Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 11. Ada Apa dengan Rumah Bayu


__ADS_3

Biasakan Vote sebelum membaca ๐Ÿ‚


...


Kalau dipikir-pikir, kenangan gue sama Bayu belum banyak. Tapi keraknya tetap aja nempel di kepala.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Gerombolan siswa SMA Dwiyana Muda Bangsa tampak asik dengan makanannya masing-masing. Cuaca yang panas tidak menyulutkan semangat mereka untuk makan. Bahkan sampai saat ini masih banyak yang mengantre makanan di meja pemesanan. Tidak terkecuali Manisha dan teman-temannya yang sudah mendapat makanan duluan, sebab pertama mengantre.


"Sha, kok Lo bisa enggak tahu Bayu ada dimana? Lo kan pacarnya."


Lea melahap satu persatu salad buah nya. Meneguk jus jeruk miliknya lalu kembali menatap Manisha, menunggu jawaban.


Manisha menggaruk tengkuknya.


"Gimana gue bisa tahu, gue telpon aja enggak di angkat. Padahal gue mau minta maaf waktu itu. Gue sadar sih, kalau udah keterlaluan sama dia."


Manisha tersenyum kecut. Rasanya terlalu sesak mengingat Bayu menghilang tiba-tiba seperti ini. Padahal hubungannya dengan Bayu masih baru.


Sia melihat sahabatnya prihatin. Ia tahu jika sahabatnya sedang menahan tangis saat ini, terbukti dari mata Manisha yang tampak berkaca-kaca.


Sia menepuk bahu sahabatnya. "Sabar, ya."


Lea menghela nafasnya. Baru kali ini dilihatnya sahabatnya itu sedih mendalam. Padahal sewaktu Alfa selingkuh saja, Manisha hanya sedih selama tiga belas jam. Namun sekarang, menghilangnya Bayu mampu membuat Manisha sedih selama berhari-hari. Lea pikir, kesedihan Manisha tidak akan hilang sebelum Bayu muncul dihadapannya.


"Lo udah coba ke rumah nya belum?"


Mendengar Lea bertanya begitu, Manisha mengernyitkan kening.


"Belum, sih. Tapi ada benarnya juga. Apa gue ke rumah nya aja?"


Lea menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan Manisha, kenapa harus bertanya lagi jika sudah tahu jawaban nya.


Ekspresi yang diberikan Lea membuat Manisha tersenyum kaku. Merasa aneh sendiri dengan pertanyaannya.


"Hehehe yaudah gue ke rumah nya deh nanti sore, kalian bisa temenin gue, 'kan?" Manisha mencoba merayu sahabatnya agar mau menemaninya ke rumah Bayu.


Lea dan Sia saling bertatapan. Mereka berdua tersenyum ke arah Manisha.


"Gue kayaknya enggak bisa deh, Sha. Gue mau ke hotel Reksa Mulia. Kakak gue baru pulang dari USA" kata Lea merasa tak enak sebab tidak bisa menemani sahabatnya.


Manisha menghela nafasnya. Ia beralih menatap Sia.


"Gue juga enggak bisa, Sha. Adek sepupu gue datang dari Surabaya. Gue udah janji temenin dia buat beli kado ulang tahun abangnya."


Sia mengatupkan kedua tangan di hadapan wajahnya. Memohon maaf pada Manisha.


"Yaudah deh, gue sendiri aja." Manisha pasrah. Lagipula tidak mungkin ia menahan kedua sahabnya agar menemani dirinya.


.


.


.

__ADS_1


Seorang gadis berdiri di depan gerbang rumah yang menjulang kokoh. Mulutnya sedikit menganga melihat rumah mewah yang ada di hadapanya.


"Ini rumah atau istana! Pasti ribet kalau gue jadi ibu rumah tangga di rumahnya Bayu" cicit Manisha. Ia jadi geli sendiri.


"Pfft ...."


Alis Manisnya menyatu saat mendengar suara aneh di belakangnya. Ia berbalik.


"*****!"


Seseorang yang di belakangnya kini tertawa ngakak melihat raut wajahnya yang kaget setengah mati. Rupanya suara menahan tawa yang di dengarnya tadi adalah suara lelaki yang ada di belakangnya ini.


"Lo lucu tau enggak! Hahahaha ...."


Lelaki itu kembali tertawa.


"Astaga, sumpah lucu banget. *****!"


Manisha menatap aneh lelaki itu. Ia memutar bola matanya kesal.


"Lo bisa diam enggak! Berisik."


Manisha langsung memutar balik tubuhnya. Kali ini ia kembali melihat gerbang menjulang yang ada di hadapanya.


