
Jika penjelasan ditolak untuk diterima. Maka kebenaran akan tetap berada di belakang.
🍃🍃🍃
"Bi! Bibi!"
Manisha langsung menerobos memasuki rumahnya tanpa mengucapkan assalamualaikum seperti yang biasa dilakukanya. Saat ini ia sedang kalut, dan melupakan adab masuk rumah.
"Bi! Bibi!" teriak Manisha untuk yang kedua kali saat tak kunjung mendapat jawaban dari Bi Reta.
Manisha berjalan cepat ke arah dapur, layaknya orang kesetanan ia mencari Bi Reta, namun tidak ketemu.
"Bibi kemana lagi, sih!" decaknya lalu berlari ke lantai dua. Manisha memutuskan untuk langsung ke ruang kerja papanya.
Sepi. Itu yang dilihat Manisha begitu membuka pintu ruang kerja papa nya yang tidak terkunci. Manisha langsung masuk.
Ia menatap intens kesana sini, mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya percaya jika dugaannya jatuh pada kata 'salah'. Manisha mulai membongkar laci meja kerja papanya. Melempar acak berkas-berkas yang tersusun rapi disana dengan emosi yang meluap. Manisha tidak peduli jika nanti papa nya itu muncul tiba-tiba dan memukulnya. Manisha tidak peduli.
Laci kosong melompong didapati Manisha. Ternyata dugaannya salah, lantas ia tersenyum senang. Namun sebuah benda kecil berbentuk memori card tampak berada di sudut laci meja. Manisha tahu apa itu, sebuah memori kamera tersembunyi. Bergegas di sembunyikanya benda kecil itu di kantong baju seragam SMA yang dipakainya, lalu berlari ke arah kamar. Ia harus memeriksa benda itu.
Manisha mengambil leptopnya di atas meja belajar dan langsung membawanya ke kasur. Manisha memasukan memori itu kedalam ponsel, lalu menyambungkannya ke leptop.
Hanya ada satu video yang tersimpan disana. Dengan jantung berdegup kencang, Manisha mulai memutar video itu.
Mata Manisha membelalak sempurna melihat apa yang diputarnya. Itu bukan Ratih. Itu juga bukan Om yang bersama Ratih. Tetapi itu Andra, Andra dengan seorang wanita didalam mobil dengan jendela terbuka. Manisha memerhatikan kawasan yang terekam CCTV itu, seperti perkebunan. Pantas saja mereka bebas berbuat apapun disana tanpa menutup jendela. Perlahan air mata menetes saat menyaksikan papanya dan wanita asing itu berciuman.
Jika itu terjadi setelah Ratih meninggal, maka Manisha tidak akan merasakan sakit seperti sekarang. Mungkin hanya sedikit sakit. Namun, ia melihat tanggal CCTV mobil yang terdapat di bagian bawah video, itu tanggal yang sama saat mamanya meninggal.
Manisha semakin menangis keras saat melihat ternyata ada mamanya disana. Mamanya yang masih lengkap dengan baju dokternya tampak keluar dari salah satu perkebunan bersama dengan Om yang ada difoto yang dikirim Rian padanya. Om itu juga sama seperti Ratih, memakai baju dokter.
Manisha melihat Ratih bersama Om itu melintasi mobil yang berisi papanya dan wanita asing tadi. Seketika Ratih berhenti disana dengan air mata yang mulai menetes. Manisha melihat kalau papanya kaget melihat mamanya ada disana, sontak Andra langsung keluar dari mobil dan langsung mengejar Ratih.
Manisha semakin menangis kencang. Kini ia tahu kenapa mamanya bisa meninggal tiba-tiba seperti itu. Tak lain tak bukan karena ulah Andra. Namun kenapa selama ini Andra bersikap seolah Manisha yang salah? Kenapa...!
__ADS_1
Manisha marah! Benar-benar marah! Ternyata Andra dalang dibalik semuanya. Ternyata Andra yang bermain api duluan, teryata Andra sang papa yang ia kira adalah lelaki terbaik di bumi yang melakukanya. Manisha benci harus mengakui ini! Ia benci!
Suara derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya membuat Manisha menoleh. Ia melihat pria itu disana, pria jahat yang ia kira baik selama sukses menjadi papanya. Manisha langsung turun dari kasurnya, ia berjalan mundur ke arah balkon. Ia takut Andra akan membunuhnya juga.
Andra berjalan mendekat ke arah anaknya. Wajahnya pucat. Ia tahu, Manisha pasti sudah menyaksikan semuanya dari CCTV itu. Andra paham seberapa besar amarah yang sekarang dipendam oleh anak satu-satunya itu.
Andra hanya tidak menyangka jika semuanya harus terbongkar sekarang. Andra kira, semuanya tidak akan pernah terbongkar, sebab ia sudah memikulkan semua kesalahanya pada Manisha. Dengan menyiksa anak itu agar takut padanya dan tidak menduga-duga ke arahnya. Namun teryata ia salah, pada akhirnya seberapa besarpun sebuah bangkai disembunyikan, pasti akan tercium juga baunya.
Andra hanya menatap nanar ke arah anaknya yang menangis deras di hadapannya. Bahkan anak itu enggan mendekat ke arahnya. Anak gadisnya malah meringsut menjauh darinya sejauh mungkin. Dan kali ini, pintu balkon satu-satunya kamar ini menjadi sasaran anaknya itu.
