Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 26. Sebuah Rahasia (II)


__ADS_3

Mencintai, pasti berujung ingin dicintai


Mengharapkan, pasti juga ingin diharapkan


Tidak ada seorangpun di dunia yang tidak pernah terbesit di dalam hatinya tentang terkabulnya sebuah doa.


🍃🍃🍃


Sudah sampai waktunya untuk menjelaskan semuanya pada Manisha. Lebih tepatnya kepada adiknya sendiri, Bayu. Raga tahu jika bukan hanya Manisha seorang yang penasaran kenapa ia bisa meninggal. Namun Bayu juga.


"Saya tertabrak mobil."


Manisha dan Bayu menghela nafasnya lega begitu tahu alasan dibalik meninggalnya Raga. Manisha kira, Raga meninggal karena dipukul orangtuanya, lebih tepatnya papanya Raga. Namun perkiraan Manisha salah.


"Saya kabur dari amukan Papa yang ingin membunuh saya," jelas Raga tiba-tiba melanjutkan perkataannya.


Manisha membelalakkan matanya. Ternyata pikiranya mengenai satu sebab meninggalnya Raga itu benar. Karena papa Raga.


Usai mengatakan hal itu, Raga dapat melihat ada sorot kesedihan di mata Bayu. Bayu pasti tidak menyangka itu semua.


"Pada akhirnya, saya tetap meninggal walaupun berhasil kabur. Mungkin sudah jalanya saya harus meninggal. Walaupun pada saat itu masih banyak keinginan saya yang belum sempat  terlaksana." Raga meringis di akhir ucapnya.


Manisha menatap prihatin ke arah Raga. Perlahan Manisha mendekat, meraih bahu Raga, lantas ia memeluknya erat. Raga terkejut dengan hal itu, matanya menatap ke arah Bayu. Namun, Bayu malah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Atas izin Bayu, Raga membalas pelukan Manisha dan menangis keras. Berharap pelukan Manisha dapat membuat hatinya lebih baik. Berharap dengan menangis keras, semua beban yang tertahan di pundaknya bisa hilang.


Disisi lain, Bayu yang melihat abangnya menangis seperti itu, juga ikut meneteskan air mata. Seharusnya dulu ia tidak percaya begitu saja dengan bundanya, dan menganggap jika kejadian vas jatuh adalah kesengajaan yang dilakukan Raga padanya agar ia meninggal. Kata bundanya, Raga melakukan hal itu disebabkan karena ia iri dengan Bayu, sebab mendapat kasih sayang lebih daripada yang tidak pernah didapatkan oleh Raga.

__ADS_1


Bayu menyesal sempat memusuhi abangnya. Bahkan membenci pria itu sampai ia dewasa. Kalau saja insiden ini tidak terjadi, mungkin Bayu akan tetap membenci Raga. Bahkan, ia baru tahu kenapa abangnya itu bisa masuk ke dalam tubuhnya. Ternyata Raga sudah meninggal.


Perasaan Bayu sangat kacau. Ditambah lagi akibat meninggalnya Raga disebabkan oleh ayah mereka yang berniat membunuh Raga. Bayu tidak habis pikir, jika rasa benci yang timbul di hati orangtua mereka menyebabkan harus ada pertumpahan darah.


Bayu terisak. Ia berharap bisa menaiki mesin waktu ke masa lalu. Ia ingin memperbaiki semuanya. Rasanya tidak adil jika hanya Raga yang menjadi korban dari kebengisan kedua orangtuanya. Padahal Bayu juga ikut andil dalam 'masalah itu'. Bayu perlu menyelesaikan semuanya. Ya, Bayu akan menyelesaikan semuanya ketika masalah Raga sudah selesai. Sebab, ia tidak bisa apa-apa dengan arwah tanpa raga. Benar-benar tidak bisa. Namun Bayu berjanji satu hal, dan akan menepati janji itu.


.


.


.


"Sha, nanti mau temani saya beli novel Andara?" tawar Raga tiba-tiba.


