamnya dengan perasaan khawatir. Kakinya mulai melangkah kesana kemari, mondar-mandir tidak jelas. Pasalnya, setiap sudut rumah sudah di telusurinya, namun tidak ada petunjuk apapun.
__ADS_1
Bayu terduduk pasrah di kasur gadis itu, ia mengusap kasar wajahnya. Ia penasaran, sebenarnya kemana gadis itu sehingga tidak terlihat malam ini?
Kriet!
Suara derit pintu berhasil mengejutkan Bayu. Sontak ia menoleh ke sana. Ternyata sebuah kepala manusia tampak mendesak masuk ke dalam kamar. Bayu meringis, tidak takut ataupun merinding, sebab ia sudah biasa melihat hal-hal aneh sejak menjadi arwah. Walaupun pada awalnya, Bayu sempat histeris.
"Pergi! Jangan ganggu gue!" Bayu berkata ketus. Ajaib, kepala itu langsung hilang dari sana.
Bayu kembali mengusap wajahnya kasar. Benaknya berteriak khawatir, ia yakin... pasti telah terjadi sesuatu pada gadis itu sekarang. Akhirnya, Bayu memutuskan untuk pulang, ia harus menceritakan hal ini pada Raga. Sehingga nanti, Raga yang akan dimintai tolong olehnya untuk menanyakan kabar Manisha dari teman dekat gadis itu melalui Raga. Benar, Bayu harus seperti itu!
.
.
.
Sementara Raga, wajahnya saat ini pucat pasi. Ia mengingat moment tadi saat di hajar tiba-tiba oleh seseorang. Dan teryata orang itu adalah Atmaji, sahabat karib Manisha yang adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
"Maksud kamu apa!" gertaknya begitu tepat berdiri di hadapan laki-laki yang masih setia tergeletak pasrah di tanah.
Akan tetapi, lelaki itu hanya menyeringai tajam, lantas berdiri dengan sedikit meringis. Ia hanya diam dengan mata elangnya yang menatap sinis ke arah Raga yang mulai naik darah.
"Lo tahu apa yang terjadi sama Manisha sekarang?" tanya Atmaji seraya tersenyum kecut. Raga menggeleng, tentu saja ia tidak tahu.
"Manisha di rumah sakit Citra Medika. Jatuh dari lantai dua. Dan Lo enggak tahu? Bahkan sekarang dia lagi dalam fase hidup dan mati. Lo sebenarnya perduli atau enggak sih!" gertak Atmaji pada Raga yang masih setia dengan keterdiamannya. Tentu saja Raga terkejut. Belum juga keterkejutan nya pada Sandra selesai, kini ia kembali dikabarkan dengan koma nya Manisha di rumah sakit. Lelucon apa lagi ini?
"Mending sekarang Lo susul dia. Sebelum akhirnya nanti Lo nyesal karena enggak sempat untuk lihat dia lagi..." ucap Atmaji lirih di akhir kalimat. Dirinya saja tidak mampu membayangkan jika tiba-tiba gadis itu meninggal dunia. Tidak, Atmaji tidak bisa melihat hal itu terjadi!
"Bilang juga sama Bayu, untuk jenguk Manisha. Sebelum dia juga nanti ikut menyesal kalau udah terlambat...." Usai mengucapkan hal itu, Atmaji pergi dari sana.
Sementara Raga, ia membatu di tempat. Kejutan apa lagi ini? Ia mungkin sudah bisa menerima atas kepergian Sandra. Akan tetapi, ia tidak bisa menerima jika kali ini Manisha ikut menyusul Sandra. Sebab, Manisha adalah hidup dari seorang Bayu Alvano Dwipaga, jika gadis itu pergi, Raga tidak yakin jika Bayu mampu menerima takdir layaknya Raga yang menerima kepergian Sandra.
Apa yang harus Raga katakan nanti pada Bayu?
Raga memijat keningnya pelan. Rasa-rasanya masalah yang ia terima tidak pernah jatuh pada kata 'usai'. Jujur, Raga semakin lelah saja dengan segala drama yang ada di bumi. Raga ingin damai. Lagipula, salah satu tujuannya di bumi juga sudah tidak ada lagi, jadi untuk apa ia tetap menatap di tubuh Bayu? Jujur, jika ia bisa keluar sekarang, ia memilih keluar saja, mengembalikan tubuh yang ia masuki sekarang kembali pada tuanya, Bayu. Akan tetapi, tetap saja waktu yang menang. Ia harus sampai tanggal jika ingin keluar dari sana.
+TBC
Tinggalkan komentar anda tentang cerita ini ya, terima kasih.
__ADS_1