"Berhenti, Nak..." ucap Andra lemas ketika melihat Manisha berjalan mundur ke belakang. Ia takut kalau terjadi sesuatu nanti pada Manisha. Ajaib, Manisha langsung berhenti.
Manisha menatap papanya dengan bengis. Nak? Sejak kapan papanya masih menganggapnya anak? Hah! Manisha benci mendengar Andra mengucapkan hal itu.
"Puas?" tanya Manisha lirih. Ia menatap Andra tajam. Mata papanya terlihat berkaca-kaca.
"Dengarkan Pa--"
Belum juga Andra menyelesaikan kalimatnya. Langsung dipotong oleh Manisha dengan teriakannya yang lantang namun pilu.
"Kejutan yang anda buat hebat, ya? Wah..!" Manisha kembali berdiri. Kali ini ia tersenyum miris sembari menepuk-nepuk tanganya tepat didepan wajah Andra yang menunduk dalam.
"Hebat sekali anda memutarbalikkan fakta. Menjadikan saya kambing hitam pada masalah anda sendiri! Hah! Anda luar biasa!"
"Saya tidak menyangka bahwa sebenarnya anda lah yang sudah membunuh mama saya. Anda yang membuat dia kalut sehingga ikut meninggal pada kecelakaan beruntun beberapa bulan yang lalu..." Manisha terdiam sebentar. "SAYA BENCI ANDA AAAAA!!" Manisha berteriak keras layaknya orang kesetanan.
Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Rasanya ia ingin membunuh pria paruh baya yang ada dihadapan ini. "Hiks-hiks-hiks! Kenapa anda melakukannya... kenapa..." ucap Manisha lirih. Ia terduduk pasrah di lantai.
"Jangan sentuh saya!" gertak Manisha saat merasakan tangan papanya memegang bahunya. Ia jijik disetuh pria tua itu. Benar-benar jijik!
Manisha kembali berdiri dengan lunglai. Ia berjalan pelan ke tepi tempat tidur, memegang erat besi kelambu tempat tidurnya. Perlahan ia mendongak, menatap papanya pilu.
"MULAI SEKARANG SAYA BUKAN LAGI ANAK ANDA!"
__ADS_1
Selepas mengucapkan kalimat itu, Manisha berlari ke arah balkon yang terbuka bebas. Manisha melompat, sempat ia mendengar Andra yang meneriakkan namanya dengan isakan tangis yang tidak kalah keras seperti yang ia lakukan tadi.
Seandainya semuanya berjalan begitu cepat, gue bersyukur. Karena kalau gue mati, ada mama yang nunggu di surga 'kan? Iya... ada mama. Ma, maafin Nisha ya? Nisha enggak bisa hidup tanpa Mama. Nisha enggak bisa, Ma. Ma, Nisha datang....
Bruk!
Sepi. Hanya suara seperti benda jatuh itu yang terdengar nyaring. Tidak ada satupun warga yang keluar dari komplek perumahan tempat Manisha tinggal. Memang disana biasa sepi.
Andra mematung di pinggiran balkon kamar anak semata wayangnya. Menatap kosong ke bawah. Ia dapat melihat jelas sesuatu yang kental dan berwarna merah mengalir bebas dari belakang kepala anaknya yang sudah menutup mata di bawah sana.
Dada Andra terasa sesak. Ia terduduk pasrah di lantai keramik putih balkon. Apa buruk sekali dirinya sehingga anaknya saja memilih pergi darinya? Apa sejahat itu dia? Andra tidak mampu berkata-kata lagi.
"Argh!"
Andra berteriak keras, kemudian disusul raungannya yang pilu. Menangisi anak gadis satu-satunya yang mungkin sudah tewas di bawah sana.
"Maafin papa... hiks-hiks-hiks!"
"Maaf..." ucap Andra lirih. Ia benar-benar menyesal sudah memberlakukan anaknya seperti bin*ta*g selama ini. Menyiksa Manisha layaknya manusia yang tidak berperasaan. Padahal di dalam lubuk hatinya, ia begitu menyayangi gadis itu, namun hanya agar Manisha tidak tahu alasan dibalik meninggalnya Ratih, ia terpaksa melakukannya. Membuat anaknya menerima sakit bertubi-tubi. Dan sekarang... anak itu memilih menyerah.
"Nona muda!"
Samar-samar suara Bi Reta berteriak terdengar di telinga Andra. Apa yang dilakukannya! Kenapa dirinya malah menangis bukanya langsung membawa Manisha ke rumah sakit? Bodoh!
Andra berdiri. Ia bergegas ke lantai bawah. Berlari kencang ke arah Manisha dengan air mata berlinang. Di gendongnya Manisha buru-buru memasuki mobil. Tentu saja diikuti Bi Reta yang menangis serak dibelakang nya.
Mobil Andra pun membelah jalanan. Ia harus bergegas ke rumah sakit. Apapun yang terjadi, Manisha tidak boleh pergi. Andra janji akan menyayangi gadis itu. Andra berjanji akan membayar semua sakit yang diterima Manisha jika anaknya selamat.
Andra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesekali di sekanya air mata miliknya dengan lengan baju kemeja kerja biru dongkernya yang sudah terkena darah. Andra benar-benar panik sekarang!
Andra yakin akan menjadi gila jika Manisha tidak bisa diselamatkan. Oleh karena itu, Manisha harus selamat!
+TBC
__ADS_1
Tinggalkan vote, kritik dan saran di kolom komentar. Terima kasih 😊