"Lo mau masuk?" tanya lelaki yang ada di belakangnya. Kali ini lelaki itu sudah berhenti tertawa.


"Bukan urusan Lo!" balas Manisha ketus.


Lelaki itu tersenyum jahil, kali ini ia sudah berdiri di samping Manisha.


Manisha mengernyitkan kening. Ia melirik ke kanan.


"Masa sih?" tanya Manisha merasa aneh.


Lelaki itu mengangguk. "Ia, coba aja kalo enggak percaya."


Manisha tidak percaya dengan apa yang di katakan lelaki yang katanya sahabat Bayu itu. Ragu-ragu, ia mulai melangkah dan memencet bel.


Ting-Tong!


Suara bel menggema. Menisha merasa sedikit horor dengan suara bel rumah Bayu.


"Suara bel nya aneh." Manisha bergidik sembari berjalan mundur. Lelaki yang ada di sampingnya mengangguk. Setuju dengan pendapat Manisha yang mengatakan bel rumah itu sedikit horor.


Gerbang nya mulai terbuka. Seorang satpam keluar dari rumah itu. Satpam itu tampan, dengan rahang tegas yang membingkai di wajahnya.


Manisha tidak bisa mengedipkan matanya. Manusia di hadapannya terlalu tampan.


'Pantes Bayu ganteng, satpam nya aja bentuknya kayak gini. Gimana bapaknya ya?' Manisha berucap dalam hati. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ada apa, ya?" Satpam itu bertanya.


Manisha mengerjap-ngejapkan mata nya. Ia berdehem.


"Saya boleh masuk, Pak? Mau ketemu Bayu."

__ADS_1


Singkat padat. Manisha mengatakannya sembari memegang jemarinya panik.


Satpam itu melihat Manisha dari atas sampai bawah.


"Maaf tidak bisa, den Bayu sedang tidak ada di rumah."


Tanpa menunggu jawaban Manisha, satpam itu kembali masuk ke dalam dan menutup rapat gerbang itu kembali. Manisha terpaku di tempatnya. Ia tidak menyangka sama sekali. Nyatanya apa yang dikatakan sahabat pacarnya itu benar.


Matanya melihat lelaki yang berdiri di samping nya.


"Gue udah bilang, kita enggak bisa masuk. Lo enggak percaya, sih" ucapnya sembari mengangkat bahu.


"Nama"


Lelaki itu mengernyitkan kening. Tidak paham dengan apa yang di katakan gadis yang ada di hadapanya.


"Nama Lo!" Manisha bertanya ulang.


"Ooo gue Vian. Sahabat Bayu dari SMA Musical Strata Bangsa."


Lelaki bernama Vian itu menjulurkan tangannya. Manisha membalas uluran tangan itu.


"Gue Manisha Elevanova. Pacar Bayu dari SMA Dwiyana Muda Bangsa."


Vian melihat Manisha dari atas sampai bawah. Sedikit menyayangkan jika gadis yang ada di hadapanya ini ternyata pacarnya Bayu. Ia kira tadi gadis itu adalah sahabat Bayu, seperti Salsa.


"Ngapa Lo gitu banget lihat gue?" tanya Manisha. Ia mulai risih ditatap begitu.


Vian tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Enggak ada apa-apa kok," katanya kemudian.


"Yaudah gue balik duluan, ya."


Manisha sudah akan pergi jika tanganya tidak di tahan Vian.


"Kenapa?" tanya Manisha heran.


"Boleh minta nomor hp Lo? Kita bisa tukar kabar kalau masing-masing dari kita nanti ngelihat Bayu," jelas Vian.


Manisha terdiam. Tidak buruk juga, pikirnya. Manisha menyerahkan nomor handphone nya.


"Yaudah gue pergi ya," pamit Manisha.


Vian mengangguk. "Iya, hati-hati."


Manisha mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana. Vian masih di tempat. Ia melihat siluet Manisha yang lama kelamaan semakin kecil, dan menghilang saat Manisha masuk ke dalam lorong menuju halte bus.


Vian tersenyum. Ia membalikkan badannya ke arah rumah Bayu. Dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang gadis terlihat berdiri di salah satu jendela rumah itu. Ia menyeringai, kemudian memilih pergi dari sana.


Rasanya kisah ini akan sulit untuk usai. Satu berjuang, satu mengakhiri. Satu di tunggu, satu memupuskan. Namun semuanya dilingkupi kesedihan yang mendalam. Akankah api yang berkobar mampu di padamkan hanya dengan kabut yang seperti asap?


+TBC


Tinggalkan jejak berupa kritik dan saran, sebab akan mampu membantu penulis untuk menulis lebih baik kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2