Raga tersenyum kepada Manisha yang berjalan disampingnya. Mereka sudah memutuskan untuk pergi dari kolam, itupun karena satpam sekolah yang mengusir, kalau tidak diusir mereka lebih memilih untuk berbincang lebih lama di kolam belakang.


Hari ini Raga tidak bawa motor. Manisha pun heran, padahal tadi sewaktu Manisha akan pulang sekolah dengan Atmaji, Raga marah-marah, dan dengan pede nya bilang kepada Manisha agar pulang bersamanya saja. Maksudnya jalan kaki bersama? Kali ini Manisha hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kenapa Lo enggak bawa motor ?" tanya Manisha penasaran. Manisha menatap langit, melihat awan putih bergumpal seperti membentuk sesuatu. Manisha tersenyum.


"Lagi malas aja bawa. Bayu enggak ngizinin saya bawa motornya lagi. Katanya banyak yang lecet." Usai Raga mengatakan alasannya, sontak Manisha menoleh.


"Lo sering jatuhin motornya Bayu?" tanyanya kemudian. Raga mengangguk, membuat Manisha menghela nafasnya kesal.


"Pantas aja. Motor Bayu itu udah kayak jimat kali, bahkan dia mungkin lebih sayang motornya ketimbang gue." Manisha tersenyum lucu saat mengingat momen ia pernah menendang ban motor Bayu. Dan Bayu tentu saja terlihat seperti ingin marah, namun bukan Manisha namanya kalau tidak berhasil membuat Bayu terpaksa menahan murkanya!

__ADS_1


Raga mengganguk setuju dengan penjelasan Manisha. Manisha benar, Bayu sangat sayang pada motornya. Darimana Raga tahu itu? tentu saja dari foto-foto motor Bayu yang banyak ditempel di dinding kamar Bayu dengan ukuran lima inci perfotonya. Huh, seperti foto kekasih saja! Bahkan Raga hanya melihat hanya ada dua foto Manisha dan Bayu yang tertempel di sana. Hebat, Manisha kalah dengan benda mati itu!


"Sha, kamu kangen Bayu?" pertanyaan aneh Raga membuat Manisha mengehentikan langkahnya.


"Ia, kangen. Dari awal dia hilang, gue kira penyebab utamanya gue, ternyata janji dia sendiri yang berubah jadi karma," ucap Manisha lalu kembali berjalan.


"Bayu ada di sampingmu, Sha...."


Gelengan kepala Manisha yang menjadi respon membuat Raga meneguk ludahnya susah payah. Pasalnya, Bayu saat ini memang sedang ada di sana dan menatap tajam ke arahnya seolah-olah berkata jika ini semua karena ulahnya sehingga Manisha tidak bisa melihat wujudnya.


"Tapi Bayu memang ada di sana, Sha." Raga mencoba meyakinkan Manisha jika ucapannya benar. Raga tidak berbohong sama sekali.


"Gue enggak percaya, Ga. Selama dia belum bisa ditembus oleh mata gue sendiri. Sesering apapun Lo jelasin, kalau gue merasa semuanya ambigu, apalagi enggak bisa dilihat, tentu gue enggak bisa percaya gitu aja. Bisa aja Lo nipu gue, 'kan?" Manisha mengangkat alisnya setelah mengungkapkan hal itu. Raga tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Manisha. Bahkan ia mulai mengabaikan tatapan seram yang ditujukan Bayu kepadanya.


"Ngapain saya nipu kamu? Tidak ada kerjaan saja." Raga berdecak kesal. Berani-beraninya Manisha mengatakan dirinya pembohong. Padahal Raga memang menyampaikan kebenaran. Lagipula untuk apa ia membohongi Manisha? Gadis gila itu.


"Kalo bohong, bohong aja kali. Enggak usah ngelak. Gue gak gampang dibohongin."


Baik. Kali ini Manisha berhasil menguji kesabaran Raga. Raga ingin sekali menjitak kepala Manisha, namun ia merinding dengan sorot tajam dari Bayu.


Jadi...


Raga memilih sabar. Ya! Raga harus sabar....


Sabar Raga...

__ADS_1


+***TBC


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih 😊***


__ADS_2